Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Mengajak Bicara


__ADS_3

Azkia hanya diam saja pikirannya kosong, matanya sudah sembab bahkan terlihat sedikit bengkak. Axel yang mengemudikan mobil Azkia hanya bisa menatap iba kepada adek tersayangnya itu.


Pikiran Axel menelisik jauh kebelakang, sepertinya dia pernah mengalami hal seperti ini. Dimana Azkia terus saja menangis tanpa henti, pikirannya kosong dan hanya diam membisu sesekali terisak dalam tangisnya.


Akan kah kejadian itu terulang lagi, yang membuat Axel tidak tega dan merasa sakit jika melihat adiknya seperti ini.


"Amit - amit jangan sampai terulang lagi." gumam Axel sambil menggelengkan kepalanya. Sedangkan Azkia masih setia pada posisinya tadi.


Mobil yang mereka kendarai basah terkena guyuran air hujan akhirnya sampai di garasi rumah Azkia, sepi itulah yang dirasakan karena orang tua Azkia belum pulang.


Axel menyadarkan Azkia dari lamunannya, menyuruhnya masuk kedalam dan membersihkan dirinya. Keadaan Azkia saat ini terlihat sangat kacau, belum pernah Azkia terlihat seperti ini setelah kejadian waktu itu.


Dengan langkah gontai Azkia menaiki anak tangga untuk menuju lantai dua dimana kamarnya berada. Dengan malas Azkia menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya, tatapannya masih saja kosong.


Dia masih terbayang senyuman Azka kemaren saat mereka berada dipantai. Namun kini orang yang sudah mengisi hati Azkia itu terbaring tidak sadarkan diri dirumah sakit.


Sesak itulah yang Azkia rasakan, jika bisa Azkia ingin mengulang waktu - waktu bersama Azka. Dia tidak akan membuat Azka khawatir karena ponselnya tidak bisa dihubungi.


Setelah selesai dengan rutinitas mandinya Azkia merebahkan tubuhnya diatas kasur, menatap langit - langit kamar yang seolah ada wajah Azka disana. Air mata Azkia kembali jatuh membasahi pipinya, dia terisak dalam tangis hingga tertidur.


Tok tok tok


Beberapa kali Axel sudah mengetuk pintu kamar Azkia, namun masih saja tidak terdengar suara dari dalam kamar. Tenang dan hening itulah yang dirasakan Axel, kemudian Axel membuka pintu kamar Azkia yang ternyata tidak dikunci.


"Kiaa." panggil Axel sambil melangkah masuk kedalam kamar Azkia, terlihat Azkia yang tengah terbaring diatas tempat tidur.


Axel yang melihat adiknya tertidur pun mengurungkan niatnya untuk menyuruhnya makan malam. Axel mengusap pelan pucuk kepala Azkia, kemudian dia mematikan lampu utama dan menggantinya dengan lampu tidur. Perlahan Axel menyelimuti tubuh Azkia agar tidak kedinginan, setelah itu dia keluar untuk istirahat juga.


............


Suara alarm pun berbunyi menggema diseluruh ruangan bernuasa biru muda itu, perlahan tangannya bergerak mematikan alarm yang tak jauh dari tempatnya tidur.


Dia melangkah ke kamar mandi dengan matanya yang masih terpejam, kemudian melaksanakan rutinitasnya setiap pagi, seperti mandi dan sholat subuh. Tidak lupa dia juga mendoakan Azka agar segera bangun dari komanya.

__ADS_1


Setelah itu Azkia turun kebawah menghampiri abangnya yang sedang berolahraga di dekat kolam renang.


"Bang." panggil Azkia.


Axel menoleh kesumber suara, ternyata dibelakangnya sudah berdiri seorang gadis cantik dengan mata yang terlihat sedikit bengkak. Azkia terlihat cantik dengan pakaiannya tak lupa tas selempang berwarna hitam terpasang rapi di bahu kirinya.


Axel kemudian tersenyum manis sambil menghampiri adiknya itu.


"Mau kemana pagi - pagi begini?" tanya Axel sambil mencium pucuk kepala Azkia.


"Mau kerumah sakit." jawab Azkia.


"Jenguk Azka?" tanya Axel, Azkia hanya mengangguk sambil membenarkan tas selempangnya.


"Sarapan dulu." perintah Axel.


"Nanti aja disana, bareng Azka." ucap Azkia sambil tersenyum getir.


Axel hanya menaikan sebelah alisanya, "Emang udah sadar tuh bocah?" batin Axel.


"Siap, ndan!" ucap Azkia sambil tersenyum. Senyuman di bibir Azkia itu untuk menutupi semua kesedihan yang ia rasakan. Azkia berjalan kegarasi untuk mengambil mobilnya, perlahan mobil itu meninggalkan perkarangan rumah Azkia. Axel hanya bisa menatap kepergian Azkia dari jendela rumahnya.


