Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Ketika Berkumpul Bersama


__ADS_3

Akhirnya weekend kali ini mereka semua bisa berkumpul setelah sekian lama tidak bisa berkumpul secara lengkap. Jika Attaya dan Devan bisa bertemu dengan Azka dikantor lain lagi dengan Bobo dan Ciko. Mereka berdua magang ditempat lain yang cukup jauh dari kantor Azka. Karena sangat sibuk sehingga tidak bisa selalu ikut berkumpul.


Sebenarnya kuliah mereka sudah selesai hanya perluh merevisi sekripsi mereka. Meskipun dinyatakan lulus namun masih ada sedikit kesalahan yang harus dibenahi, jadi sambil menunggu acara wisuda mereka mengisi kekosongan waktu dengan magang di tempat mereka dulu praktik. Karena kinerja mereka yang bagus besar kemungkinan akar diterima sebagai karyawan tetap.


Azkia, Devira dan Nayla juga sama saja, hanya saja Azkia tidak perlu mencari tempat magang untuk ia bekerja. Mungkin setelah wisuda Azkia akan fokus pada anaknya terlebih dahulu, sambil perlahan mengisi butiknya.


Kali ini merea berlima sedang asyik nongkrong di Cafe milik Azka, ya akhirnya mereka semua tahu siapa pemilik Cafe yang terkenal dikalangan anak muda itu, Cafe Rindu Senja.


Mereka asyik mengenang masa-masa putih abu-abu yang sudah beberapa tahun mereka lewati, tanpa ada pacar atau istri yang ikut dalam acara kumpul-kumpul itu.


"Kok jadi kangen pas masa SMA, ya?" ucap Bobo.


"Kenapa?" tanya Attaya.


"Seru aja gitu, gimana ya lebih asyik waktu SMA menurutku!" jawab Bobo.


"Weh aku kamu sekarang, Bob!" ledek Ciko.


"Ya tergantung suasananya sih, masa iya didepan pak ceo kita lo gue an. Harus formal dong, ya gak, Ka?" Bobo meminta persetujuan Azka.


"Sebahagia lo, Bob." malas Azka.


"Hahahaa!" tawa mereka semua kecuali Azka.


Untung saja pipinya sudah sembuh jika tidak mungkin Azka tidak akan ikut dalam acara reuni ini, walaupun masih sedikit membekas tapi tidak apa jika Azka rajin menggunakan saleb itu tidak akan ada bekas lagi nanti.


"Kadang tuh gue mikir, enak waktu sekolah gitu! Gak ada masalah berat, paling apa tugas guru yang banyak. Kalau sekarang beda lagi, masalah kita udah bukan soal kaya gitu tapi tentang bagaikan cara bertahan hidup dan bermasyarakat yang pastinya masalah lebih berat dari waktu kita SMA." Ciko seoalah sedang mencurahkan isi hatinya.


"Gue setuju sama lo, Ko!" kata Devan.


"Sama!" saut Bobo dan Attaya sadangkan Azka hanya mengangguk saja.


"Kita udah dewasa dituntun untuk tanggung jawab dan mencukupi kehidupan sendiri dan orang lain, belum lagi kalau ada masalah kerjaan di tambah doi rewel udah deh ambyar!" kata Devan.


"Bener, masalah kerjaan baik tapi hubungan sama doi gak baik kadang sebaliknya." saut Attaya.


"Apalagi gue udah mau jadi seorang ayah! Tanggung jawab lebih banyak," saut Azka tiba-tiba.


"Kia udah mau lahiran, Ka?" tanya Attaya.


"Belum, masih lama sih." kata Azka


"Loh kapan buatnya? Kok udah mau lahiran aja?" tanya Ciko polos.


"Lah emang harus kasih penguman gitu pas mau buat?" tanya balik Azka.


Mereka hanya terawa saja dengan perkataan Azka, namun seketika tawa itu berhenti setelah pertanyaan absrud dari Bobo.


"Cara buatnya gimana emang?" tanya Bobo.


PLAK!


PLAK!

__ADS_1


PLAK!


PLAK!


Dengan bersamaan mereka berempat memukul kepala Bobo, membuat Bobo kesakitan namun juga teedengar gelak tawa dari mereka.


"Lo jomblo gak pantes nanya kaya gitu!" kata Devan.


"Kenapa?" polos Bobo.


Attaya merangkul leher Bobo agar mendekat kearahnya setelah itu ia berkata sesuatu.


"Belum saatnya lo tau!" tegas Attaya.


"Emangnya lo tau?" tanya Bobo polos, karena dia benar-benar penasaran.


Attaya juga menggeleng sambil milirik kearah Azka, otomatis mereka semua mengikuti tatapan Attaya.


