
Aku mau tau semua hal tentangmu, bukan dari orang lain.. Tapi, dari mulut mu sendiri! Karena aku tidak akan percaya sepenuhnya dengan perkataan orang lain -Azka A-
......................
Azka mengcengkram erat ponselnya, raut wajahnya berubah menjadi kesal. Apalagi ketika ponsel Azkia tidak bisa dihubungi sama sekali.
"Lagi dan lagi lo kaya gini, Ki!" gumam Azka.
Perubahan Azka sangat terlihat jelas, hawa dingin seperti menyelimuti dirinya membuat siapapun bergidik ngeri saat berpapasan dengan Azka.
"Lo kenapa, Ka?" tanya Ken.
"Gak!" singkat Azka, namun terlihat sangat jelas di mata Ken jika Azka sedang menahan emosinya.
Tanpa basa basi Ken merebut ponsel yang Azka genggam, obrolan via chat dari sebuah grub milik Azka belum tertutup sehingga Ken bisa dengan leluasa membacanya. Apalagi Azka tidak merebut kembali ponselnya saat diambil Ken.
"Bad boy bucin," lirih Ken membaca nama grub chat itu, kemudian melirik ke arah Azka sekilas.
"Ada-ada aja nama grub, lo," ucap Ken sambil terkekeh namun tidak ditanggapi oleh Azka.
Azka hanya diam saja sambil memijat pelipisnya yang terasa sangat pusing. Sedangkan Ken melanjutkan niatnya semula, untuk mencari tahu kenapa Azka terlihat kesal.
...Bad Boy Bucin...
@Attaya, "Kalian tau gak apa yang gue liat tadi?"
@Devan,"Hantu lagi?"
@Ciko, "Gak perduli,"
@Bobo, "Liat apa, bidadari kah?"
@Attaya, "Gue liat sesuatu yang bikin temen tembok kita kesal hahaa,"
@Devan, "Azka, kenapa dia?"
@Bobo, "Cepet bilang jangan buat tingkat ke kepoan gue meningkat!"
@Attaya, "Gue tadi liat Azkia lagi tatap-tatapan sama Rayhan, mana Rayhan natapnya dalam banget gitu... kaya pake perasaan banget liat Azkianya."
@Bobo, "Wah ada yang panas, nih.. tapi bukan api hehe."
@Devan, "Sama, beberapa hari lalu gue juga liat Azkia sama Rayhan di Cafe Rindu... dan ya kalian tau mereka kelihatan akrab banget!"
@Bobo, "Kan emang udah akrab dari dulu."
@Ciko, "Gak salah orang, kan?"
@Devan, "Mana mungkin gue salah orang, kalau gak percaya tanya Devira sana!"
@Attaya, "Gimana, Ka? Kita pantau atau langsung hajar @Azka?"
@Ciko, "Pantau aja dulu, kalau berulah kita sikat!"
@Bobo, "Lo kira lagi cuci baju, main sikat-sikat aja😜."
@Ciko, "Sikat mulut lo biar bersih_-."
@Devan, "Jangan lupa, si ketos pernah ada rasa sama Azkia!"
@Attaya, "CLBK dong!"
@Bobo, "CLBK.. Cuma Luka Belum Kehilangan!"
@Ciko, "Salah, Bob!"
@Devan, "Cinta lama boleh kembali hahaa,"
@Ciko, "Cinta lama belum kelar, woy!"
@Attaya, "Azka, woy lo jangan nyimak aja! Pacar lo tuh mau diambil orang!"
@Ciko, "@Azka hati aman kan ngab?"
Begitulah isi chat grub yang membuat Azka kesal. Ken mengembalikan ponsel milik Azka, ia menepuk kaki Azka.
"Sabar, cobaan saat ldr... lo harus tanyain langsung sama doi lo dulu, jangan asal tuduh nanti dia gak terima," saran Ken.
"Gak bisa dihubungi," keluh Azka.
__ADS_1
"Ya tunggu sampai bisa dihubungi, minta penjelasan... kalau lo sayang dia lo harus percaya!" kata Ken.
"Hmmmm,"
"Jangan percaya dulu apa kata orang kalau lo gak mau hubungan lo hancur kaya gue dulu," kata Ken sambil ikut menyandarkan tubuhnya pada sofa.
