Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Pecahin Kode


__ADS_3

Dengan santai mereka berdua mengikuti Devira yang sudah berjalan terlebih dahulu di depan mereka berdua. Kini tinggal Azka yang terus menggandeng tangan Azkia, hal itu membuat banyak siswi menatap iri kepada Azkia. Siapa yang tidak ingin digandeng Azka, merelihat Azka yang erat mengandeng Azkia membuat mereka berfikir jika Azka takut Azkia akan hilang.


"Aduh mata gue sakit, pagi-pagi udah liat yang uwu kaya gini," ucap salah satu siswi yang di lewati Azka.


"Alay lo, makanya cari pacar jangan cari buaya," ucapnya sambil tertawa renyah.


"Ngaca mbak, situ juga jones," ucap siswi itu lagi yang tidak terima diledekin temannya.


"Kita mah apa, cuma remahan peyek," ucap salah satu cewek berkacamata.


Mereka juga membicarakan tentang kejadian kemaren yang mampu menghebohkan seantero sekolah. Apalagi kalau bukan soal Farah yang akan melaukan percobaan bunuh diri, namun sayangnya bisa di gagalkan oleh Azka. Sehingga hal itu menjadi topik hangat yang dibicarakan seluruh siswa dari semua sudut sekolah.


Karena cinta mampu membuat seseorang menjadi nekad, ia akan menggunakan segala cara untuk mendapatkan seseorang yang dia sukai seperti halnya dengan Farah. Hingga ia nekad membuat drama bunuh diri agar Azka mau menerima cintanya, untung saja Azka tidak goyah dengan drama yang di buat Farah.


"Mungkin gue juga akan jadi gila seperti Farah kalo gue cinta mati sama Azka, untungnya gue cuma sekedar mengaguminya saja... kaya gue fans sama oppa-oppa korea hehe," ucap Zaskia yang mendapat jitakan dari beberapa temannya.


"Kita kan sadar diri," celetuk Maya.


"Dan.... sadar posisi," ucap mereka bersamaan sambil terkekeh.


"Farah itu bodoh, masa gara-gara cinta nekad bunuh diri... udah gak suka makan baksonya bang Jek kali yak, padahal uenak pake banget," ucap Zaskia sambil terkekeh.


"Yee, loh mah makanan aja yang ada dalam pikiran lo," ucap Rere sambil menginjak kaki Zaskia.


"Senior gue emang keren kaya oppa makanya banyak fans dia," celutuk yang lainnya.


Ya, mereka adalah anak-anak kelas sepuluh atau kelas satu yang sedang berkumpul di depan kelas mereka, hal yang selalu mereka lakukan sebelum masuk kedalam kelas. Mereka akan mengomentari apapun dan siapapun yang lewat didepan mereka, sudah seperti karyawan infotainment.


"Pacarnya juga cantik, dah kalah saing kita tuh," ucap Diana.


"Eh, kalian tau gak denger-denger, kak Farah udah pindah sekolah... malah ada yang bilang kalo dia dipindahin di pondok pesantren," kata Bella.


"Biar tobat yak," ucap Dini sambil terkekeh membuat mereka semua ikut tertawa.


Azka tidak menghiraukan ucapan mereka semua, ia tetap berjalan dengan gaya coolnya menuju ruang kelasnya.


Sedangkan Azkia, ia hanya diam saja sambil menunduk bukan malu karena banyak yang melihat mereka berdua melainkan sedang memikirkan penjelasan Andre tadi.


Jujur saja Azkia belum bisa sepenuhnya melupakan Andre begitu saja, karena sudah banyak waktu yang mereka berdua lalui dulu. Namun mau bagaimana lagi kepergian Andre yang tiba-tiba dan tanpa kabar sama sekali membuat hati Azkia terguncang.


Saat semua hal yang selama ini mengganggu pikirannya sudah terjawab oleh Andre sendiri, Azkia tersadar ia harus bisa terlepas dari masa lalunya itu karena sekarang ada seseorang yang bisa menjadi masa depannya.


"Makasih," ucap Azkia sambil menatap tangannya yang terus digandeng Azka.


Azkia sekarang tahu dimana hatinya berlabuh, Azkia merasa ada kehangatan dari setiap sentuhan yang Azka berikan krpadanya. Seperti halnya sekarang tangannya terus digandeng seolah Azka tidak ingin kehilangan Azkia sedikit pun.


Azkia semakin mempererat genggaman tangannya, bibirnya melengkung sempurna.


"Gue sayang banget sama lo, Ka... gue bersyukur banget ada lo disisih gue," batin Azkia sambil terus menatap tangannya yang bergandengan dengan Azka.


"Nyun, manyun... hey!" ucap Azka sambil menggoyangkan telapak tanggannya di depan wajah Azkia.

__ADS_1


"Hah! Apa?" tanya Azkia yang sudah tersadar dari lamunannya.


"Woy! Kalian mau sampai kapan gandengan... kaya mau nyebrangin nenek-nenek aja," gerutu Devan sambil melipat kedua tangannya didepan dada.


"Eh?" dengan cepat Azkia menarik tangannya.