"Tanya aja sama Azka, dia udah ber pe nga la man!" kata Devan sambil mengeja dan memberi penekanan.


Sontak saja perkataan Devan itu membuat Azka tersedak minumannya, bukannya menolong mereka semua menertawakan Azka.


"Uhukk uhuk!" dengan cepat Azka mengatur nafasnya agar meringankan tersedaknya setelah itu ia meminum ice coffe vanilanya.


"Kalian ini tega banget, orang tersedak gak ditolongin!" kesal Azka.


"Maafin deh, habis muka lo lucu banget, Ka. Seriusan!" saut Attaya, Azka menatap Attaya tajam.


"Bob!" panggil Azka.


"Lo mau tau caranya?" tanya Azka.


Bobo menganguk dengan cepat layaknya sebuah patung kucing yang sering terlihat didepan toko-toko.


Hal itu membuat mereka tertawa tapi tetap penasaran dengan perkataan yang akan Azka lontarkan.


"Carilah pacar dulu wahai anak muda nanti akan aku kasih tau bagaimana caranya membuat adonan baby yang lucu!" kata Azka degan gaya seperti motivator ternama.


"Asem! Gue udah serius ya dengerin lo ngomong masih aja dibercandain," kesal Bobo.


"Lagian pertanyaan lo aneh, Bob. Gak punya gandengan nanya yang begituan," kata Devan.


"Kan gue penasaran, Van." kata Bobo.


"Cari pasangan aja dulu, soal itu nanti sambil berjalan," saut Ciko.


"Cariin dong, tinggal gue sendiri ini yang belum ada gandengan." wajah Bobo terkihat sedih.


"Oh kasian sunggu kasiahan!" ledek Attaya membuat mereka menertawakannya.


"Lo ada sepupu cewek kan, Ka? Kasih Bobo aja siapa tau, mau." saran Devan.


"Sepupu Azka yang mana, oh jangan bilang mukanya yang dingin sebelas dua belas sama Azka?" tanya Bobo.

__ADS_1


Mereka mengangguk bersama.


"Ogah, yang ada gue jadi stres gara-gara liat mukanya yang datar gitu!" gerutu Bobo.


"Lagian siapa yang mau punya sepupu kaya lo," saut Azka tidak kalah nggas.


"Buat gue aja, Ka!" kata Devan.


"Inget woy udah punya bu pengacara!" sindir Ciko.


"STOP!" teriak Attata, "Gue mau minta tolong sama kalian." lanjutnya lagi.


"Apa?" tanya mereka berempat dengan kompak.


"Seminggu lagi kita kan wisuda," kata Attaya.


"Kalian doang gue gak!" saut Azka.


"Iya-iya yang udah wisuda dari lama," cebik Ciko.


"Bentar gue mau ngomong dulu, jangan dipotong terus lah!" kata Attaya.


"Oke, lanjut!" kata Devan.


"Gue mau serius sama Nayla, jadi gue minta bantuan kalian semua bisa?" tanya Attaya sambil memandangai wajah mereka satu persatu.


Hening untuk beberapa saat hingga suara Devan membuat mereka tersadar.


"Akhirnya lo mau halalin, Nayla!"


"Iya, gue udah yakin sekarang dan gue akan berusaha bahagiain dia," kata Attaya.


"Dari dulu kek gitu! Cewek itu butuh bukti buka janji manis," cibir Azka.


"Lemes banget tuh mulut kalau hujat orang!" ledek Bobo sedangkan Azka hanya masa bodoh saja.


"Mentang-mentang udah halal," saut Ciko, Azka hanya mengendihkan bahunya saja.


Devan yang lebih dewasa dari mereka hanya menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah sahabatnya yang tidak pernah berubah jika sudah berkumpul.


"Jadi rencana lo, gimana?" tanya Devan.


Attaya menjelaskan semuanya dengan rinci bagaimana dia akan melamar Nayla dan juga meminta bantuin mereka untuk ikut andil dalam rencana tersebut.


"Jadi gitu," kata Attaya.


"Boleh tuh, yang lain gimana?" tanya Devan.


"Setuju aja, kita bantu sebisa mungkin," kata Ciko.


"Kalau butuh apa-apa bilang aja!" ucap Azka, itulah yang ditunggu oleh mereka semua.


"Gue butuh pacar, pak bos! Biar pas wisuda ada gandengannya," rengek Bobo lagi dengan wajah memelasnya.

__ADS_1


"Sorry, bukan biro jodoh!" empat kata dari Azka ini mampu membuat mereka tertawa terbahak-bahak, terlebih melihat Bobo yang mencebikkan bibirnya.


...----------------...


__ADS_2