Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Roti Sobek


__ADS_3

"Mau kemana pak?" tanya Lena saat melihat Azka keluar dari dalam rungannya dengan membawa tas kerjanya.


"Pulang." singkat Azka.


Lena yang mendengar hal itu menjadi bingung, pasalnya jam kerja masih dua jam lagi sebelum jam pulang kerja.


"Ta-tapi ini belum waktunya pulang," ucap Lena sedikit takut.


"Terserah saya," singkat Azka.


"Ta-tapi pak," ucap Lena takut.


"Yang bos siapa?" tanya Azka.


"An-anda," jasan Lena.


"Terserah saya mau pulang jam berapa," ucap Azka setelah itu melangkah pergi.


"Terus akunya gimana kalau bosnya udah pulang," gumam Lena.


"Kamu pulang sesuai jam kerja," kata Azka tanpa menoleh kebelakang.


"Untung ganteng kalau gak udah mengundurkan diri," gerutu Lena sambil menyelesaikan pekerjaannya.


Terlihat Devan dengan setumpuk berkas menuju ruangan Azka. Tanpa bertanya dan mengetuk ia langsung masuk kedalam ruangan Azka. Kosong, itulah yang Devan liat saat ini bahkan mejanya sudah terlijat rapi walaupun masih ada beberapa berkas disana.


Devan keluar melihat sang sekertaris Azka masih duduk didepan komputer, ia terlihat melamun sehingga tidak menyadari kehadiran Devan.


"Ehem!" deheman Devan tidak dihiraukan Lena.


"Eheem, Lena." ulang Devan.


"Ini orang pikirannya lagi dimana sih," gerutu Devan sambil melambaikan tangannya didepan wajah Lena.


"LENA!" suara Devan sedikit meninggi menbuat Lena lagi-lagi tersentak kaget.


"Ganteng!" ucap Lena spontan.


"Sudah lama saya ganteng," saut Devan.


"Eh, Pak Devan ada yang bisa saya bantu?" tanya Lena.


"Azka, eh Pak Azka kemana?" tanya Devan.


"Pulang," jawab Lena jujur.


"Apa pulang, ini kan belum jam pulang kerja kenapa dia pulang duluan... mana gak ngajak lagi," gerutu Devan.


Sedangakn Lena hanya bisa melongo dengan perkataan Devan. Ia tidak menyangka Devan yang biasanya tegas ada sisi yang seperti ini.

__ADS_1


"Gak dapat bosnya, dapet temennya juga gak rugi." batin Lena.


"Tadi bilang alasanya pulang, apa?" tanya Devan.


"Tidak pak," jawab Lena.


"Mentang-mentang bos, huh awas aja lo," gerutu Devan smabil melangkah menuju ruangannya.


"Baru sadar disini banyak bibit unggul," gumam Lena sambil terkekeh. Ia masih memandang punggung Devan yang sudah menjauh.


......................


Azka sudah sampai dirumahnya, ia menanyakan keberasaan Azkia pada Bi Mira. Tanpa menunggu lama Azka langsung menuju kamarnya karena setelah menerima telepon, Azkia tidak terlihat turun lagi.


Clek!


Pintu kamar terbuka perlahan, Azka menyapu seluruh kamar untuk menemukan Azkia. Terdengar suara lagu slow menyapa pendengaran Azka.


Bibir Azka terangkat setelah menemukan Azkia tertidur sambil memegangi sebuah bolpoin. Azka mengusap pelan pipi sang istri, kemudian dengan perlahan Azka mengangkat tubuh Azkia dan memindahkannya diatas ranjang.


Azkia sedikit mengeliat karena merasa tidurnya terusik. Perlahan matanya terbuka dan melihat wajah tampan sang suami tengah memandanginya. Wajah yang sangat tampan, ditambah cahaya matahari senja seolah memberikan vilter yang bagus untuk Azka.


Tangan Azkia terulur memegang pipi Azka yang tengah memandanginya sambil tersenyum.


"Mimpinya terlihat nyata," gumam Azkia.


"Mimpi apa?" tanyanya.


Azkia mengira ia sedang bermimpi sehingga ia meluapkan semua isi hatinya.


"Masa aku cuma ngobrol sama Kak Rayhan dia langsung marah-marah gak jelas, padahal kan kita cuma temen aja gak lebih." kata Azkia.


"Hmm," saut Azka.


