
Setelah puas mengisi perut, Azka dan Azkia melanjutkan jalan-jalannya. Hingga tiba disuatu wahana yang membuat Azkia tertarik untuk melihatnya. Azkia tertarik karena banyak orang yang mengenakan pakaian orang Jepang.
"Mana mungkin disini ada orang Jepang," gumam Azkia yang terus berjalan mendekat.
"Coba wahana itu, yuk!" ajak Azkia.
"Ogah!" tolak Azka.
"Yaudah, aku cari cowok lain aja buat diajak foto bareng pake baju itu," ancam Azkia.
Azka yang mendengar itu langsung membuat rahangnya mengeras dengan sempurna. Bagaimana bisa wanitanya ingin berfoto dengan laki-laki lain.
Dengan kasar Azka menggandeng Azkia untuk mengantri, terlihat senyum simpul yang menghiasi sudut bibir Azkia. Karena berhasil membyat Azka mengikuti keinginannya.
Mereka berdua memilih baju kimono yang mereka sukai. Kimono merupakan pakaian khas Jepang yang desainnya menyerupai kemeja, tetapi cukup tebal dan terdapat tali panjang untuk melilitkannya ke tubuh. Pakaian tradisional ini memang dipakai oleh masyarakat Jepang pada zaman kerajaan dahulu kala.
Fasilitas wahana Kimono tak kalah lengkap, engunjung tidak hanya mencoba pakaian Kimono saja, tetapi aksesoris lainnya. Seperti panggung bunga, payung khas Jepang, dan bunga tangan.
Azkia terlihat sangat cantik menggunakan pakaian kimono, begitu juga dengan Azka terlihat sangat ganteng. Bahkan Azkia terlihat sempurna bagaikan Putri Kaisar Jepang yang kecantikannya sangat paripurna.
Azka menggunakan asesoris pedang samurai, sedangkan Azkia memilih menggunakan payung khas Jepang.
Setelah menunggu, akhirnya tiba giliran mereka berdua untuk berfoto. Azka duduk disebuah bangku dengan tangan yang memegang samurai, sedangkan Azkia berpose berdiri di sebelah Azka. Bahu kiri Azkia terdapat sebuah payung khas Jepang yang membuatnya terlihat anggun.
Klik!
Satu foto sudah didapatkan, sekarang mereka berganti pose sesuka hatinya. Lagi-lagi banyak orang yang iri melihat keromantisan mereka berdua.
Setelah puas berkeliling tempat wisata, mereka berdua akhirnya memutuskan untuk pulang kerumah karena hari sudah mulai sore.
Jarang sekali, mereka berdua bisa menghabiskan waktu tanpa adanya gangguan dari siapapun. Biasanya ada saja yang mengganggu mereka berdua.
Badan Azkia terasa capek setelah seharian bermain bersama Azka, bahkan tidak hentinya Azkia tertawa saat melihat wajah kesal Azka karena ulahnya sendiri.
Langit pun masih terlihat cerah tanpa cela sedikit pun, jingga yang bertemu dengan birunya langit membuat langit sore terlihat indah. Azkia menyenderkan kepalanya dibahu Azka, tangannya terulur memeluk erat pinggang Azka membuat Azka tersenyum melihatnya. Sesekali Azka mengusap pelan tangan yang melingkar diperutnya itu.
"Makasih untuk hari ini," ucap Azkia yang samar terdengar ditelinga Azka karena bersamaan dengan angin yang berhembus.
"Kembali," ucap Azka sambil tersenyum.
"Jangan lupa nanti fotonya kirim semua, ya!" perintah Azka.
"......"
"Mau cari camilan dulu gak sebelum pulang?" tanya Azka.
"...."
__ADS_1
"Nyun," panggil Azka namun tidak ada jawaban dari Azkia.
"Heh, Nyun... manyun!" teriak Azka sambil mengguyangkan bahunya agar mendapatkan respon dari Azkia.
Namun sayang usahanya nihil, Azkia masih saja diam. Azka mencoba membenarkan posisi spionnya agar bisa melihat wajah cantik Azkia. Dan ternyata terlihat Azkia sedang tertidur dengan nyenyaknya di bahu Azka, bahkan saat Azka menggoyangkan bahunya tidak membuat Azkia terbangun.
"Astaga, bisa-bisanya tidur," ucap Azka sambil menggelengkan kepalanya.
Azka mengurangi kecepatan motornya agar tidak mengganggu tidur Azkia, lebih tepatnya agar Azkia tidah jatuh.
