
Walaupun sudah memilik dua orang anak tapi tingkat ke bucinan Azka masih tetap saja sama, bahkan semakin meningkat. Buktinya ia masih saja memberikan kabar kepada Azka saat sudah sampai dikantor, atau pun saat dia akan meeting diluar bersama client Azka pasti akan laporan pada sang istri. Azka tau jika sang istri selalu menanti kabarnya walaupun hanya pesan singkat saja tak jadi masalah, karena dengan begitu Azkia merasa jika keberadaannya dihargai.
Tak jarang juga Azka menyuruh sang istri untuk membawakan makan siangnya ke kantor, apalagi saat Azka sangat sibuk dan tak ada waktu untuk makan siang diluar. Bahkan Azka selalu memaksa sang istri untuk menyuapinya.
Seperti siang ini, Azkia sudah duduk manis didepan Azka yang tengah sibuk mengetikan sesuatu entah apa itu Azkia tidak tahu. Yang jelas Azka terlihat sangatlah serius saat bekerja membuat auranya semakin terlihat saja.
Azkia menautkan kedua tangannya lalu ia gunakan untuk menyangga dagunya, matanya menatap lurus kedapan tepatnya pada wajah tampan Azka.
"Gak usah diliatin terus, aku tau kalau aku tampan," celetuk Azka yang masih fokus pada layar laptopnya.
Azkia tak menyauti perkataan Azka, ia hanya memutar kedua bola matanya dengan malas melihat sang suami semakin tinggi tingkat kepercayaan dirinya.
"Laper, Nyun!" kata Azka sambil melirik Azkia yang hanya diam sambil menatapnya.
"Makanya jangan kerja terus, istirahat juga penting... udah makan dulu, nanti kamu sakit aku juga yang repot!" Azkia menyiapkan makanan yang sudah ia bawa dari rumah tadi sesuai permintaan Azka.
Azka sedikit mencondongkan badannya kedepan agar lebih dekat dengan sang istri, lalu ia membuka mulutnya.
"Aaaaa!"
"Makan sendiri ih, udah tua juga!" gerutu Azkia.
"Istriku yang paling cantik, suapin suamimu ini," rengek Azka seperti seorang anak kecil.
Jika bawahannya melihat Azka merengek pasti akan terngaga tidak percaya, karena Azka selalu tegas, berwibawa dan dingin didepan semua karyawannya. Bahkan Azka tak pernah tersenyum pada siapapun selain orang terdekatnya. Julukan Azka sekarang berganti menjadi Ceo super dingin, karena tak hanya pada karyawannya saja tapi pada semua clientnya Azka juga bersikap seperti itu.
Azka mengedipkan matanya beberapa kali dengan tatapan penuh harap yang membuat Azkia tak kuat dengan hal itu, sehingga dengan terpaksa ia menuruti permintaan Azka.
Azkia menggeser kursi yang ia duduki dengan ujung kakinya, kursi itu lebih murah berpindah tempat karena memiliki roda dibagian bawahnya. Sehingga hanya beberapa kali dorongan Azkia sudah berada disamping Azka, sedangkan Azka sedang menatap istrinya sambil tersenyum.
Azkia menyendokkan nasi beserta lauk, lalu menyuapkannya pada sang suami.
"Anak pintar!" Azkia tersenyum setelah satu sendok penuh itu masuk kedalam mulut Azka.
Azka pun mengunyah suapan yang diberikan sang istri sambil terus mengerjakan pekerjaannya. Azka menoleh dan membuka mulutnya lagi saat suapan itu sudah habis.
Sedangkan Azkia dengan telatennya menyuapi sang suami, mungkin Azzam saja kalah dengan Azka karena Azka lebih sering minta disuapi dari pada Azzam. Azzam selalu menolak saat Azkia akan menyuapinya, anak keduanya itu terlihat lebih dewasa dan pintar.
Tak terasa makan siang Azka pun habis tak tersisa, hanya tinggal wadahnya saja yang masih utuh.
"Nikmat sekali makan disuapi istri," kata Azka sambil mencubit pipi Azkia.
__ADS_1
"Jelas lah, orang tinggal makan!" ketus Azkia.
"Kok judes gitu sih, kenapa?" tanya Azka sambil menangkup pipi Azkia.
"Gak apa-apa!"
"Aku gak suka ya kalau kamu gak jujur sama aku... bilang ada apa?" tanya Azka.
"Hmmm, kamu sibuk terus gak ada waktu buat aku sama anak-anak." ketus Azkia.
"Maaf, Nyun. Beberapa hari ini aku benar-benar sedang sibuk!" jelas Azka.
