
Sudah berulang kali Azkia terlihat menguap, rasa kantuk yang begitu kuat membuatnya sesekali memejamkan mata. Namun, itu tidak berlangsung lama ketika ada tangan dingin yang menyentuh pipinya.
Tangan itu sibuk menari-nari diatas wajah Azkia, menggoreskan berbagai warna agar terlihat bagus. Azkia hanya pasrah saja ketika beberapa penata rias itu mendandaninya. Setelah selesai make up Azkia berganti baju dengan gaun berwarna putih. Gaun tanpa lengan itu sangat cocok dipakai Azkia.
Rambut Azkia hanya diberi aksesoris sederhana namun dapat memancarkan aura kecantikannya. Ia terlihat sangat anggun bahkan seperti seorang putri dari negeri dongeng.
Kini ia sudah dapat melihat hasil karya dari penata rias yang telah mendandaninya, Azkia dapat melihat pantulan wajahnya di cermin. Ia sempat tidak mengenali dirinya sendiri, riasan yang sesuai dengan kemauannya itu mampu membuat aura Azkia terlihat. Bahkan Azkia sampai berputar beberapa kali untuk memastikan jika ini bukan mimpi.
"Waoow! Gila cantik banget!" ucap Devira yang baru saja datang bersama Nayla dan Clarisa.
Azkia tersenyum, ia masih menatap pantulan dirinya. Ia juga tidak menyangka jika dirinya bisa secantik ini.
"Azka pasti makin cinta ini," ledek Nayla.
"Ihh, cantik banget sumpah! Nanti harus foto," ucap Clarissa antusias.
"Bener, tapi kita harus dandan dulu biar gak kalah cantik," kata Devira.
"Yaudah sana gantian dandannya," kata Azkia.
"Udah dong, kasian cerminnya nanti pecah lo liatin terus," ucap Nayla sambil terkekeh.
"Biarin aja, ratu sehari ya gitu," imbuh Clarisa.
Azkia hanya menjulurkan lidahnya menanggapi ucapan sahabatnya itu, "Kok jadi deg-degan, ya?" gumam Azkia sambil memegangi dadanya.
"Dek, duduk dulu sini nanti capek kan acara masih satu jam lagi," kata ibu-ibu yang merias Azkia.
Azkia hanya nurut saja, ia duduk disebuah kursi yang sudah disiapkan. Didepannya terdapat lampu lighting, lalu terlihat seorang fotografer sedang mencoba kameranya.
"Kak, kita foto dulu, ya." fotografer itu memposisikan dirinya didepan Azkia.
Azkia mengangguk, kemudian ia mengikuti semua arahan dari sang fotograger. Hinhga semua pose sudah Azkia peragakan. Kini tinggal menunggu ketiga sahabatnya itu untuk ikut berfoto.
"Yuk, udah cantik nih," ucap Clarissa yang langsung berada disebelah Azkia.
"Kalau soal foto cepat banget ini anak," gerutu Devira.
"Kaya lo gak aja hehe," imbuh Nayla.
Kemudian mereka berfoto beberapa kali dan berselfi sambil menunggu kedatangan Azka. Gadis imut dengan dres warna babypink masuk kedalam ruangan Azkia.
"Anteee antik banget," ucapnya sambil berlari memeluk Azkia.
__ADS_1
"Zenna juga cantik banget sih, uluh-uluh anak ciapa ini," ucap Azkia menirukan cara berbicara Zenna.
"Anaknya papa Al," ucap Zenna terdengar sangat imut.
"Uculnya, pengen gigit!" ucap Azkia.
"Nanti buaran buat, Ki... biar gue cepet punya ponakan," saut Devira.
"Nah, bener tuh... kalau lo sibuk biar gue yang jagain," imbuh Nayla.
"Heh, kalian ngomong apaan sih, nikah aja belum," gerutu Azkia.
"Dedek comel, mau tak punya adek?" tanya Clarisa sambil mensejajari tinggi Zenna.
"Mau ante, Zee mau adek cowok," ucap Zenna polos.
"Tuh denger sendiri kan," ucap Devira samnil terkekeh.
"Kalau mau adek minta sama tante Kia, suruh cepetan buatin adek gitu, ya!" bukuk Clarisa.