Semakin lama pelukan Azkia semakin mengendur bahkan hampir terlepas dari pinggang Azka. Azka yang menyadari itu langsung saja menarik kembali tangan Azkia, membenarkannya seperti semula. Tangan kiri Azka setia memegangi kedua tangan Azkia yang berada di perutnya agar tidak jatuh karena Azkia terlelap dalam bahu Azka.
Perjalanan pulang terasa sedikit lebih lama karena Azka mengurangi kecepatannya agar tidak mengusik Azkia, sesekali Azka mencoba membangunkan Azkia lagi naman sama saja Azkia tetap terlelap dalam tidurnya.
"Hmmm," Azka membuang nafasnya dengan kasar.
Bahunya sudah terasa pegal tapi mau bagaimana lagi, susah sekali membangunkan Azkia.
"Nyun, bangun udah sampai rumah!" ucap Azka sambil mengusap pelan hidung Azkia yang masih setia di bahu Azka.
"Nyun... hmmm, Azkia bangun!" panggil Azka lagi.
Dengan gemas Azka menepuk pipi Azkia berulang kali, bahkan ia memarik hidung Azkia agar terbangun.
"Emmm," suara Azkia.
Dengan segera Azkia terbangun saat mendengar kata cium membuat Azka terkekeh.
"Eh kok udah sampai dirumah?" tanya Azkia sambil turun dari motor Azka.
"Enak tidurnya? Senyaman itu kah bahuku hehe," tanya Azka sambil menggoda Azkia.
"Gak kok, gak nyaman keras malah," gerutu Azkia.
"Lah buktinya tidurnya nyenyak banget sampe gak sadar kan kalo udah di rumah?" tanya Azka.
"Hehee." Azkia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Yaudah buruan masuk, terus mandi... salam buat om tante gak bisa mampir," ucap Azka.
"Iya, makasih ya buat hari ini," kata Azkia.
Azka hanya tersenyum sambil mengganggukkan kepalanya, membuat Azkia salah tingkah.
"Ya yaudah, aku masuk dulu." ucap Azkia.
"Dalam hitungan ketiga kalo dia manggil aku berarti masih kangen, satu... dua.. ti—" batin Azkia.
__ADS_1
"Nyun!" panggil Azka.
Dengan bahagia Azkia langsung menoleh kearah Azka dengan senyum yang terkembang dibibirnya.
"Kan bener," batin Azkia.
"Kenapa, masih kangen ya?" tanya Azkia polos.
Azka lagi-lagi menggeleng melihat tingkah pacarnya yang tidak jelas itu, Azka memilih diam lalu berjalan mendekat kearah Azkia. Membuat detak jantung Azkia berdebar lebih cepat.
Azka mendekat, bahkan sangat dekat dengan Azkia saat ini. Kepalanya ia julurkan kesamping telinga Azkia, lalu berbisik.
"Helmnya bikin nyaman juga, ya?" bisik Azka tepat ditelinga Azkia membuatnya diam mematung.
"Hah! Helm?" tanya Azkia bingung.
Dengan perlahan tangan Azka membuka helm yang masih dikenakan oleh Azkia, namun Azkia salag mengartikannya. Ia berfikir Azka kan menciumnya sehingga saat tangan Azka mendekat, Azkia memilih memejamkan matanya.
Tuk!
Satu sentilan mendarat di jidat Azkia yang mulus.
"Pikirannya kotor banget sih!" ucap Azka sambil terkekeh.
"Issstt," gerutu Azkia sambil mengusap jidatnya, ada perasaan malu bisa-bisanya dia berfikiran seperti itu.
"Yaudah masuk sana, gue mau pulang dulu," ucap Azka.
Azkia masih saja diam tidak bergerak sama sekali, dia masih setia melihat punggung Azka yang mulai menjauhinya. Saat Azka sudah menyalakan motornya, dengan sengaja Azkia memanggil namanya.
"Azka!" panggil Azkia.
"Hmm?" Azka menoleh dan menaikkan sebelah alisnya.
"Makasih buat hari ini, love you!" ucap Azkia malu-malu.
Setelah mengucapkan itu Azkia langsungg berlari masuk kedalam rumah. Namun ia masih bisa mendengar suara Azka, membuat pipinyaya memerah sempurna. Bahkan jantungnya seakan ingim keluar dari tempatnya.
"Love you too, Nyun!" balas Azka.
Setelah itu Azka menyalakan motornya, melaju di jalanan dengan senyum yang masih terukir indah dibibirnya.
Jika ia tidak mengenakan helm fullface, Azka bisa dianggap gila oleh orang-orang yang melihatnya karena Azka senyum-senyum sendiri.
"Love you, Nyun!" gumam Azka.
......................
__ADS_1