Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Good Boy!


__ADS_3

Azka menutup pintu mobil dengan menggunakan sebelah kakinya, kedua tangannya sedang sibuk menata rambutnya yang berantakan. Seragam sekolah ia biarkan keluar, bahu kanannya menggendong tas yang entahlah apa isinya.


"Widih yang pulang kerumah, langsung bawa mobil ke sekolah." canda Attaya sambil terkekeh.


Hari ini Azka menggendari mobil yang jarang ia pakai kesekolah, dikarenakan motor kesayangannya disita oleh sang papa. Alhasil mau tidak mau Azka menggunakan mobilnya.


"Buruan lah." ucap Attaya sambil melipatkan kedua tangan di depan dada, ia kesal karena sedari tadi Azka tidak selesai merapikan rambutnya.


"Bodo!" ucap Azka.


"Tumben bawa mobil, motor kesayangan kemana?" tanya Devan yang sedang bersandar pada motor milik Attaya, satu tangannya ia masukkan ke dalam saku celana.


"Motor gue disita bokap." ucap Azka sambil melangkah menuju kelasnya.


"Kok bisa?" tanya Attaya.


Azka hanya menaikkan bahunya tanda tidak tahu.


"Entah gue bangun kunci motor udah gak ada di meja, pas tanya mama katanya disita sama papa." jelas Azka, tanggannya ia masukkan kedalam saku celana yang membuatnya terlihat keren dimata kaum hawa.


"Kasian kasian kasian haha." ledek Attaya, entahlah dia bahagia sekali bisa melihat Azka kesal seperti itu.


"Katanya kabur, tapi kok pulang?" tanya Devan.


"Temen udah mau pulang ke rumah malah lo gituin sih, Van?" protes Attaya.


"Kan cuma nanya." jawab Devan.


"Disuruh sama ibu negara pulang." saut Azka sambil berjalan.


"Ibu negara?" tanya Devan dan Attaya mereka berdua saling pandang untuk mencari jawaban.


"Pacar gue." ucap Azka.


"Dasar bucin, nurut banget sama pacar." ledek Devan sambil mengacak rambut Azka.


"Astagfirullah bos gue udah jadi budak." ucap Attaya dengan memasang wajah sedihnya.


"Budak?" tanya Azka yang tidak paham maksud dari perkataan Attaya.


Attaya dan Devan saling pandang kemudian mereka berdua berkata, "Budak cinta!" kemudian setelah itu mereka berlari meninggalkan Azka sendirian.


"Wah sialan, sini gak kalian!" teriak Azka yang membuat beberapa orang memperhatikannya.


"Wleee." ledek Attaya sambil menjulurkan lidahnya.


Azka berjalan menuju kelas dengan mengacuhkan tatapan para pemujanya, apalagi penampilan Azka terlihat segar. Membuat auranya semakin terpancar, baju seragam yang sengaja ia keluarkan membuat damagenya semakin terlihat.


Untung saja Azka tidak bertemu dengan anggota osis ataupun pak Slamet, karena jika Azka bertemu mereka pastilah akan dihukum. Karena baju yang tidak rapi begitu juga denga atribut seragam yang tidak lengkap.


Farah dan Siska yang melihat Azka seperti itu langsung terpesona lagi dan lagi. Namum saat Siska akan menghampiri Azka, tangannya ditarik oleh seseorang.


"Lepasin!" bentak Siska sambil berusaha melepaskan genggaman tangannya.


Orang itu hanya diam membisu memandang Siska, tatapan yang tidak bisa diartikan oleh Siska. Dan entah kenapa tatapan itu membuatnya meresakan sesuatu yang berbeda di dalam hatinya, namun berkali -kali Siska mengabaikan rasa itu.


"Mikael! Lepasin gak, gue mau nyamperin bebeb gue." bentak Siska.


"Gak!" kata Mikael.


Dengan kesal Siska menginjak kaki Mikael membuatnya kesakitan dan spontan melepaskan cengkraman tangannya. Siska yang melihat itu memanfaatkan kesempatan untuk menghampiri Azka.


