Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Ada Pawangnya, Bos!


__ADS_3

Setelah beberapa hari berlalu, akhirnya hari ini Siska berangkat seperti biasanya. Membuat semua siswa siswi SMA Bakti Jaya yang sedang berada di parkiean terkejud dengan perubahan pada diri Siska.


Bagaimana tidak, rambut yang dulu selalu dibiaekan terurai sekarang dipotong pendek sebahu. Dulu yang biasanya langsung menghampiri Azka saat melihatnya, kini tidak lagi. Walaupun sangat berat Siska berusahana menahannya.


Tadi saat turun dari mobil Mikael, manik mata Siska tanpa sengaja melihat keberadaan Azka bersama dengan teman-temannya, kakinya seolah secara otomatis berjalan menghampiri Azka. Namun langkahnya terhenti saat ada tangan yang menghentikan Siska.


"El?" lirik Siska saat ia mengetahui siapa yang menghentikan langkahnya.


"Perlahan, kamu pasti akan bisa lupain dia... walaupun aku tahu dihatimu masih tersimpan nama dia, tapi cepat atau lambat aku akan menggantikannya." ucap Mikael sambil menggandeng jemari Sika.


Siska berjalan beriringan bersama Mikael menuju kelasnya. Di belakangnya ada Rima dan juga Syla.


Banyak pasang mata yang menatap mereka berempat termasuk Attaya, Devan dan juga Bobo. Sedangkan Azka ia sibuk menatap ponselnya, entah apa yang menbuatnya sangat terfokus pada benda pipih itu.


Devan yang duduk disebelah Azka pun menyenggol lengan Azka, Devan memberi kode pada Azka menggunakan dagunya menunjuk ke arah Siska.


Azka mengikuti arahan Devan, manik matanya bertemu dengan manik mata Siska. Siska terus menatap Azka dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Terlihat sendu dan juga kesedihan yang bisa Azka tangkap dari manik mata Siska.


"Sakit, walaupun kita sedekat ini tapi gue gak bisa milikin lo!" batin Siska yang terus menatap Azka.


Siska berusaha sebisa mungkin untuk mengendalikan hatinya, dan juga ia teringat akan janjinya kepada Azka saat dirumah sakit. Siska tidak berani melanggar janji itu, karena jika Siska melanggarnya akan membuatnya semakin terlihat buruk lagi di mata Azka. Walaupun janji itu terlontar dari mulut Siska karena kekesalannya melihat Azka yang lebih memilih Azkia.


Mikael yang menyadari jika Siska terus menatap Azka, membuatnya semakin mengeratkan genggaman tangannya. Hal itu membuat Siska beralih menatap punggung tangannya.


"Gue akan berusaha move on," batin Siska terus berjalan mengikuti langkah Mikael.


"Udah tobat, gak ngejar lo lagi, Ka?" tanya Attaya yang melongo melihat perubahan Siska.


"Iya, biasanya liat Azka langsung nemplok kaya prangko." canda Bobo sambil terkekeh.


"Bukan prangko, tapi lalat!" canda Attaya sambil terkekeh.


"Udah ada pawangnya, bos!" ledek Devan sambil menyenggol lengan Azka lagi.


"Bodo amat!" singkat Azka.


Azka malas mengurusi hal-hal yang tidak penting baginya, karena menurutnya ada hal yang lebih penting yang harus ia pikirkan. Ia memilih berjalan menuju kelasnya diikuti yang lainnya dengan candaan yang masih berlanjut.


"Pawangnya ngeri, bos!" ledek Attaya.


"Singgol dikit, kelar hidup lo haha!" Bobo terus ikut menimpali candaan itu.


"Tapi lebih ganasan bos kita ini." kata Devan sambil melirik Azka.

__ADS_1


"Masa sih?" tanya Bobo tidak percaya.


"Coba aja, lirik ibu negaranya... pulang tinggal nama lo!" ucap Attaya sambil terkekeh.


"Gak mau ah, ngeri bos!" kata Bobo.


Azka hanya diam saja dengan candaan sahabatnya itu, hingga teriakan dari seseorang yang membuatnya menoleh. Termasuk Siska dan beberapa orang dilorong itu menoleh ingin tahu.


"AZKA!" teriaknya.


Merasa namanya dipanggil Azka menoleh menuju sumber suara.


Terlihat seorang perempuan cantik dengan rambut yang dibiarkan terurai, sedikit berantakan terkena angin namun tidak membuat kecantikannya hilang. Tangannya melambai-lambai kearah Azka dengan senyuman manis yang menghiasi bibir merahnya.


"Tuh ibu negaranya datang," cibir Devan sambil terkekeh.


