Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Pelangi, seindah hadirmu


__ADS_3

Dengan sigap Mikael menggendong tubuh Siska ala bridal style, dibelakangnya diikuti Dewi dengan langkah besar.


"Sus, tolong!" teriak Mikael.


Dengan cepat para suster yang sedang bertugas mendekati Mikael dengan mendorong sebuah bankar.


Perlahan Mikael menurunkan tubuh Siska diatas bankar, lalu para suster itu mendorongnya keruang IGD. Diikuti oleh seorang dokter yang masih mengenakan seragam lengkap.


Terlihat jelas raut wajah panik dan khawatir dari mereka. Mikael mendekati Dewi, ia ingin bertanya sebenarnya apa yang terjadi pada Siska hingga bisa seperti ini. Padahal beberapa waktu lalu ia masih baik-baik saja saat Mikael mengantarnya pulang.


"Tan, Siska kenapa bisa seperti ini?" tanya Mikael.


"Tante gak tau, pulang-pulang Siska langsung mengunci diri dikamarnya," ucap Dewi sambil menangis.


"Tapi, sepertinya karena Azka," lanjut Dewi lagi.


Mendengar nama Azka membuat rahang Mikael mengeras, kenapa selalu Azka yang menjadi penyebab pujaan hatinya terluka.


"Gue harus kasih pelajaran orang itu," gumam Mikael sambil menggengam erat jemarinya hingga urat nadinya terlihat.


Klek!


"Keluarga pasien?" suara seseorang menyadarkan mereka dari lamunan masing-masing.


"Saya dok, saya mamanya!" Dewi mendekati dokter.


"Bagaimana keadaan putri saya dok, dia baik-baik saja kan?" tanya Dewi.


"Gimana keadaan Siska, dok?" tanya Mikael.


"Pasien belum sadarkan diri, untung saja kalian cepat membawanya kesini. Pasien mengalami syok berat ... bisa dibilang jiwanya sedang terguncang. Ditambah luka yang ada ditangannya cukup dalam mengakitbatkan pasien kekurangan darah," ucap dokter.


Mendengar hal itu Dewi langsung tersungkur dilantai, ia tidak menyangka putri semata wayangnya akan seperti ini. Pak Lam membantu Dewi berdiri, papanya sedang dalam perjalanan kerumah sakit.


Mikael semakin emosi setelah mendengar penjelasan dari sang dokter. Ia berjanji tidak akan memaafkan Azka jika terjadi sesuatu pada Siska.


Mikael berpamitan kepada Dewi setelah melihat kondisi Siska yang sudah membaik dan sudah dipindahkan ke ruang rawat inap.


Mikael menyusuri jalan raya yang cukup padat, pikirannya terus tertuju pada wajah cantik Siska yang biasanya cerewet kini dia terbaring lemah di rumah sakit.


"Awas lo Azka, kalo sampai terjadi sesuatu sama Siska ... gue gak akan maafin lo!" Mikael memukul setir mobilnya berkali-kali.


"Gue tahu apa yang lo rasain, Sis ... karena itu yang gue rasain juga saat lo lebih milih Azka dari pada gue," ucap Mikael sambil tersenyum miris.


"Tapi, gue akan selalu ada disisih lo, apapun yang terjadi ... karena gue gak mau orang yang gue sayangin terluka." Mikael mencengkram erat setir mobilnya.


......................


Pinggir Jalan.


Setelah acara makan-makan yang berjalan lancar, kini mereka sudah pulang ke rumah masing-masing. Azkia diantar pulang oleh Azka, baju mereka sedikit basah karena gerimis yang tiba-tiba datang.


"Mau neduh dulu?" tanya Azka.


"Boleh," saut Azkia sedikit berteriak.


Gerimis yang cukup deras ini mampu membuat seragam mereka basah kuyup jika terus melanjutkan perjalanan.


Hanya sedikit bangunan yang ada di jalanan ini, sehingga mereka berdua memilih untuk berteduh di sebuah pohon yang cukup rindang. Karena banyak orang yang sudah meneduh disetiap emperan bangunan itu.


"Dingin?" tanya Azka.


"Iya, dingin," jawab Azkia sambil menggosokkan telapak tangannya.


