
Mereka semua duduk di sofa dan di lantai yang beralaskan karpet. Azkia masih setia duduk disebelah Azka, tangannya menggenggam erat tangan Azka.
"Jadi ini gimana ceritanya kok Azka bisa begini?" tanya Devira, karena tadi saat Devan menghubunginya memberitahu jika Azka berada di rumah sakit dia tidak bercerita penyebab Azka hingga koma seperti ini.
"Ini semua salah gue, Ra.. hiks hiks." ucap Azkia sambil menangis.
Perkataan Azkia membuat Devira dan juga Nayla semakin bingung, kemudian Attaya angkat bicara untuk menjelaskan semuanya.
"Jadi kemaren gue, Azka sama anak - anak yang lain kan lagi dirumah Azka.. terus si Azka itu kayak kesel gitu liatin ponselnya, ternyata gara - gara Azkia dihubungin susah." jelas Attaya.
"Terus?" kata Nayla.
"Nah kita keluar kan cari angin, gak sengaja ketemu Azkia sama cowok... awalnya Azka mah diem aja sambil mantau dari jauh, eh lama - lama kok mesra banget." lanjut Attaya.
"Jadi Azka udah di cafe dan liat semua?" tanya Azkia dan diangguki oleh Attaya dan sahabat Azka yang lain.
"Terus diparkiran berantem tuh, Azka marah lah... Azkia lebih perduli dan khawatir sama tuh cowok yang ternyata abangnya Azkia." kata Devan yang berganti bercerita.
"Jadi bang Axel dah balik, Ki?" tanya Devira sambil menatap Azkia.
"Udah, kemaren gue jemput di bandara... gue lupa gak ngabarin Azka karena terlalu seneng." ucap Azkia sambil menunduk, dia benar - benar merasa bersalah kepada Azka.
"Habis itu Azka pergi, naik motornya kayak pembalap gitu gue aja ketinggalan.. nah pas lampu merah Azka Azka—" ucap Attaya terhenti karena dia tidak sanggup menceritakan kejadian yang dia lihat di depan matanya itu.
Bobo yang berada di sebelah Attaya pun membawanya kedalam pelukan Bobo.
"Ini salah gue Ra, salah gue." ucap Azkia sambil terisak oleh tangisnya.
"Lo gak boleh nyalahin diri lo sendiri, Ki.. ini bukan salah lo, mungkin emang takdirnya udah kayak gini." kata Nayla sambil mengusap tangan Azkia.
"Jangan kayak gini, Azka pasti juga gak suka liat lo yang kayak gini... kita doain Azka biar cepet sadar, yaa?" kata Devira mencoba menenangkan Azkia.
"Gue sama Ciko cari camilan dulu ya buat kalian." kata Bobo sambil bendiri dari duduknya, kemudian melangkah pergi dari ruangan Azka bersama Ciko.
Bobo paling tidak bisa melihat orang menangis, karena dia akan ikut memangis juga. Hatinya terlalu lembut sehingga mudah tersentuh.
Untuk beberapa waktu hening seketika dalam ruangan itu, mereka fokus pada pikirannya masing - masing. Hingga tangan Azka mulai bergerak, namun gerakannya tidak terlalu terlihat. Hanya Azkia yang merasakannya karena dia menggengam tangan Azka.
"Azka?" panggil Azkia, membuat Attaya Devan Nayla Devira sepontan menoleh kearah Azka.
"Kenapa Ki?" tanya Devan yang sudah berdiri di sebelah banhkar Azka.
"Tadi tangannya gerak, Van." ucap Azkia sambil menatap Devan.
"Gue panggil dokter." kata Attaya, dia lupa jika di dalam kamar itu ada bel yang bisa sentuh agar dokter segera datang.
"Azka, hey aku Kia... kamu denger aku kan? Ayok bangun Ka, aku kangen." ucap Azkia dengan suara bergetar.
Azka masih diam tanpa merespon apapun perkataan Azkia, mungkin tangannya bergerak hanya perasaan Azkia saja.
"Azka, lo denger gue kan? Bangun Bos gue pengen ribut sama lo!" ucap Devan yang berada di sebelah kiri Azka.
__ADS_1
Terlihat air mata jatuh dari sudut mata Azka namun matanya masih terpejam.
Tiiiiiittttt
Suara dari alat yang berada di sebelah Azka, semua orang yang betada diruangan Azka menatap alat itu dengan kaget.
"Azka! Azka bangun Azka! Kamu gak boleh tinggalin Aku Azka." ucap Azkia yang sudah menangis tersedu - sedu melihat kondisi Azka yang kritis.
"Azkaa!!" ucap Devira dan Nayla bersamaan.
"Ka, Azka bangun!" teriak Devan sambil sedikit menggunjangkan badan Azka.
"Dokter! Doket tolong!" teriak Devira sambil berlari keluar, terlihat Attaya datang bersama dengan seoramg doket dan suster. Tak jauh di belakang dokter itu ada wanita paruh baya yang ikut berlari kearah Devan.
"Azka kenapa?" tanya mama Kayla dengan wajah panik.
"Azka gak papakan?" tanya papa Yudha.
Sedangkan Devira hanya diam dia tidak bisa menjawab pertanyaan orang tua Azka.
Dokter sudah masuk kedalam bersama suster, menyuruh mereka untuk menunggu diluar agar tidak menggangu saat pemeriksaan.
"Tapi saya mamanya dok, biarin saya disini." ucap Mama Kayla namun tetap harus keluar dengan arahan suster. Sedangkan dokter sudah menangani Azka.
Terlihat raut cemas di wajah mereka semua, Bobo dan Ciko yang baru saja kembali membawa makanan pun kebingungan melihat mereka semua panik dan berada di luar ruangan Azka.
