Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Persiapan Perpisahan Sekolah


__ADS_3

Terlihat sebuah panggung yang cukup megah berhiaskan dekorasi yang memanjakan mata terpajang indah di aula sekolah. Di depannya terdapat deretan kursi yang berjajar rapi. Semua orang yang mengenakan almamater berwarna maroon itu tengah sibuk dengan tugasnya masing-masing, bahkan sejak subuh mereka sudah berada disekolah. Hanya untuk kelancaran acara pada pagi ini.


Hari ini semua siswa kelas dua belas berdandan cantik dengan setelan kebaya dan juga jas. Dari beragam gaya dan motif kebaya ada, sudah seperti melihat acara fashionshow yang diselenggarakan secara gratis.


Azkia mengenakan kebaya warna biru langit, yang terlihat sangat cocok dengan kulitnya. Rambutnya ia sanggul dengan model yang sangat elegan namun tidak memberikan kesan tua pada wajahnya. Tidak lupa hils yang senada dengan warna bajunya melekat sempurna di kedua kaki Azkia.


Sejak tadi Azkia sibuk memainkan benda pipi yang senantiasa ia bawa kemana pun. Tangan lentiknya mengetikan pesan singkat entah untuk siapa, karena sejak tadi Azkia terus memandang ponselnya tanpa sadar kedua sahabatnya sudah berada di sebelahnya. Mereka berdua sibuk membenarkan dandanannya.


"Udah cantik kok!" ucap Azkia geram saat melihat kedua sahabatnya itu.


"Dari dulu," ucap Devira sambil mempoles bibirnya dengan pewarna bibir alias lipstik berwarna orange sedikit pink.


"Cih! Terbang jangan terlalu tinggi, nanti jatuh sakit!" cibir Nayla.


"Biariin, emang cantik kan!" ucap Devira sambil menjulurkan lidahnya mengejek Nayla.


"Ngomong-ngomong Azka mana, ya? Kok belum kelihatan?" tanya Azkia sambil celingukan menatap sekitar mencari keberadaan Azka.


"Entah, itu cowok lu misterius banget... udah kek buronan aja!" ledek Devira.


"Burunan para cewek-cewek maksud lo?" tanya Nayla.


"Tuh mulut habis makan apa sih, kok dari tadi nyinyir mulu!" kesal Azkia.


"Makan apa ya, oh iya makan sam—" belum juga Devira menyelesaikan ucapanbya sudah disambar oleh Nayla.


"Makan harapan dia, ya jadinya gitu, Ki! Hahaa!" ucap Nayla membalas Devira.


"Emang si Devan kenapa?" tanya Azkia penasaran.


"Tuh kemaren janjian mau ketemu, eh udah gue tungguin dari pagi sampe malem gak ada kabar... kan bikin gue pengen makan orang!" kesal Devira sambil mengerucutkan bibirnya.


"Mamam tuh harapan, biar kembung!" ucap Nayla bahagia.


"Hahaa, eh tapi dari kemaren Azka juga susah dihubungi," ucap Azkia sambil menghentikan aktifitasnya lalu menatap kedua sahabatnya satu persatu.


"Jangan-jangan!" ucap mereka bertiga kompak.


"Pikiran kita sama kan?" tanya Devira, membuat Azkia mengangguk.


"Sepertinya sama, apalagi waktu kelas sebelaskan banyak gosip soal Azka sama Devan?" Nayla menutup bedak yang sejak tadi ia gunakan.


"Yang waktu itu?" tanya Azkia.


"Iya, jangan-jangan bener kalau mereka berdua belok!" Nayla menutup mulutnya setelah mengucapkan itu.


"Mana ada!" ucap kompak Azkia dan Devira.


................


Dibelakang panggung terlihat lima orang cowok dengan setelan jas tuxedo dengan warna yang hanpir senada. Mereka sudah berangkat sejak tadi, karena harus memperisapkan dibelakang panggung sebelum mereka tampil.


Azka hanya duduk termenung menatap kosong orang-orang yang sibuk berlalu-lalang melalui pintu yang terbuka itu. Selama beberapa hari sebelumnya waktu Azka hanya dihabiskan bersama Azkia dan juga latihan band bersama sahabatnya. Azka tidak menyangka waktu akan secepat ini berlalu, rasanya baru kemarin ia pacaran dengan Azkia.

__ADS_1


Azka tersenyum tipis saat mengingat semua kejadian dari senang mau pun sedih, bahkan saat-saat emosi pun Azka mengingatnya dengan jelas. Kisah yang tidak akan pernah bisa ia ulang kembali, akan tersimpan rapi sebagai kenangan masa putih abu-abu. Kenangan yang akan membuatnya merindukan suasana sekolah.


"Sstttt! Azka kenapa?" tanya Attaya sambil duduk disebelah Devan.


"Galau mungkin mau ldr." jawab Devan santai.


"Kasian, ya... cinta mereka selalu diuji," kata Bobo yang tiba-tiba merangkul leher Attaya dan Devan.


"Astaga! Lo ngagetin aja, jalan kek hantu gak ada suaranya." kesal Attaya sambil sedikit berdiri karena kaget.


"Ya gitu lah, Bob... semakin kesini hubungan akan semakin banyak rintangannya, tinggal seberapa kuat kita bisa bertahan menghadapinya." kata Devan sambil menatap lurus Azka.


Attaya dan Bobo dibuat tak bisa berkata-kata dengan ucapan Devan yang memang sangat tepat.


"Tapi, semua itu yang akan membuat cinta mereka semakin kuat jika mereka mampu bertahan, atau bahkan sebaliknya." lanjut Devan.


