Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Cewek Dingin


__ADS_3

"Maaf!" ucap dingin Raina kepada seseorang yang ditabraknya.


Seorang laki - laki yang mengenakan kemeja batik yang entah kenapa sangat cocok ia kenakan, dipadukan dengan celana cinos warna mokka semakin menambah ketampanannya.


Membuat para perempuan berteriak histeris saat melihatnya, di tambah lagi dengan wajahnya yang mirip seperti boy band korea. Namun hal itu sama sekali tidak membuat Raina terpengaruh seperti kebanyakan perempuan lainnya.


"Masa cuma minta maaf doang." kata Axel ya laki - laki yang Raina tabrak itu adalah Axel kakanya Azkia.


"Lalu?" tanya Raina dengan menaikan sebelah alisnya.


"Tanggung jawab lah." kata Axel dengan wajah yang dibuat sedatar mungkin.


"Hah?"


"Iya tanggung jawab lo kan udah numpahin minuman gue." ucap Axel.


"Hm." saut Raina sambil berjalan menuju kasir dan memesan minuman yang sama persis dengan minuman yang ia tumpahkan.


Saat ini Raina sedang berada di salah satu cafe karena paksaan dari Azka yang menginginkan makanan dari cafe tersebut, mau tidak mau Raina menuruti sepupunya itu karena merasa kasihan. Sahabat Azka? Mereka sedang asyik bermain game dirumah Azka, sehingga hanya Raina sendiri yang berada di cafe.


Setelah beberapa saat Raina kembali dengan menenteng dua paper bag yang berisi pesanannya dan milik laki - laki itu.


Dengan kasar Raina menyerahkan paper bag yang berisi minuman vanilla late dan americano, setelah itu Raina pergi dari hadapan Axel tanpa berkata apapun.


"Makasih, padahal gue cuma bercanda loh." kata Axel yang merasa tidak enak.


"Cih." dengus Raina sambil melambaikan tangannya kepada Axel.


"Cewek itu dingin banget, lebih dingin dari es wkwk." gumam Axel sambil terkekeh.


Namun saat berada di parkiran cafe, Axel melihat seorang perempuan yang tengah di kerubuti perman. Axel sedikit memincingkan matanya agar dia tahu siapa perempuan itu.


"Itu kan cewek tadi." gumam Axel yang sedang berada di depan mobilnya.


"Halo gadis cantik, sendirian aja nih." goda preman itu.


"Minggir." bentak Raina.


"Jangan galak - galak dong nanti cantiknya ilang." ucap preman lainnya tangannya hampir memegang dagu Raina namun Raina berhasil menepisnya sebelum tangan itu menyentuhnya.


"Tapi gue suka yang bar - bar gini kok." ucap yang lainnya. Ada tiga orang preman yang sedang menghadang Raina.


"Minggir gak!" bentai Raina lagi.


"Gak mau, kita kan mau nemenin cewek secantik lo ini biar gak sendirian haha." ucap ketua preman itu sambil tertawa.


"Bener banget." kata preman satu.


"Yoii bos." ucap preman dua.


Tangan preman itu mulai memegang lengan Raina, dengan cepat Raina menghempaskan tangan itu.

__ADS_1


"Jangan sentuh gue!" teriak Raina.


"Sayang jangan marah dong, kita kan cuma bersenang - senang." ucap preman satu sambil memegang rambut Raina.


Axel yang melihat itu sudah melangkah untuk membantu Raina namun sayangnya langkagnya terkenti saat Raina menghajar ketiga preman itu.


"Gila cewek dingin ini jago banget bela dirinya." gumam Axel sambil menggelengkan kepalanya tidak percaya.


"Sini maju lagi!" perintah Raina, ketiga preman itu sudah tersungkur di tanah. Badan mereka semua babak belur karena menerima pukulan dan tendangan dari Raina.


Siapa sangka cewek yang terlihat pendiam itu ternyata jago bela diri, bahkan preman yang tubuhnya lebih besar darinya saja sudah ia kalahkan.


Ketiga preman itu perlahan mundur sambil menyeret tubuhnya yang terasa ngilu di mana - mana, karena Raina menghajarnya dibeberapa titik lemah mereka.


"Cih, gitu aja nyerah tadi sok - sokan." kata Raina sambil mengambil paper bag yang ia taruh tadi sebelum betantem agar tidak tumpah.


Namun tangannya kalah cepat dari seseorang yang sedang beridiri di depannya sambil menyodorkan paper bag miliknya.


Raina mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa orang tersebut.


"Cih." dengus Raina saat mengetahui Axel lah yang mengambilkan paper bag milik Raina.


"Keren banget lo tadi, padahal gue mau nolongin tapi gak jadi saat gue liat lo bisa atasin mereka semua." cerocos Axel sambil menatap dua manik mata Raina.


