
Azkia mengamati setiap sudut kelas yang sudah hampir setahun ia tempati. Mengamati setiap pergerakan teman-temannya, Azkia akan merindukan saat-saat seperti ini nantinya. Saat mereka lulus, mereka tidak akan bisa seperti ini lagi, bercanda tawa, tangis dan haru yang sudah mereka lewati bersama.
Saat pikiran Azkia masih terngiang perkataan Azka kemarin, ia tidak sadar jika Devira dan Nayla sejak tadi memanggilnya.
"Ki, Azkiaa!" panggil Nayla yang duduk disebelah meja Azkia.
"Ini anak sekarang jadi suka bengong, nanti kesambet gimana?" ucap Devira.
"Lo kenapa, Ki?" tanya Nayla, ia menepuk bahu Azkia agar tersadar.
"Eh, kenapa Nay?" tanya Nayla.
"Masih pagi, udah bengong aja.. mikirin apa?" tanya Devira.
"Gak kok, gue cuma sedih aja kalau kita nanti lulus pasti akan kangen banget sama suasana seperti ini," ucap Azkia sambil menatap kedua sahabatnya satu persatu.
Devira dan Nayla baru menyadari perkataan Azkia ada benarnya juga. Karena tidak sampai lima bulan mereka sudah akan melaksanakan ujian nasional yang akan menentukan masa depan mereka semua.
Devira mendekat dan memeluk Azkia, begitu juga dengan Nayla. Mereka berriga saling berpelulan. Waktu terasa begitu cepat berlalu, semua hal mereka lewati bersama. Berat rasanya jika harus berpisah, tapi bagaimana lagi karena setiap orang memiliki impiannya masing-masing.
Azka yang sejak tadi sibuk bermain games bersama Devan dan Attaya, sesekali melirik ke arah Azkiabyang sedang duduk dibangku sedangkan ia duduk dilantai.
Ada kesedihan yang tidak bisa Azka jelaskan saat melihat Azkia, namun ia busa menyembunyikannya dengan sangat baik.
"Kita kuliah di Universitas yang sama aja jadi kan kuta gak akan pisah!" ide dari Nayla keluar begitu saja.
"Bener juga tuh, apalagi bisa masuk fakultas yang sama pasri seru tuh!" kata Devira terlihat semangat.
Azkia hanya tersenyum sambil mengangguk.
"Boleh tuh, boleh!" seru Attaya.
"Iya, gue gak mau jauh-jauh dari cais!" ucap Devan sambil berdiri dari duduk. Sesekali ia membersihkan celananya yang sedikit kotor akibat duduk dilantai.
"Cais?" tanya Nayla dan juga Attaya.
"Iya, cais... calon istri! Ya gak, beb!" tanpa malu Devan merangkul Devira.
Membuat Devira tersenyum kikuk, sedangkan temannya yang lain ingin muntah rasanya melihat gombalan Devan.
"Andai aja bisa satu Universitas sama Azka, pasti akan lebih seru," batin Azkia sambil tersenyum melihat sahabatnya.
"Lo juga kuliah bareng kita, kan?" tanya Attaya pada Azka yang sejak tadi hanya diam saja.
"....."
"Jangan bilang lo?" tanya Devan tidak percaya.
"Kita kan udah sama-sama dari kecil, ya kali pisah," gumam Attaya.
"Udah-udah, kan masih lama itu... mending kita fokus buat belajar aja supaya nilai kita bagus!" ucap Azkia mencari topik lain. Karena ia tahu jika Azka tidak ingin membahas hal itu lagi untuk saat ini.
"Iya sih bener yang lo bilang, Ki... apalagi nilai gue turun semester ini," keluh Nayla.
"Lo sih bucin akut sama Atta, ya jadi gitu!" ledek Devira.
__ADS_1
"Lah, situ gak ngaca mbak... situ juga lebih parah bucinnya!" kesal Nayla.
"Ih udah kenapa jadi ribut sih!" lerai Azkia.
"Ira tuh, yang mulai duluan!" ucap Nayla kesal.
"Ayangku jangan marah nanti cepat tua, terus cantiknya hilang gimana?" Attaya mencoba membujuk Nayla.
"Yaudah!" Nayla meminta maaf pada Devira begitu juga Devira.
"Gimana kalau kita belajar bareng, habis pulang sekolah... ya emang sih, kita ada tambahan jam pelajaran tapi gak ada salahnya kan habis itu kita belajar bareng?" saran Azkia.
"Setuju!" ucap Devan dan Attaya.
"Boleh, lagian males juga kalau harus belajar sendiri dirumah!" ucap Nayla.
"Aku sih terserah samaa kalian hehe," ucap Devira.
