
Disela-sela makan Azka mengeluarkan sebuah kotak, lalu ia mendorong kotak itu hingga berada tepat dihadapan Azkia. Azkia yang tengah lahab makan pun menghentikan aktivitasnya. Ia menyerkitkan alisnya bingung melihat kotak itu.
"Ini apa?" tanya Azkia sambil mengamati kotak yang berukurang kecil.
"Kotak!" jawab Azka sambil menyuapkan nasi gorengnya.
"Iya tau kalau ini kotak, maksud aku isinya apa?" geram Azkia.
"Buka aja." kata Azka sambil menatap kedua manik mata Azkia.
Perlahan tangannya membuka kotak berwarna silver yang berhiaskan simpul pita warna biru laut.
Setelah menarik simpul pita itu Azkia menatap Azka, seolah sedang meminta persetujuaannya. Azka yang paham langsung mengangguk.
"Waooww!" pekik Azkia saat melihat isi kotak itu.
"Suka?" tanya Azka sambil mengambil benda dari dapam kotak.
Tangan kanannya menarik pergelangan tangan kiri Azkia agar mendekat, setelah itu ia mengenakannya pada pergelangan tangan Azkia.
"Cocok." lirik Azka sambil mengamati jam tangan itu.
Ya, Azka memberikan sebuah hadiah jam tangan pada Azkia. Jam yang terlihat sederhana namun elegan membuat Azka semakin cantik.
"Makasih banget, sesuai banget sama selera aku!" Azkia memutar pergelangan tanggannya melihat jam tangan itu.
"Nyun?" panggil Azka.
"Hmmm?" Azkia menatap Azka mata mereka saling terpaku.
"Sebenarnya aku mau bilang kalau bisa aku—"
Drrttt drttt!
Suara deringan ponsel membuat perkataan Azka terhenti, Azkia menerima panggilan itu yang ternyata dari sang mama. Mama Azkia menyuruhnya untuk segera pulang karena kedatangan saudara jauhnya. Azkia sesekali menatap Azka sambil mengiyakan ucapan sang mama.
"Siapa?" tanya Azka.
"Mama, disuruh pulang!" ada nada kecewa yang bisa terdengar dari ucapan Azkia.
__ADS_1
"Katanya om aku kesini, anaknya dia nyariin aku." lanjut Azkia.
"Cowok?" tanya Azka.
"Iya." hal itu membuat wajah Azka menjadi sulit dijelaskan.
"Tapi masih balita umur 5tahun, jadi jangan cemburu... okay?" ucap Azkia sambil terkekeh.
"Siapa juga yang cemburu, ayo!" Azka berjalan terlebih dahulu, ada senyum yang tertinggal pada bibirnya.
"Bisa-bisanya gue cemburu sama bocil," batin Azka.
Azkia bergelayut pada lengan Azka, sesekali ia menggoda Azka yang hampir saja cemburu pada anak kecil yang juga adalah keponakan Azkia. Azkia sangat suka melihat wajah Azka yang malu-malu, terlihat lucu untuk Azkia.
Lagi-lagi Azka yang memakaikan helm, padahal Azkia sudah bersikeras jika dia bisa memakainya sendiri. Tapi, karena Azka yang memaksa akhirnya Azkia hanya bisa pasrah saja. Sebelum Azkia naik motor sport Azka, ia dibuat bingung saat Azka mendekatinya membuat Azkia melangkah mundur hingga menabrak motor.
"Mau apa?" tanya Azkia panik.
"Peluk bentar boleh?" tanya Azka.
Entahlah, ini hanya perasaannya saja atau memang Azka berbuah menjadi manja sejak tadi. Bahkan Azka tidak mau makan jika tidak disuapi oleh Azkia, sehingga mau tidak mau Azkia menyuapinya setelah itu ia baru makan miliknya sendiri.
"Bo-boleh." Azkia menunduk malu saat mengucapkan itu.
Dengan senang hati Azka memeluk Azkia erat seolah ia tidak ingin melepaskan Azkia bahkan sedetik pun. Karena terlalu erat membuat Azkia sedikit kesatitan, ia menepuk-nepuk lengan Azka agar melepaskannya.
