Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Malam Sunyi


__ADS_3

"Buka pintunya!" teriak orang itu yang tidak lain adalah Attaya, disebelahnya ada Devan yang sedang berkacak pinggang karena hampir saja menelepon ambulan karema Azka tidwk kunjung sadar.


Azka tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka ucapkan. Perlahan tangannya memencet tombol dibawah kaca untuk menurunkan kaca mobil itu.


"Lo gila, ya! Bikin kita berdua panik setengah mati, tuh liat si Devan udah bawa orang-orang buat paksa pecahin kaca mobil lo!" cecar Attaya tidak ada hentinya.


Azka yang sudah pusing dengan semua masalahnya, ditambah Attaya dengan sederer omelannya membuat Azka semakin sakit kepala. Dengan cepat Azka mengambil roti yang masih terisisa setengah. Lalu ia memasukan roti itu kedalam mulut Attaya agar berhenti mengomel seperti ibu-ibu komplek jika sedang bergosip.


"Uuhh!" keluh Attaya.


"Keluar!" perintah Devan.


Dengan malas Azka keluar dari dalam mobil, lalu ia bersadar pada pinggir mobil setelah pintu itu ditutup.


"Lo kenapa disini, gak langsung pulang?" tanya Devan seperti sedang mengintrogasi orang.


"Hampir nabrak orang tadi." singkat Azka.


"WHAT!" teriak Attaya memecah keheningan malam.


"Berisik! Mulut kondisikan, jangan kek cewek!" kesal Devan.


"Maaf, reflek!" jawab Attaya sambil cengengesan.


Attaya memberikan minuman kaleng kepada Azka dan Devan. Ia sempat membelinya tadi dan menaruhnya di dalam mobil.


"Kalau lo banyak pikiran, gak usah bawa mobil sendri. Bahaya!" tegas Devan disela-sela minumnya.


"Hmmm." saut Azka.


"Kalau gak yakin gak usah dilakuin!" Attaya menatap lurus jalanan yang mulai sepi.


"Harusnya!" jawab Azka terdengar putus asa.


PLAK!


Devan memukul punggung Azka, ia geram dengan sikap Azka yang seperti ini. Biasanya jika ada masalah Azka akan bisa mengatasinya dengan kepala dingin, bahkan bisa dibilang Azka yang paling bisa diandalkan untuk memutuskan sesuatu disaat ada masalah. Tapi, sekarang Azka terlihat sangat lemah. Bahkan ia tidak bisa berfikir dengan jernih untuk saat ini, Azka terlihat seperti zombi.


"Semangat! Mana Azka yang gue kenal, jangan lemah dengan keadaan!" ucap Devan.


"Lo bisa, Ka! Nanti pas liburan kita susulin lo kesana deh, biar gak kesepiian." Attaya ikut menghibur Azka.

__ADS_1


"Lo yang bayarin, ya?" canda Devan dan membuat mereka tertawa.


Azka bersyukur memiliki sahabat seperti Attaya dan Devan, mereka berdua selalu ada disetiap kondisi. Saat ini susah mencari teman seperti mereka.


"Pulang yuk, lama-lama horor disini!" ucap Attaya sambil mengusap kedua lengannya.


"Dasar penakut!" cibir Devan.


Malam ini memang terasa sedikit horor, karena jam hampir menunjukkan pukul 00:00 WIB. Samar-samar mereka seperti mendengar suara orang menangis. Membuat Attaya semakin ketakutan.


"Eh, bentar kalian denger suara orang nangis gak?" tanya Attaya.


"Gak!" jawab Azka.


"Emm, mana gak ada suara tuh?" Devan berusaha menajamkan pendengarannya.


"Huuuhuuuu!"


"Tuh, denger kan!" panik Attaya yang tiba-tiba memeluk lengan Azka.


"Lepasin!" Azka mencoba menarik lengannya namun pelukan Attaya terlalu erat.


"Lo jangan pingsan disini, kek waktu itu... awas aja lo, gue tinggalin disini kalau sampai pingsan!" ancam Devan.


"Nangis tinggal nangis, gak usah laporan!" gerutu Azka sambil menjauhkan wajah Attaya agar tidak mendekatinya.


"Huh jahatnya!"


"Kuy balik, gue sama Azka. Lo bawa mobil lo kerumah Azka!" ucap Devan yang sudah masuk kedalam mobil Azka.


