Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Salah Arah


__ADS_3

Pagi ini Attaya dan Devan berangkat sekolah tanpa adanya Azka, sejak semalam Azka tidak bisa dihubungi. Mereka berjalan dengan santainya menuju kelas, wajah mereka masih terlihat mengantuk. Bahkan sesekali Attaya menguap, matanya hampir terpejam sambil berjalan.


Bruk


Attaya menabrak seseorang, membuat orang tersebut jatuh tersungkur kelantai.


"Maaf." ucap Attaya sambil mengulurkan tangannya dengan mata masih terpejam.


"Lo salah arah, orangnya disini." ucap Devan sambil membetulkan tangan Attaya agar tepat didepan wajah yang ia tabrak.


Orang itu menerima uluran tangan Attaya, dan menariknya hingga membuat Attaya tersentak kaget.


"Kalo jalan jangan sambil merem, untuk yang ditabrak cewek cantik... coba kalo tebok, tambah jenong tuh jidat." ucap Nayla. Ya orang yang ditabrak Attaya adalah Nayla.


Seketika saja Attaya mengerjapkan matanya beberapa kali, agar bisa melihat dengan jelas siapa yang ada di hadapannya ini.


"Nayla?" panggil Attaya.


"Iya, kenapa?" tanya Nayla dengan wajah sedikit dimiringkan menatap Attaya.


"Gak, gak jadi." ucap Attaya yang menjadi salah tingkah, Attaya membuang muka karena tidak ingin Nayla melihat wajahnya yang terlihat malu.


Sedangkan Devan yang menyadari itu hanya tertawa. Bagaimana tidak Nayla adalah gadis yang manis dengan rambut panjang yang diikat dua seperti gadis desa yang lemah lembut dan manis. Membuat Attaya terpesona, entahlah kenapa saat ini dia merasa Nayla begitu cantik padahal sebelumnya tidak berfikiran demikian.


"Pepet aja pepet." ucap Devan saat Nayla sudah berjalan terlebih dahulu.


"Berisik!" Attaya menginjak kaki Devan yang sedang berjalan di sebelahnya.


"Sakit oy!" keluh Devan.


Setelah masuk kedalam kelas semua orang menatap mereka dengan keheranan, membuat Attaya dan Devan risih.


"Van, kita masih bau ya? kenapa mereka liatin kita seperti itu?" tanya Attaya.


"Gak kok udah wangi, dah mandi sampai dua kali juga masa iya masih bau?" jawab Devan.


"Terus mereka kenapa?" tanya Attaya. Devan hanya mengangkat kedua bahunya lalu duduk di bangkunya.


Azkia yang melihat kedatangan Attaya dan Devan tanpa adanya Azka langsung menanyakannya kepada Devan. Azkia menoel punggung Devan menggunakan bolpoin.


"Azka mana kok kalian cuma berdua?" tanya Azkia sambil mencari keberadaan Azka namun tidak kunjung menemukan sosok yang di carinya.


Devan menjadi gelisah saat mendengar pertanyaan dari Azkia, karena dia bingung harus memberitahu yang sebenarnya atau harus berbohong pasalnya hingga saat ini Azka masih sulit untuk dihubungi.


"Azka mana, Van.. Ta?" tanya Bobo dan Ciko yang sudah berdiri di sebelah Devan.


"Kok diam, Van.. Azka mana?" ulang Azkia yang masih menunggu jawaban Devan.


Devan menyenggol sikut Attaya yang berada di sebelahnya mencoba untuk mencari bantuan. Karena jika Devan jujur soal Azka kabur setelah balapan, dia takut hal itu dapat membuat hubungan Azka bermasalah.

__ADS_1


Sedangkan Bobo dan Ciko yang berada di kantor polisi bersama Azka semalam menjadi heran karena tidak melihat Azka. "Masa iya masih ditahan?" batin Bobo.


"Tuh anak masih disana?" batin Ciko.


"Gimana jujur gak?" bisik Devan kepada Attaya.


"Jujur aja, dari pada penasaran." Attaya juga ikut berbisik.


"Van?" panggil Azkia, Devan membalik tubuhnya menghadap Azkia.


"Azka kabur, Ki." ucap Devan ragu.


"Kabur?" teriak Bobo, Ciko Devira dan Nayla secara kompak. Membuat semua orang yang berada di kelas menatap mereka.


"Maksudnya, gimana jelasin!" pinta Azkia.


"Jadi semalam tuh kita bapalan, tiba-tiba ada razia... kita berdua kabur kan." jelas Devan sambil menatap mereka satu persatu.


"Kita keciduk." sambung Bobo. Yang membuat mereka semua menatap Bobo dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


"Kok bisa?" tanya Devira.