Azkia hanya diam saja sambil membuang muka ke arah sambil, bibirnya sudah mengerucut.
"Jangan menggodaku, Nyun!" bisik Azka.
Deg!
Walaupun sudah memilik dua orang anak, tidak dipungkiri jika jantung Azkia masih sering berdebar saat digoda oleh Azka.
"Si-siapa yang godain sih!" protes Azkia sambil memalingkan wajahnya.
"Tuh bibir dimaju-majuin bukannya minta cium, ya?" tanya Azka yang membuat Azkia membelalakkan kedua matanya.
"I-inget i-ini dikantor, By!" kata Azkia.
Azka pun semakin bersemangat menggoda Azkia saat melihat wajah sang istri memerah dan terlihat sangat gugup.
"Kalau ada yang tiba-tiba masuk gimana?" batin Azkia.
Saat Azkia berusaha berjak dari duduknya ia tidak menyangka jika Azka akan menarik lengannya sehingga membuatnya terjatuh kedalam pangkuan Azka. Azka yang merasa rencananya berhasil pun tersenyum jail.
"Ka-ka-kamu mau ngapain? Aku peringatin kamu kamu gak boleh macem-macem!" Azkia terus saja berusaha kabur tapi sayangnya pelukan Azka sangat erat sehingga ia tak bisa lepas.
"Kok jadi gagap sih, Nyun?" tanya Azka sambil menyelipkan anak rambut pada belakang telinga Azkia.
Tangan Azka membelai lembut pipi mulus sang istri, terlihat jelas jika pipinya sudah memerah seperti udang rebus saja. Apalagi pipi Azkia sedikit cabi membuat Azka semakin ingin mengigitnya saja.
Perlahan namum pasti wajah Azka semakin mendekat, begitu juga dengan tubuh Azkia yang semakin lama semakin menjauh. Tapi Azka tak kekurangan akal, ia menarik tengkuk sang istri agar mendekati wajahnya.
"Kenapa menghindar?" bisik Azka tepat ditelinga Azkia.
__ADS_1
Tanpa Azka sadari hembuskan nafasnya membuat Azkia diam mematung, badannya sudah menegang saat deru nafas Azka terasa hangat menyentuh telinganya.
"Azka?" panggil Azkia lembut.
"Hmm," saut Azka badannya pun sudah mulai terasa panas.
"Si al lan! Niatnya mau godain eh malah aku yang kegoda!" batin Azka, bahan sudah beberapa kali ia mengumpat dalam hatinya.
Seharusnya Azka tak usah menjaili sang istri jika akhirnya dia sendiri yang kalah.
Azka menempelkan jidatnya pada jidat Azkia, lalu perlahan ia memiringkan sedikit wajahnya hingga dirasa posisinya pas, Azka langsung mengigit benda kenyal yang terlihat merah tanpa memakai pewarna itu.
Sedangkan tangannya yang berada di pinggang Azkia pun semkain erat memeluk istinya itu.
BRAK!
"Tuan, waktunya met—" ucapannya terjeda dengan pemandangan yang tidak sengaja lihat itu.
Untung saja reflek Azka sangat cepat sehingga saat ada yang membuka pintu Azka langsung membawa Azkia masuk kedalam dada bidangnya. Sehingga tidak terlihat oleh orang yang tiba-tiba saja masuk kedalam ruangannya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Tak ingin dihukum sehingga tangan kanan Azka itu langsung balik badan sambil menunduk
"Maaf, lanjutkan saja. Saya permisi dulu!" dengan cepat ia menutup pintu ruangan Azka.
"Haahh!" terdengar helaan nafas lega dari Azka.
Lain kali ia harus memberikan pelajaran ekstra agar tidak lagi sembarangan masuk ke ruangan tanpa mengetuk pintu.
"Kan aku udah bilang ini kantor, By!" protes Azkia yang terlihat kesal.
"Hmmm," saut Azka.
Ya walaupun mereka tidak melakukan apapun, tapi tetap saja membuat hati Azkia was-was. Meskipun mereka semua sudah tau jika Azka memiliki seorang istri dan dua orang anak tetap saja ia tak ingin memeberikan kesan buruk pada karyawannya. Untung saja yang masuk kedalam ruangannya hanya tangan kanannya saja, mungkin jika bersama yang lain Azka pasti akan malu.
"Kamu sih ngeyel!" ketus Azkia.
"Biarin, kantorku jadi aku bebas dong mau ngapain aja!" kata Azka sambil menaik turunkan alisnya.
"Terserah!" Azkia memutar kedua bola matanya dengan malas jika Azka sudah sepeti itu.
...----------------...
__ADS_1
Ternyata masih banyak yang kangen Azka yak 😅