Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Butuh Dokter Cinta


__ADS_3

Hari ini Azka pulang cukup larut dikarenakan ada beberapa hal mendesak yang harus ia urus. Lampu rumah sudah dipadamkan hanya tersisa beberapa lampu kecil sebagai penerang. Azka tak melihat Azkia dimanapun, mungkin ia sudah tidur karena pesan dan panggilan telepone pun tidak Azkia jawab.


Ceklek!


Azka membuka pintu kamarnya, terlihat seseorang tengah tertidur dengan pulas. Ia tidak merasa terusik sedikit pun saat ada tangan dingin yang membelai wajahnya.


"Cantik," satu kata itu berhasil lolos dari mulut Azka.


Sekilas Azka mencium pucuk kepala sang istri, membuatnya sedikit terusik. Kemudian Azka mengusap-usap rambut Azkia agar ia tertidur kembali. Dirasa sudah cukup menatap wajah sang istri, Azka kemudian pergi ke kamar mandi untuk membasuh tubuhnya yang sudah lengket.


Tak butuh waktu lama cukup dua puluh menit Azka sudah segar dengan pakaian tidurnya. Rasa kantuk begitu terasa hingga ia melupakan makan malamnya.


Azka menyelinap masuk kedalam selimut tebal, ia menatap Azkia sekilas. Sebelum ia menarik sang istri masuk kedalam pelukannya. Lagi Azka mencium pucuk kepala Azkia begitu lama hingga ia tertidur. Nyaman, itulah yang Azka rasakan saat ini.


......................


Disebuah bangunan bernuasa putih, terlihat seorang tengah menelusuri lorong itu. Wajah tampannya terlihat sangat kelelahan. Sambil berjalan ia melepaskan jas kebanggaannya. Sesekali ia menundukan kepalanya saat ada seseorang yang menyapanya. Senyum manis yang selalu terlihat disudut bibirnya, kini terasa dingin walaupun ia tengah tersenyum.


"Selama malam, Dokter Rayhan!" sapa salah satu suster.


"Malam," sautnya yang tak lain adalah Rayhan.


Rayhan melanjutkan langkah kakinya menuju ruangan pribadinya. Penat dan lapar itulah yang Rayhan rasakan saat ini. Tapi pikirannya tidak pernah bisa lepas dari sosok yang beberapa hari lalu ia temui.


"Andaikan kamu jadi istri aku, pasti aku sangat bahagia," gumam Rayhan. Ia menyandarkan tumbuhnya pada kursi.


Sesekali tangannya memijat pelipisnya sendiri dan juga terdengar helaan nafas beratnya. Rayhan mengambil benda pipih yang sejak tadi terus bergetar disaku celananya.


"Halo?" sapa Rayhan.


"Lama banget, kita udah nungguin dari tadi katanya selesai cek pasien langsung kesini?" terdengar suara laki-laki diseberang sana setelah Rayhan menerima panggilan telepon itu.


"Lupa, aku otw sekarang!" kata Rayhan lalu mematikan panggilan sepihak.


Rayahn melihat sebentar jadwalnya hari ini, tidak ada jadwal lagi sehingga ia bisa pulang saat ini juga. Tapi ia tidak langsung menuju rumah, karena ia sudah memiliki janji.


Rayhan sudah sampai disebuh Cafe yang terlihat cukup ramai. Ia melihat kesekililing Cafe untuk mencari seseorang. Hingga mata Rayhan menemukan sosok yang ia cari.

__ADS_1


"Udah lama?" tanya Rayhan langsung duduk begitu saja.


"Belum, paling cuma satu jam," jawab orang itu sambil melihat jam tangan yang melingkar dipergelangan tangannya.


"Lama banget sumpah, sampai jamuran nungguin," keluh seorang cewek sambil menatap Rayhan tajam.


"Maaf, gue lupa!" keluh Rayhan setelah memesan sesuatu.


"Mikirin apa sampai lupa, kan lo belum tua?" tanya gadis itu.


"Cih, lo kaya gak tau si Rayhan aja, Vi." ia menggantungkan perkataannya, "Sad boy akut, yang belum bisa move on," ledeknya sambil terkekeh.


"Move on lah, Ray! Kasian hati lo, berharap yang tak pasti. Apalagi sudah jelas gak bisa bersama dia!" kata seorang gadis yang di panggil Vivi.


"Susah, Jo, Vi!" ya mereka berdua adalah sahabat Rayhan sejak dibangku sekolah Jojo dan Vivi.


"Bukan susah tapi lo yang gak mau buka hati lo buat orang lain kan?" dan benar saja perkataan Vivi.


"Udah terlanjut cinta, udah nyaman mau gimana?" tanya Rayhan.


"Lo harus iklasin dia, Ray. Ya meskipun itu sulit... buktinya udah berapa tahun 5 atau 6 tahun sih?" tanya Jojo.


