Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Resek kalo Laper


__ADS_3

Hari ini Azkia dan Devira sedang piket, sehingga mereka lah yang harus mengembalikan semua buku paket ke perpustakaan lagi.


Awalnya Azka ingin membantu, namun di tolak mentah - mentah oleh Azkia. Karena bahu Azka belum pulih sepunuhnya jika harus membantu Azkia menbawa buku paket yang begitu tebal, akan memperlambat penyembuhannya.


Dengan berat hati Azka menuruti keinginan Azkia, dia pulang terlebih dahulu di jemput Raina. Sedangkan Azkia disinilah sekarang, perpustakaan.


Azkia manghela nafasnya panjang, terlihat sangat lelah. Dia mengelap keringat yang mebasahi jidatnya itu.


"Capek?" ucap Devira yang merebahkan kepalanya diatas meja perpustakaan, tangannya ia gunakan sebagai tumpuan.


Perpustakaan terlihat sepi, hanya beberapa orang saja yang masih setia di perpustakaan.


"Iya." saut Azkia, dia melakukan hal yang sama dengan Devira.


"Sama, mana berat banget bukunya... kenapa pas banget sama piket kita sih." keluh Devira.


Azkia hanya diam saja, dia lebih memilih memejamkan matanya sebentar saja. Tangannya terasa pegal, ada sedikit goresan - goresan yang terlihat di lengannya. Perih itulah yang dirasakannya.


"Bahkan kertas yang setipis itu pun mampu menorehkan luka." gumam Azkia saat menatap lengannya.


"Ngomong apa?" tanya Devira yang sudah menegakkan duduknya.


"Apa?" tanya Azkia polos.


"Cih, jangan kumat deh lemotnya... yuk pulang udah sepi." ajak Devira sambil membenarkan posisi tasnya.


"Duluan aja, gue mau ketoilet dulu." ucap Azkia.


"Jangan lama - lama, nanti kangen." canda Devira sambil terkekeh.


"Gak kebalik tuh." ucap Azkia sambil tersenyum mengejek.


"Gak bakalan." Devira menjulurkan lidahnya mengejek balik Azkia. Dia berjalan terlebih dahulu menuju parkiran, berlawanan arah dengan Azkia yang menuju toilet.


.............


Sekolah sudah terlihat sepi, hanya beberapa orang yang masih berada di sekolah. Terutama anak - anak yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler mereka masih berada di lingkungan sekolah.


Azkia menyusuri lorong ini sendirian, dia sibuk dengan ponselnya tanpa memperhatikan sekitarnya.


Tiba - tiba saja terdengar teriakan seseorang, namun Azkia mengabaikannya. Dia lebih asyik bermain ponsel, sedang membalas setiap pesan yang Azka kirimkan kepadanya.


"Awaaasss!"


Duk!


"Aaawwhh!" teriak Azkia saat sesuatu yang keras mengenai jidatnya.


"Bola basket?" gumam Azkia sambil menggelengkan kelapanya yang terasa pening. Terlihatlah bola basket yang menggelinding setelah mengenai kepalanya.


Seseorang langsung berlari menghampiri Azkia dengan wajah panik, Azkia masih belum menyadari kehadiran seseorang yang sudah berdiri di depannya itu karena Azkia sibuk mengusap jidatnya yang terasa pusing.


"Sorry, sorry gue gak sengaja!" ucapnya menyesal, namun Azkia hanya diam saja.


"Astaga jidat lo sampe merah gitu," cowok itu berucap sambil tangannya menyelipkan helaian rambut yang menutupi wajah Azkia.


Dengan cepat Azkia menepis tangan cowok tersebut dan mundur dua langkah agar tidak terlalu dekat dengannya.


"Gue gak papa." ucap Azkia.


"Gak usah sok kuat deh, udah sampai kaya gini juga." ucap cowok itu sambil menyentuh jidat Azkia tepat yang terkena bola basket tadi.


"Awh awh jangan disentuh sakit!" protes Azkia sambil menatapnya tajam.

__ADS_1


Laki - laki itu maju selangkah mendekati Azkia, dengan cepat Azkia mundur satu langkah namun terhenti saat dia memegang kedua pipi Azkia.


"Waow pemandangan bagus ini." ucap seorang wanita yang baru saja melewati lapangan basket namun terhenti saat melihat Azkia.


"Diem." ucap cowok itu sambil memajukan wajahnya yang membuat Azkia semakin gusar.


Azkia memejamkan sebelah matanya saat wajah cowok itu tepat di hadapannya, hingga Azkia mampu menghirup wangi dari parfum cowok itu.


"Fuuuuu fuuuu." cowok itu meniup pelan jidat Azkia yang terkena bola pasket, sontak saja hal itu membuat Azkia tenang. Karena menghilangkan pikiran - pikiran negatif yang terlintas di benak Azkia beberapa saat lalu.


Perempuan itu langsung saja mengambil ponsel yang terletak di saku seragam sekolahnya, kemudian menekan camera dan mengarahkannya kepada Azkia.


Klik!


