
Sudah menjadi rutinitas untuk Azka dipagi hari, setelah bersiap ia akan menuju tempat tinggal Azkia. Karena setelah mereka resmi bertunangan Azka setiap pagi menjemput Azkia untuk berangkat sekolah bersama.
Seperti halnya pagi ini, Azka sudah terlihat rapi dengan pakaian putih abu-abunya. Setelah libur kenaikan kelas akhirnya hari ini mereka mulai kembali kerutinitasnya sebagai seorang pelajar.
Terlihat wajah Azkia ditekuk dengan tangan yang terlipat di depan dada, mrmbuat Azka heran dengan penampilan Azkia pagi ini.
"Ini anak kenapa wajahnya ditekuk, udah mirip cucian belum disetrika aja," batin Azka.
"Pagi," sapa Azka setelah melepaskan helmnya.
"Dari mana aja sih, lama banget ... keburu telat ini, apalagi kan hari senin pasti upacara bendera." bukannya menjawab sapaan Azka, Azkia mengomeli Azka yang baru saja sampai dirumahnya.
Bagaimana tidak membuat Azkia marah jika Azka sampai di rumahnya hampir jam tujuh tepat. Sedangkan gerbang sekolah sudah tutup sepuluh menit yang lalu.
"Maaf," ucap Azka.
"Buruan jalan!" kesal Azkia yang sudah naik dimotor Azka.
Azka menghela nafasnya, ia harus bisa sabar dengan sikap Azkia yang seperti ini. Mungkin dia sedang pms sehingga membuatnya marah-marah tidak jelas.
"Lain kali jangan diulang lagi, kita udah kelas tiga masa iya mau dihukum terus ... kan gak lucu," gerutu Azkia.
Azka hanya diam saja mendengar ocehan Azkia, memang salah Azka karena datang terlalu terlambat apalagi hari ini hari pertama mereka masuk sekolah.
"Kamu dengerin gak sih!" bentak Azkia sambil memukul pelan bahu Azka.
"Iya-iya bawel banget!" kesal Azka.
"Apa? Kamu ngatain aku bawel iya? Yaudah turunin aku disini aja!" teriak Azkia yang sudah sangat kesal.
"Cepet minggirin motornya, aku naik taxi aja!" kesal Azkia sambim memukul pelan punggung Azka.
"Jangan gitu lah, Nyun... aku tuh gak bentak kamu, jangan marah lagi," bujuk Azka.
"Bodo amat! Pokoknya turunin disini atau aku loncat ini!" ancam Azkia.
Dengan terpaksa Azka menepikan motornya dipinggir jalan yang lumayan sepi, namun masih ada orang yang berlalu lalang.
Dengan cepat Azkia turun dari motor Azka, bahkan sebelum Azka mematikan mesin motornya. Azkia berjalan meninggalkan Azka, rasa kesal yang memenuhi hatinya membuat Azkia berpikiran sempit.
"Nyun! Mau kemana?" teriak Azka yang tidak dihiraukan oleh Azkia.
"Azkia!" teriak Azka lagi membuat Azkia mempercepat jalannya mencari taxi.
Azka berlari mengejar Azkia, dengan cepqt ia meraih pergelangan tangan Azkia lalu menariknya kedalam pelukan meski Azkiq terus memberontak namun Azka tetao tidak melepaskan pelukan itu.
"Azka lepasin, atau aku teriak!" ancam Azkia.
"Maaf," lerih Azka.
Azka menenggelamkan wajahnya di curuk leher Azkia, Azkia terus saja berontak namun sayangnya ia kalah kuat dengan Azka.
"Lepasin!" teriak Azkia.
"Gue minta maaf, Nyun... gak ada niatan buat bentak kamu, tadi cuma reflek saja," ucap Azka dengan penuh penyesalan.
"Aku gak perduli, kamu gak pernah mau dengerin nasehat orang lain kan... makanya kamu bentak aku," ucap Azkia sambil terisak dalam tangisnya.
