
"Akhirnya acaranya selesai," hela nafas Azkia terdengar berat.
Kini Azkia sudah berada didalam kamarnya, wajahnya pun sudah segar dari make up yang sejak sore ia kenakan. Tangannya terangkat keudara menampilankan benda mungil yang melingkar indah di jari manisnya, membuat sudut bibirnya melengkung sempurna.
"Cincinnya cocok banget ditanganku," gumam Azkia.
Dia terus mengamati cincin itu hingga tidak menyadari jika Axel sudah berada dibelakangnya sambil mengamati gerak-gerik adiknya.
"Cieee yang udah tunangan, ciee," ucap Axel membuat Azkia kaget.
"Astagfirullah, sejak kapan abang disini?" tanya Azkia.
"Sejak kamu liatin cincin itu," tunjuk Axel menggunakan dagunya.
"Bagus kan bagus, cocok banget di jari aku," pamer Azkia tepat di wajah Axel.
"Iya gak usah depan mata juga kali," gerutu Axel sambil menyingkirkan tangan Azkia.
"Azka pinter banget milih cincinnya, simple tapi terlihat menarik gitu sesuai karakter dia banget.. tapi Kia suka, karena cincin ini bisa buat Kia selalu inget dia," oceh Azkia sambil berjalan kearah tempat tidurnya.
"Dasar bucin! Mana coba liat," ucap Axel yang langsung menarik jemari Azkia.
"Bagus kan?" tanya Azkia penuh harap.
"Jelek gini, apaan permata biru ini bagusan yang warna merah," ucap Axel sambil mengamati tangan Azkia.
"Warna biru itu seperti orangnya, dingin namun tulus, setia dan yang jelas ini punya Kia hehe," ucap Azkia dengan tawa renyahnya.
"Serahlah, namanya udah cinta sejelek apapun dia, dimata orang yang mencintainya juga akan tetap terlihat bagus," ejek Axel sambil mengacak-acak rambut Azkia.
"Abang mah gitu!" kesal Azkia.
"Kan bener kata abang," ucap Axel yang ikut duduk di sebelah Azkia.
"Iyain deh biar cepet, makanya abang cari bucinan gih biar gak kesepian," ucap Azkia sambil tertawa.
"Lah gak segampang kamu belanja dishoppe, suka langsung masukin keranjang," gerutu Axel.
"Iya deh iya," kata Azkia
"Dek?" panggil Axel.
"Kenapa?"
"Hmmm... abang gak nyangka ternyata adek abang yang manja ini udah gede, ya?" kata Axel yang raut wajahnya terlihat sedih.
"Ih abang apaan sih, kenapa jadi melow gini," ucap Azkia sambil memeluk Axel.
__ADS_1
"Gak kok, pokoknya nanti kalo nikah abang duluan, ya?" ucap Axel sambil terkekeh.
"Jelas abang duluan kan, Kia aja baru mau naik kelas tiga ini masa udah nikah nanti dikira Kia aneh-aneh lagi," gerutu Azkia.
"Iya-iya, pokoknya inget abang dulu yang nikah... yaudah sana tidur," ucap Axel.
"Iya bawel banget sih!" kesal Azkia.
Axel hanya tersenyum milihat adik kecilnya itu yang sudah tumbuh menjadi gadis cantik dan manis, setelah itu Axel mematikan lampu kamar Azkia membiarkannya terlelap dalam mimpi indah.
....................
Kegiatan Azka terhenti saat ada yang memanggil namanya, tanpa berbalik melihat siapa yang memanggilnya Azka tetap berdiri tegak di depan pintu kamarnya.
"Azka!" panggil Yudha.
"Minggu depan kamu udah ujian kenaikan belajar yang rajin, soal bisnis kalo ada waktu luang terus lanjutin belajarnya sama om Yusuf," ucap Yudha.