Devan duduk manis dikursi kemudi sambil membenarkan jaketnya. Sedangkan Azka dengan susah payah melepaskan Attaya, terlihat jelas wajah pucat Attaya karena ketakutan.


"Nanti kalau gue sendirian, sebelah gue ada cewek rambut panjang gimana?" tanya Attaya.


"Pacarain aja!" singkat Devan.


Devan memberi kode kepada Azka, untung saja Azka paham dengan maksud Devan.


"Mundur dulu, gue bukain pintu belakang." ucap Azka.


Dan dengan polosnya Attaya mengikuti permintaan Azka, ia mundur dua langkah dari hadapan Azka. Setelah itu Azka tidak membuka pintu belakang, melainkan menutup pintu sebelahnya.

__ADS_1


"Wah lo boongin gue ya," kesal Attaya sambil mengetuk kaca mobil Azka.


Azka menurunkan kaca mobil dan melemparkan sesuatu pada Attaya.


"Cepet balik atau mau diteminin mbak kunti disini!" teriak Azka, karena mobilnya sudah berjalan yang dikemudikan oleh Devan.


"WOY! KALIAN TEGA NINGGALIN GUE SENDIRI DISINI!" teriak Attaya sambil celingukan melihat sekeliling.


"Huuuhuuuu,"


"Tuh kan kedengeran lagi, pahit-pahit! Jangan ganggu gue, gue pahit!" ucap Attaya.


Attaya berlari menuju mobilnya sendiri, dengan susah payah akhirnya ia dapat memasukan kunci mobil itu. Dengan sekali tancap gas, mobil Attaya melesat dengan kecepatan penuh menyusul mobil milik Azka.


"Horor banget sih, kenapa gak ada orang lewat," gerutu Attaya.


Ternyata tidak jauh dari tempat Attaya dan Azka parkir mobil tadi terdapat seekor kucing yang sedang mengeong, karena malam sehingga suaranya terdengar seperti suara manusia. Attaya tidak tahu akan hal itu, sehingga ia mengira suara itu berasal dari hantu perempuan cantik berbaju putih.


..............


Dirumah Azkia.


Azka masuk kedalam kamar dengan tergesa-gesa, tan kecil yang ia kenakan langsung dilemparkan begitu saja kesembarangan arah. Azka langsung melemparkan tubuhnya keatas kasur dengan posisi tengkurap.


Ia tidak habis pikir dengan sikap Azka yang cepat sekali berubah. Baru tadi siang ia merasa menjadi perempuan paling bahagia diantara yang lain dengan perlakuan Azka yang membuat siapapun iri. Tapi, malam ini semuanya berubah dengan begitu cepat. Membuat hati Azkia sedikit kecewa.


"Lo pinter banget sih, buat gue terbang terus jatuh gitu aja!" gumam Azkia.


"Tapi gue keselnya, gue gak bisa marah langsung sama lo, Azka! Hiks." Azkia membenamkan wajahnya pada bantal.


"Lo kenapa tiba-tiba berubah gini sih, emangnya gue salah apa sama lo? Kalau gue ada salah kenapa gak bilang langsung aja." ucap Azkia disela-sela tangisnya.


Azkia merasa ada sesuatu yang disembunyiin Azka darinya. Tapi Azkia tidak tahu apa itu, ia hanya mengira Azka sedang marah padanya sehingga sikap Azka berubah dingin lagi seperti pertama bertemu.


Pikiran Azka bergelut dengan prasangkanya sendiri, sesekali Azkia melihat ponselnya yang tidak ada satu pun notif dari Azkia. Padahal biasanya jika sudah sampai rumah Azka akan memberikan kabar kepada Azkia.


Ingin sekali Azkia menghubungi terlebih dahulu, namun ia urungkan. Karena saat Azkia marah tadi, Azka hanya diam saja tanpa ada niatan untuk membujuk ataupun merayu agar tidak marah lagi.


Azkia membatin ponselnya diatas tempat tidur, sebelumnya ia sudah mematikan ponsel itu. Azkia meringkukkan tubuhnya, sesekali tangannya mengusap air yang membasahi kelopak matanya.


Hingga tanpa sadar Azkia terlelap dalam tidurnya, dengan semua kegundahan hati dan pikiran. Bahkan, saat tidur pun keningnya masih terlihat berkerut. Seolah ada banyak pikiran yang mengusiknya.

__ADS_1


...--------------------------------...


__ADS_2