Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Siput Berjalan


__ADS_3

..."Terbiasalah dengan tingkah manjaku, karena aku bersikap seperti ini hanya didepanmu!" -Azka / E H-...


...----------------...


Cahaya matahari mulai masuk melalui cela-cela tirai yang masih tertutup rapat. Deringan alarm yang nyaring tidak mampu mengusik kedua insan yang masih terbuai dialam mimpi. Bahkan ketukan pintu yang entah berapa kali terdengar pun tidak mampu mengusik ketenangan mereka.


"Yang pengantin baru sampai siang juga belum bangun," ucap seseorang dibalik pintu kamar Azka.


"Udahlah pah, mungkin mereka lelah," ucap wanita paruh baya yang selalu setia menemani suaminya.


"Yasudah kita sarapan dulu, papa sudah ada janji meeting nanti jam 9." sambil melihat jam tangan bermerek dipergelangan tangannya.


"Masa papa langsung kerja, kemaren kan baru acara pernikahan anak kita," ucapnya yang tak lain adalah mama Kayla bersama Yudha, suaminya.


"Yang nikah kan anak kita, apakah papa juga harus cuti lalu ikut bulan madu juga?" tanya Yudha lembut sambil menggandeng tangan sang istri.


"Sekali-kali refresing pah," jawabnya sambil terkekeh. Kemudian mereka berdua pergi meninggalkan kamar yang sunyi seperti tak berpenghuni itu.


Sedangkan seseorang yang masih berselimutkan tebal itu mengeliat sedikit. Perutnya terasa berat seperti ada yang menindihnya. Ternyata ada tangan kekar sedang memeluknya erat.


Perlahan ia memcoba menyingkirkan tangan itu tapi usahanya sia-sia, semakin ia berusaha tangan itu semakin erat memeluknya.


"Akkhh!" teriaknya kaget saat mengetahui disebelahnya ada seseorang yang tampan masih terlelap dalam tidur.


"Berisik," gumam orang yang berada disebelahnya.


"Azka?" gumamnya sambil menatap wajah Azka yang sedang tertidur pulas.


Pikirannya memerawang jauh tentang kegiatannya semalam bersama Azka, ia sempat lupa jika sudah resmi menjadi seorang istri. Sekujur tubuhnya terasa pegal-pegal, bahkan masih terasa nyeri dibawah sana.


Azkia membelai wajah suaminya, dari mulai rambut, mata turun ke hidung sampai pada bibir milik Azka yang terlihat bersemu merah.


"Cerry," gumam Azkia sambil membelai lembut bibir Azka.


Ia tersenyum mengingat setia sentuhan yang Azka berikan semalam, ia tidak menyangka jika akan secepat ini resmi menjadi seorang istri.


"Ganteng banget, sih." batin Azkia.


"Baru sadar suamimu ganteng?" suara itu menyadarkan Azkia yang sedang mengamati setiap jengkal wajah Azka.


"Suamiku, cenayang ya?" batin Azkia.


"Bukan cenayang, kok," kata Azka sambil membuka matanya.


"Nah kan, dia tau apa yang aku pikrin," batin Azkia lagi sambil menatap Azka.

__ADS_1


"Muuaacchh!" Azka mencium kening Azkia.


"Ngapain?" tanya Azkia polos.


"Morning kiss, sayang!" ucap Azka, sambil tersenyum manis.


Hal itu membuat pipi Azkia bersemu merah, sunggu kebahagian tersendiri untuk Azkia disaat ia terbangun melihat wajah tampan sang suami sambil tersenyum manis.


"A-aku mau mandi dulu," kata Azkia ia malu mendapatkan perlakuan seperti itu.


Azkia sangat kesusahan ketika akan turun dari atas tempat tidur, rasah nyeri dan pegal-pegal masih terasa jelas. Entah semalam berapa kali mereka melakukan itu.


"Butuh bantuan?" tanya Azka, ia merasa kasian melihat istrinya kesakitan.


"Ga-gak usah, aku bisa sendiri." tolak Azkia.


Namun bukan Azka namanya jika mendengar tolakan akan menyerah begitu saja. Tanpa memperdulikan ucapan Azkia, ia langsung menggendong tubuh Azkia ala bridal style.


Hal itu membuat pipi Azkia merah merona seperti tomat, ia menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Azka yang tidak memakai kaos.


Perlahan Azka menurunkan Azkia disebelah bathup, sejak tadi ia menunduk tidak berani menatap wajah suaminya.


"Gak usah malu, aku udah liat semuanya," bisik Azka ditelinga Azkia.


Azkia hanya diam saja, membuat Azka menggeleng gemas.


"Astaga! Baru sehari jadi istri jantungku udah gak kuat, gimana nanti?" gumam Azkia sambil menepuk-nepuk dadanya yang berdenyut cepat.


Kemudian Azkia berendam didalam bathup, dengan menambahkan sedikit aroma terapi pada air hangatnya itu. Untuk merilekskan badan dan juga pikirannya.