Azka mendekat kearah Azkia, jaket yang ia kenanakan sudah berpindah ke tubuh Azkia.


"Makasih," ucap Azkia sambil tersenyum manis.


Pandangan mata Azkia tertuju pada pasangan yang berada diseberang jalan. Mata Azkia terbelalak saat melihat kejadin yang seharusnya tidak ia lihat.


"Gelap?" batin Azkia.


Terasa ada telapak tangan yang dingin seperti es menutup mata Azkia, lalu terdengar suara dari belakang Azkia.

__ADS_1


"Jangan diliat, belum waktunya," ucap Azka sambil sedikit menggoda.


"Siapa juga yang liat," kesal Azkia lalu berbalik menghadap Azka.


Gerakan Azkia yang tiba-tiba membuat Azka oleng kebelakang, sehingga tangannya terlepas dari mata Azkia.


Bruk!


Keadaan tanah yang becek membuat Azka tergelincir dan jatuh ke tanah. Badan Azkia menjadi kotor karena jatuh tepat diatas genangan air.


"Hahahaaa." tawa Azkia menembus berisiknya gerimis yang sedang turun.


"Lucu?" tanya Azka sedikit kesal.


"Lucu, pake banget haha," jawab Azkia.


Dengan kesal Azka mencipratkan genangan air itu kearah Azkia. Membuatnya diam seketika karena tepat diwajah Azkia.


Azkia yang diam saja membuat Azka panik, ia takut jika Azkia akan marah dengan ulahnya.


"Gue gak sengaja," ucap Azka sambil mencoba berdiri.


Azkia berjongkok seperti akan menangis, namun saat Azka mendekatiinya ia langsung mencipratian air kearah Azka sama seperti yang dilakukan Azka.


"Syukurin! Emang enak haha," ucap Azkia sambil terus mencipratkan air kearah Azka.


"Udah dong," gerutu Azka sambil menutupi wajahnya.


"Gak mau wlee," ejek Azkia sambil menjulurkan lidahnya.


"Awas ya!" kata Azka mendekati Azkia, namun dengan gesit Azkia berlari menjauhi Azka.


"Tangkep aja kalo bisa, wlee wlee," ejek Azkia sambi" berlarian diantara gerimis yang turun.


"Okee!" Azka berlari mengikuti langkah Azkia.


Mereka berdua kejar-kejaran seperti anak kecil, mereka tidak menghiraukan tatapan orang-orang yang sedang berteduh. Melihat Azkia tertawa lepas adalah kebahagiaan tersendiri untuk Azka.


Saat berlari diantara pepohonan Azka berhasil menangkap tubuh mungil Azkia, tangan Azka melingkar erat di pinggang Azkia.


"Ihh, lepasin Azka.. geli tau gak!" protes Azkia sambil berusaha melepaskan pelukan Azka.


Kedua jemari Azka menaut diperut Azkia membuatnya susah melepaskan tangan Azka.


"Bodo amat, tadi siapa suruh iseng gitu," ucap Azka.


"Iya-iya maaf, gak iseng lagi." Azkia memohon agar Azka mau melepaskannya.


"Cium dulu," goda Azka sambil menyodorkan pipinya disamping kepala Azkia karena Azka memeluk Azkia dari belakang.


"APA?" Azkia kaget dengan permintaan Azka.


"C i u m." Azka mengeja setiap kata agar Azkia paham maksudnya.


Wajah Azkia sudah memerah, untung saja terkena air hujan jadi dia memiliki alasan saat ditanya Azka.


"Ga-gak mau!" tolak Azkia.


"Tadi bukannya lagi liatin orang ci—"


"Gak denger, gak denger nananaaa gak denger." Azkia menyambar perkataan Azka yang belum terucap semua.


Azka tersenyum tipis melihat kelakuan Azkia seperti ini, memaksanya untuk selalu menggoda Azkia.


"Gak usah pura-pura," bisik Azka.


"Apa sih, lepasin gak? Aku teriak loh!" ancam Azkia.


"Terserah."


"Tolo—" Azkia tidam bisa bersuara lagi saat tangan kekar Azka membekapnya.


