Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Penyembuh Luka


__ADS_3

Tak henti-hentinya wanita paruh baya itu tersenyum penuh kebahagiaan saat melihat putranya sudah resmi menikah, walaupun sebelumnya penuh drama penolakan dari sang anak tapi tetap saja pada akhirnya sang anak menurut karena takut dengan ancaman yang di lontarkan wanita paruh baya itu.


Flascback On.


Seorang wanita paruh baya menghampiri kamar anaknya yang sejak tadi tertutup tanpa adanya tanda-tanda kehidupan.


Ceklek!


Gelap, itulah yang dilihat pertama kali olej netranya saat membuka pintu kamar bercat putih, kamar itu tak lain adalah kamar sang anak.


"Rayhan!" panggilnya sambil mencari sakelar lampu.


"Kamu dimana, nak?" suara wanita paruh baya yang tak lain adalah bundanya itu terus mencari keberadaan sang anak.


"Rayhan!" panggilnya lagi.


Klik!


Hingga sang bunda menekan sakelar lampu terlihat jelas kamar yang bernuasa putih itu sangat rapi dan bersih, banyak buku yang tertata rapi disebuah rak dekat dengan meja belajarnya. Bisa dipastikan pemilik kamar ini adalah seseorang yang hobi membaca buku.


Tapi sayangnya tidak terlihat seseorang pun di dalam kamar sehingga bisa dipastikan kamar itu kosong.


Rayhan!" panggil sang bunda lagi.


Bunda Maya mengecek disetiap sudut kamar sang anak, dari mulai kamar mandi hingga almari siapa tahu Rayhan bersembunyi dalam sana tapi tetap saja tidak ada. Hingga sang bunda membuka balkon kamar itu terlihat seseorang tertidur sambil menutup wajahnya dengan sebuah buku.


"Rayhan!" panggil lembut snag bunda sambil mengambil buku yang ada diwajah anaknya.


"Emnn," suara khas orang bangun tidur terdengar saat sang bunda menggoyangkan tubuhnya.


"Bangun sudah gelap ini, cepat mandi kita aja janji makan malam sama calon istrimu!" ucap bunda Maya.


Rayhan yang masih mengumpulkan nyawanya mendengar kata 'calon istri' membuat nyawanya seketika kembali.


"Calon apa bun? Istri, siapa?" tanya Rayhan mencerna perkataan sang bunda.


"Istri kamu lah, siapa lagi?" bunda Maya kembali bertanya.

__ADS_1


"Hah, Rayhan kan belum ada calon, bun?" Rayhan terlihat bingung sendiri.


"Kamu lupa obrolan kita kemaren?" tanya Bunda Maya.


Mendengar itu membuat Rayhan memutar kembali ingatannya tentang kemarin dimana sang bunda membahas perjodohan dengannya.


"Tapi bun, Rayhan kan belum setuju!" prptes Rayhan.


"Kamu bilang terserah kan, kemarin?" tanya bunda Maya dan Rayhan hanya mengangguk saja.


"Terserah kan bukan berarti mau kan, Bun?" kesal Rayhan.


"Jadi kamu gak mau nurut sama bunda, iya?" tanya bunda Maya.


"Bukan gitu bun, cuma belum si—"


"Bunda gak menerima penolakan apapun! Bunda sama Ayah udah atur semuanya, sahabat bunda juga sudah setuju dengan pernikahan kalian!" tegas bunda Maya.


"Yang mau nikah kan Rayhan, bund... jadi Rayhan berhak dong nolak kalau gak mau!" tegas Rayhan.


"Maksud bunda apa bilang seperti itu?" Rayhan mendekati Maya yang sudah terisak dalam tangisnya sambil duduk disalah satu kursi.


"Buat apa bunda hidup kalau anak bunda aja gak nurut sama bunda? Buat apa! Padahal bunda cuma mau yang terbaik buat kamu, bunda gak tega lihat kamu masih terperangkap dalam kesedihan itu. Bunda pengen kamu bahagia!" tangisnya pecah begitu saja dalam pelukan Rayhan.


Hati anak mana yang tidak teriris saat orang yang meliahirkannya dan merawatnya sejak kecil berbicara seperti itu sambil terisak. Rayhan pun ikut menangis sambil memeluk erat sang bunda, mungkin ini takdir yang harus ia jalani.