Mereka berdua sedang berada di kamar Azka untuk mengerjakan suatu proyek, sehingga Ken menginap di apartemen Azka. Azka masih saja diam pada posisinya semula, ini lah yang ia takuti jika harus berjauhan dengan Azkia.
Kata orang cinta akan muncul karena terbiasa bersama dan itulah yang Azka takutkan. Ia takut jika Azkia terbiasa dengan keberadaan Rayhan akan membuatnya jatuh cinta kepada Rayhan. Terlebih lagi Rayhan adalah tipe laki-laki yang di idamkan banyak wanita.
"Haaaaaahh!" dengus Azka.
"Kenapa, kenapa?" ucap Ken kaget, ia yang sudah tertidur di sofa tiba-tiba terbangun saat mendengar Azka mendengus.
"Pindah kasur!" perintah Azka.
"Hmm, lo juga tidur dah malem," kata Ken sambil merebahkan tubuhnya diatas kasur Azka.
Azka hanya diam saja sambil mengambil ponselnya yang diletakan Ken diatas nakas. Azka akan menghubungi Azkia lagi, namun tiba-tiba saja ada panggilan masuk yang tak lain dari Azkia.
"Akhirnya datang sendiri," gumam Azka sambil menggeser tombol warna hijau pada layar ponselnya.
"Halo, Azka udah tidur belum?" tanya Azkia sedikit takut.
"Hmmm,"
"Aku ganggu kamu, tidur?" tanya Azkia.
"Gak," jawab Azka singkat.
"Kamu kenapa dingin gini, sih? Aku salah apa?" tanya Azkia.
"....."
"Aku minta maaf, soal ponselku yang mati... tadi ponselnya aku silent, gak taunya batrai habis lagi," jelas Azkia.
"Hmmm,"
"Jangan marah dong," bujuk Azkia.
"Lo gak ada power bank apa?" tanya Azka.
"Lo gak ada yang mau di jelasin glitu sama gue?" tanya Azka.
"Apa?" Azkia tidak merasa melalukan hal diluar batasan sehingga dia tidak paham maksud dari perkataan Azka.
"Gak usah sok gak tau!" dingin Azka.
"Beneran gak tau, emangnya aku kenapa? Aku salag apa, coba bilang?" tanya Azkia.
Terdengar helaan nafas Azka, seolah ia sedang menahan kekesalannya.
"Apa?" ulang Azkia.
"Lo habis ngapain sama ketos itu?" mulus Azka tidak ada manis-manisnya untuk saat ini karena amarah sudah menyelimuti hatinya.
"Ketos?" tanya Azkia bingung.
"Hmmm,"
Membuat Azkia berfikir untuk beberapa saat, "Oh, kak Rayhan maksudmu?" tanya Azkia.
"Iya, siapa lagi kalau bukan dia?" Azka balik bertanya pada Azkia.
"Aku gak ngapa-ngapain sama kak Rayhan," jawab Azkia jujur.
"Yang bener?" tanya Azka, dari cara bicaranya terdengar ketidak puasan akan jawaban Azkia.
"Bener, tadi cuma ketemu gak sengaja di depan fakultas... katanya dia habis ketemu sama temennya," jelas Azkia.
"Ketemu kamu maksudnya?" tebak Azka.
"Bukan aku, dia ketemu sama temennya yang jurusannya sama kaya aku," ucap Azkia.
"Ohh, terus yang di Cafe kebetulan juga?" tanya Azka lagi.
"Ini orang kenapa bisa tahu semua sih, kan niatnya gak cerita biar gak marah... kalau kaya gini bisa marah beneran," batin Azkia.
"Kok diem?" ulang Azka.
__ADS_1
"Ahh... itu juga gak sengaja ketemu di Cafe Rindu," jawab Azkia.
"Kok bisa beberapa kali ketemu tanpa sengaja? Atau jangan-jangan kalian janjian, ya?" tuduh Azka.
"Gak! Aku gak janjian sama kak Rayhan, aku ketemu sama dia beneran gak sengaja, Ka! Kamu gak percaya sama aku?" tanya Azkia sedikit kesal karena dituduh.
"Bukannya gak percaya, aku cuma mau tau aja... kenapa kamu gak cerita sama aku, emangnya kamu anggap aku ini siapa?" tanya Azka menahan kekesalannya.
Deg!
Kata-kata Azka membuat hati Azkia sedikit sakit, benar yang Azka bilang harusnya ia memceritakan semuanya kepada Azka supaya tidak terjadi kesalah pahaman.
