Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Asisten Pribadi


__ADS_3

Dengan susah payah Lena membawa dua jus alpukat dari kantin sampai diruangan Azka. Sesekali terdengar ia menggerutu kesal.


"Sebenernya aku ini sekertaris atau ofice girl sih?" gerutu Lena.


"Awas aja itu cewek, aku bales nanti. Tunggu saja!" batin Lena.


Tok tok tok


"Masuk!"


"Permisi pak, saya bawakan pesanan bapak," kata Lena.


"Taruh saja dimeja," kata Azka tanpa melihat Lena.


Hal itu membuat Lena semakin kesal, terlebih lagi Azkia masih duduk disofa sambil memainkan ponselnya. Lena meletak dua jus alpukat diatas nakas kemudian ia pamit untuk keluar.


"Itu orang kenapa gak pulang sih, ganggu aja!" kesal Lena.


"Kamu kenapa Lena ngomel-ngomel sendiri?" tanya seseorang yang membuat Lena kaget.


"Eh, Pak Devan... mau cari Pak Azka?" tanya Lena.


"Iya, Pak Azka ada?" tanya Devan.


"Ada kok, silahkan masuk!" pinta Lena.


"Jadi Devan doang nih yang disapa gue gak," kata Attaya yang sejak tadi disamping Devan.


"Lo mah gak kelihatan haha," ledek Devan.


"Maaf Pak Attaya saya tadi tidak lihat kalau ada bapak juga," ucap Lena sambil menunduk.


Kemudian Attaya dan Devan masuk kedalam ruangan Azka. Terlihat Azkia yang masih duduk setia dengan ponselnya.


"Wih seger nih, siang-siang minum jus alpukat!" kata Attaya yang akan mengambil satu gelas jus.


"Taruh!" tegas Azka.


"Satu aja, Ka... haus ini," ucap Attaya dan langsung menyeruput jus alpukat hingga tersisah setengah.


"Kan gue bilang taruh kenapa diminum!" kesal Azka.


"Kan masih ada satu tuh utuh," protes Attaya.


"Kan satunya buat istri gue!" kekeh Azka.


"Kan bi—"


"STOP!" potong Azkia, "kalian berdua jangan debat terus pusing lihatnya dan Azka gak apa-apa kok diminum Attaya aku gak haus." lanjut Azkia.


"Tuh dengerin marah-marah mulu sih, lagi libur ya?" canda Attaya.


Wajah Azka sudah memerah dan siap untuk memaki Attaya tapi ia urungkan saat melihat wajah Azkia yang menggeleng.

__ADS_1


"Uhuk, suami takut istri nih ye!" ledek Attaya sambil terkekeh.


"Attaya! Jangan ganggu singa tidur habis lo nanti dimakan hidup-hidup." ucap Devan yang tau sejak pagi jika Azka marah-marah.


"Upps!" Attaya menutup mulutnya mendengar perkataan Devan.


"Udah lama disini, Ki?" tanya Attaya.


"Lumayan sih," jawab Azkia.


"Kalian berdua ngapain disini, kerja sana ganggu orang aja." geram Azka.


"Aku yang manggil mereka kesini, bby!" saut Azkia.


Azka hanya diam saja dan pasrah, terserah apa yang ingin istrinya itu lakukan.


"Emangnya ada apa kita disuruh kesini?" tanya Devan.


"Kalian berdua yang paling gak sibuk siapa?" tanya Azkia.


"Tuh si Attaya, dia gak ada kerjaan. Keluyuran mulu cari mangsa," ledek Devan.


"Mulutnya ngab!" protes Attaya.


"Yang bener, aku bilangin Nayla loh!" canda Azkia.


"Gak kok gak, jangan dengerin Devan... mulutnya suka Azka jeplak aja!" kesal Attaya.


"Cih, gak nyadar dirinya juga takut sama calon istrinya." kata Azka yang sudah duduk disebelah Azkia.


"Terus tadi pagi yang tebar pesona sama anak mangang siapa?" tanya Devan.


"Gue cuma mengakrabkan aja bukan tebar pesona," jelas Attaya.


"Iyain udah nanti ngambek kaya sebelah ini," saut Azkia sambil melirik Azka.


"Oh jadi kamu marah gak jelas dari pagi itu gara-gara ngambek sama Azkia gitu? Astaga, Azka!" geram Devan sambil menggelengkan kepalanga tidak percaya.


"Ohh pantes, jatahnya kurang ya?" tanya Attaya yang mendapat tatapan tajam Azka.


