
Matahari pun belum menampakkan sinarnya, namun disebuah dapur sudah terlihat seorang gadis tengah bergelut dengan wajan penggorengan. Tangannya sibuk mempersiapkan bahan - bahan yang akan dia gunakan, sesekali matanya melihat kearah ponsel yang ia biarkan tergeletak disebalahnya.
"Bumbunya udah lengkap semua, tinggal panasin sedikit minyak." ucap Azkia sambil meletakan wajan diatas kompor.
Perlahan Azkia mulai memasukan semua bumbu yang sudah ia siapkan untuk membuat nasi goreng. Matanya selalu menatap kearah ponsel yang sedang memutar vidio cara memasak nasi goreng.
Hingga tanpa sadar Azkia terlalu banyak memasukkan garam kedalam masakannya.
"Kamu ngapain?" tanya seseorang yang membuat Azkia terpelonjat kaget.
"Astagfirullah, mama bikin kaget aja." hampir saja wajan yang berisi nasi goreng itu jatuh kelantai.
"Habisnya kamu serius banget sampai mama panggilin gak denger." ucap mama Lala, beliau berjalan mendekat ke arah Azkia.
"Hehe."
"Waah tumben sekali anak mama mau masak." tangannya sibuk mengambil sendok untuk mencicipi masakan putrinya.
Dengan cepat Azkia mengambil kotak bekal yang sudah terisi nasi goreng itu dari hadapan sang mama.
"Yang ini jangan mah, itu buat mama Kia taruh dipiring." ucap Azkia.
"Yaudah, Kia mandi dulu udah mau telat." lanjutnya lagi tanpa memberikan sang mama kesempatan berbicara.
Mama Lala beralih ke piring yang Azkia maksudkan, satu suapan perlahan masuk kedalam mulutnya.
"Uhuuk uhuuk." dengan cepat mama Lala mengambil gelas lalu mengisinya dengan air putih, dalam sekali tegukan mampu menghabiskan air yang sudah ia tuangkan.
"Astaga, ini nasi goreng apa air laut." gumam Mama Lala sambil menggelengkan kepalanya.
Mama Lala mulai membuat sarapan untuk suami dan anaknya, tidak lupa secangkir kopi untuk suaminya sudah tersedia diatas meja.
Setelah beberapa saat satu persatu turun kebawah, menuju ruang makan.
"Pagi sayang." sapa papa Bima sambil mencium pipi istrinya.
"Pagi juga."
"Anak - anak belum turun?" tanya Bima.
"Paling juga bentar lagi." ucap mama Lala sambil mengambilkan lauk untuk sang suami.
"Pagi pah, mah." sapa Axel dengan wajah yang masih terlihat mengantuk.
"Pagii." jawab mereka bersamaan.
Axel langsung duduk di tempat biasa ia duduki, lalu menyeruput susu putih yang sudah mamanya siapkan. Meskipun Axel sudah sebesar itu tapi dia masih terbiasa minum susu setiap pagi.
"Kia mana, mah?" tanya Axel sambil mengambil piring.
"Mungk—"
"Pagii semuaa, Kia berangkat dulu... Assalamualaikum." ucapnya yang langsung menyalami mereka satu persatu.
"Sarapan dulu!" perintah Bima.
"Disekolah aja udah telat, Pah." Azkia bergegas menuju garasi.
"Eh, Kia... nasi goreng kamu tadi ka—" ucapan mama Lala langsung di potong begitu saja.
"Udah di dalam tas mah, bye." teriak Azkia diambang pintu.
"Ada - ada aja." kata papa Bima, namun tidak dengan mama Lala yang terlihat cemas.
"Ka apa, mah?" tanya Axel yang penasaran dengan lanjutan ucapan sang mama tadi sebelum dipotong oleh Azkia.
"Itu adek kamu, mama cuma mau kasih tahu kalo nasi goreng buatannya itu kasinan seperti air laut." jelas mama Lala.
Seketika saja membuat Bima dan Axel tertawa terbahak - bahak.
"Hahaa... kok tumben Kia mau masak, mah?" tanya Bima saat sudah selesai tertawa.
"Gak tau tuh pah, kan kasian yang di kasih kotak bekal itu." kata mama Lala.