"Sa-sakit," lirih Azkia.
Mendengar itu, Azka melonggarkan pelukannya namun belum ada niatan untuk melepaskan pelukan itu. Azka mencium pucuk kepala Azkia yang sudah mengenakan helm.
"Kamu kenapa?" tanya Azkia.
"Diem dulu, lima menit." ucap Azka, sedangkan Azkia hanya pasrah saja.
Setelah lima menit Azka melepaskan pelukan itu, ia juga memakaikan jaket jinsnya pada tubuh Azkia. Azka tidak ingin jika Azkia kedinginan saat naik motor, walaupun pakaian Azkia tertutup tapi ia tidak mengenakan jaket.
Tidak butuh waktu lama mereka sudah menyusuri jalanan yang terlihat ramai karena malam sudah datang menyapa mereka, sesekali Azka mencuri pandang untuk melihat wajah Azkia yang terlihat bahagian.
"Salah gak kalau gue minta waktu berhenti untuk saat ini, gue masih mau berlama-lama sama lo, Nyun!" gumam Azka sambil melirik spion.
__ADS_1
Azkia tidak sadar akan hal itu, ia lebih memilih memeluk Azka dan menyandarkan kepalanya pada punggung Azka. Nyaman, itulah yang Azkia rasakan saat ini.
"Tuhan, aku mau waktu berhenti saat ini, rasanya belum cukup lama bertemu dengannya!" batin Azkia sambil mengeratkan pelukannya.
Azka tidak langsung membawa Azkia pulang kerumah, ia membawa Azkia ke toko kue terlebih dahulu. Azka berniat untuk membelikan keponakan Azkia kue dan juga untuk mama mertuanya.
Setelah mendapatkan kue yang diinginkan Azka langsung mengantarkan Azkia pulang ke rumah. Azka tidak mampir terlebih dulu karena Dsejak tadi Devan menghubunginya bahkan mengirimi Azka sebuah pesan singkat yang menyuruhnya untuk segera pulang.
Azkia bingung saat Azka menyodorkan tangannya tepat didepan wajah Azkia.
"Kenapa?" tanya Azkia bingung.
Tanpa banyak kata Azka menarik tangan kanan Azkia untuk berjabat tangan, namun setelah itu Azka merahkan punggung tangannya agar dicium oleh Azkia.
"Dah masuk sana, salam buat mama." Azka mengacak-acak rambut Azkia.
"Baiklah, hati-hati dijalan... gak usah ngebut, dan ingat jangan bengong!" perintah Azkia.
"Iyaaa." lagi-lagi Azka mencubit pipi Azkia.
"Ihh, sakit tau!" gerutunya sambil mengusap pipi yang hampir memerah itu.
"Maaf, habisnya gemes!"
"Hilih, tapi sakit tau.. yaudah aku masuk dulu, ya. Assalamualaikum, calon imam!" salam Azkia sambil tersenyum masuk kedalam rumah.
Azka tersenyum manis,"waalaikumsalam, calon makmum!" sambil melambaikan tangannya.
"Eh jaketnya!" teriak Azkia saat sudah sampai di depan pintu.
"Bawa aja duku!" Azkia mengangguk lalu melambaikan tangan pada Azka, setelah itu ia tidak terlihat lagi.
Sedangkan Azka memacu kendaraannya untuk pulang kerumah, banyak hadiah yang belum sempat Azka berikat kepada Azkia. Ia akan meminta tolong kepada sahabatnya untuk mewakilkan dirinya memberikan hadiah itu, sekarang ia harus pulang kerumah dan bersiap untuk besok.
Sepanjang jalan Azka mengingat setiap waktu yang sudah ia lewati bersama Azkia tadi, terkadang Azka juga meruntuki dirinya sendiri yang bersikap sangat manja kepada Azkia. Bahkan saat makan pun inginnya disuapi padahal biasnya Azka paling anti dengan yang namanya manja. Sejak kecil ia sudah terbiasa tanpa kasoh sayang orang tuanya sehingga susah untuknya bersikap manja. Tapi dihadapan Azkia lain ceritanya.
.............................................
Tamat? bosen gak sih sama cerita author ini, udah hampir 200eps soalnya hihi
__ADS_1