"Lo anggap gue apa?" ulang Azka terdengar sangat dingin.
Tanpa persetujuan Azkia, butir-butir air jatuh begitu saja saat Azka mengatakan itu. Hatinya terasa sesak.
"Tu-tunangan ku," saut Azkia terbata sambil menahan tangisnya.
Tapi bagaimana pun juga Azka tahu jika Azkia sedang menangis.
"Lalu kenapa gak mau jujur, apa susahnya cerita? Kita jauh tapi gak seharusnya kan lo sembunyiin semua dari gue? Gue udah cukup sabar, ya!" kata Azka.
"Ma-maaf, maaf Azka,.. aku gak ada niatan sepeti itu, aku pikir gak usah cerita nanti kamu akan marah," ucap Azkia sambil menangis.
"Kalau kaya gini, gue akan lebih marah kan?" ucap Azka.
"Ma-maaf!"
"Kenapa gue harus tau semua dari orang lain, kenapa gak dari lo langsung?" bentak Azka.
Azkia sedikit tersentak kaget saat mendengar bentakan Azka. Baru kali ini Azka membentak Azkia, yang berarti kesalahannya sudah tidak bisa ditolerin lagi oleh Azka.
"Lo hargain gue gak, sih!" bentak Azka lagi.
Kali ini Azka sudah berada di dapur sehingga Ken tidak mendengar suaranya.
"Maaf, maaaf Azka... maafiin aku!" Azkia terisak dalam tangisnya. Ia merasa menyesal karena tidak memberitahu Azka.
Azkia mendengus ia berusaha menenangkan dirinya agar tidak terlalu emosi, ia tidak bisa melihat Azkia menangis. Tapi ia juga tidak bisa mendiamkan sifat Azkia yang tidak mau terbuka dengannya.
"Gue mohon, jangan diulangin lagi... tolong hargain gue jika lo anggap gue sebagai tunangan lo!" ucap Azka lirik namun sangat menusuk.
Azkia mengangguk walaupun tidak dilihat oleh Azka, "Iya aku janji gak akan ulangi lagi, maaf!" lirik Azkia.
"Hmmm, gue beneran sayang sama lo, Ki... bahkan gue rela lakuin apapun buat lo, jadi tolong hargain gue... jangan buat seolah gue gak ada! Paham?" ucap Azka terdengar putus asa.
"Paham," saut Azkia.
"Janji, ya! Ada apapun lo harus terbuka sama gue, hal sekecil pun itu! Gue gak mau denger dari mulut orang lain," kata Azka sambil mengambil segelas air putih.
"I-iya, uya janji!" kata Azkia dalam tangisnya.
"Udah jangan nangis, gue kaya gini buat kebaikan lo juga... gue gak sepenuhnya marah sama lo, gue sadar. Gue gak bisa ada disisih lo setiap saat terlebih jarak kita saat ini, tapi yang harus lo tau... lo selalu ada di hati gue!" ucapan Azka membuat Azkia merasakan kehangatan dalam hatinya. Ia benar-benar bersyukur memiliki Azka.
"Hiiks hikkss," tangis Azkia semakin kencang untung saja ia sudah berada di dalam kamarnya jika tidak ia akan menjadi pusat perhatian orang-orang.
"Cup cup anak baik gak boleh nangis, ya! Nanti kaka beliin permen deh!" goda Azka.
"Ihh aku bukan anak kecil." kesal Azkia.
"Terus, kenapa nangisnya kaya anak kecil gitu... tuh sampai meler ingusnya," canda Azka.
"Mana gak ada, ihh sok tau." Azkia tersenyum sambil mengusap air matanya mendengar candaan Azka.
"Tuh tuh meler beneran hahaa," kata Azka sambil terkeheh.
"Gak ya Azkaa! Tauk ahh!" Azkia sedikit ngambek dengan candaan Azka.
"Bercanda doang, yaudah aku mau istirahat dulu... kamu juga istirahat ya, tidur siang sana!" perintah Azka.
"Iyaa, sekali lagi maaf," lirik Azkia.
"Hmmm, i love you manyunku!"
"Me too, tembok!"
Setelah itu panggilan diakhiri, Azka menenggak habis segelas air putih itu. Sedangkan Azkia ia menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya yang terlihat sangat kusut.
...----------------...
__ADS_1
Vote gratisnya dong!