"Abaikan, jones emang suka gitu... marah-marah gak jelas," ucap Azka sambil menggengam jemari Azkia lagi.


"Bucin!" ucap Devan dengan wajah ketusnya.


"Ciiee jomblo," ucap Attaya meledek Devan.


"Sombong amat mentang-mentang udah ada gandengan ngab!" geram Devan.


"Makanya jangan kodein orang yang gak peka, mau sampai kapan pun dia gak akan bisa pecahin kode lo," ucap Azkia terkekeh, karena Azkia juga tahu siapa yang disukai Devan.


"Ruwet, ngab!" canda Azka.


"Makanya buruan di gas lah, gak usah kode-kodean... lo kira lagi pramuka apa pake kode segala." tawa Attaya pecah saat itu juga membuat mereka wemua tertawa kecuali Devan.


"Gas gas lo kata lagi jualan gas apa!" kesal Devan.


"Siapa yang jualan gas?" tanya Bobo yang baru saja datang bersama Ciko.


"Ini anak datang-datang nyamber aja kaya tayo," celetuk Attaya sambil tertawa.


"Lo jualan gas, Van? Kebetulan banget, mak gue lagi butuh gas buat masak... sisahin satu ya?" ucap Bobo polos tang membuat mereka semua tertawa terbahak-bahak.


"Kalian ngapain ngantri di depan pintu, lagi ngantri sembako ya?" tanya Devira yang baru saja datang bersama Nayla, mereka berdua mampir terlebih dahulu dikantin.


"Bukan antri sembako, Ra... tapi antri para jomblo," ucap Azkia sambil terkekeh.


"Halo beb, tadi kenapa berangkat sendiri?" tanya Attaya sambil menghampiri Nayla.


"Kamu kan bukan sopirku, lagian aku juga bisa berangkat sendiri," saut Nayla.


"Kan kamu pacarku beb, kemana pun kamu pergi aku siap nganterin," kata Attaya sambil menepuk dadanya dengan bangga.


"Buciin!" teriak mereka bersamaan hingga membuat siswa kelas lain melihat kearah mereka.


"Kalian kenapa masih diluar, gak denger bel?" tanya pak Ipul yang akan mengajar di kelas sebelah.


"Ini mau masuk pak!" jawab Attaya yang hanya diangguki oleh pak Ipul.


"Untung selamat kita," ucap Bobo sambil bernafas lega.


"Kenapa nyariin saya?" tanya pak Slamet yang sudah berdiri di belakang Bobo.


"Ah anu pak, kita selamat gak dimarahin bukan lagi nyariin bapak," ucap Bobo sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Ucapan Bobo membuatnya ditertawakan oleh teman-temannya, bagimana tidak nama guru mereka memang Slamet hampir mirip dengan selamat hanya pengucapannya saja yang berbeda.

__ADS_1


"Yaudah kenapa kalian masih berdiri disini, cepat masuk kelas!" perintah pak Slamet.


"Siap pak!!" ucap mereka sambil berlarian masuk kedalam kelas.


Duk!


Tanpa sengaja Bobo menabrak pintu yang sengaja ditutup sebelah oleh Devan.


"Siapan ini pintu kenapa ditengah jalan sih, ada orang lewat gak mau minggir," gerutu Bobo sambil mengusap jidatnya yang terbentur pintu.


Bobo tertawa canggung sambil menatap pak Slamet yang masih berdiri dibelakangnya dengan berkacak pinggang.


"Maru pak," ucap Bobo sambil membungkuk setelah itu masuk kedalam kelas.


"Enak?" tanya Ciko.


"Enak apanya?" tanya Bobo bungung.


"Enak gak pagi-pagi dah nyium pintu?" tanya Ciko sambil terkekeh.


"Asem lo anak setan!" kesal Bobo sambil menabok Ciko namun tidak kena.


"Lo anak kodok," ucap Ciko sambil menghindar.


"Selamat pagi, anak-anak!" sapa bu Arum yang mampu menghentikan kebisingan mereka.


"Pagi buu." saut mereka semua.


"Gimana kabar kalian hari ini?" tanya bu Arum.


"Ba—"


"Buruk buu!" saut cepat Bobo dengan suara paling keras sendiri.


Hal itu membuat mereka semua menatap Bobo dengan penuh tanda tanya.


"Buruk kenapa?" tanya bu Arum hangat.


"Bobo habis nyium pintu bu," teriak Azka yang membuat mereka semua tertawa.


"Rasanya gimana, Bob?" tanya bu Arum sambil tertawa.


"Rasanya ah mantab!" kata Bobo membuat mereka semua tertawa lagi.


Setelah itu pelajaran dilanjutkan seperti biasnya, satu jam pelanajaran bu Arum menjelaskan materinya. Dan setelah itu mereka mengerjakan tugas yang sudah tersedia.


Pelajaran bahasa indonesia menuntut kita harus sepenuhnya memahami soal terlebih dahulu sebelum menjawab, karena terkadang soal itu membingungkan sehingga butuh dua kali atau lebih kita membaca kembali perintah dalam soal itu.


Sama halnya memahami perempuan yang terkadang sangat rumit dibandingankan rumutnya reaksi kimia.


......................................................

__ADS_1


__ADS_2