
Sudah beberapa hari berlalu dari pertemuannya dengan Siska, ia tidak memberitahu Azkia akan hal itu. Memurut Azka itu tidak lah penting, ia juga tidak melakukan sesuatu diluar batasannya.
Attaya sudah siap dengan baju kerjanya, ia tampak rapi dan berwibawa dengan jas yang ia kenakan. Ia duduk dimeja makan menanti Azka yang belum turun sejak tadi. Azkia menyiapkan sarapan untuk mereka semua, ya karena Attaya menjadi asisten pribadi Azka sehingga ia pagi-pagi sudah harus siap sedia dirumah Azka. Karena itu Attaya selalu ikut sarapan dirumah Azka.
"Azka mana, Ki?" tanya Attaya.
"Masih dikamar," singkat Azkia.
"Lama banget kaya perempuan aja," gerutu Attaya.
"Nyun, dasi aku mana!" teriakan itu menghentikan aktifitas mereka didapur dan menoleh pada sumber suara.
Terlihat Azka yang menuruti anak tangga dengan wajah kesalnya, bahkan baju yang ia kenakan belum terkancing semua.
"Kan tadi udah disiapin," ucap Azkia halus sambil menghampiri Azka.
"Gak cocok itu warnanya, ganti yang lain!" perintah Azka.
"Biasnya juga itu kan, by?" kata Azkia.
"Pokoknya ganti!" ucap Azka tegas.
Azkia berjalan menuju kamarnya untuk mengambi dasi yang lainnya. Sedangkan Azka sudah duduk didepan Attaya.
"Kenapa liat-liat." ketus Azka.
Attaya hanya mengendihkan bahunya saja tanpa menjawab pertanyaan Azka, ia melanjutkan makan yang sempat tertunda.
"Ini." Azkia menyerahkan dasi tepat didepan wajah azka.
"Pakein!" satu kata itu membuat Azkia memutar kedua bola matanya malas, pasalnya baru kali ini Azka Memintanya memakaikan dasi. Sebelum-sebelumnya ia memakai dasinya sendiri.
Dengan telaten Azkia memakaikan dasi itu pada leher Azka. Azka hanya tersenyum tipis melihat sang istri yang sangat menurut.
"Manja!" cibir Attaya, ia memutar kedua bola matanya malas pagi-pagi melihat keromantisan mereka berdua.
Cup!
Satu ciuman mendarat mulus dipipi Azkia, sontak saja membuat Azkia kaget dan memukul lengan Azka.
"By! Malu ada Attaya," ucap Azkia.
Azka melirik Attaya sekilas, sambil tersenyum mengejek.
"Dia gak liat," kata Azka.
"Iya gue gak liat kok santai aja, sok atuh lanjutin aja." geram Attaya sambil menutup matanya dengan telapak tangan.
"Gak, kasian kamu nanti jadi pengen," ucap Azkia sambil terkekeh.
Setelah acara sarapan pagi selesai, kini Azka berangkat ke kantor bersama Attaya sedangkan Azkia menyibukkan diri dengan skirpsinya yang tinggal sedikit lagi jika nanti tidak ada revisi lagi setelah diajukan.
......................
Saat didalam perjalanan tiba-tiba saja Azka menyuru Attaya untuk memberhentikan laju mobilnya. Untung saja didepan mereka tidak ada kendaraan lain, sehingga aman.
"Apa sih, jangan dadakan gitu ini bukan tahu bulat. Bahaya tau gak," gerutu Attaya sambil menatap tajam Azka yang duduk disebelahnya.
"Apel," kata Azka sambil melihat penjual apel merah diseberang jalan.
__ADS_1
"Hah! Apel apaan?" tanya Attaya bingung.
Tanpa banyak biacara Azka mengeluarkan empat lembar uang kertas berwarna biru, Attaya hanya diam saja menatap uang itu karena ia belum paham maksud Azka.
"Beliin apel," kata Azka sambil menunjuk penjual buah.
"Buat?" tanya Attaya.
"Dimakan," singkat Azka.
"Gue tau apel ya dimakan ya kali dibuang," kesal Attaya.
"Maksud gue apelnya buat siapa?" lanjtnya.
"Gue lah," singkat Azka, "udah buruan!" tegasnya.
Dengan kasar Attaya mengambil empat lembar uang kertas itu, lalu ia menghampiri penjual buah untuk membeli permintaan Azka.
"Sesuai perintah!" kata Attaya sambil menyodorkan kresek putih berisi apel merah.
"Makasih," kata Azka, "Loh gue maunya apel merah bukan yang hijau!" protes Azka.
"Kan sama aja apel," kata Attaya sabar.
"Tuker apel merah!" jelas Azka.
"Ch, tadi gak bilang yang warna apa sekarang kaya gini gue harus balik lagi kan," gerutu Attaya tapi tetap saja ia kembali pada penjual buah dan menukarnya.
"Nih, ada lagi gak sekalian?" tanya Attaya.
"Gak, makasih!" tanpa ragu ia memakan apel itu padahal belum dicuci.