Entah kenapa hari ini mood Azkia mudah sekali berubah, seperti beberapa saat tadi ia marah hanya karena hal sepele dan sekarang lihatlah Azkia menangis dipelukan Azka seperti anak kecil.
"Iya-iya aku bakalan dengerin nasehatmu dan nurut sama semua perkataanmu, udah jangan nangis lagi ... sekarang kita kembali ke motor dulu." ajak Azka sambial mengusap pelan punggung Azkia.
__ADS_1
Perlahan Azkia menurut dengan ajakan Azka, bagaimana pun ia masih harus masuk sekolah.
Azka memakaikan kembali helm di kepala Azkia, tangannya sibuk menghapus air mata yang masih tersisa dipipi Azkia.
"Senyumnya mana?" tanya Azka.
"Gak mau senyum habis hujan," saut Azkia.
"Yaudah, naik!" perintah Azka dengan lembut.
Azkia hanya diam dan patuh dengan perkataan Azka, Azka harus ekstra sabar menghadapi Azkia yang sedang moodyan.
Setelah beberapa saat mereka sampai disekolah, gerbang pun sudah ditutup bahkan upacara bendera sudah hampir selesai. Azka dan Azkia lagi-lagi lewat gerbang samping, mengingat gerbang itu yang tidak dijaga krtat.
"Ayo sini lompat, aku tangkep!" perintah Azka yang sudah berada di bawah area sekolah.
Sedangkan Azkia masih duduk di tembok gerbang pembatas itu, sambil berfikir sepertinya ia pernah mengalami kejadian seperti ini.
"Azkia, buruan keburu ketahuan pak Slamet," ucap Azka lagi yang mampu menyadarkan Azkia.
"Kok rasanya aku pernah mimpi kita pernah lakukan hal seperti ini ya?" tanya Azkia.
"Mau lompat gak, atau gue tinggalin," ucap Azka yang mulai geram melihat tingkah Azkia.
Karena sebentar lagi upacara selesai, pasti akan banyak siswa yang melihat mereka berdua. Hal itu, membuat Azka sedikit khawatir kepada reputasi Azkia, jika untuk dirinya sendiri Azka tidak terlalu ambil pusing.
"Tungguin, iya-iya lompat .... tapi tangkep ya!" kata Azkia mencoba bersiap melompat.
"Iya sayangku," ucap Azka dengan lembut, kedua tangannya ia rentangkan bersiap menangkap Azkia.
Deg deg!
"Aaaaaaa!" teriak Azkia.
Dengan sigap Azka mampu menangkap tubuh Azkia sehingga ia tidak jadi terjatuh diatas tanah.
"Hati-hati, masa calon istri Azka ceroboh sih," bisik Azka tepat di telinga Azkia.
Blush!
Lagi-lagi membuat wajah Azkia merah merona, Azka berhasil membuat Azkia terbang tinggi bersama dengan bunga-bunga yang bermekaran.
"Tu-tuunin, malu diliatin orang," kata Azkia sedikit gagap.
Perlahan Azka menurunkan tubuh Azkia, untung saja Azka mampu menangkap tepat waktu jika tidak mungkin Azkia akan terjatuh kedalam selokan.
"Pipimu kenapa nyun?" tanya Azkia sambil memegang pipi Azkia.
Dengan cepat Azkia menyingkirkan tangan Azka agar tidak menyentuh pipinya yang jelas terlihat memerah.
Plak!
"Gak usah pegang-pegang!" kata Azkia.
"Ini semua kan karena kamu, pinter banget itu mulut keluar kata-kata manisnya," batin Azkia.
"Yaudah mau pegang pipi cewek lain aja," canda Azka sambil berjalan menuju kelas mendahuli Azkia.
"APA! KAMU BERANI?" teriak Azkia.
Azkia langsung saja menjewer telinga Azka agar tidak macam-macam dengannya.