"Andai aja sifat suamiku itu hangat kaya Kak Rayhan pasti aku bahagia banget, tapi dia kalau marah langsung diem wajahnya jadi dingin banget, kalau ditanya jawabnya ketus." rancau Azkia lagi.


"Tapi kamu cinta kan sama suamimu?" tanya Azka.


"Cinta? Bisa dibilang seperti itu, karena dia yang bisa membuatku merasa nyaman dan tangan padahal cuma dipeluk," kata Azkia sebelum ia terlelap lagi.


Azka menggeleng, bisa-bisanya sang iatri mengigau dan memimpikannya. Azka memutuskan untuk membersihkan dirinya, agar tubuhnya wangi dan segar.


Azkia terbangun dan mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Membuat Azkia yakin jika itu adalah Azka, dia benar-benar menepati janjinya pulang cepat.


"Perasaan tadi masih tidur dimeja belajar, kenapa sekarang udah dikasur aja?" gumam Azkia.


Ia mengambil ponselnya yang terletak tidak jauh darinya. Terlihat masih pukul 4 sore.


"Tumben udah pulang," batin Azkia.

__ADS_1


Saat Azkia tengah sibuk memainkan ponsel, pintu kamar mandi terbuka. Azkia melirik sekilas dari bawah perlahan naik keatas.


Terlihat Azka yang baru saja selesai mandi dengan handuk putih melilit dipinggangnya. Terlihat roti sobek milik Azka yang begitu menggoda, hingga membuat Azkia menatapnya tanpa berkedip.


"Roti sobek," gumam Azkia.


"Netes tuh ilernya," suara Azka menyadarkan Azkia dari lamunannya. Tangannya mengusap bibir namun ternyata tidak ada ilernya sama sekali, membuat Azkia mengerucutkan bibirnya.


Azka mendekat dan duduk didepan Azkia tanpa berniat memakai baju terlebih dahulu.


"Ma-mau apa?" tanya Azkia gugup.


"Ada yang penasaran gimana rasanya roti sobekku," bisik Azka yang membuat Azkia blusing.


Dengan cepat Azkia mendorong tubuh Azka agar mejauh darinya, tapi sayangnya kekuatan Azkia kalah besar dengan Azka. Buktinya Azka tidak bergeser sedikit pun, bahkan ia semakin mendekati Azkia.


"Tuh kan udah gak sabar pengen cepet-cepet pegang," bisik Azka lagi sambil melirik tangan Azkia yang sudah berada pada dada bidangnya.


Azkia mengikuti gerakan mata Azka dan benar saja tangan Azkia menempel pada dada bidang Azka. Dengan cepat Azkia menariknya namun ditahan oleh Azka sehingga tangan itu tetap berada diperut sispex Azka.


"Pegang aja, aku seneng kok!" kata Azka.


"Hilih."


Azkia mencoba menata jantungnya yang terus berdegup kencang, walapun mereka sudah menikah tapi tetap saja membuat Azkia berdebar setiap kali bersentuhan fisik seperti ini.


Tangan Azkia hanya menempel saja pada roti sobek milik Azka, membuat Azka tersenyum samar.


"Yakin cuma mau pegang aja, gak mau dimakan rotinya?" canda Azka.


"Banyak perempuan yang pengen megang roti sobekku, kamu udah kasih pegang aja takut," ledek Azka sambil terkekeh.


Azkia yang sedang diremehkan merasa kesal. Tanpa basa basi lagi ia mengusap kasar roti sobek milik sang suami. Wajahnya ia dekatkan dengan wajah Azka.


Cup


Satu ciuman dari Azkia membuat Azka memelototkan matamya tidak percaya dengan perbuatan Azkia yang dianggap berani. Tapi Azka suka Azkia yang aktif seperti ini.


Saat Azkia mulai melepaskan ciuman itu, tangan Azka bergerak untuk menahan tengkuk Azkia. Azka tidak terima jika hanya sebentar sehingga ia menginginkan ciuman itu berjalanjut.


Mereka berdua larut dalam kenyaman itu, hingga membuat mereka menginginkan sesuatu yang lebih. Sehingga terjadilah perperangan disore hari dengan hangatnya senja, sehangat cinta mereka berdua.


Entahlah sudah berapa kali mereka melakukannya, tapi tetap saja tidak merasa puas bahkan mereka menginginkan lagi dan lagi.


...----------------...


..."Jangan lupa tidur, kesehatanmu loh!"...


...----------------...

__ADS_1


Yok vote gartisnya dan like coment :)


Makasih buat kalian yang selalu setia sama Azka & Azkia


__ADS_2