"Sampai kapan sih lo bisa sadar kalo ada gue disini." gumam Mikael melihat Siska yang sudah menghampiri Azka.


.............


"Azka!" teriak Siska sambil berlarian kecil kearah Azka.

__ADS_1


Langkah Azka terhenti saat merasa namanya di panggil oleh seseorang, dengan cepat Azka melanjutkan langkahnya saat mengetahui jika Siska yang memanggilnya.


"Azka tungguin." ucap Siska sambil mensejajarkan langkahnya dengan Azka.


"Kemaren seharian kemana kok gak sekolah, gue kangen tau gak." ucap Siska yang tentu saja di abaikan oleh Azka.


Saat tangannya akan menggandeng Azka, tiba - tiba saja tangannya ditepis oleh seseorang. Orang itu menatap Siska dengan tatapan tidak suka.


"Apaan sih, Fa!" Siska merasa kesal dengan kehadiran Farah.


"Apa, gue cuma mau ngomong sebentar sama Azka." jawab Farah.


"Udah lah minggir sana... pengganggu!" ucap Siska sambil mendorong bahu Farah.


"Lo yang pengganggu!" bentak Farah tidak terima.


Azka? Dia tidak perduli dengan mereka berdua, Azka semakin mempercepat langkahnya agar segera sampai kelas.


Tiba - tiba saja tangannya di gandeng oleh Siska dan Farah, hal itu membuat Azka kesal.


"Lepasin!" bentak Azka sambil berusaha melepaskan lengannya dari Farah dan Siska.


Namun mereka berdua semakin mengeratkan pelukannya pada lengan Azka.


"Gak mau!" ucap mereka kompak.


"Le—" ucapan Azka terpotong oleh suara bariton dari belakang mereka.


"Lepasin!!" teriaknya, kemudian berjalan mengahampiri Azka.


Tangannya sibuk melepaskan pelukan dari Siska dan Farah, setelah terlepas dia menggandeng lengan Azka kemudian melangkah meninggalkan mereka berdua.


Baru beberapa langkah langsung berhenti dan berbalik menatap Siska dan Farah bergantian dengan tatapan kebencian.


"Kalian berdua jangan jadi uler lah, cantik - cantik kok PHO.. gak malu mbak?" ucapnya sambil menjulurkan lidah.


Siska yang mendengar ucapan itu menjadi kesal dan marah, sedangkan Farah dia menatap mereka dengan tatapan tidak suka.


"Bakpiaaa!!! Awas aja lo, gue rebut Azka dari lo.. bodo amat mau PHO, PHT atau apalah gue gak perduli." teriak Siska.


Namun tidak dihiraukan oleh Azkia maupun Azka, mereka tetap dengan santainya berjalan menuju kelasnya. Ya itu adalah Azkia, dia merasa kesal saat mengetahui ada dua cewek yang mengganggu pacaranya. Sebelum Azka bertindak, dia berinisiatif duluan untuk menjauhkan Azka dari Siska maupun Farah.


"Huh, gak ada nyerah - nyerahnya tuh orang." gumam Azkia.


Azka hanya tersenyum melihat Azkia mengomel sejak tadi.


Tanpa sengaja mereka berdua bertemu dengan Kevin yang sedang berjalan berlawanan arah dengan mereka. Kevin menatap Azka sebentar kemudian dia beralih menatap Azkia, bibirnya sedikit terangkat keatas saat menatap Azkia.


Azka yang melihat itu menjadi kesal dan pikirannya kembali mengingat foto yang ia terima kemarin. Tanpa sadar tangan Azka mengepal dengan kuat, dengan sengaja Azka menabrakkan bahunya dengan bahu Kevin.


"Jangan ganggu!" bisik Azka tepat ditelinga Kevin, setelah itu pergi meninggalkan Kevin yang masih berdiri di tempatnya.