"Nih, kalau makan buah itu dicuci sampai bersih dulu. Lo gak tau kan buah itu masih ada zat pestisidanya gak!" cerocos Attaya.
"Lo kaya emak-emak," kata Azka sambil terkekeh, dengan lahab ia mengahabiskan apel yang sudah dicuci Attaya.
"Ini semua buat kesehatan lo!" ucap Attaya sambil mengemudikan mobilnya lagi.
"Perhatiannya," ledek Azka sambil terkekeh.
"Gue cuma gak mau bos gue sakit, terus semua uruan kantor diserahin ke gue kaya difilm-film gitu," jelas Attaya.
"Ah mosok!" tawa Azka semakin pecah melihat wajah kesal Attaya.
Tiga puluh menit berlalu mereka berdua sampai diperusahaan, ya bisa dibilang mereka telat karena ada drama terlebih dahulu. Satu kresek buah apel itu dibawa oleh Attaya sedangkan Azka masuk begitu saja dengan santai tanpa beban.
"Bawa apa?" tanya Devan yang juga sudah berada disana sejak tadi.
"Apel!" ketus Attaya.
"Bagi lah buat penyegaran!" Devan memcoba merebut kantung kresek itu tapi dengan cepat ditolak oleh Attaya.
"Lo minta? Gue aja yang beli kagak dikasih, boro-boro dikasih kulitnya aja kagak boleh!" dengus Attaya.
"Masa lo mau kulitnya?" tanya Devan bingung.
"Ya gak gitu konsepnya," kesal Attaya.
"Kok aneh, bukannya dia itu malas makan buah? Terus kenapa sekarang doyan?" Devan merasa ada yang aneh dengan Azka.
__ADS_1
"Tau tuh bos lo, permintaannya aneh-aneh. Mana tadi minta kembang gula segala, lah gue mau cari dimana coba kembang gula yang ada kembang desa noh banyak!" kesal Attaya sambil menceritakan semuanya pada Devan.
"Hahaha, boleh lah satu kembang desanya!" canda Devan sambil tertawa.
"Ada apa dengan kembang desa, pak?" tanya Lena yang sudah berada dibelakang mereka.
"Tuh si Attaya mau cari kembang desa katanya!" kata Devan sambil berlalu keruangannya.
"Eh, yang bener pak.. mau saya bantu cari?" tanya Lena.
"Gak, gue udah punya!" ketus Attaya, kemudian ia masuk keruangannya sendiri.
"Orang mau dibantuin cari kembang desa juga, eh dari pada nyari mending sama saya saja pak!" Lena sedikit berteriak agar Attaya mendengar karena ia sudah berada didalam ruangan.
"Gak bos gak asisten gak temennya sama-sama sulit, tapi gak apa-apa ini tantangan yang seru. Aku akan buat kalian ngemis-ngemis cinta haha!" gumam Lena yang sudah duduk dimejanya.
Tiba-tiba saja ada suara barinton yang membuat Lena kaget, siapa lagi kalau bukan dari Azka, bosnya.
"LENA!" teriak Azka.
Dengan cepat Lena menghabur ke ruangan Azka yang tepat berada didepannya.
"I-iya saya pak!" kata Lena.
"Kalau masuk itu ketuk pintu dulu!" gertak Azka.
"Maaf pak, saya buru-buru waktu denger suara bapak manggil saya," ucap Lena sambil menunduk.
"Ambil apel yang dibawa pak Attaya tadi dan bawa kesini," kata Azka.
"Baik pak, saya permisi!" pamit Lena.
"Tunggu! Jangan lupa cuci dulu apel-apel itu!" perintah Azka.
"Baik, ada lagi pak?" tanya Lena.
"Cukup, pergi sana!" ketus Azka.
Lena sedikit membungkuk lalu pergi dari hadapan Azka, ia selalu menggerutu karena sikap Azka. Yang mudah sekali berubah.
"Marah-marah mulu mana sikapnya cepet banget berubah, untung ganteng jadi aku maafin," gumam Lena saat didepan ruangan Attaya.
Setelah meminta apel yang dibawa Attaya, Lena langsung mencucinya terlebih dahulu seperti instruksi Azka. Dirasa bersih Lena membawanya keruangan Azka.
"Lama banget sih!" bentak Azka yang baru saja melihat Lena masuk kedalam ruangannya.
"Maaf, pak kan tadi cuci terlebih dahulu." kata Lena.
"Taruh situ," Azka tak menanggapi penjelasan Lena.
"Emm mau saya kupaskan pak apelnya?" tanya Lena ramah. Lena berusaha mengambil hati bosnya itu.
"Gak!" singkat Azka.
"Atau mau saya buatkan kopi?" tanya Lena yang masih terus berusaha.
"Keluar! Kerjakan pekerjaanmu!" tiga kata yang membuat Lena kaget, ada aura kekesalan yang sangat kuat ditambah tatapan matanya yang tajam membuat Lena diam.
...----------------...
__ADS_1