"Panjang umur sekali baru di omongin udah muncul, kek jin aja," ucap Bobo yang langsung mendapat tatapan maut dari Azka.


"Eh, ralat bukan jin tapi bidadari," ucap Bobo sambil menggaruk tengkuknya.


Attaya dan Devan tertawa terbahak-bahak melihat Bobo yang tersudutkan oleh tatapan Azka.


Dibelakang Azkia ada kedua sahabatnya yang hanya menggeleng-gelengkan kepala mereka melihat tingkah Azkia yang seperi anak tk.


Hal itu, membuat Attaya, Bobo dan juga Devan mengaga. Mereka tidak menyangka jika Azka yang terkenal dingin dan mendapat julukan patung berjalan bisa melakukan hal seperti melambaikan tangannya.


"Ini sebuah keajaiban," celetuk Attaya.


"Gue mimpi apa semalam liat Azka kek gini?" tanya Devan tidak percaya.


"Pawangnya Azka lebih pro, bisa hancurin gunung es berserta patungnya." kata Bobo yang mendapat anggukan dari Devan dan Attaya.


"Bener!" ucap Attaya dan Devan bersamaan.


"Cih!" desung Azka mendengar perkataan sahabatnya.


"Hey! Kalian kenapa pagi-pagi udah bengong nanti kesambet loh!" ucap Nayla saat sudah berada didepan Attaya.


Tanggannya sibuk melambai didepan wajah Attaya, begitu juga dengan Devira ia melakukan hal yang sama pada Devan.


"Udah kesambet mereka!" ucap Azka.


"Hah masa!" ucap Devira tidak percaya.

__ADS_1


Azka tidak mengindahkan perkataan Devira, ia lebih memilih menggandeng tangan Azkia. Lalu berjalan menuju kelasnya melewati Siska dan Mikael.


Melihat Azka melewatinya dengan menggandeng jemari Azkia lembut membuat Siska mengepalkan tangannya.


"Gue gak rela!" batin Siska menatap kepergian Azka.


"Lo bisa, Sis!" ucap Mikael menyadarkam Siska.


"Sulit, El... sulit banget! Gue susah benci sama dia, gue susah lupain dia!" ucap Siska sendu.


"Lo gak harus lupain dia, cukup lo cari kesibukan lain... agar pikiran lo gak terfokus sama dia." kata Mikael sambil memegang kedua bahu Siska.


Tatapan Siska bukan untuk seseorang yang berada di hadapannya saat ini, melainkan untuk seseorang yang jauh disana yang tidak bisa ia gapai.


"Lo itu kaya bayangan, Ka! Semakin gue mengejar semakin gue gak bisa gapai." batin Siska.


"Sis! Hey, Siska... lo dengerin gue gak?" tanya Mikael.


"Iya-iya denger," ucap Siska sambil menepis tangan Mikael.


Mikael membuang nafasnya kasar, ia harus ekstra sabar untuk membuat Siska melupakan Azka sepenuhnya. Mikael tidak ingin melihat gadis yang ia cintai merasakan apa yang ia rasakan, Mikael akan berusaha keras untuk membantu Siska memulihkan hatinya.


"Jadi anak baik yang nurut, ya!" ucap Mikael sambil mengusap pucuk kepala Siska.


Mikael yakin perlahan ia bisa membuat Siska jatuh cinta padanya dan bergantung pada dirinya.


"Udah dong romantis-romantisannya, ini masih pagi... kalian jangan kasih kita sarapan yang beginian!" ucap Rima yang sejak tadi hanya diam saja.


"Iya gak bisa kenyang, mending sarapan bubur ayam kan enak!" Syla ikut menimpali perkataan Rima itu.


"Yaudah yuk ke kantin, kita tinggalin orang-orang yang suka makan cinta!" ejek Rima sambil menggandeng lengan Syla mengajaknya mampir ke kantin terlebih dahulu.


"Heh apa lo bilang!" kesal Siska yang akan mengejar Rima san Syla.


"Udah ah, jangan kek anak kecil!" ucap Mikael menghentikan Siska.


"Hemmpp!" dengus Siska sambil melipatkan tangan didepan dada. Ia lebih memilih berjalan terlebih dahulu sambil menghentakkan kakinya.


"Kuatkan hambamu ini, Tuhan!" ucap Mikael yang kemudian menyusul Siska.


Mikael merangkul Siska, walaupun dia berontak namun tidak Mikael hiraukan sama sekali.


...--------------------------------...

__ADS_1


"Tolong ajari aku melupakanmu, nanti akan ku ajari bagaimana caraku mencintaimu!" -Siska / Eh -


__ADS_2