"Jangan sampai, kamu sedih seperti dulu lagi dek." gumam Axel.


Setelah beberapa menit berlalu akhirnya Azkia sampai di rumah sakit, dia langsung memarkirkan mobilnya. Setelah itu melangkah menyusuri lorong rumah sakit untuk menuju ruang rawat Azka.


Disana terlihat hanya ada Devan yang sedang duduk di sofa, tangannya sibuk memainkan benda pipih berwarna hitam.


"Pagi." sapa Azkia saat membuka pintu.


Devan mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang datang, "Pagi juga, Ki." sapa Devan.


"Gimana keadaan Azka?" tanya Azkia.

__ADS_1


"Masih sama seperti kamaren, belum sadar." ucap Devan, kemudian meninggalkan Azkia sendiri diruang rawat Azka, karena Devan ingin memberikan waktu untuknya dan Azka.


"Gue cari makan dulu." ucap Devan diambang pintu ruang rawat. Orang tua Azka pulqng terlebih dulu untuk berganti pakaian dan istirahat sebentar, sehingga hanya Devan yang berada di rumah sakit.


"Selamat pagi beruang kutub... bangun lah jangan tidur lagi." ucapnya sambil membelai pelan pucuk kepala Azka.


"Aku kangen tau gak!" Bangun dong!" ucap Azkia sambil memegangi jemari Azka.


"Maafin aku hiks hiks... ini semua salahku, kalo aja aku cerita semuanya dari awal sama kamu pasti gak akan kayak gini... kamu bangun ya sayang." kata Azkia lagi, dia sangat terpukul dengan keadaan Azka saat ini. Jika bukan karena Azkia yang sulit di hubungi Azka tidak akan tetbaring lemah di rumah sakit.


Azkia merasa sangat - sangat bersalah dan dia juga merasa menjadi penyebab Azka menjadi seperti ini.


"Cowok yang selalu telepon aku itu bang Axel, dia abang gue, Ka... maaf gak cerita, karena aku terlalu bahagia saat dia bilang kalo mau balik pas liburan.. secara aku dah hampir dua tahun gak ketemu abang aku, Ka." Azkia bercerita kepada Azka seolah Azka bisa mendengar apa yang Azkia ceritakan.


Sesekali air mata Azkia jatuh membasahi pipinya, dia menatap Azka dengan sendu.


"Ka, bangun dong.. jangan buat aku khawatir gini, katanya mau ngajak aku kerumah nenekmu jadi bangun ya beruang kutubku." ucap Azkia sambil mengusap pelan pipi Azka.


Devan yang sedari tadi di balik pintu hanya bisa diam melihat Azkia yang sedang mengajak Azka mengobrol.


Dokter juga menyarankan agar Azka diajak berbicara, walaupun Azka koma namun dia masih bisa mendengar. Terutamanya suara - suara orang yang penting dalam hdiupnya. Jika mengajak berbicara orang yang sedang koma, hal itu bisa merangsang kinerja otaknya. Kemungkinan dia akan segera sadar.


"Ngapain, Van?" tanya Devira yang sudah berdiri dibelakang Devan. Disebelahnya ada Nayla Ciko Bobo dan juga Attaya.


"Kenapa gak masuk?" tanya Attaya heran melihat Devan hanya berdiri di depan pintu ruang rawat Azka sambil memegang gagang pintu.


"Eh kalian, di dalem ada Azkia... yuk masuk lah." ajak Devan kepada mereka. Kemudian mereka semua masuk kedalam ruangan, terlihat Azkia yang masih menggengam tangan Azka. Matanya sudah memerah karena menangis, Devira yang melihat itu langsung saja menghampiri Azkia dan memeluknya.


"Azka akan baik - baik aja, Ki.. yang sabar ya." ucap Devira sambil memeluk erat sahabatnya itu, sesekali mengusap punggung Azkia agar membuatnya tenang.


Menerima pelukan Devira membuat Azkia semakin terisak dalam tangisnya, Nayla kemudian ikut memeluk Azkia mencoba menguatkannya.


"Ka, bangun.. orang - orang disini sayang sama lo." bisik Attaya di telinga Azka.

__ADS_1


"Lo gak kangen apa ngomelin gue?" ucap Attaya lagi sambil terkekeh namun hatinya tidak. Attaya melihat semua kejadian itu di depan matanya membuatnya syok berat, Attaya yang biasanya cengen berubah menjadi Attaya yang kuat untuk menolong Azka saat kejadian. Dia sudah tidak memperdulikan motor ataupun badannya yang terkena darah, karena pikirannya hanya bagaimana secepatnya menyelamatkan Azka.


......................


__ADS_2