
Sudah satu bulan berlalu hubungan mereka berdua baik-baik saja. Walaupun terkadang ada perbedaan pendapat yang membuat keduanya saling bertengkar namun hal itu tidak berlangsung lama. Mereka berdua bersikap dewasa dengan semua permasalahan yang ada.
Seperti pagi ini setelah mandi Azka meletakkan handuk basahnya diatas kasur tanpa ada rasa bersalah sama sekali membuat Azkia kesal. Karena sudah berulang-kali Azkia menasehati agar handuk basah langsung dijemur tapi nyatanya omongan Azkia hanya masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan.
"Hubby!" panggil Azkia.
"Iya sayang?" jawab Azka yang masih sibuk memakai dasi.
"Ini apa?" tanya Azkia sambil menunjuk handuk yang sudah Azka pakai.
"Hehe maaf sayang, lupa!" kata Azka berjalan kesisi ranjang untuk mengambil handuk basah itu.
"Lupa kok tiap hari, kan udah aku bilang kalau habis mandi itu handuknya langsung dijemur jangan ditaruh kasur kaya gini. Nanti kasurnya basah terus jamuran, gimana?" gerutu Azkia sambil menatap tajam Azka.
Azka yang mendapat ceramah dari sang istri hanya bisa diam tanpa melawan, karena memang itu kesalahannya.
"Iya-iya, maaf nyun," ucap Azka.
"Kalau diulang lagi gak aku kasih morning kiss." ancam Azkia sambil mebetulkan dasi milik Azka.
"Loh kok gitu sih, Nyun? Itu tuh hal wajib tau gak, kalau gak dikasih morning kiss aku gak mau kerja," rengek Azka seperti anak kecil dengan wajah cemburunya.
"Terserah, kalau gak nurut ya itu hukumannya," ucap Azkia sambil menahan tawanya karena gemas melihat Azka yang seperti itu.
"Nurut kok nurut, ini dulu," kata Azka sambil menunjuk bibirnya dengan penuh harap.
Azkia mendekat dan memberi satu kecupan, tapi bukan dibibir melainkan dipipi kanan Azka.
"Loh kan aku mintanya disini, Nyun!" protes Azka.
"Itu hukuman untuk hari ini, kalau sampai besok pagi aku lihat handuknya masih diatas kasur... siap-siap aja hukuman yang sebenarnya," ucap Azkia sambil melangkah menuju dapur.
Azka terlihat kesal tapi dia bisa apa, istrinya adalah ratunya jadi apapun yang Azkia katakan Azka harus menurutinya.
Seperti kata orang perempuan akan menjadi ratu ketika bertemu dengan laki-laki yang tepat, yang bisa membuatnya merasa dihargai dan dicintai dengan sepenuh hatinya.
"Padahal cuma perkara handuk sampai diancam gak dikasih morning kiss, gak tau aja itu kan penyemangatku," gerutu Azka sambil menuruni anak tangga menuju dapur.
Terlihat Azkia sedang berkutat dengan peralatan dapur. Walaupun ada bibi tapi Azkia tetap memasak sarapannya sendri untuk sang suami, sesekali sang bibi membantunya. Jika tidak, bibi sibuk melakukan pekerjaan lainnya sehingga Azkia yang manghandel semua urusan memasak.
Azka memang tidak pilih-pilih soal makanan, tapi banyak makanan yang Azka tidak sukai. Walaupun hanya ada makanan yang tidak ia sukai, Azka hanya mengambilnya sedikit saja. Azka juga tidak pernah protes ketika makanannya tidak sesuai. Ia hanya diam tanpa menyentuh masakan yang tidak ingin dia makan.
__ADS_1
"Nyun," panggil Azka.
"Hmmm?" bukan Azka yang mode dingin melainkan Azkia.
"Aku males sarapan, nanti aja kamu anterin makan siang buat aku," ucap Azka takut.
Teng Teng!
Terdengar suara penggorengan yang dipukul dengan sepatula walaupun pelan namun suara itu terdengar jelas sekali.
"Kan aku udah masak, hubby. Sayang kalau gak dimakan, jadi orang itu jangan suka buang-buang makanan. Mubazir, padahal diluar sana banyak yang gak bisa makan. Harusnya kamu bersyukur bisa makan enak gak seperti mereka." jelas Azkia panjang kali lebar kali tinggi.
Ya begitulah yang namanya perempuan sekalinya marah, mulutnya seperti seorang guru tengah memberikan wejangan pada anak didiknya yang bermasalah.
