Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Mirip sama Kamu, By!


__ADS_3

Rayhan sibuk dengan status barunya sebagai seorang ayah dan juga pekerjaannya sebagai seorang dokter yang tidak bisa ia tinggalkan. Untung saja sang mama tidak sibuk sehingga ia bisa membantu Rayya menjaga jagoan kecilnya selama Rayhan bekerja.


Rayhan yang sudah pulang dari rumah sakit langsung menuju dimana Rayya dirawat. Sudah tiga hari Rayya berada dirumah sakit seperti saran dokter Ratna untuk melihat perkembangan dari operasi caecar yang dilakukan Rayya.


Rayya memang diharuskan melahirkan sebelum waktu sembilan bulan dilewati karena ada masalah pada kandungannya yang mengharuskan Rayya melakukan operasi caecar, padahal ia sangat berharap bisa melahirkan secara normal.


Tanpa sengaja manik mata Rayhan menangkap sosok yang sangat ia kenali, sosok itu sedang duduk dikursi roda.Dibelakangnya ada dua orang paruh baya yang berbeda usia sedang mendorong kursi roda yang diduduki gadis itu.


Rayhan menatap gadis itu hingga hilang dipersimpangan koridor rumah sakit.


"Azkia," gumam Rayhan.


Rayhan yang sangat penasaran pun mengikuti Azkia dari belakang, hingga ia dikejutan oleh suara yang tidak asing ditelinga Rayhan.


"Ngapain?" suara itu terdengar sangat dingin namun tersirat nada kekawatiran.


Rayhan menghentikan langkahnya dan berbalik melihat siapa yang sedang berbiacara.


"Azka?" nama itu lolos begitu saja dari mulut Rayhan.


"Kalau ini Azka berarti itu tadi beneran Azkia," batin Rayhan.


"Gue udah pernah bilang berkali-kali sama lo, jangan ganggu Azkia lagi. Dia istri gue, dan ingat lo udah punya istri jadi perhatiin aja istri lo itu!" tegas Azka lalu pergi begitu saja dari hadapan Rayhan.


Rayhan hanya diam sambil menatap kepergian Azka, yang dibilang Azka memang lah benar terlebih lagi ia sudah menjadi seorang ayah.


"Gue cuma penasaran doang, Ka. Gue udah iklas Azkia sama lo, dan gue juga udah mulai sayang sama istri gue!" gumam Rayhan, setelah itu ia berbalik arah menuju ruangan dimana Rayya di rawat.


Sedangkan Azka segera bergegas menuju ruangan yang sudah diberitahukan oleh ibu mertuanya. Azka tadi sedang berada di kantor, tiba-tiba ia mendapatkan telepon dari Mama Lala yang memberi tahu jika Azkia mengalami kontraksi, sehingga Mama Lala segera membawa Azkia ke rumah sakit dan menyuruh Azka untuk segera datang.


Brak!!


Azka membuka pintu ruangan itu dengan sangat keras membuat mereka semua menoleh kearah Azka berada.


"Gimana keadaan Azkia?" tanya Azka begitu ia membuka pintu.


Bima hanya menggelengkan kepalanya melihat sang menantu begitu panik, namun sedetik kemudian ia tersenyum karena bersyukur memiliki menantu yang begitu sayang kepada anaknya.


"Azkia akan segera melahirkan, kita hanya tinggal menunggu ia kontraksi lagi," jelas mama Lala.


Mendengar hal itu membuat Azka langsung mendekati bangkar Azkia, ia memegang erat tangan Azkia sambil sesekali mengusapkan pada pipinya.


"Sakit?" tanya Azka lembut.


"Perut aku rasanya mules banget, By." jujur Azkia.

__ADS_1


"Operasi caecar aja gimana?" saran Azka yang tidak tega melihat wajah Azkia yang sedang menahan rasa sakit.


Azkia menggelengkan kepalanya, ia menolak melakukan operasi caecar. Karena ia ingin melahirkan secara normal. Bisa dibilang melahirkan normal adalah impian setiap wanita, karena ada yang bilang jika belum melahirkan secara normal belum bisa dikatakan sebagai wanita seutuhnya padahal persepsi itu sangatlah tidak masuk akal karena melahirkan secara operasi juga mempertaruhkan nyawa dan juga merasakan sakit saat benda tajam itu menyayat bagian perut.


"Kamu yakin, Nyun?" tanya Azka sambil mengusap lembut rambut Azkia. Terlihat jelas kekawatiran dari tatapan mata Azka.


"Yakin, aku mau lahirin anak pertama kita secara normal." kata Azkia sambil menahan rasa sakitnya.


Ia merasakan sakit saat perutnya mengalami kontraksi, bahkan punggungnya juga tidak nyaman. Azka yang melihat itu semakin panik, bahkan ia tidak merasa kesakitan saat lengannya dicengkram erat oleh Azkia.


Bima dan Lala segera memanggil dokter Ratna agar segera membantu proses persalinan Azkia.


Dokter Ratna segera masuk kedalam ruangan Azkia bersama dua suster yang akan membantunya.


Semua orang diharapkan keluar dari ruangan itu, hanya ada Azka yang masih setia berada disamping sang istri. Ia tidak ingin keluar karena ingin menemani sang istri saat proses persalinan berlangsung. Untung saja dokter Ratna mengisinkannya.