"Cih, gue apa lo yang pengganggu." ucap Kevin namun sudah tidak bisa di dengar oleh Azka.


............


Azkia menarik tangan Azka agar mengikutinya, ia membawa Azka ke lorong samping kelas mereka yang terlihat sepi.


Azkia hanya diam sambil mengamati Azka dari ujung kaki hingga ujung kepala, membuat Azka menjadi risih.


"Kenapa?" tanya Azka yang penasaran dengan perilaku Azkia.


"Masukin!" ucap Azkia.


Azka mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan perkataan ambigu Azkia.


"Apanya?" tanya Azka.

__ADS_1


"Masukin buruan!" ucap Azkia lagi dengan tangan masih berada di depan dadanya.


"Hah?" Azka semakin tidak mengerti dengan perkataan Azkia.


Azkia maju mendekat kearah Azka, membuat Azka melangkah mundur hingga punggungnya menabrak dinding sekolah.


Pikiran Azka sudah tidak karuan lagi, melihat Azkia yang semakin mendekatinya.


"Gu-gue gak bisa!" ucap Azka tegas.


"Masa masukin ini aja gak bisa?" tanya Azkia bingung, tangannya sudah memegang seragam Azka yang dibiarkan tidak rapi.


"Ohh." Azka yang menyadari maksud dari Azkia langsung saja membenarkan seragam sekolahnya yang berantakan itu, sedangkan Azkia berbalik memunggungin Azka agar memberikan ruang untuk Azka merapikan seragamnya.


"Udah?" tanya Azkia.


"Udah." jawab Azka sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Maksudnya gak bisa tadi apa?" tanya Azkia sambil melihat Azka yang sudah rapi namun masih terlihat ada sesuatu yang kurang.


"Gak, bukan apa-apa, lupain aja!" ucap Azka membuang muka karena sedikit malu, pasalnya Azka sempat berfikir yang bukan - bukan.


"Hooo pikirannya jangan kotor." ucap Azkia sambil terkekeh.


Sedangkan Azka hanya memasang wajah masamnya, bukan salah Azka jika berfikiran yang aneh - aneh karena ucapan Azkia yang sangat ambigu.


Azka tercengang saat ada tangan yang melingkar di lehernya, seketika saja Azka menatap lekat wajah perempuan yang sudah menjadi pacarnya ini. Azka diam mematung membiarkan Azkia melakukan apapun yang ia inginkan.


Tangan lincah Azkia dengan gesit memasangkan dasi di leher Azka, entahlah sejak kapan Azkia sudah memegang dasi itu Azka pun tidak tahu.


"Sudah!" ucap Azkia sambil penepuk pelan bahu Azka, yang membuatnya tersadar.


"Gini kan makin keren!" lanjut Azkia lagi sambil tersenyum.


Tampilan Azka kali ini sangatlah berbeda dari biasanya. Baju seragam yang dimasukkan dengan rapi, dasi yang bertengger rapi di lehernya dan tidak lupa rambut yang ditata rapi meninggalkan kesan bad boynya menjadi good boy


Membuat semua orang yang melihatnya tidak percaya termasuk teman sekelasnya.


"Ini Azka?"


"Serius Azka bukan?"


"Gila, style good boy jadi makin ganteng!"


"Bos, lo tobat?"


"Kesambet apa, Ka?" tanya Devan.


"Mirip oppa, uwuu sharanghae ❤."


"Azkiaa, Azka nya buat gue aja!"


Dan masih banyak lagi reaksi dari orang - orang yang melihat penampilan Azka yang berbeda dari biasanya, apalagi teman sekelasnya mereka merasa tidak percaya jika itu adalah Azka.


Bahkan kakak kelas pun sampai berbalik badan saat berpapasan dengan Azka.


"Murid baru kah?"


"Tuh cogan siapa?"


"Gila imut manis gimana gitu."


"Damagenya, astagfirullah!!"


......................


......"Aku akan mengambil semua hal yang membuatmu bahagia!" ......

__ADS_1


...-Kevin-...


__ADS_2