Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Masker


__ADS_3

Azka sudah siap dengan baju kerjanya, ia serega menuruni anak tangga menuju dapur untuk menghampiri sang istri. Azka langsung memeluk Azkia dari belakang saat sang istri sedang sibuk memasak untuk sarapan.


"Apa sih, sana dulu!" protes Azkia sambil melepaskan tangan Azka yang melingkar di perutnya.


"Peluk bentar aja, Nyun!" pinta Azka sambil meletakkan dagunya dibahu Azkia.


"Malu nanti kalau ada papa sama mama, gimana?" tanya Azkia.


"Kenapa harus malu, kan kita udah nikah, Nyun," ucap Azka.


"Udah ah ngomong sama kamu gak akan ada habisnya, udah sana duduk dulu!" perintah Azkia.


Dengan berat hati Azka menurutinya saja, ia terlihat sibuk dengan ponselnya hingga tidak menyadari jika Bima sudah duduk didepannya bersama Lala yang menbantu Azkia menyiapkan sarapan.


"Kamu sakit, Ka?" tanya Bima.


"Sakit," jawab Azka sebelum melihat siapa yang diajak bicara, "Eh gak kok, pah."


"Terus kenapa pakai masker segala?" tanya Bima penasaran.


"Itu gak sengaja jatuh, terus luka sedikit wajahnya." alibi Azka.


Sedangkan Lala dan Azkia sudah menahan tawanya sejak tadi karena mereka berdua tahu persis apa yang terjadi pada pipi Azka.


"Parah gak? Dibawa ke dokter aja gimana dari pada nanti infeksi, ya gak mah?" Bima meminta saran dari Lala.


"Ga-gak usah, nanti juga sembuh sendiri kok!" tolak Azka.


"Yaikin?" tanya Bima.


"Iya, tadi udah Azka kasih saleb kok pah! paling nanti juga udah sembuh," kata Azka.


Azka sangat bersyukur karena memilik mertua yang baik dan sayang padanya seperti anaknya sendiri. Kebahagiaan yang jarang ia rasakan karena kedua orang tuanya yang sibuk dengan pekerjaannya.


Kemudian mereka sarapan dengan tenang, sesekali Azkia melirik sang suami yang terus memegangi pipinya yang terlihat memerah dan ada bekas gigitannya. Begitu juga mama Lala iya terus menahan tawanya agar tidak pecah, mama Lala tidak kaget lagi dengan ngidam Azkia yang aneh-aneh karena dulu mama Lala juga seperti itu. Tapi mungkin Azkia yang lebih parah sampai ngidam gigit pipi Azka.


Setelah selesai Azka berpamitan kepada sang istri juga ibu mertuanya, karena Bima sudah lebih dulu berangkat kerja.


Cup!


Satu ciuman mendarat mulus di kening Azkia begitu saja, tapi sekarang tak hanya itu karena pipi kanan dan kirinya juga. Saat akan mencium bibir ranum sang istri, Azkia mendelikan matanya karena takut sang mama melihat. Tapi yang namanya Azka tidak perduli, dengan cepat ia juga mencium bibir ranum milik istrinya itu kemudian memeluknya seolah tak ingin dilepaskan.


"Mau kerja apa gak?" tanya Azkia.


"Kerja, Nyun!"


"Lalu kenapa masih disini?" tanya Azkia.


"Kamu ngusir aku, Nyun?" ucap Azka dengan wajah sedih.


"Bukan gitu sayang, ini udah jam berapa? Masa bosnya telat kan gak lucu," bujuk Azkia.

__ADS_1


"Justru karena aku bosnya jadi terserah aku dong!" kata Azka menyombongkan dirinya.


Azkia hanya memutar kedua bola matanya malas, melihat itu membuat Azka terkekeh.


Cup!


Azka mendaratkan ciumannya lagi dibibir sang istri kemudiang langsung berlari sebelum Azkia memarahinya.


"AKU KERJA DULU SAYANG! LOVE YOU SO MUCH!" teriak Azka sambil melayangkan cium jauhnya.


"Cih, dasar! Ada-ada saja kelakuannya," ucap Azkia sambil menggelengkan kepalanya.


"Tapi cinta, kan?"


"Cinta banget!" jawab Azka kemudian berpalik karena menyadari ucapannya.


"Mama! Sejak kapan mama disini?" tanya Azkia kaget.


"Sejak Azka bilang love you so much!" goda Mama Lala menirukannya persis seperti Azka.


"Ihh mama, jangan gitu!" kesal Azkia, sedangkan mama Lala hanya terkekeh.


