Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Jangan Sentuh


__ADS_3

Lena yang melihat Azka datang dengan tampilan barunya langsung menghampiri Azka dan juga Attaya. Devan sedang tidak berada dikantor karena ia sedang dinas diluar dan belum kembali.


"Pak Azka!" pekik Lena.


"Ganteng banget pengen langsung bawa ke KUA!" batin Lena sambil menatap punggung Azka.


Azka hanya menatap Lena sekilas lalu kembali fokus pada ponselnya.


Hari ini Lena menggunakan pakaian kerja yang sangat menggoda kaum adam. Bagimana tidak ia memakai rok diatas lutu sehingga paha putihnya sangat jelas terlihat. Ditambah dengan atasan yang begitu menunjukkan bagian tertentu miliknya.


Lena ikut masuk kedalam ruangan Azka sambil membawa berkas yang harus Azka periksa. Sedangkan Attaya ia pergi ke kantin karena lapar tentunya.


"Kenapa?" tanya Azka dingin.


"Ini pak ada berkas yang harus bapak tanda tangani," kata Lena sambil menyerahkan beberapa berkas itu.


"Taruh aja!"


Lena mendengus kesal karena Azka tak meliriknya sama sekali terlebih lagi ia sudah berusaha tampil seperti saat ini agar bisa menggoda Azka. Tapi Lena tidak kekurangan akal, ia tetap berusaha membuat Azka luluh padanya.


"Tapi pak, berkas ini sangat penting sehingga harus ditanda tangani saat ini juga." jelas Lena.


Dengan kesal karena kegiatannya terganggu akhirnya Azka memeriksa semua berkas itu saat ini juga.


"Mau saya buatkan kopi pak?" tanya Lena.


"Boleh!" singkat Azka yang fokus pada berkas didepannya.


Tak berapa lama Lena kembali dengan secangkir kopi yang tidak terlalu panas, ia meletakannya dinakas sebelah Azka. Namun sebelum itu Lena tersandung dan jatuh sehinga kopi itu mengenai baju Azka.


"Gimana sih!" kesal Azka.


Dengan cekatan Azka langsung berdiri dari duduknya, terlihat wajahnya yang amat kesal dengan perbuatan Lena. Lena yang sadar langsung mencoba membantu Azka untuk membersikan jasnya yang masah karena tumpahan kopi.


"Ma-maaf pak, sa-saya tidak sengaja. Kaki saya tersandung!" kata Lena sambil mengusap dada Azka yang terkena tumpahan dengan tissu.


"Jangan sentuh!" tegas Azka.


Lena sedikit menghentikan kegiatannya, tapi itu tidak berlangsung lama.


"Sa-saya akan tanggung jawab pak," ucap Lena.


Azka menaikan sebelah alisnya, ia tidak paham maksud dari ucapan Lena.


"Anu itu maksud saya, jas yang bapak pakai bisa saya bersihkan dulu," jelas Lena.

__ADS_1


Tanpa menjawab Azka langsung melepaskan jas yang ia pakai karena memang basah terkena tumpahan kopi. Dan disaat Azka memberikan jas nya lagi-lagi Lena terjatuh dan menbrak dada bidang Azka, mereka berdua terhuyung kebelakang hingga Azka duduk dikursi kebesarannya dan Lena diatas dadanya.


Dengan pakaian lena yang seperti kekurangan bahan membuat belahannya terlihat jelas didepan mata Azka, Lena memang sengaja melakukan itu agar Azka tergoda.


"Minggir!" tegas Azka sambil menjauhkan tubuh Lena.


Lena tidak menggubris ucapan Azka, tangannya menarik dasi yang dikenakan Azka sehingga wajahnya sangat dekat dengan Azka.


"Apa yang lo lakuin!" suara itu sangat menusuk telinga.


PLAK!


Satu tamparan mendarat dengan keras dipipi Lena membuatnya sampai tersungkur ke lantai.


"Kamu berani!" kesal Lena sambil memegangi pipinya yang terasa perih.


Mata Lena membulat sempurna saat melihat siapa yang berani menamparnya. Wanita cantik dengan dres selutu bewarna maroon yang sangat cocok dengan kulitnya, rambutnya dibiatkan terurai indah. Di padukan dengan sepatu snakes putih membalut dikedua kakinya. Entah kenapa perpaduan antara kedua hal yang sangat jarang ditemui itu terlihat indah dan cantik saat ia yang memakainya.