Tiga puluh menit kemudian Azkia sudah selesai melakukan rutinitasnya didalam kamar mandi. Kemudian ia keluar dengan memakai bathrobe, melangkah secara perlahan dan hati-hati. Karena rasa sakit itu sangat terasa saat berjalan.


"Cih, dasar siput!" kata Azka yang langsung bangkit dari duduknya. Dengan gerakan cepat ia menggendong tubuh Azkia, mendudukannya dibibir ranjang.


"Azka aku bisa sendiri," keluh Azkia sambil memberontak.


"Tenanglah sayang, aku cuma tidak suka melihat siput berjalan," kata Azka sambil terkekeh.


Azkia yang mendengar itu menjadi geram, bisa-bisanya ia dipanggil siput sedangkan tadi malam suster ngesot. Azkia memukul dada Azka berulang kali, ia tidak terima disebut siput. Karena ia menjadi seperti ini karena ulah Azka.


"Apa kamu bilang, siput!" geram Azkia.


"Kamu gak tau aku jadi seperti ini karena ulahmu?" lanjut Azkia.


Azka hanya tersenyum menapakkan deretan giginya yang putih dan rapi tanpa rasa bersalah.

__ADS_1


"Sudahlah, cepat ganti baju atau kita main lagi?" goda Azka sambil menatap Azkia.


"Aku ganti baju! Ka-kamu cepat mandi sana," kata Azkia, dengan cepat ia menyambar baju yang sudah Azka siapkan.


"Baiklah, aku mandi dulu setelah itu kita main lagi," ucap Azka sambil mengerlingkan sebelah matanya.


"AZKAAA!!" teriak Azkia, ia melemparkan sebuah bantal namun sayangnya tidak mengenai Azka karena ia sudah masuk kedalam kamar mandi.


"Kenapa tambah jail sih, suka banget godain aku. Dia gak tau jantung aku udah mau copot dengan kelakuannya itu," gumam Azkia. Dengan cepat ia memakai pakaiannya sebelum Azka keluar dari kamar mandi. Bahaya, pikirnya.


Tidak butuh waktu lama Azka sudah keluar dari kamar mandi, penampilannya kali ini membuat Azkia semakin terpesona. Bagaimana tidak, Azka mengenakan celana jins berwarna hitam ada sedikit sobekan di kedua lututnya. Dipadukan dengan kaos polos warna maroon, entah mengapa sangat cocok dengan Azka.


"Terpesona?" ucap Azka sambil melemparkan handuk kecil pada wajah Azkia.


"Histt!" keluh Azkia.


Azkia kaget saat Azka sudah duduk membelakanginya, tepatnya ia duduk dilantai yang beralaskan karpet berbulu. Azkia masih diam saja hingga suara Azka terdengar.


"Keringin rambut aku," perintah Azka sambil mendongak keatas melihat wajah cantik sang istri.


"Kan bisa sendiri," kata Azkia.


"Kan kamu istri aku, harus nurut dong sama perintah suami," kata Azka yang masih mendongak menatap Azkia.


Dengan cemberut Azkia mengusap wajah Azka dengan handuk kecil yang Azka lempar tadi.


"Uupps! Maaf salah," kata Azkia sambil terkekeh. Kemudian ia mengeringkan rambut Azka yang masih basah. Tercium wangi sampo Azka hingga tanpa sadar Azkia mendekat dan mencium rambut Azka.


"Ngapain?" tanya Azka.


"Eh, ngapain? Kan ngeringin rambut ini," elek Azkia yang tertangkap basah oleh Azka.


Azka terkekeh melihat tingkah istrinya itu. Kemudian ia menggunakan layanan kamar untuk mengantarkan sarapan. Karena Azka tidak tega melihat cara berjalan Azkia yang seperti siput, terlebih lagi itu terjadi karena dirinya.


Sambil menunggu sarapnnya datang mereka lebih memilih berselancar didalam benda pipih itu. Azka membalas semua pesan dari rekan bisnisnya yang memberikan selamat, tak lupa ia mengecek email yang masuk jika harus dibalas Azka akan membalasnya.


Sedangkan Azkia yang sudah sejak tadi membalas ucapan selamat mereka lebih memilih membuka akun sosial medianya. Disana ia juga mendapatkan banyak ucapan selamat dari teman-temannya. Hingga ada satu notif yang menandai dirinya dalam instastory.


"Kau kan selalu menjadi pelangiku dimanapun kamu berada saat ini, walaupun aku tidak bisa menjadi tempatmu pulang aku akan tetap menyayangimu." ~ E H~


@Rhn


Begitulah isi instastory yang membuat Azkia syok, pasalnya ia tahu akun siapa yang menandai dirinya di sosial media itu.


...----------------...

__ADS_1


Kalian bisa juga loh komemt di paragraf yg kalian mau :)


Sayang kalian wkwk canda :v


__ADS_2