"Gila! Lo tadi pagi sarapan apa? Kenapa bisa sebijak ini, sih?" tanya Attaya tidak percaya.


"Jangan bilang lo kesambet demit sekolah, Van... tiba-tiba omongan lo berbobot banget!" Bobo mengeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya.


"Cih! Terserahlah, kalian mah belum ngalamin apa yang dialamin Azka. Awas aja kalau ada masalah jangan datang ke gue!" kesal Devan sambil melipat tangannya didepan dada. Ia membuang muka kesembarang arah karena kesal.


"Ngambek weh, aa Devan ngambek atut aku!" canda Attaya sambil terkekeh membuat Bobo tertawa terbahak-bahak.


TUK!


"Mana ada demit sekolah yang pinter!" kesal Ciko sambil mengeplak kepala Bobo dengan stik drum.


"Aawhh! Lo suka banget sama kepala gue, Ko. Sakit tau!" geram Bobo sambil mengusap kepalanya.


"Samperin Azka, kuy!" ajak Attaya. Mereka mengangguk dan mengikuti langkah Attaya.


"Heh bos, diem-diem bae ngopi ngapa?" canda Attaya yang menepuk bahu Azka dan duduk di sebelahnya.


Azka hanya melirik sekilas lalu ia menyingkirkan tangan Attaya yang masih berada di bahunya.


"Kenapa-kenapa sini cerita, kita dengerin!" ucap Bobo sedikit manja membuat mereka semua ingin muntah.


"Biasa aja kali, Bob.. gak usah ganjen!" kesal Ciko yang mau memukul kepala Bobo, tapi bisa ia hindari.


"Gak kena, wleee!" ledek Bobo.


"Jadi berangkat kapan, Ka?" tanya Devan tiba-tiba membuat suasana hening sesaat karena Azka tak kunjung menjawab.


Azka melirik sahabatnya satu persatu. seolah mereka sedang menanti jawaban Azka. Azka menghela nafasnya berat, kemudian ia menyandarkan kepadanya pada kursi.


"Lusa!" singkat jelas padat namun sangat membuat mereka kaget.


"Hah! Gue gak salah denger kan?" tanya Attaya tidak percaya.


"Hmmm," saut Azka lemas.


"Lo beneran bakal kuliah disana, udah bujuk papa lo lagi biar dibatalin?" tanya Devan.

__ADS_1


"Yakin berangkat bos?" tanya Bobo.


"Semua pilihan lo, kita dukung," kata Ciko sambil menpuk bahu Azka memberi kekuatan.


"Gue harus gimana, semuanya percuma!" ucap Azka malas, sesekali tangannya mengacak-acak rambut yang sudah tertaya rapi itu.


"Lo pasti bisa jalanin ini semua!" ucap Devan sambil memeluk Azka.


Mereka semua memeluk Azka seolah mengerti apa yang sedang Azka rasakan. Mereka tidak bisa berbuat apapun selain mendukung semua keputusan Azka. Mereka hanya bisa mensuport Azka.


Tiba-tiba ada anak osis yang masuk dan kaget melihat mereka semua saling berpelukan.


"Kak, nanti kalian tampil ha—" gadis itu menutup mulutnya. Begitu juga laki-laki yang berada di sebelahnya melakukan hal yang sama.


"OMG MATA GUE TERNODAI," ucap gadis yang bername tag Nanda itu.


Mendengar teriakan itu membuat mereka berlima menatap sumber suara dengan tatapan kosong. Mereka belum menyadari jika mereka masih berpelukan.


"NANTI KALAU UDAH WAKTUNYA KALIAN TAMPIL BAKALAN DIPANGGIL!" teriak Nanda sambil berlalu pergi meninggal mereka semua.


"Astaga, pagi-pagi liat yang begituan. Pikiran gue jadi ikut traveling," gerutu Nanda.


Dalam penglihatan Nanda, ia melihat Azka yang dikerubuti empat cowok ganteng. Seperti Azka memiliki herem yang selalu Nanda baca dalam komik kesukaannya.


"Apaan sih?" tanya Bobo heran.


"Itu toak apa speaker masjid sih?" gerutu Attaya.


"Eheem, maaf kak... dia begitu soalnya liat posisi kalian! Kalau begitu permisi juga takut ganggu!" ucap Nando sambil cepat-cepat berbalik badan dan lari.


"Mereka kenapa sih, emang posisi kita kenapa?" tanya Attaya.


Setelah mendengar perkataan mereka melihat posisi mereka saat ini. Azka yang berada ditengah, samping kanan kiri ada Devan dan Attaya. Dibelakang ada Ciko dan juga Bobo. Tangan mereka sibuk memeluk Azka.


"Astagfirullah!" ucap Devan syok sambil menjaga jarak dari mereka.


"Astaga, pantes tuh cewek tadi teriak-teriak liat kita," ucap Attaya yang melakukan hal yang sama seperti Devan.


"Khilaf mak, reflek tadi," kata Bobo mengangkat tangannya dan mundur satu langkah.


"Sama!" kata Ciko.


"Cih," dengus Azka sambil tersenyum meremehkan.


"Alamat kita jadi tranding topik ini, seorang most wanted memiliki herem cowok semua huaa!" panik Bobo sambil berjalan mondar-mandir.


"Dah lah cuekin aja, udah biasa dapet gosip kek gitu. Ya kan, Ka!" Devan menyenggol lengan Azka sambil mengerlingkan sebelah matanya.


"......"


...--------------------------------...


...SELAMAT HARI SUMPAH PEMUDA...

__ADS_1


...UNTUK PUTRA & PUTRI INDONESIA...


...(28 Oktober 2021)...


__ADS_2