Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Rival Cinta


__ADS_3

Siska berjalan dengan menghentakkan kakinya menuju kelas, wajahnya merah padam yang sangat kentara di kulit putihnya.


Mikael yang melihat itu pun langsung menghampiri Siska.


"Kenapa, beb?" tanya Mikael kepada Siska.


"Beb - beb, gue bukan bebek!" bentak Siska membuat siapa pun menoleh kearahnya.


"Yaelah, marah mulu nanti cepet tua loh."


"Oh, jadi lo ngatain gue tua gitu iya!" Siska memelototkan matanya.


"Bukan gitu, duh gue salah mulu." ucap Mikael memelas.


"Emang! Cowok itu selalu salah!" ucap Siska dengan penuh penekanan.


"Eh, pipimu kenapa ini kok merah?" tanya Mikael, seolah dia tidak menghiraukan jika Siska tidak menyukaiku kehadirannya.


"Kelihatan ya?" tanya Siska mulai panik.


"Iya, merah seperti habis di tampar." Mikael mengaguk, tanggannya mengusap pelan pipi Siska.


"Ini tuh gara - gara bakpia sialan." geram Siska sambil mengusap pipinya.


"Bakpia?" tanya Mikael bingung.


"Iya, bakpia alias Azkia."


"Hahaa.. lo tuh aneh, kalian seperti musuh tapi punya panggilan kesayangan." ledek Mikael.


Mendengar itu semakin membuat Siska naik darah, ia menghentikan langkahnya. Dengan kasar bebalik dan melihat Mikael dari atas hingga bawah.


"Lo denger baik - baik ya! Itu panggilan kebencian gue buat dia, bukan panggilan kesayangan... dan satu hal lagi kalo lo cuma bikin gue tambah emosi mendingan lo jauh - jauh deh dari gue!" tangan Siska menunjuk - nujuk dada bidang Mikael, untung saja lorong ini masih sepi.


"Iy-iya maaf." ucap Mikael, dia merasa tidak enak hati telah membuat pujaan hatinya semakin kesal.


"Dahlah, jangan ikutin gue lagi." gertak Siska, kemudian dia meninggalkan Mikael yang masih berdiri menatapnya.


"Susah ya dapetin seseorang yang hatinya udah buat orang lain." gumam Mikael.


..........


"Lo kenapa, Sis?" tanya Rima.


"Biasa." jawab Siska kesal sambil duduk di tempatnya.


"Lo berantem lagi sama, Azkia?" tanya Rima menyelidik.


Siska menarik nafasnya dengan kasar, seolah sedang menata emosinya yang sejak tadi sudah memuncak.

__ADS_1


"Iya, lo tau gak gue tadi mau nampar tuh muka dia ta—" ucapan Siska terpotong oleh Rima yang tidak sabaran.


"Tapi digagalin sama Azka?" tanya Rima.


"Kalo gue lagi ngomong jangan main dipotong!" kesal Siska. Rima hanya menggangguk saja.


"Gak baik lah nampar orang kan sakit." ucap Syla tiba - tiba.


Siska menatap tajam Syla yang seolah membuatnya tersulut emosi.


"Suuttt!" dengan cepat Rima membekap mulut Syla agar tidak berkomentar lagi.


"Lanjut." ucap Rima.


"Lo liat pipi gue merah kek gini? Ini semua ulah dia, berani - berani dia nepis tangan gue dan pipi ini yang jadi sasarannya." ucap Siska dengan kesal.


Rima sempat menahan tawanya saat mendengar cerita Siska, namun segera saja dia bersikap biasa saja agar tidak ketahuan Siska.


"Pokoknya gue bakalan buat dia merasakan apa yang gue rasain saat ini, bahkan leboh sakit lagi!" kata Siska.


Tanpa mereka sadari ada seseorang yang memertawakan Siska, siapa lagi kalo bukan Farah. Teman sekaligurls rivalnya Siska.


Farah berniat menanyakan rencana untuk merusak hubungan Azka dan Azkia, namun ia urungkan saat mendengar Siska dikalahkan oleh Azkia.