Papa Yudha sedari tadi mondar mandir di depan pintu ruang rawat yang terdapat Azka di dalamnya, pikirannya teringan jelas saat - saat Azka marah dengannya karena kurang memperhatikan anaknya. Kemaren sempat membentak Azka yang membuat hati papa Yudha semakin sakit.
Sama halnya dengan papa Yudha, mama Kayla terus menangis dalam dekapan Devan. Dia juga menyesal sama halnya dengan papa Yudha, jika waktu bisa diputar kembali mama Kayla akan lebih memeilih dirumah mengurusi dan menjaga Azka.
"Van, Azka Van hiks hiks... Azka anak mama yang ganteng harus kuat.., Azka baik - baik aja kan Van? Azka sembuhkan Van?" ucap mama Kayla sambil terisak sesekali suaranya hilang karena tidak sanggup melihat anaknya.
"Az-Azka akan sembuh tan, Azka bisa lewatin ini semua... tante yang sabar ya." ucap Devan sambil mengusap lengan mama Kayla yang sedang dalam pelukannya itu.
Azkia dia juga tidak kalah sedihnya dengan yang lainnya, tangisnya semakin menjadi saat melihat kondisi Azka. Apalagi jika terjadi sesuatu kepada Azka dia akan menyalahkan dirinya sendiri.
"Az Azka akan baik - baik aja kan Ra? Di- dia udah janji akan buat gue tersenyum terus Ra tapi kenapa kaya ginia Ra? Kalo gue cerita semuanya sama Azka, Azka gak bakalan kaya gini kan Ra hiks hiks hiks." ucap Azkia terbata - bata, matanya sudah bengkak karena menangis terus hingga air matanya sudah tidak mau jatuh lagi.
Cklek
Perlahan pintu itu terbuka, munculah dokter dengan wajah yang sulit diartikan lagi.
Mereka semua langsung menghampiri dokter itu dan menanyakan bagaimana kondisi Azka saat ini.
"Dok gimana keadaan anak saya dok?" tanya papa Yudha saat sudah berada di depan dokter.
"Bagaimana keadaan anak saya?" tanya mama Kayla yamg berdiri di sebelah papa Yudha.
"Azka baik - baik aja kan dok?" tanya Devan.
"Gimana keadaanya?" tanya Azkia.
__ADS_1
"Jangan diem aja dok, gimana keadaan Azka?" tanya Attaya.
Terlihat harapan yang sangat besar dari mata mereka semua, berharap Azka baik - baik saja dan segera pulih.
"Gimana dok?" ulang papa Yudha.
"Kami sudah melakukan yang terbaik untuk Azka... namun Allah berkehendak lain, kami turut bersedih." ucap doket itu dengan wajah terlihat sedih dan banyak keringat terlihat di jidatnya.
Untuk beberapa detik hening, semua orang mencoba mencerna kata - kata yang baru saja dokter ucapkan.
"Gak, gak mungkin... dokter bercanda kan?" kata mama Kayla sambil menangis tersedu - sedu.
"Ini bohong kan dok?" bentak papa Yudha.
"Dok, jangan bercanda." bentak Attaya yang tidak menerima kenyataan ini.
"Saya tidak bercanda." ucap dokter itu membuat mereka semua syok dan memangis.
"Gaakk gak mungkin, Azka pah Az—" ucapan mama Kayla terhenti saat dirinya ambruk dalam pelukan apap Yudha.
Dengan cepat papa Yudha menangkap istrinya tersebut, dia juga tidak percaya dengan apa yang dokter ucapkan tapo bagaimana lagi jika itulah kenyataannya.
"Mah mama harus kuat, mama jangan sepeti ini mah.. Azka gak suka kan liat mama nangis." ucap papa Yudha sambil menepuk pelan pipi istrinya itu.
Attaya sudah tidak bisa menahan air matanya dia juga ikut menangis menyandarkan badannya pada tembok yang dingin, lama kelamaan dia terduduk dilantai sambil memegangi kedua matanya yang terus mengeluarkan air mata.
"Azka, gak mungkin." gumam Attaya disela sela isak tangisnya.
Devan pun sama, kakinya terasa lemas dia juga langsung terduduk dilantai. Sebelah kakinya ia gunakam sebagai tumpuan tangan yang memengangi kepalanya yang terasa berat.
"Ka, kenapa lo tinggal gue sih... katanya mau balapan sama gue, Ka... lo bohong!" ucap Devan sambil menangis.
Bobo dan Ciko pun sama mereka menangis sambil berpelukan. Sedangkan Azkia, dia benar - benar terpuruk saat ini. Dia menyalahkan dirinya sendiri.
"Ra, Azka gak akan kaya gini ini semua salah gue Ra! Gue yang harusnya gantiin Azka Ra.. Az Azka gak boleh pergi Ra... hiks hiks gak boleh pergi." kata Azkia dengan tangisannya hingga membuatnya sesak.
"Yang kuat ya, Ki... Azka pasti sedih liat lo kayak gini." ucap Nayla memeluk Azkia.
"Bener kata Nayla, lo jangan nyalahin diri lo Ki.. Azka pasti sedih kalo liat lo kayak gini." kata Devira ikut memeluk Azkia yang sudah duduk dilantai karena kakinya lemas, dikrinya ada Nayla sedangkan kanan ada Devira. Mereka memeluk Azkia dengan erat.
Tidak ada yang tidak menangis disana, suster pun yang melihat itu juga ikut bersedih dan meneteskan air mata.
"Azka! Azkaaaaaaa! hiks hiks hiks" teriak Azkia sambil menangis.
......................
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya kawan, kalo mau vote juga. kan ada tulisan vote klik aja...
Akan UP hari senin :)
...STAY TUNED!...
__ADS_1