"Hmm,"
"Papa sama mama mau keluar kota, jadi kamu jangan aneh-aneh dirumah... ini kunci motor kamu papa balikin tapi janji jangan balapan lagi, awas aja kalo papa sampai tau kamu balapan lagi!" ucap Yudha sambil memberikan kunci motornya.
Setelah itu Yudha kembali ke kamarnya, bersiap untuk membereskan keperluan yang akan dibawa besok.
Azka melemparkan kunci motornya diatas kasur, tubuhnya ia hembaskan ke kasur yang berukuran besar itu.
"Cantik," gumam Azka sambil tersenyum manis.
"Lama-lama bisa gila ini," gumam Azka.
Senyum terus mengembang disudut bibirnya, pikirannya terus terpaku pada wajah cantik Azkia. Tanpa sadar Azka berguling kesana kemari hingga terjatuh dilantai.
Bruk!
"Awh.. untung dua bocah itu gak ada disini, kalo ada bisa diketawain," gerutu Azka.
"Siapa yang gak ada disini?" suara itu membuat Azka kaget.
Azka langsung saja menoleh kebelakang, terlihat kedua orang yang sangat Azka kenali berdiri didepan pintu kamarnya menatap Azka.
"Ngapain kalian disini?" tanya balik Azka.
"Kita kan emang nginap disini, masa lo lupa?" ucap Devan.
"Terus ngapain tiduran di lantai?" selidik Attaya.
"Nyari kecoa ya?" tambah Devan.
__ADS_1
Azka hanya diam saja ia malas menanggapi kedua makhluk yang selalu menganggunya itu. Azka ikut duduk di sofa bersama Attaya dan Devan, mereka hanya diam saja tanpa melakukan apapun.
"Kapan rencananya mau nikah, Ka?" tanya Attaya.
"Masih lama lah," saut Azka malas.
"Kalo masih lama kenapa tunangan coba, biasanya jarak tunangan sama nikah itu gak lama," kata Attaya.
"Biar gak diambil orang," saut Devan sambil terkekeh.
"Yang udah ada suami aja bisa diambil orang apalagi yang baru tunangan," kata Attaya.
"Suttt!" bentak Devan sambil menutup mulut Attaya.
Sedangkan Azka hanya diam saja, benar juga yang di bilang Attaya. Tinggal bagaimana Azka bisa bertahan dan membuat Azkia tidak kelain hati.
"Gue buat Kia cinta mati sama gue, pasti gak akan kelain hati!" kata Azka dengan yakin.
Sedangkan Devan dan Attaya hanya mengacungkan jempolnya setuju dengan perkataan Azka.
"Tapi caranya gimana?" ucap Azka lagi membuat Devan dan Attaya saling pandang. Detik berikutnya mereka menertawakan Azka.
"Sini belajar dari ahlinya," ucap Attaya sambil terkekeh.
"Sombong amat! Tapi coba gue juga belajar, siapa tau Devira bisa luluh sama gue," kata Devan.
"Cewek itu bilang gak yang artinya iya!" ucap Attaya.
"Maksudnya?"
"Dia bilang gak suka padahal dia suka, mungkin Devira juga gitu sama lo, Van... cuma dia gengsi aja gitu," kata Attaya.
"Masa sih?" tanya Devan tidak percaya.
"Coba aja besok senin, ya gak, Ka?"
"Entahlah gue aja sama Kia juga cuma gitu-gitu aja," keluh Azka.
"Sini-sini kita belajar bareng, cara meluluhkan hati perempuan," ucap Attaya sambil terkeheh.
Kemudian mereka bertiga sama-sama belajar bagaimana cara meluluhkan hati perempuan hingga larut malam.
Mereka berusaha keras untuk membuat pujaan hati mereka jatuh cinta kepada mereka.
........
Maaf yak, beberapa hari inu author lagi gak ada semangat sama sekali..
__ADS_1
Harap dimaklumi ya :)
Jangan lupa jaga kesehatan!