"Bisalah, buktinya kita di kantor polisi semalem." jawab Ciko.


"Terus Azka kabur kemana? Kok bisa kabur?" tanya Azkia, ya dia hanya fokus tentang Azka karena sejak kemaren setelah panggilan diakhiri Azka tidak ada kabar lagi. Bahkan spam pesan singkat dan telepone Azkia tidak ada balasan sama sekali.


Mereka semua menatap kearah Devan dan Attaya secara bergantiin, berharap penjelasan dari mereka berdua.


"Dan sampai saat ini, Azka gak bisa dihubungi." sambung Devan


Hal itu, membuat Azkia bersadar pada bangkunya dengan lemas. Pikirannya melayang entah kemana, yang jelas saat ini mereka mengkhawatirkan Azka.


Mata Azkia mulai memerah seakan akan ada sesuatu yang jatuh dari sudut matanya. Devira dan Nayla langsung memeluk Azkia mencoba menguatkannya.


"Azka baik - baik aja, Ki... percaya deh!" ucap Devira menguatkan Azkia.


"Dia butuh waktu buat nenangin diri dulu, nanti kalo udah baik pasti balik." ucap Ciko yang diangguki mereka semua.


Bu Arum sudah datang membuat mereka membubarkan diri dari tempat duduk Azkia, pelajaran pertama dimulai. Saat mengabsen Attaya memberitahu jika Azka izin karena sakit.


................


Di sinilah Azka sedang terududuk dipinggiran jalan yang sepi, matanya menyipit karena silau akan sinar matahari yang mulai menyinari bumi. Masih terasa perih saat dirinya tanpa sengaja menyentuh pipi yang sedikit memar.


"Aaaarrrrhhhhhh!!!" kesal Azka sambil mengacak - acak rambutnya.


Azka mengambil benda pipih yang tersimpan di saku jaketnya, perlahan dia menggeser benda pipih tersebut. Banyak sekali panggilan tak terjawab dari sahabat dan teman - temannya, bahkan orang tua Azka pun juga menghubunginya.


"Maafkan papa, Kaka pulang ya." isi pesan dari Yudha.

__ADS_1


"Kamu dimana nak, cepat pulang." dari sang mama.


Azka mengabaikan semua pesan itu, matanya terfokus pada satu pesan yang mengusik hatinya.


"Hai jelek, udah tidur belum."


"Aku gak bisa tidur kepikiran kamu terus, kamu gak kenapa-napa kan?"


Panggilan tak terjawab 20kali.


"Kamu dimana?"


"Beruang kutub, kamu dimana? kalo udah baik bales chat aku, ya!"


"Aku mengkhawatirkan mu, cepat kembali."


Sebagian kecil pesan yang Azkia kirim sudah di baca oleh Azka, bibirnya sedikit tersenyum saat melihat pesan Azkia jika dia mengkhawatirkannya. Hatinya terasa sedikit menghangat, dan ingin sekali Azka menemui Azkia sekarang juga.


Namun, keiingannya itu ia urungkan, Azka tidak ingin jika Azkia melihat dirinya yang sedang tidak berdaya seperti ini. Azka tidak ingin membebani Azkia ataupun sahabatnya.


Azka mengirim sebuah pesan kepada Azkia, mengatakan bahwa dirinya baik - baik saja. Tiba - tiba saja terdengar suara motor yang berhenti tepat didepannya, Azka mendongak untuk melihat siapa yang sedang berdiri di depannya.


"Azka?" panggilnya.


"Ken?" panggil Azka.


"Astaga, kita semua nyariin lo dari semalam... lo malah nyantai disini, nggembel lo?" ucap Ken sambil terkekeh.


"Sialan lo!" kesal Azka namun tidak ada raut marah dengan candaan Ken.


"Ikut gue!" perintah Ken.


"Kemana?" tanya Azka sambil berdiri dari duduknya menghampiri Ken, yang masih diatas motor.


"Dari pada lo disini kaya orang ilang, mending kerumah gue aja." ajak Ken.


Azka berfikir sejenak dan mempertimbangkan ucapan Ken yang ada benarnnya juga.


"Oke."


"Gitu dong dari tadi, sok - sokan kabur kaya cewek aja!" Ken terus saja meledek Azka, membuat Azka sedikit malu.


"Halah, lo panik juga kan gue kabur!" ucap Azka sambil memakai helm fullfacenya.


"Panik lah masa enggak hehe.. gue takut temen balapan gue diculik tante-tante." ucap Ken sambil tertawa.


"Cih!" umpat Azka namum tetap saja dia mengikuti Ken yang sudah mengemudikan motornya terlebih dahulu.


.........................

__ADS_1


..."Aku takut membuatmu menangis, saat aku tak disampingmu" -Azka <е н>...


__ADS_2