"Wah, udah gak bener nih ngajarin anak kecil!" protes Azkia.
Mereka semua kemudian tertawa, rasa bahagia bercampur haru. Axel sejak tadi hanya diam saja diambang pintu menyaksikan adek dan juga putrinya itu.
"Ngapain?" tanya mama Lala.
"Axel masih gak nyangka aja mah, kalau Kia udah gede ternyata... udah berani nikah," jawab Axel sambil terkekeh.
"Mama juga gak nyangka, tapi mama seneng karena bentar lagi mama gak sendrian kalau dirumah," ucap mama Lala antusias.
"Kok bisa?" tanya Axel bingung.
"Mama pengen punya cucu lagi, biar ada temennya... salah sendiri kamu disuruh tinggal disini banyak alasan aja," geram mama Lala.
Axel hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Mungkin nanti jika urusannya di luar negeri selesai ia dan keluarga kecipnya akan menetap disini.
"Nanti mah, Axel usahain!" jawab Axel.
"Harus! Biar kalau mama kangen sama cucu-cucu mama, gak perluh jauh-jauh," ucap mama Lala sambil menepuk bahu Axel.
"Yaudah mama masuk dulu, besan udah pada datang itu... kamu buruan temuin mereka," kata mama Lala sambil berjalan masuk kedalam ruangan.
Axel ikut masuk kedalam ruang rias Azkia, kemudian ia membawa Zenna keluar untuk menemui tamu dari besan.
__ADS_1
"Duh, anak mama cantik banget... udah kaya putri dari negeri dongeng." mama Lala mencium pipi Azkia.
"Mama bisa aja," jawab Azkia malu-malu.
"Kita giamna tan, canti juga kan?" tanya Nayla.
Mama Lala mengacungkan jempolnya, "Cantik banget kalian ini... oh iya itu Azura juga udah siap dari tadi, gih kalian kesana."
"Azura?" tanya mereka bertiga kompak.
"Itu adek iparnya bang Axel, nanti juga ikut jadi pendamping," kata Azkia.
"Ohh," seru mereka.
"Yaudah, ayo udah ditunggu sama calon suami," ledek mama Lala.
Kemudian mereka semua menuju ruang yang sudah disulap sedemikian rupa. Hingga terlihat sangat indah. Dekorasi yang kebanyakan bernuasa putih ini begitu elegan dan cantik. Banyak hiasan bunga-bunga segar. Mereka memilih dekorasi yang simple namun tetap terlihat mewah.
Terlihat seorang pria tampan yang sudah tidak asing lagi bagi Azkia, ia tengah duduk berhadapan dengan Bima, ayah Azkia. Disebelah Bimaa ada penghulu yang sudah siap untuk menikahkan mereka berdua.
Disisi kanan ada kedua orang tua Azka dan juga beberapa kerabat dekat Azka. Tidak lupa keempat sahabatnya pun hadir dalam acara akad nikah ini.
Suasannya benar-benar terasa sakral, membuat kaki Azkia sedikit lemas. Untungnya Devira mengetahui itu, sehingga ia menggandeng lengan Azkia lebih kuat lagi agar Azkia tidak jatuh.
Perlahan Azkia berjalan mendekati Azka yang terlihat sangat mempesona dengan balutan jas berwarna putih senada dengan kebaya milik Azkia. Tidak terlihat wajah tegang atau pun panik, wajah Azka tetap saja datar. Mungkin itulah yang terlihat, tapi lain halnya yang dirasakan Azka saat ini.
"Calon suami lo, ganteng banget, Ki!" bisik Nayla.
"Calon gue juga gak kalah ganteng," saut Clarisa yang berjalan dibelakang mereka bersama Azura.
Azkia hanya bisa tersenyum sambil terus memandangi wajah tampan yang sebentar lagi akan menjadi suami sahnya itu.
Azkia tidak menyadari jika ia sudah duduk disebelah Azka, hingga terdengar suara dari penghulu.
"Bagaimana, sudah siap?" tanya pak penghulu.
"Siap!" ucap Azka sambil mengangguk.
...----------------...
Foto hanya pemanis saja :)
__ADS_1