"Ada apa nih, kok kita gak diajak?" tanya Bobo yang baru sampai bersama Ciko.
"Kita mau belajar bareng setelah pulang sekolah!" kata Devira.
"Ikuttt, kalian kok gak ngajak-ngajak sih... kan gue juga pengen pinter!" seru Bobo kesal.
"Ya kalau mau ikut, ikut aja... pulang sekolah kita tentuin tempatnya!" saran Attaya.
"Lo juga harus ikut, Ko... gue gak mau jadi nyamuk sendirian," kata Bobo sambil memohon kepada Ciko.
"Okee!" saut Ciko yang membuat Bobo bahagia.
"Ka, lo mau kan belajar bareng?" tanya Devan.
Pertanyaan itu membuat semua orang menatap Azka dengan penasaran.
Azka yang merasa ditatap langsung menatap balik mereka satu persatu. Ia menyerkitkan alisnya.
"Gimana mau gak?" tanya Bobo.
"Males," singkat Azka sambil berdiri kembali duduk disebalah Azkia.
"Loh kok gitu, katanya mau bahagiain Azkia?" tapa sadar Devan memberitahukan rencana yang sudah dipikirkan Azka.
"Upps!" Devan langsung menutup mulutnya saat melihat tatapan tajam dari Azka.
"Males mikir, selain mikirin Azkia!" jawab Azka yang membuat mereka semua bengong hingga beberapa detik.
"Sialan pagi-pagi udah sarapan gombalan!" gerutu Bobo sambil menggebrak meja.
"Temen gue kenapa jadi kek gini," ucap Devan sambil menutupi wajahnya.
"Teman lo, Van.. bucin akut dia, kita bahas serius eh dia nya nggembel!" kesal Attaya sambil menyenggol lengan Devan.
"Bukan, bukan temen gue!"
"Cieeeee, tuh yang digombalin pagi-pagi... apa kabar hati, masih amankan bu bos?" ledek Devira sambil terkekeh.
__ADS_1
"Udah terbang tuh pasti," ledek Nayla.
"Iih apaan sih kalian, ledekin aja gue terus!" kesal Azkia sambil menggembungkan pipinya.
"Kalo lagi ngambek, makin imut!" ucap Azka.
Pipi Azkia memerah seperti tomat saat mendengar gombalan dari Azka.
Lagi-lagi perkataan Azka membuat mereka kesal, benar kata orang cinta bisa merubah semuanya termasuk sikap Azka.
"Udah ah, males liat yang beginian!" ucap Ciko langsung pergi dari hadapan mereka.
"Tauklah gue gak denger yang lagi bucin," ucap Nayla.
"Kamu gak salah makan kan, atau lagi sakit?" tanya Azkia sambil memeriksa suhu tubuh Azka.
Azka hanya diam saja sambil mengamati setiap lekuk wajah Azkia. Bibir Azka melengkung sempurna saat melihat kekawatiran Azkia.
"Iya gue sakit," lirik Azka.
"Hah! Kamu sakit apa, mana yang sakit?" tanya Azkia panik.
Tangan Azka terulur untuk menggapai jemari Azkia, perlahan ia membawa jemari itu untuk menyentuh dada bidangnya.
"Disini." kata Azka.
"Rasanya gimana?" tanya Azkia, terlihat jelas raut khawatir.
"Sakit."
"Terus?" tanya Azkia lagi memastikan, tangannya masih setia di dada Azka.
"Sesak, sesak saat gue harus nahan rindu ini," ucap Azka tanpa ekspresi.
Satu detik dua detik Azkia hanya diam saja mebcoba mencerna setiap kata yang ua dengar dari bibir Azka. Setelah mengerti makaud perkataan Azka, Azkia langsung menarik tangannya.
"Gak lucu!" kesal Azkia.
"Aku gak nglucu kok, wajar kan kalo gak lucu." jawab Azka.
"Aku tuh dah khawatir, takut kamu kenapa-kenapa... tau gak!" kesal Azkia.
"Iya-iya, maaf Nyun!" Azka meraih jemari Azkia lalu menempelkannya pada pipi mulusnya membuat Azkia semakin salah tingkah.
"Maafin gak?" tanya Azka sambil memasang pupyeyes membuat hati Azkia luluh.
Melihat Azkia yang masih terdiam, membuat Azka memiliki niat untuk menjahili Azkia.
"Kalo gak mau maafin, gue cium loh!" ancam Azka sambil berbisik.
"Dimaafin!" ucap Azkia cepat. Pipinya sudah terasa panas seperti kepiting rebus dengan semua gombalan Azka.
Mendengar itu membuat Azka tertawa puas. Bisa menjahili Azkia mampu memberikan semangat tersendiri untuk Azka.
...-------------------------------...
__ADS_1