Dengan mengutur nafasnya yang sesak, Rayhan mulai melepaskan pelukannya pada sang bunda. Lalu bersimpuh didepan sang bunda sambil tangannya memgusap butiran air mata yang membasahi pipi bundanya.


"Hah," helaan nafas Rayhan begitu berat bercampur keputusan asaan.


"Rayhan mau dijodohin sama pilihan bunda!" Rayhan memejamkan matanya sambil meletakkan kepalanya dipangkuan sang bunda.


Matanya sudah memanas hingga cairan bening muncul dari sudut matanya, hatinya sakit saat membuat wanita yang paling ia sayangi memangis dan mengancamnya seperti tadi.


"Serius?" tanya bunda Maya.


Rayhan tak menjawab ia hanya mengangguk saja sebagai persetujuan, melihat itu Maya langsung berterimakasih dan mencium kepala Rayhan.

__ADS_1


Flascback Off.


"Bunda cuma mau lihat kamu bahagia, mungkin saat ini kamu belum mencintainya. Tapi lihat saja nanti, karena tidak mungkin jika tidak tumbuh benih-benih cinta saat kalian tinggal bersama." gumam bunda Maya sambil menatap putranya yang sudah resmi menjadi seorang suami.


"Lamunin apa, ayo kesana acaranya sudah mau dimulai!" kata sang suami sambil mengandeng Maya menuju tempat yang sudah disediakan disebelah pengantin.


Terlihat suasana yang begitu ramai didalam sebuah gedung yang sudah disulap dengan sangat indah, dekorasi bernuasa putih biru itu terlihat mewah dan elegan. Para tamu datang silih berganti hanya untuk mengucapkan dan memberikan doa restu pada pasangan pengantin baru itu. Mereka berdua resmi melaksanakan ijab qobul tadi pagi disebuah masjid yang terletak tidak jauh dari tempat resepsi saat ini.


Dengan dibalut tuxedo pengantin pria itu terlihat sangat tampan bahkan ke tampanannya membuat sebagaian tamu merasa iri dengan pengantin perempuan yang bisa mendapatkan laki-laki seperti Rayhan.


Rayhan berusaha keras mengatur mimik wajahnya agar terlihat bahagia meskipun terpaksa, ia tidak ingin melihat sang bunda menangis lagi seperti waktu itu.


Beda dengan gadis disebelahnya yang sudah menyandang gelar istri Rayhan, ia tampak bahagia dengan senyuman yang tak pernah luntur dari bibirnya. Walaupun pernikahan mereka hasil erjodohan tidak membuat gadis cantik itu bersedih, karena ia memiliki kisah yang hampir mirip dengan Rayhan. Sehingga ia tahu betul bagaiamana perasaan Rayhan.


Rayya Sheza Novaira, seorang dokter muda disalah satu rumah sakit ternama. Ia merupakan dokter cantik dengan segudang prestasi, namun siapa sangka dibalik semua itu ia pernah menggalami patah hati yang sangat berat untuknya. Setelah kejadian itu membuatnya terturup pada yang namanya laki-laki. Hal itu membuat orang tuanya khawatir sehingga menerima perjodohan ini.


Rayhan melirik sang istri dengan ekor matanya sekilas, ia ikut tersenyum saat melihat Rayya tersenyum manis pada tamu yang memberikan mereka ucapan selamat.


Semua rekan dokter Rayhan maupun Rayya datang, ditambah dengan rekan bisnis sang ayah membuat banyak tamu yang harus ia salami.


"Kenapa?" tanya Rayya yang sadar jika Rayhan mempertahatikannya.


"Gak," singkat Rayhan.


"Cantik, ya?" tanya Rayya.


"Cantik, eh gak mana ada!" dengan cepat Rayhan membantak perhataannya sendiri.


Rayaa hanya tertawa melihat tingkah suaminya itu, Rayya bukan tipe perempuan yang sulit berkomunikasi dengan orang lain. Sehingga Rayya bisa dengan muda menyesuikan diri dengan Rayhan.


Sebelum Rayya jatuh cinta, ia akan membuat sang suami jatuh cinta terlebih dahulu pada dirinya. Rayya akan berusaha memnuat Rayahan membua hatinya, ia tidak mau jika suaminya masih mencintai orang lain disaat ia sudah menikah.


...----------------...


"Aku akan berusaha mengonati hatimu yang terluka itu dan mengantikannya dengan kebahagian yang tidak pernah kamu rasakan" ~Rayya Sheza Novaira


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2