Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Mereka Bisa Apa?


__ADS_3

...Terkadang pelukan lebih baik dari pada seribu kata-kata penenang...


...—E H—...


...———————————————————...


"Kenapa?" tanya Azka yang seolah tahu jika Azkia sedang tidak baik-baik saja.


"Gak papa kok," ucap Azkia sambil tersenyum semanis mungkin.


"Gak usah bohong!" Azka menatap lekat kedua manik mata Azkia.


"Kita duluan ya, kalian selesain dulu masalah kalian... kita nunggu di parkiran." ucap Devira.


Mereka ingin memberikan waktu untuk Azka dan Azkia membicarakan masalah mereka. Kini tinggallah Azka berdua bersama Azkia.


"Kenapa?" tanya Azka yang kini sudah berada tepat di depan Azkia.


"Aku cuma merasa kalo omongannya Farah ada benarnya," ucap Azkia sedikit takut.


Azka menaikkan sebelah alisnya, dia tidak tahu perkataan mana yang dimaksud oleh Azkia. Karena bagi Azka omongan Farah hanya seperti angin lewat saja untuknya.


"Yang mana?" tanya Azka.


"Yang bilang kalo semua ini salah aku, Ka... kalo aja aku gak sama kamu pasti semua ini gak akan terjadi." Azkia menunduk, jemarinya terlihat memerah saat Azkia meremas rok abu-abu yang sedang dia pakai.


Azka membuang nafasnya dengan kasar, hari apa ini kenapa terasa begitu berat untuk Azka. Satu hari ia harus memikirkan berbagai masalah yang terus menimpanya. Dan sekarang seseorang yang ia sayangi merasa insecure dengan omongan orang lain.


Azka memegang kedua lengan Azkia memaksanya untuk melihat kedua mata Azka.


"Liat gue!" perintah Azka.


Azkia mendongakkan kepalanya mengikuti perintah Azka, mata hazel itu terlihat teduh membuat siapapun terhipnotis dalam tatapannya. Termasuk Azkia.


"Tatapan ini yang buat hati gue tenang," batin Azkia.


Perlahan tangan Azka naik keatas menangkup kedua pipi Azkia, dengan lembut ibu jari Azka mengusap sisa-sisa air mata yang ada di sudut mata Azkia.


"Dengerin gue baik-baik," pinta Azka.


Azkia hanya mengangguk saja.


"Gue gak perduli apa kata orang tentang lo ataupun tentang gue, yang gue tau gue sayang sama lo... apapun keadaan lo, gue terima.. gue juga gak pernah ngeluh kan tentang lo?" ucap Azka dengan selembut mungkin agar Azkia mampu mencerna ucapan Azka.


"Jadi jangan pernah lo nyalahin diri lo sendiri seperti tadi, gue gak suka!" ucap Azka yang membuat air mata Azkia lolos begitu saja dari kelopak matanya.


"Gue menerima semua yang ada pada diri lo, entah lo jelek sekalipun kako gue suka....mereka bisa apa?" lanjut Azka.


Azkia tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia bahagia bisa memiliki seseorang seperti Azka didalam hidupnya. Azka yang mau menerima semua kekurangannya dan tidak perduli dengan apapun yang orang lain katakan tentang Azkia.

__ADS_1


"Kok nangis lagi?" tanya Azka.


Azkia hanya menggeleng, kemudian tanpa sadar Azkia memeluk erat tubuh Azka. Dia menumpahkan semua isak tangisnya dalam dada bidang Azka, kesedihan yang bercampur haru kebahagiaan.


Sedangkan Azka hanya bisa diam saja sambil mengusap pelan punggung Azkia.


"Ma-makasih," ucap Azkia ditengah isaknya.


"Iya, apapun yang terjadi lo harus percaya sama gue.. oke?" tanya Azka.


"Okee." Azkia mengangguk.


"Yaudah ayo pulang, aku anterin." ajak Azka. Ya begitulah Azka kadang masih menggunakan lo gue kadang juga menggunakan aku kamu.


Azka mengandeng jemari Azkia untuk turun dari rooftop, hari ini sudah bisa Azka lalui. Namun pikirannya masih terbebani dengan permintaan sang papa.


"Kalian belum pulang?" tanya Azkia pada kedua sahabatnya dan juga sahabat Azka yang masih setia di depan kendaraan mereka masing-masing.


"Kalo kita udah pulang gak mungkin disini kan," saut Nayla.


"Yaudah ayo pulang, kita dah lama nungguin," ajak Devan.


"Beb, kuy lah kita pulang," ucap Attaya mengajak Nayla.