"Kia masak mah, serius?" tanya Axel tidak percaya.
"Iya, tuh nasi gorengnya kalo mau nyoba." ucap mama Lala sambil menunjuk nasi goreng yang tidak jauh darinya.
__ADS_1
Karena penasaran Axel mencobanya, dan benar saja baru suapan pertama Axel langsung memuntahkannya.
"I-ini mau buat orang darah tinggi." kata Axel. tangannya sudah memegang segelaa air putih lalu meminumnya.
.................
Pelajaran pertama hari ini adalah olahraga, semua siswa sudah mulai berdatangan satu persatu namun Azkia belum juga melihat Azka.
Hatinya mulai gelisah karena jam sudah menunjukkan pukul tujuh yang artinya gerbang sekolah sudah ditutup, dan Azka masih belum terlihat juga.
"Azka mana sih?" ucap Azkia sambil berjalan mondar mandir di depan pintu kelas.
"Mau nagih kas kelas, Ki?" tanya Devira.
"Hah?"
"Lah itu lo di depan pintu, kaya bendahara kelas yang pagi - pagi udah berdiri di depan pintu buat nagih kas kelas ahaha." canda Devira yang membuat Azkia mengerucutkan bibirnya.
"Cih, ini lebih penting dari tugas bendahara kelas." ucap Azkia yang menjadi begitu serius.
"Apa?" tanya Nayla penasaran.
"Menyelamatkan perut yang kosong agar menambah kekebalan tubuh." ucap Azkia asal.
"Apaan sih gak jelas banget." gerutu Devira.
"Obat lo habis ya, Ki!" kata Nayla.
"Bomat, yang jelas ini tugas penting... wlee." ucap Azkia sambil menjulurkan lidahnya.
"Dah lah, yuk kelapangan udah ditungguin kaka yang lagi KKN hehe." ucap Devira antusias.
Disekolah mereka ada mahasiswa jurusan olahraga yang sedang Kuliah Kerja Nyata atau yang lebih sering disebut KKN.
"Yee.. lo mah nyari yang bening - bening." sindir Nayla.
"Cuci mata mbak." ucap Devira sambil terkekeh. Sedangkan Azkia hanya diam saja karena dia masih mencari keberadaan Azka yang tak kunjung terlihat batang hidungnya.
Setelah sampai di lapangan, ternyata disana sudah ada Azka dan kedua sahabatnya yang sedang dihukum mengelilingi lapangan.
Setelah dihukum mereka bertiga ikut bergabung, karena materi hari ini adalah tentang bola voli. Mereka semua satu persatu mencoba semua yang diarahakn oleh mahasiswa yang sedang KKN dan minggu depan waktunya penilaian.
"Capeknya." keluh Attaya sambil duduk di lantai pojok belakang tempat duduk Azka, diikuti Devan.
"Sama." ucap Azka dan Devan.
"Haus."
"Sama."
"Ka?" panggil Azkia yang sudah duduk disebelahnya.
Azka yang mendengar namanya di panggil langsung saja menoleh dan mendapati Azkia disana.
"Kenapa?" tanya Azka.
"Yang semalem, a-aku janjiin." ucap Azkia terbata.
"Semalem, janjiin?" ulang Devan sambil menatap aneh kearah Attaya.
"Jangan - jangan." ucap Attaya.
"Semalem kalian berdua ngapain?" tanya Devan polos.
"Buang tuh pikiran kotor kalian." tangan Azka terayun untuk menjitak kepala mereka.
Plak!
"Sakit oe!" keluh Devan.
"Biar waras." ucap Azka sambil terkekeh.
"Lo kira gue gila." kesal Devan.
"Emangnya bukan?" saut Attaya.
"Gue gak gila, tapi stres! Puas lo." ucap Devan membuat mereka semua tertawa.
__ADS_1
"Jadi, semalem apaan?" tanya Attaya penasaran.
"Sutt, anak kecil gak perlu tahu." canda Azkia.
Tangannya sudah memegang sebuah kotak bekal yang ia persiapkan sejak pagi tadi, kotak itu dia berikan kepada Azka.
"Apa ini?" tanya Azka sambil membuka kotak itu.