"Ya gue berani!" tegasnya dihadapan Azka.


"Lo cewek gak tau diri, beraninya masuk keruangan ceo tanpa permisi!" kata Lena tidak mau kalah.


Perempuan itu tersenyum tipis namun sangat menakutkan membuat Lena sedikit takut, tapi ia bisa menyembunyikan itu. Lalu ia berjalan mendekati Lena, tatapannya sangat tajam hampir mirip dengan tatapan Azka yang membuat musuhnya tak berkutik.


Lena menepis tangan itu, ia sangat marah karena rencananya digagalkan oleh perenpuan itu.


"Gue sekertaris ceo disini, jadi setiap orang yang masuk kesini harus minta izin dulu dari gue!" jelas Lena, ia tidak lagi menggunakan kata-kata formal.


"Cuma sekertaris aja belagu," sinisnya.


Lena mengepalkan tangannya kuat hingga terlihat memerah, "Dasar perempuan penggoda!" bentak Lena yang sudah berdiri.


Azka ingin bergerak membela tapi dicegah oleh perempuan yang ada dihadapnnya ini.


"Gak salah mbak, situ kan yang godain laki orang!" ucapnya sinis.


"Lo!" bentak Lena.


"CUKUP, LENA KELUAR!" tegas Azka.


"Tapi dia juga harus keluar kalau saya keluar dari sini!" protes Lena.


Perempuan itu berbalik dan memeluk Azka erat bahkan sangat erat, kepalanya ia sadarkan pada dada bidang Azka.


"Kangen," ucapnya manja sekali sampai membuat Lena ingin muntah.

__ADS_1


"Me too, sayang!" Azka mencium pucuk kepala perempuan itu. Membuat Lena semakin ingin memakan habis perempuan yang berada dalam pelukan Azka.


"Dia siapa?" tanya Lena kepada Azka.


"Istri saya!" dua kata itu membuat Lena seperti tersambar petir disiang bolong.


Bagaimana tidak orang yang selama ini ia cintai sejak pandangan pertama ternyata sudah memiliki seorang istri. Dan kenapa tidak ada yang memberitahunya akan hal itu.


"Gak, gak mungkin! Gak usah bercanda deh, kalau cuma bilang dia istri anda agar saya menjauhi anda itu salah besar. Karena saya tidak akan terpengaruh dengan permaianan anda!" kata Lena yang menyangkalnya.


"Gue emang istri sahnya, lo mau apa?" tanya Azkia sambil tersenyum kemenangan.


"Perlu bukti?" tanya Azka dingin.


"Perluh, tapi sekalipun dia istri anda saya tidak akan menyerah mendapatkan hati anda!" kata Lena, tutur katanya selalu sopan dengan Azka.


Cup!


Azka mencium bibir ranum milik Azkia tepat didepan mata Lena, bahkan ciuman itu tidak hanya sebentar sangat lama. Lena sangat kesal ia merasa dipermalukan oleh Azkia.


"Mau sampai kapan beridiri disitu dan lihat live streaming kita?" tanya Azkia sinis.


"ATTAYA!" teriak Azka, ia sudah cukup lelah dengan semua pekerjaannya ditambah lagi perempuan yang mengusiknya ini


"ATTA!" teriak Azka, Attaya yang baru saja keluar dari lift langsung berlari saat terdengar suara Azka yang menanggilnya.


"Ada apa?" tanya Attaya sedikit tergopoh-gopoh.


"Bawa keluar!" Azka melirik Lena yang berarti Attaya harus membawa Lena keluar dari ruangannya.


"Kok ramai dan berantakan kaya gini, ada apa sebenarnya?" tanya Attaya sambil mengamati sekitar meja Azka.


"Ta!"


"Iya-iya," jawab Attaya, kemudian tatapannya berubah menajadi tegas dan dingin saat menatap Lena, "Ikut saya, keluar!"


Sebelum keluar Attaya berbalik dan menatap Azka, "Lanjutkan bos!" ucapnya sambil terkekeh.


"Bikin iri aja, kita cepet nikah juga aja, Nay!" batin Attaya sambil menutup pintu ruangan Azka.


Azka sudah bisa bernafas lega akhirnya semuanya kembali damai pikirnya. Tapi siapa sangka itu semua baru awal dari seseorang yang marah padanya.


...----------------...


Selamat bermalam minggu kawan!

__ADS_1


__ADS_2