Selain sensasi dari kontraksi asli melahirkan yang bertambah kuat, gejala lain yang dirasakan Azkia selama fase ini ialah sakit punggung, kram, dan perdarahan.


Azkia juga akan merasakan seperti ada air yang menetes karena ketuban yang pecah.


Itu berarti tiba waktu melahirkan, kini kekuatan kontraksi menjadi meningkat pesat sehingga terasa sangat hebat, kuat, dan menyakitkan.


"Tarik nafas!" perinyah dokter Ratna.


"Hembuskan!"


Tapi Azka hanya membiarkannya saja, ia tahu yang dirasakan Azkia lebih sakit dari pada itu.


"Ayo sedikit lagi! Tarik nafas buang!" kata Dokter Ratna.


Azkia merasakan adanya dorongan untuk mengejang karena seperti ada sesuatu di dalam tubuh yang hendak keluar.


"Ayo sayang sedikit lagi, kamu pasti bisa!" ucap Azka. Lengan Azka sudah banyak garis-garis merah bekas cakaran dari jari Azkia.


Terlihat wajah Azkia yang sudah berantakan, ia banyak mengeluarkan keringat dan tenaga untuk mendorong sang bayi akan segera keluar.


"Sekali lagi, dorong yang kuat!" kata dokter Ratna.


Azkia pun melakukan yang diucapkan Dokter Ratna meski tenaganya sudah terkuras habis.


"Aaaaaggghhh!" bukan Azkia yang bertiriak melainkan Azka karena lengannya sudah digigit oleh Azkia saat ia mendorong sang bayi.


"Oooeekk oeekkk!" terdengar suara tangis bayi setelah teriakan Azka.


"Selamat bayi kalian perempuan," ucap dokter Ratna.

__ADS_1


Azkia sudah lemas, ia sudah benar-benar tidak memiliki tenaga lagi. Air matanya terus mengalir dari pelupuk matanya saat mendengar suara tangis anaknya yang sudah lahir ke bumi.


"Anak kita perempuan," ucap Azka, Azkia hanya mengangguk lemah.


Azka pun langsung memeluk sang istri, sesekali menciumi pipi dan kening Azkia. Ia juga tidak bisa berkata apapun selain rasa syukur dan terimakasih karena sang istri sudah berjuang melahirkan buah hati mereka.


"Makasih, sayang. Makasih kamu telah melahirkan anak kita dengan selamat." ucap Azka pelan.


Bahkan air mata Azka pun menetes begitu saja sehingga jatuh dipipi Azkia, membuat Azkia terharu dan mengusap pelan pipi Azka.


"Anak kita udah lahir," ucap Azkia sambil terisak.


"Iya sayang," kata Azka, ia mengusap butiran air mata dan juga keringat yang ada di jidat Azkia. Bahkan Azka juga merapikan anak rambut yang menutupi wajah cantik istrinya itu.


Mereka berdua masih tidak menyangka sudah menjadi orang tua, mereka sangat bahagia hingga tidak bisa berkata apa-apa lagi. Hanya senyum dan tangis yang bercampur menjadi satu.


Setelah selesai di mandikan bayi kecil itu kemudian diserahkan kepada Azka. Dengan segera Azka mengadzani ditelinga kanan sang bayi kemudian mengikamahkannya ditelinga kirinya.


Azka menatap gadis kecil nan cantik itu sambil terus tersenyum hangat, lagi-lagi matany mulai berkaca-kaca saat melihat putri kecilnya.


"Kok jadi cengeng gitu, By?" ucap Azkia yang mampu menyadarkan Azka.


"Aku masih gak nyangka, Nyun. Kita dikaruniai seorang putri yang sangat cantik," kata Azka.


Dengan hati-hati Azka memberikan putri kecilnya agar digendong oleh Azkia, Azkia yang baru pertama kali menggendong bayi terlihat sedikit kaku beda dengan Azka karena diam-diam ia sudah belajar bagaimana cara menggendong bayi.


"Cantiknya anak mama," ucap Azkia sambil mencium pipi gembul sang anak.


"Cantik dong anaknya siapa dulu," kata Azka dengan bangga.


"Anaknya mama ya kan?" ucap Azkia yang membuat Azka mengerucutkan bibirnya.


Azkia terkekeh melihat itu, "Anak papa Azka pasti cantik banget," sambung Azkia.


Mendengar hal itu membuat Azka tersenyum kembali, ia duduk disebelah Azkia sambil memperhatikan gadis kecilnya itu.


"Mirip banget sama kamu, By!" kata Azkia yang memperhatikan anak dan juga suaminya secara bergantian.


Lagi-lagi Azka menyunggingkan senyum manisnya. Ia merasa bangga sekali anaknya mirip dengannya.


"Selamat sayang, kalian sudah menjadi orang tua sepenuhnya!" mama Lala langsung masuk kedalam ruangan Azkia saat dokter Ratna sudah keluar bersama dua suster.


"Selamat sayang, cucu kakek cantik banget!" Bima mendekat disebelah Azka.


Azkia sudah rapi tidak seperti tadi, ia terlihat sangat bahagia sambil menggendong gadis kecilnya.

__ADS_1


"Makasih mah, pah!" kata Azkia dengan senyuman.


...----------------...


__ADS_2