"Perfek." ucapnya lalu menyimpan ponselnya kembali, kemudian melanjutkan tujuan awalnya sambil tersenyum bahagia.


"Gu-gue gak papa." ucap Azkia sambil mendorong tubuh laki - laki itu.


"Yakin?" tanyanya seperti tidak percaya.


"Iya, yakin!" ucap Azka serius agar orang di depannya ini melepaskannya.


"Oke, lain kali kalo jalan jangan sambil main hp... bahaya!" ucapnya sambil mengambil bola basketnya.


"Iya iya, crewet banget kek ibu - ibu." gerutu Azkia.


Laki - laki itu berhenti dan kembali berbalik menatap Azkia.


"Kenapa?" tanya Azkia bingung, dia berfikir bahwa laki - laki itu akan memarahinya karena sudah memakinya.


"Kalo sudah sampai rumah jangan lupa tuh luka kompres pake es, biar gak bengkak... gak lucu kan cewek cantik jidatnya jenong." ucapnya sambil terkekeh.


Azkia hanya terpaku melihatnya mulai menjauh sambil mendribel bola basketnya.


Azkia menjawab tanpa melihat terlebih dahulu siapa yang menelponenya.


"Ha—"


"Lama banget sih, lo tidur ya di kamar mandi!" teriakan dari seseorang itu mampu membuat Azkia terdiam saat berhasil menekan tanda hijau yang muncul pada layar ponselnya.


Azkia menjauhkan ponselnya, telinganya terasa sakit saat mendengar suara yang begitu keras seperti toak.


"Buruan, gue laper ini... kenapa diem aja, gue tungguin kalo sampai lima menit gak muncul gue tinggalin!" perintah seseorang diseberang sana yang tidak lain adalah Devira.


"Lo resek kalo laper." ucap Azkia sambil terkekeh.


"Wah be—" Azkia langsung saja mematikan telepone itu, dia malas mendengarkan ocehan dari sahabatnya yang jelas saja tidak akan ada habisnya.


Azkia menyimpan ponsel pada saku roknya itu, sempat Azkia melihat sekilas cowok yang sudah melukai jidatnya.


Pas sekali cowok itu juga sedang menatap Azkia, kemudian dia melambaikan tangan kanannya sambil tersenyum tipis sedangkan tangan kirinya memegangi bola basket.


Azkia tak menghiraukannya, dia lebih memeilih melangkahkan kakinya. Namun baru beberapa langkah seseorang laki - laki dengan pakaian basket melaluinya tanpa menghiraukan Azkia, karena matanya fokus pada cowok yang berada di lapangan.


"Kevin!" teriakan itu membuat Azkia menghentikan langkahnya dan menoleh, rasa ingin tahunya tiba - tiba muncul begitu saja.


"Sorry telat, Vin." ucap cowok yang baru saja datang itu.


"Iya, anak - anak yang lain mana?" tanya cowok yang melukai Azkia tadi, bernama Kevin.


"Masih ganti baju." jawabnya lagi.


"Oke, pemanasan dulu." ucap Kevin tanpa sengaja pandangannya bertemu dengan Azkia lagi.

__ADS_1


Kevin heran kenapa Azkia masih berada disana dan menatapnya, Kevin mengangkat kedua telapak tangannya di depan dada. Yang berarti 'kenapa?'.


Azkia yang melihat itu langsung saja berbalik badan, dia sedikit berlari karena teringat dengan perkataan Devira yang akan meninggalkannya sendirian jika dalam waktu lima menit tidak sampai di parkiran sekolah.


Brak!


Azkia menutup pintu mobil Devira dengan sangat kencang, nafasnya tidak beraturan.


"Lo dikejar setan?" tanya Devira yang duduk disebelahnya.


"Kok sampai lari - lari kaya gitu?" tanya Devira lagi, sedangkan Azkia hanya berdecak kesal.


"Jadi beneran ada set—"


"Lo setannya, dah ayo pulang gue capek!" Azkia memotong perkataan Devira.


"Kesambet?"


"Lo sendiri kan yang bilang kalo lima menit gue gak sampai disini, lo mau ninggalin gue." kata Azkia sambil mengatur emosinya.


"Yaelah canda doang hehe."


"Ah bodolah! Ayo cepetan pulang." ajak Azkia, entah kenapa hari ini dia terbawa perasaan dan emosinya tidak bisa terkendali.


"Gak nyadar, lama kan nungguin lo itu." kata Devira sambil menjalakan mobilnya menjauh dari sekolahan.


"Hmmm."


......................


Entahlah,


Mungkin bagimu aku seperti angin,


Hadir menyapa setelah itu hilang


Dan saat itu kau lupa tentang hadirku..


Aku sadar,


Kau tak menganggapku ada,


Aku juga tahu,


Kau tak menyukaiku..


Namun terimakasih,


Terimakasih telah menjadi warna baru


yang muncul di hidupku


Sepotong rindu,


yang tak mampu ku beritahu,


Menyiksakku dalam kalbu.


Ku harap kau mengetahuinya,


Dan merindukanku juga


—E H—

__ADS_1


__ADS_2