Dengan malu-malu Nayla naik diatas motor Attaya, tangannya ia lingkarkan di pinggang Attaya agar tidak jatuh.


"Yang jomblo kaya gue, apa kabar ini?" ucap Devira sedikit menyindir.


"Cih, lo kata baju cari di online shop suka langsung klik," Devira berdecak kesal sambil menendang motor Attaya, namun hanya angin yang bisa ia tendang.


"Sabar, Ra.. lo sama Devan aja dari pada sendiri." canda Azkia sambil mengusap lengan Devira.


"Gue sama dia?" tanya Devira sambil menunjuk Devan yang berdiri di depan motornya.


Azkia mengangguk, sedangkan Devan seolah sedang menantikan respon dari Devira.


"MIMPI!!" teriak Devira kesal.


Devira membuka pintu mobilnya dengan kasar lalu tanpa basa basi ia menancapkan gasnya membiarkan ketiga orang itu menatap cengoh Devira.


"Tuh kan, Ka... lo liat sendiri respon dia ke gue kaya apa, gue tuh kurang apa coba!" kesal Devan.


Devan memang suka kepada Devira namun cintanya tidak semulus jalan tol.


"Berusaha ngab," ucap Azkia sambil terkekeh melihat wajah kesal Devan.


"Gengsi aja dia, aslinya malu tuh," ucap Azka sambil membuka pintu mobil untuk Azkia.


"Sok tau lo," cecar Devan sambil mengenakan helm fullfacenya.

__ADS_1


"Yaudah kalo gak percaya,"


Azka menutup pintu mobil saat Azkia sudah masuk kedalam mobil, kemudian dia memutari mobil dan masuk di kursi kemudi.


Tiin tiin


Kaca mobil itu terbuka setengah, menampakan wajah Azka.


"Bye, jones!" ucap Azka sambil melambaikan tanggannya kepada Devan.


Hal itu membuat Azkia menggeleng dan tertawa. Dia tidak habis pikir seseorang yang terlihat dadar seperti tembok bisa bersikap seperti itu untuk menjahili temannya.


"Cihh, jones jones lah!" kesal Devan.


Mereka semua sudah meninggalkan parkiran yang sudah terlihat sepi, karena kejadian Farah ingin bunuh diri membuat pihak sekolah memulangkan mereka lebih cepat.


_____________


Setelah dari rumah Azkia, Azka langsung menuju kantor sang papa karena ia harus segera menyelesain masalah perjodohannya itu.


Tak butuh lama Azka sudah sampai di parkiran kantor perusahaan milih kelhihuarga mereka. Sudah beberapa menit Azka sampai namun ia masih setia duduk di dalam mobil, berat rasanya untuk melangkahkan kakinya masuk kedalam perusahaan. Tapi dia harus melakukan itu.


Brak!


Suara pintu mobil yang Azka banting membuat siapapun yang mendengarnya terpelonjat kaget.


Sudah lama sekali Azka tidak menginjakkan kakinya di perusahaan ini. Walaupun begitu karyawan diperusahaan ini sudah mengenal Azka, mungkin hanya karyawan baru yang tidak mengenalnya.


"Sore mas Azka, ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis.


"Tolong beliin makanan, terus anterin ke ruang direktur!" perintah Azka sambil membelikan beberapa uang warna biru kepada resepsionis itu.


"Baik, silahkan menunggu diruang pak direktur," ucap resepsionis itu sambil membungkuk.


Azka tidak membalasnya, ia langsung saja menuju lift yang akan mengantarkan Azka ke lantai 8 tepatnya ruang kerja sang papa.


Setelah sampai Azka langsung masuk kedalam ruangan yang terdapat papan nama Direktur.


Kreek.


Azka membuka pintu itu namun hanya meja kosong yang ia lihat, Azka tidak menemukan sang papa. Tanpa ragu Azka melangkah masuk, mendudukkan bokongnya diatas sofa yang berada diruangan itu.


Matanya mengamati dari ujung ke ujung isi ruangan ini, masih sama seperti dulu tidak ada yang berubah. Di meja kerja masih terlihat bingkai foto yang membuat Azka tertarik untuk melihatnya.


Terlihat foto Azka saat masih kecil sedang tersenyum manis tanpa beban sedikit pun. Disebelahnya ada Yudha dan Kayla yang terlihat penuh dengan kasih sayang.


Azka hanya tersenyum tipis sambil meletakkan bingkai itu lagi diatas nakas, namun ia membalik bingkai tersebut. Azka kembali duduk di sofa, kedua kakinya ia naikkan ke atas meja.


"Bisa sopan gak?" terdengar suara bariton yang memecahkan keheningan ruangan itu.

__ADS_1


...........................


__ADS_2