"Sesuai pesanan semalem." ucap Azkia.
"Waow semalem kalian berdua, ehem." saut Attaya tiba - tiba sambil berdiri mendekat kearah Azka.
"Nasi goreng." ucap Azka saat sudah membuka kotak bekal itu.
"Mau dong bos, laper ini." rengek Devan yang masih duduk di lantai.
"Gak, ini khusus buat gue... jadi kalian gak boleh." ucap Azka sambil mendekap kotak makan itu seperti anak kecil yang takut makanannya direbut.
"Dikit doang, nyicip." kata Attaya mencoba merebut kotak itu.
"Gak, ini kan masakan Kia khusus buat gue." ucap Azka.
"Iya - iya yang punya pacar, di masakin pula." sindir Devira yang baru saja kembali dari kantin.
"Bebeb, mau juga dong di masakin." rengek Devan kepada Devira.
"Najis, gak mau gue sama lo." kesal Devira.
"Awas nanti jadi cinta loh." ucap Nayla.
Azkia hanya tertawa melihat tingkah teman - temannya itu, terlebih lagi melihat Azka yang tampak bahagia menerima nasi goreng buatannya itu. Devan dan Attaya lebih memilih menuju kantin untuk membeli sesuatu yang bisa mengganjal perut mereka.
"Aku coba." ucap Azka sambil menyuapkan satu sendok nasi goreng kedalam mulutnya.
Dengan mata yang berbinar Azkia menatap penuh kearah Azka, dia sangat ingin tahu bagaimana rasa dari masakannya itu. Karena tadi Azkia sangat buru - buru hingga dia tidak sempat mencicipinya.
Dengan susah payah Azka mencoba menelan nasi goreng buatan Azkia itu, ingin sekali Azka memuntahkan nasi goreng itu. Tapi, ia urungkan karena tidak tega melihat Azkia sedih.
"Gila, ini kenapa garam semua rasanya." batin Azka sambil terus mengunyah.
"Gimana enak?" tanya Azkia, wajahnya sudah dipenuhi harapan jika Azka menyukainya.
"E-enak." kata Azka setelah susah payah menelan nasi goreng itu.
"Kalo enak habisin dong." bujuk Azkia dengan bahagia.
"I-iya, ini juga mau dihabisin kok." ucap Azka sambil menyuapkan lagi nasi gorengnya, sesekali dia ingin muntah namun dia tahan.
"Ka, minuman lo." kata Devan sambil melemparkan sebotol air mineral dingin kearah azka.
Dengan gesit Azka dapat menerima lemparan botol itu, lalu ia membukanya dan langsung meminumnya.
"Seenak apa sih nasi gorengnya, aku mau cobain juga." ucap Azkia sambil memegang sendok.
Dengan cepat Azka menyambar kotak bekal itu, Azka memakan sisa nasi goreng itu tanpa tersisa sedikitpun. Dia tidak mengizinkan Azkia mencobanya sedikitpun, karena Azka takut jika Azkia akan bersedih saat mengetahui rasa nasi goreng buatannya itu.
"Ini pertama kaliannya aku masak, dan syukurlah kalo kamu suka." ucap Azkia bahagia.
Lain halnya dengan Azka yang bersusah payah menahan agar tidak muntah didepan Azkia, untung saja dia bisa menyembunyikannya dengan baik.
"Besok aku masakin lagi, ya?" tanya Azkia, sontak saja membuat Azka yang sedang minum menyemburkan airnya kewajah Attaya.
"Woy, gue udah cuci muka, ya! Kenapa kena sembur coba." kesal Attaya.
"Kek dukun aja lo, Ka... hahhaa." tawa Devan.
"Hati - hati kalo minum." ucap Azkia sambil memberikan tissu kepada Azka.
"Be-besok gak usah masakin lagi." ucap Azka.
"Kenapa?" tanya Azkia sedikit kecewa.
"Nanti kamu bisa telat kalo harus masakin aku." ucap Azka.
"Bener juga sih, tadi hampir terlambat." ucap Azkia mengiyakan, sedangakan Azka dia bisa bernafas lega.
........................
__ADS_1
"Aku takut membuatmu, sedih."
~е н~