Azka hanya bisa mendengus kesal pasalnya didepan matanya sudah ada sepiring nasi goreng spesial kesukaan Azka. Dengan toping suir ayam beserta sosis.
"Makan!" perintah Azkia yang sudah duduk didepan Azka.
Dengan malas Azka memakan nasi goreng itu seperti seorang yang tidak memiliki semangat.
"Mimpi apa semalam? Gak ada morning kiss dipaksa saran huft!" batin Azka.
"Nanti aku anterin makan siang ke kantor jadi sekarang dihabisin dulu sarapannya," bujuk Azkia.
"Tapi aku mau makan ayan kecap lada hitam," ucap Azka.
"Ayamnya habis belum beli, seadanya aja ya?" tanya Azkia sambil menyuapkan satu sendok nasi goreng.
"Gak mau, aku pengennya makan itu!" tegas azka setelah itu beranjak dari duduknya.
"Oke-oke, nanti aku buatin ayam kecap lada hitam... gak usah cemberut gitu jelek ih," bujuk Azkia sambil mengantar Azka kedepan.
"Hmmm," saut Azka dingin.
"Mulai deh, mode manusia es on ini." batin Azkia sambil tersenyum manis pada Azka.
Azkia mengambil tangan kanan Azka lalu mencium punggung tangannya, tanpa diduga Azka mencium kening sang istri saat ia mendongak.
Blush!
Lagi-lagi Azkia blushing dengan perlakuan Azka, walaupun ia marah tetap saja melakukan kebiasaannya setiap pagi.
__ADS_1
"Aku berangkat dulu," kata Azka mengusap pelan pucuk kepala Azkia.
"Iya, hati-hati... tunggu aku nanti siang!" Azkia sedikit berteriak karena Azka sudah berada didepan mobilnya.
Ia hanya melambaikan tangannya sekilas tanpa menoleh pada Azkia.
"Akhir-akhir ini kenapa gampang banget ngambek sih, tumben banget dia request makanan biasnya apapun juga mau," gumam Azkia sambil berjalan masuk kedalam rumah.
Ia berniat untuk pergi ke sumpermarket membeli bahan-bahan membuat ayam kecap lada hitam sesuai dengan permintaan Azka.
Sedangkan Azka yang sejak pagi suasana hatinya buruk, sudah terlihat marah-marah hanya karena kemacetan jalan. Entah sudah berapa kali ia membunyikan tlakson mobilnya, karena beberapa kendaraan didepannya tak kunjung berjalan.
"****, lama banget sih!" gerutu Azka.
Lima menit sebelum jam kantor dimulai Azka baru sampai dengan wajah yang sangat jelas menahan kekesalannya. Ia berjalan lurus kedepan menoleh sedikit pun, bahkan ia tidak menghiraukan sapaan para staft karyawannya.
"Si bos kenapa?" tanya seorang resepsionis.
"Siapa yang udah berani buat bos marah seperti itu?" ucap yang lainnya.
"Hati-hati aja jangan sampai buat kesalahan saat mood bos buruk, bisa-bisa kita yang kena semprotnya!"
Begitulah bisik-bisik karyawan yang melihat raut wajah Azka. Lena yang sudah berada dimejanya pun kaget saat Azka menutup pintu ruangannya dengan sedikit membating.
"Astaga siapa itu bikin kaget saja," gumam Lena.
Lena yang penasaran langsung beranjak dari duduknya dan ingin melihat siapa yang sudah berani membanting pintu bosnya itu.
Kret!
Lena sedikit membuka pintu ruangan Azka terlihat Azka sedang duduk disofa sambil memijit pelipisnya. Kedua kakinya ia silangkan diatas meja. Bahkan dasinya sedikit longgar tidak terlihat rapi seperti biasanya.
"Per-permisi, pak! A-ada yang bisa saya bantu?" tanya Lena.
"KELUAR! DAN JANGAN BIARKAN SATU ORANG PUN MASUK!" teriak Azka seketika itu membuat Lena tersentak kaget.
"Soal handuk aja bikin semrawut!" batin Azka sambil memejamkan matanya.
"Ba-baik!" Lena kembali menutup pintu ruangan Azka sambil mengelus dadanya yang kaget.
"Siapa yang sudah berani mengusik macan tidur, salah dikit bisa-bisa dimakan ini," gumam Lena kembali sibuk dengan berkasnya.
__ADS_1
...----------------...
..."Hanya kamu yang bisa membuatku tunduk dan patuh, istriku!" ~Azka A~...