Perjalanan cukup lama karena jarak antara kantor dan rumah mertua sangat jauh sehingga Azka sampai dikantor saat semua karyawan sudah datang, sehingga membuat Azka menjadi pusat perhatian terlebih lagi tampilannya yang berbeda dari biasanya.


Azka memakai kemeja warna hitam dibalut jas warna yang senada dengan kemejanya. Tak lupa kacamata hitam yang masih bertengger manis dihidung mancungnya. Begitu juga masket putih yang menutup mulut dan hidung Azka.


Selama pintu masuk sampai masuk kedalam lift banyak karyawan yang melihat Azka bertanya-tanya apa yang terjadi pada bosnya itu.


"Tumben gak mau dijemput?" pertanyaan itu langsung dilontarkan saat Azka keluar dari dalam lift.


"Hmmm," saut Azka.


"Tumben maskeran?" tanya Attaya.


"Sakit!" singkat Azka.


"Sakit apa, tumben pakai masker segela... Biasanya kalau sakit juga gak pakai masker," ucap Devan.


"Habis digigit macan kali!" celetuk Attaya sambil terkekeh.


"Kalau digigit macan udah gak pakai masker lagi tapi langsung pake plastik!" Devan ikut menanggapi candaan Attaya.


"Hah plastik! Yang ada terbang lah plastiknya kalau dipakai," kata Attaya tidak paham.


"Maksud gue itu operasi plastik! Dudul banget sih!" kesal Devan.


"Emang habis digigit macan! udah kenapa jadi ribut sih! Kerja sana!" sewot Azka.


"Emang Azka punya macan, Van?" tanya Attaya.


"Macan?" tanya Devan sambil berfikir.

__ADS_1


"Azkia!" kata Attaya dan Devan bersamaan setelah itu mereka tertawa terbahak-bahak hingga terdengar dari dalam ruangan Azka.


"KERJA!" teriak Azka.


Sedangkan Attaya dan Devan semakin terbahak-bahak mendengar teriakan Azka dari dalam ruangannya.


Azka masih diam sambil memandangi pantulan wajahnya pada cermin yang ada dalam toilet. Tangannya mengusap pelan bekas luka gigitan Azkia.


"Sshhh!" keluh Azka saat ia mengoleskan saleb lagi.


"Sampai kaya gini pantes perih," gumam Azka mendekatkan wajahnya pada cermin.


Luka bekas gigitan Azkia terlihat sangat jelas pada pipi mulus Azka, bahkan sampai sedikit mengelupas kulit pipinya.


"Gini banget sih, ngidamnya," monolog Azka.


Setelah selesai mengoleskan saleb Azka mengipasinya agar cepat kering. Tiba-tiba saja Attaya dan Devan masuk kedalam ruangan Azka tapi tidak menemukan Azka sehingga mereka memeriksa toilet yang ada didalam ruangan Azka.


"Ngapain?" tanya Devan yang membuat Azka menoleh dan kaget, tanpa sadar lukanya belum ditutupi dengan masker.


"Pipi kenapa? Beneran digigit macan?" tanya Attaya polos.


"Hah!" bingung Azka.


Kemudian Devan memunjuk pipi Azka dengan dagunya, Azka yang paham langsung saja menutupi ya dengan telapak tangan.


"Kenapa tuh pipi?" tanya Devan.


"Kenapa, pipi gue gak kenapa-kenapa tuh!" panik Azka.


"Bekas gigi, lo beneran digigit?" tanya Artaya memastikan.


Azka hanya diam sambil mengamati kedua sahabatnya itu bergantian, merasa mereka berdua terus menatap membuat Azka mengaku. Azka menurunkan tangannya yang menutupi bekas luka itu, agar Devan dan Attaya melihatnya dengan jelas.


"Kok bisa sampai kaya gini?" tanya Devan.


"Beneran ulah Kia?" tanya Attaya.


Azka hanya mengangguk lemas, "Kia ngidam, pipi gue jadi korban!"


Attaya dan Devan saling pandang lalu tertawa bersamaan, "Hahahhaaaa!"


"Puas kalian!" kesal Azka.


Azka duduk dikursi kebesarannya sambil menatap tajam kedua sahabatnya itu. Sedangkan Attaya dan Devan tak hentinya tertawa dan meledek Azka, membuat wajah Azka memerah menahal malu dan kesalnya.


"Yang habis digigit macan!" ledek Devan.


"Gigit lagi dong yang sebelah!" ledek Attaya.


"Hahahaaa!" tawa Attaya dan Devan.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2