"Halah kalian nanti juga akan ada masanya sama seperi aku ini!" kata Azka penuh keyakinan.


"Mana ada!" saut Attaya dan Devan bersamaan.


"Udah-udah kok jadi ribut sih?" kata Azkia.


"Dengerin tuh istrinya," ledek Attaya.


"Hmmm."


"Ta, kerjaan kamu dikitkan?" tanya Azkia.


"Iya, kenapa mau jalan-jalan sama aku?" tanya Attaya.

__ADS_1


"Mulutnya, Ta! Ini anak ngajak ribut mulu," kata Devan.


"Canda doang, Ka... gue gak bakal nikung sahabat sendiri," katanya sambil terkekeh.


"Aku mau kamu jadi asisten pribadinya Azka!" ucap Azkia.


"APA!" ucap ketiga laki-laki itu bersamaan.


"Kenapa, ada yang salah?" tanya Azkia.


"Kenapa tiba-tiba pake sekertaris pribadi?" tanya Azka.


"Aku lihat kamu perluh, bby. Jadi gak masalah kan?" tanya Azkia.


"Terserah kamu aja, Nyun." pasrah Azka, toh jika dia menolak Azkia pasti tetap memaksanya.


"Aku gak salah denger kan?" tanya Attata.


"Gak, kamu gak salah denger jadi gimana?" tanya Azkia.


"Hmm, aku sih gak ada masalah lagian aku bisa belajar banyak kalau jadi asisten pribadinya Azka." jelas Attaya.


"Jadi gak ada masalah kan, deal?" Azkia menyodorkan tangannya untuk bersalam.


Tapi sebelum Azkia bersalaman dengan Attaya, tangannya sudah disambar Azka terlebih dahulu sehingga tangan Azkia menggantung begitu saja diudara.


"Cih, posesif amat sih padahal kita temen dari SMA," kata Devan sambil tertawa.


"Ya, begitulah, Van... harus ekstra sabar aku nya." jelas Azkia.


Kemudian mereka berempat membahas apa saja yang harus Attaya kerjakan sebagai asisten pribadinya. Sesekali terdengar candaan yang membuat Azka kesal. Tak jarang mereka membuli Attaya dengan semua tingkahnya yang terkadang menjengkelnya.


Bahkan mereka sempat membahas hubungan Devan dengan Devira yang akan berlanjut kejenjang yang lebih serius lagi.


Sedangkan diluar ruangan ada seseorang yang sedang gusar mendengar tawa akrab dari dalam ruangan Azka. Lena tidak bisa membayangkan apa yang sedang mereka bahas.


"Dasar perempuan genit, suka sekali goda laki-laki. Mana ketiga orang penting itu lagi," geram Lena.


Lena tidak bisa fokus pada pekerjaannya, ia selalu mendongak untuk melihat apakah mereka sudah keluar atau belum. Tapi nyatanya hingga jam lupang kerja mereka masih berada didalam ruangan Azka.


"Lena kamu belum pulang?" tanya Attaya.


"Ah itu kerjaan saya masih sedikit lagi," elak Lena padahal ia belum pulang karena menunggu mereka.


"Oh yasudah kami duluan," ucap Attaya yang diikuti Azka, Azkia dan juga Devan.


Mereka semua pergi terlebih dahulu menganggap seolah Lena tidak ada. Hal itu membuat Lena semakin kesal. Dan dia akan mempercepat pergerakannya untuk mendekati Azka.


Bahkan Lena sudah berusaha berdandan secantik mungkin untuk Azka, tapi tetap saja Azka tidak meliriknya sama sekali. Terkadang Lena menggunakan parfum yang sangat menggoda agat Azka tergoda tapi sayangnya itu semua percuma karena Azka tidak pernah tergoda dengannya.


Dan hari ini datang seorang perempuan yang langsung masuk diruangan Azka bahakn dia terlihat dekat dengan Attaya dan Devan. Hal itu membuat Lena semakin kesal, dia yang berusaha mendekati Azka pun tidak pernah dilirik. Sedangkan perempuan tadi sudah berani masuk keruangan Azka hingga jam pulang kerja, bahkan ia sempat menggandeng lengan Azka mesra. Sedangkan Lena untuk menyentuh tanga Azka saja sangat sulit.


"Arrrgghhh! Kamu harus masuk dalam genggamanku Pak Azka, dan akan ku buat perempuan disebelahmu itu tidak bisa tertawa lagi!" kesal Lena sambil mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memerah.

__ADS_1


...----------------...


Maaf kalau banyak typo! Yuk like voe dan favoritin. Oke!


__ADS_2