"Lagian Ray, dia juga udah nikah... masa lo mau hancurin kebahagian dia?" tanya Vivi.


Rayhan menggeleng lemah, terlihat raut sedih dari wajahnya. Mungkin Rayhan bisa bilang kalau dia sudah mengiklaskan Azkia tapi hatinya tidak bisa berbohong. Cukup lama Rayhan berusaha melupakan Azkia, tapi itu sangat sulit. Nama Azkia sudah tertanam jauh didalam lubuk hati Rayhan.


"Ayo dong move on, masih banyak cewek cantik diluaran sana... buka mata lo, jangan fokus sama satu hal," kata Jojo sambil menepuk bahu Rayhan.


"Gue usahain, Jo!" kata Rayhan lirih.


Walaupun Azkia belum sempat jadi pacarnya tapi ia sudah menjadi penghuni hati Rayhan, bahkan adiknya saja juga sangat menyukai Azkia. Tapi takdir berkata lain, mereka tak bisa untuk memiliki. Berat pasti, hanya keiklasan hati Rayhan yang bisa membuatnya move on dari Azkia.


"Oh iya, ini," kata Jojo sambil menyodorkan sebuah undangan dihadapan Rayhan.


Alis Rayhan terangkat keatas melihat sebuah undangan didepan matanya.


"Apa ini?" tanya Rayhan.

__ADS_1


"Undangan," jawab Vivi.


"Gue tau, maksudnya undangan apa?" tanya Rayhan sambil membuka undangan itu.


"Ini serius?" tannya Rayhan sambil menatap kedua sahabatnya itu. Mereka berdua mengangguk yakin.


"Sorry Han, kita duluan," ucap Jojo sambil menunjuk deretan gigi putihnya, tangan kirinya merangkul gadis yang sejak tadi duduk disebelahnya.


"Selamat kalau gitu buat kalain berdua, gue gak nyangka akhirnya lo nerima Jojo juga, Vi." Rayhan tersenyum manis pada kedua orang didepannya.


"Dengan terpaksa, kalau nungguin lo kelamaan hehe," canda Vivi yang langsung mendapat tatapan tajam dari Jojo.


"Jangan gitu, sayang!" ucap Jojo sambil mencubit hidung Vivi. Vivi semakin mengeratkan pelukannya karena gemas dengan tingkah Jojo ketika cemburu.


"Terus aja terus, pamer kemesraan kalian didepan sad boy kaya gue," dengus Rayhan kesal.


Tapi Rayhan bahagia melihat kedua sahabatnya itu bisa bersatu kejenjang yang lebih serius lagi. Vivi yang awalnya suka pada dirinya namun ia tolak karena Azkia, dan sekarang sudah bisa menerika Jojo yang sejak dulu sudah memiliki rasa pada Vivi.


"Jangan ngambek lah, makanya cari pacar gih," ucap Jojo.


"Iya, suster dirumah sakit kan cantik-cantik siapa tau ada yang bisa ngobatin hati lo, ya gak yang?" Vivi meminta persetujuan Jojo.


"Bener banget, kali aja ada dokter cinta buat lo haha!" Jojo tertawa sangat keras hingga beberapa orang menatapnya.


"Semoga aja gue dapet seseorang yang bisa ngobatin hati gue," kata Rayhan sendu.


"Jangan sedih gitu dong, muka lo jelek!" Jojo melempar kentang goreng pada wajah Rayhan.


"Jelek-jelek gini pernah buat calon istri lo jatuh cinta," goda Rayhan lalu pergi dari tempat duduknya.


"Wah si al lan!" geram Jojo.


Sedangkan Vivi hanya bisa tertawa melihat tingkah sahabat dan calon suaminya itu. Mereka berdua selalu saja ribut jika bertemu tapi selalu saling perduli disaat salah satu memiliki masalah.


Rayhan mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, ia menembus jalanan yang mulai sepi. Hanya ada lampu-lampu jalan sebagai penerang, sesekali ada yang menyalipnya. Iya, dia sangat santai mengemudikan mobilnya, menikmati angin malam yang mulai terasa dingin.


Rayhan mengingat jelas senyum manis Azkia yang selalu membuat hatinya berdesir. Tapi ia juga tidak bisa berbuat apapun selain masih menyimpan rasanya rapat-rapat didalam hati. Walaupun banyak gadis yang mencoba mendekatinya tetap saja Azkia belum tergantikan, mungkin nanti atau entah kapan Rayhan percaya jika ia pasti akan menemukan seseorang yang bisa membuat hatinya bedetak lebih kencang.

__ADS_1


...----------------...


..."Mengagumi dalam diam itu sangat menyesakkan, terlebih kita sudah tidak bisa berbuat apapun lagi," ~Rayhah M~...


__ADS_2