"Gila indah banget itu bola matanya." batin Axel.


"Hmm." seru Raina kemudian membalikkan badannya melangkah menuju mobil milik Azka, karena dia ke cafe menggunakan mobil Azka.


"Tu-tunggu." ucap Axel sambil menahan salah satu lengan Raina yang tidak memegang paper bag.


"Maaf! Gue cuma mau kenalan aja kok hehe." ucapnya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Gue Axel Aprilliano, dan lo?" ucap Axel sambil mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Raina.


Raina mengacukan tangan Axel yang menggantung diudara, kemudian dia berbalik dan melangkah lagi.


"Astaga cowok sekeren gue di kacangin, kalo sampai Kia tahu bisa di ledekin." gumam Axel yang terus memandangi punggung Raina.


"Menarik banget sih tuh cewek, baru kali ini ada cewek yang gak heboh kalo liat gue." ucap Axel.


"Woy cewek dingin, semoga kita ketemu lagi." teriak Axel saat Raina sudah sampai di depan mobil, sekilas Raina menoleh menatap Axel tajam. Tatapannya seolah bisa membuat siapa saja yang melihatnya seakan tertusuk benda tajam yang membuat sakit namun tak terlihat.


"Duh tatapannya bikin gue senam jantung." ucap Axel sambil memegang jantungnya yang berdetak tidak karuan.


Axel kembali menuju mobilnya, dia membuka pelan pintu mobil lalu duduk di kuris kemudi namun masih saja diam, pikirannya masih melayang pada wajah cantik Raina.


"Rumahnya dimana sih tuh cewek atau gue samperin aja ya kerumahnya.... astaga namanya aja gue kagak tahu apalagi rumahnya." gumam Axel sambil menepuk jidatnya.


"Gue ikutin aja hehe." kata Axel sambil terdenyum devil.


Axel mulai menyalakan mesin mobilnya dan meninggalkan area parkir, niatnya ingin menginguti Raina namun sayang mobil yang di kendarai Raina sudah tidak terlihat lagi.

__ADS_1


"Cih, padahal jaraknya gak lama tapi udah hilang aja itu mobil." kesal Axel.


Dia menambah kecepatan mobilnya agar cepat sampai dirumah karena kopi Vanilla late itu adalah pesanan sang adik saat kembali dari acara nikahan saudaranya itu.


Setelah beberapa menit berlalu akhrinya Axel sampai dirumah juga, dia mencari keberadaan Azkia untuk memberikan pesanannya itu.


"Lama banget sih bang, nyasar kemana dulu." gerutu Azkia sambil menyambar paper bag yang di bawa Axel dengan kasar.


"Nyasar di hati cewek dingin." ucap Axel tanpa sadar.


Byurr


Azkia tanpa sengaja menyemburkan minumannya kearah Axel karena kaget dengan omongan Axel, biasanya dia sangat malas jika membahas soal perempuan yang dia sukai tapi kali ini berbeda.


"Azkiaaa!" teriak Axel.


"Ma-maaf bang, habisnya candaan abang bikin kaget." kata Azkia sambil mengelap baju Axel dengan tissu.


"Gak bercanda tuh." jawab Axel santai.


"Jadi abang beneran lagi suka sama seseorang?" tanya Azkia antusias, sedangkan Axel hanya mengangguk sambil terdenyum terbayang lagi wajah Raina.


"Anak mana?"


"Gak tau."


"Namanya siapa?"


"Gak tahu."


"Astaga terus apa yang abang tahu!" bentak Azkia karena kesal.


"Dia cewek dingin yang kuat dan cantik." kata Axel sambil tersenyum mengingat Raina.


"Duh tembok mana tembok." ucap Azkia sambil memutar kedua bola matanya malas, kemudian Azkia melangkah menuju kamarnya.


"Dih seriuasan dia itu cewek yang dingin banget, abang aja kenalan aja dia cuma diem terus pergi gitu aja." cerita Axel sambil mengikuti langkah adeknya itu.


"Wah wah jangan bilang pesona abang sudah luntur hahaa." ledek Azkia sambil berlari cepat menuju kamarnya agar tidak di jitak oleh abangnya itu.


"Heh apa kamu bilang,... Kia buka pintunya." perintah Axel saat sudah sampai didepan pintu kamar Azkia.


Brak brak.


"Buka gak!" kesal Axel karena di ledek terus oleh Azkia.


"Gak, wleee." ucapnya dari dalam kamar.


......................


...“Mungkin aku tidak sesuai dengan...

__ADS_1


...ekspektasimu, tapi aku tidak perduli karena menyenangkanmu bukan tugasku”...


...— E H ^~^...


__ADS_2