__ADS_1
"Aa assshhhh sakit, lepasin dong," rintih Azka sambil memegangi telinganya.
"Kamu berani macem-macem sama peremluan lain?" tanya Azkia.
"Gak, gak berani ... ampun sayang, cuma bercanda tadi," rengek Azka.
"Yang bener?"
"Bener, serius!" tangan Azka membentuk huruf V agar meyakinkan Azkia.
"Awas ya kalo berani macem-macem, aku gantung kamu!" ucap Azkia sambil melepaskan jewerannya.
"Huftt gini banget pacar gue," gerutu Azka sambil menatap punggung Azkia.
"Kenapa diem disitu, mau godain adek kelas?" tanya Azkia yang melihat Azka masih berdiri ditempatnya.
"Gak! Astagfirullah, mimpi apa gue semalam... kenapa pacar gue galak banget kaya singa!" gerutu Azka sambil berjalan menyusul Azkia.
Untung saja mereka tidak bertemu anggota osis ataupun guru piket jika tidak mereka berdua pasti akan diberi hukuman. Dan saat ada yang melihat kenapa mereka dikelas, mereka akan berasalankan sednag sakit sehingga tidaj ikut upacara bendera.
"Nyun, kamu lagi pms ya?" bisik Azka membuat Azkia melotot dengan sempurna.
Bisa-bisanya seorang cowok berpikiran seperti itu dan menanyakan langsung kepadanya.
Azkia berbalik badan menatap tajam Azka.
"Kenapa?" tanya Azka polos.
"Itu mulut kenapa lemes banget sih, astaga!" gerutu Azkia.
"Hah, maksudnya?" tanya Azka.
"Kenapa kamu sampai nanya aku lagi pms apa gak?" tanya Azkia menyelidik.
"Lah dari pagi lo marah-marah gak jelas, terus tiba-tiba nangis .... marah-marah lagi, kan gue mikirnya lo lagi pm—" jelas Azka namun mulutnya terbungkam oleh tangan Azkia.
"Suuutt! Kamu itu cowok kenapa bisa ngomong soal pms dengan sebegitu santainya seperti gak ada rasa malu sedikit pun, padahal kan itu urusan perempuan?" kesal Azkia yang masih menutup mulut Azka.
"Emmmb," ucap Azka karena mulutnya masih terbungkam tangan Azkia.
"Aku lepasin tapi janji jangan bahas pms lagi, okay?" tanya Azkia.
Azka mengangguk paham.
"Lo beneran PMS, ya? tanya Azka dengan penuh penekanan pada kata pms.
Azkia membekap mulut Azka lagi,"Kan aku udah bilang jangan bahas itu malu!" kesal Azkia.
"Ciiieeeeeee," terdengar paduan suara dari belakang mereka siapa lagi kalo bukan teman-teman mereka satu kelas yang baru saja kembali dari upacara bendera.
"Masih pagi, jangan pacaran mulu kasian yang masih jones ini," ucap Bobo.
"Gak jadi sarapan, gue kenyang liat yang uwuu seperti ini," sindir Devira sambil terkekeh.
Mendengar hal itu Azkia melepaskan bungkaman tangannya, lalu ia duduk dibangkunya dengan kesal. Memang Azkia sedang pms tapi bukan berarti mengizinkan Azka bertanya seperti itu tanpa bersalah sedikit pun.
"Masalah perempuan juga akan menjadi masalahku karena kamu adalah calon istriku," bisik Azka, setelah itu juga duduk dibangkunya sendiri.
Azka terlihat tanpa dosa setelah mengucapkan hal itu, sedangkan Azkia sudah duduk dengan tubuh kaku setelah mendengar perkataan Azka. Azkia tidak habis pikir kenapa Azka suka sekali menggodanya seperti ini. Walaupun perkataan Azka ada benarnya tapi perkataannya bisa membuat orang salah sangka.
..............................................
__ADS_1