"Gak usah berisik, liat atas coba!" perintah Azka sambil menunjuk langit dengan tangan kanannya yang tidak membekap Azkia.

__ADS_1


Mata Azkia mengikuti arahan Azka, terlihatlah warna warni yang sangat indah menghiasi langit yang mulai terlihat cerah.


Gerimis sudah berhenti, matahari yang sejak tadi bersembunyi kino sudah menampakkan cahayanya. Sehingga membuat warna yang indah dilangit.


"Pelangi, cantiknya," gumam Azkia kagum melihat pelangi yang indah.


"Lebih cantikan kamu," bisik Azka sambil menggandeng tangan Azkia.


"Jelas dong pacarnya siapa dulu?" goda Azkia.


"Emang pacarnya siapa?" tanya Azka sambil menatap hangat Azkia.


"Emmm, siapa ya?" kata Azkia sambil berlagak sedang berfikir.


"Dahlah kalo gak diakuin," ucap Azka melangkah mendahului Azkia.


"AZKIA PACARNYA AZKA SI MANUSIA ES, haha." teriak Azkia sambil tertawa lepas.


Langkah Azka terhenti ia berbalik menatap Azkia sambil menggelengkan kepalanya.


"Kenapa gue bisa suka sama orang seperti ini," batin Azka.


Namun bibirnya terus tersenyum manis kearah Azkia.


"Gimana bahagia gak, ya bahagialah masa enggak!" Azkia mengahampiri Azka seolah sedang meminta pujian.


Azka mencondongkan badannya kearah Azkia lalu berbisik,"Bahagia pake banget!"


Hal itu membuat senyum Azkia semakin mengembang.


"Ayo sini dulu," ajak Azkia.


"Ngapain?" tanya Azka yang membiarkan lengannya diseret oleh Azkia.


"Foto lah, mumpung bagus langitnya hehe!" Azkia mengeluarkan ponselnya yang berada di dalam tas.


Untung saja tas mereka anti air sehingga barang mereka tidak ada yang basah.


"Gak mau, kek bocah!" tolak Azka.


Azkia tidak memperdulikan perkataan Azka, dengan cepat Azkia menariklengan Azka agar berada disisihnya.


Klik!


Satu foto sudah didapatkan dengan Azkia yang edang tersenyum manis, sedangkan Azka dengan ciri khasnya. Wajah dingin sedingin es, namun tetap saja aura ketampanannya tidak hilang.


"Perfect! Satu lagi!" ucap Azkia sambil berganti gaya.


Azkia berpose dengan tangan yang membentuk saranghae alias love seperti yang sedang viral saat ini, mata kanannya terpejam dengan senyuman manis yang menunjukan deretan gigi putihnya.


Tepat detik ketiga, Azka mendekati wajah Azkia, jarak diantara mereka hanya beberapa senti saja. Azka mengikuti gaya berpose Azkia dengan mata yang terpejam sebelah, senyum tipis diujung bibir namun sangat membuat Azkia terlihat mempesona.


Klik!


"WAOW!" ucap Azkia tidak percaya dengan hasil foto tersebut.


"Udah seneng?" tanya Azka.


Azkia mengangguk dengan bahagia,"Seneng pake banget."


Puk!


Azka menepuk pelan pujuk kepala Azkia,"Ayo pulang, nanti sakit kelamaan pake baju basah!" ajak Azka.


Azkia hanya diam saja, ia masih terpesona dengan foto mereka berdua yang terlihat sangat bagus.


"SAYANG, AYO PULANG!" azka sengaja berteriak agar Azkia mendengarnya.


Dengan wajah memerah karena kaget dipanggil sayang, ditambah lagi angin yang membuatnya keidnginan. Azkia segera bergegas mengikuti langkah Azka, sebelum Azka berteriak tidak jelas yang akan megundang orang-orang untuk melihat mereka.


Mereka berdua meneruskan perjalanan pulang, hingga tidak terasa seragam yang mereka kenakan hampir kering karena terkena angin dan cahaya matahari yang sudah muncul.


________________________________

__ADS_1


Cinta yang tidak terbalaskan lebih sakit dari pada cinta dalam diam, ~


~Mikael


__ADS_2