"Mungkin, lo bisa gue manfaatin... gue bisa pinjem tangan lo buat hancurin Azkia!" Farah tersenyum samar sambil meninggalkan ruang kelas Siska.


.............


"Mana sih, lama banget." keluh Raina.


Raina sedikit merasa risih karena sejak tadi dia menjadi pusat perhatian siswa siswi yang akan pulang sekolah. Mereka mencuri pandang ke arah Raina, bahkan ada yang terang - terangan menggodanya.


"Nungguin siapa, mbak?" tanya Jojo menghentikan motornya tepat di depan Raina.


Raina hanya diam saja tanpa ada niat menjawab pertanyaan Jojo, dia malas menanggapi orang - orang yang tidak ia kenali.


"Sombong amat, mbak... untung cantik." kata Jojo.


"Jo!" panggil seseorang dari belakang Jojo.


"Cih, ini anak ganggu mulu." Jojo berdecak kesal karena melihat Rayhan menganggunya berkenalan dengan Raina.


"Lo? Gak usah nyari sampai sekolah juga kali." kata Rayhan dengan percaya diri.


"Gak nyariin lo." Raina memainkan ponselnya untuk mengirim pesan pada seseorang.


"Kirain." Rayhan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Kenal?" bisik Jojo pada Rayhan, sedangkan Rayhan hanya menaikkan bahunya.

__ADS_1


"Nih sekalian." Raina menyodorkan paper bag coklat yang berisi ponsel Rayhan.


"Makasih ya." ucap Rayhan sambil tersenyum manis.


"Hmmm."


"Oh iya, nama lo siapa?" tanya Rayhan yang penasaran. Pasalnya sudah beberapa kali bertemu namun Rayhan belum juga mengetahui nama perempuan yang sedang beridiri di depannya itu.


"Eh itu pacarnya kak Rayhan, ya?" bisik adek kelas yang melintasi mereka bertiga.


"Cantik tapi kelihatan judes gitu."


"Blasteran kah?"


"Dingin banget, padahal udah disenyumin kak Rayhan tapi dia cuma diem aja dan gak bales."


"Iya, mukanya datar banget!"


"Tapi cocok yang satunya hangat, satunya dingin."


"Lo kira kulkas apa haha."


Dan masih banyak lagi suara - suara yang terdengar di telinga mereka, namun Raina tetap saja tidak bergeming. Dia lebih memilih tidak menghiraukan perkataan mereka.


"Udah gak usah di dengrin." ucap Jojo yang paham jika Raina tidak nyaman dengan cuitan itu, Raina hanya mengangguk saja.


"Lagi nungguin siapa?" tanya Rayhan.


"Az—"


"Udah lama?" suara Azka terdengar begitu menusuk telinga mereka.


Rayhan dan Jojo berbalik menuju sumber suara itu, dilihatnya seorang yang sudah tidak asing lagi bagi mereka semua.


"Udah, sampai lumutan nungguin lo." saut Raina, iya orang itu adalah Azka dengan tampang dinginnya.


"Halo, Ka?" sapa Rayhan.


"Ayo." ajak Azka, dia mengacukan sapan dari Rayhan.


"Sombong amat!" celetuk Jojo yang geram melihat Azka.


Namun Azka ya tetap lah Azka, dengan semua sikap dingin dan wajah datarnya. Yang selalu mengacuhkan orang lain yang tidak ia sukai.


"Udahlah, ayok pulang." Rayhan menepuk bahu Jojo yang terus saja melihat Azka dan Raina menjauhi mereka.


"Rival cinta lo tuh, bikin emosi!" jawab Jojo.


Rayhan sudah mencoba mengiklaskan Azkia, namun tetap saja tidak semudah itu melupakannya. Apalagi setiap hari tanpa sengaja mereka bisa bertemu disekolah, bahkan di luar sekolah pun mereka bisa bertemu. Rayhan hanya perlu menguatkan hati agar bisa mengiklaskan Azkia, namun tidak menutup kemungkinan masih ada harapan besar dihati Rayhan untuk bersama Azkia.

__ADS_1


.....................


"Tak apa, yang penting kamu bahagia... soal aku gampang!" ~.~


__ADS_2