
Hingga malam Devan tetap setia menunggu kekasih yang sedang berkerja sebagai pengacara magang disalah satu instansi, disela-sela kesibukannya ia menyempatkan diri menyelesaikan skirpsinya.
Terlihat gadis cantik dengan pakaian formal berjalan kearah Devan, blazer hitam yang seharusnya ia pakai sudah terlepas dan disampirkan pada bahunya. Rambutnya masih tertata dengan rapi menyisahkan sedikit anak rambut disamping telinya.
Devan yang sedang duduk disebuah kursi tunggu yang ada, sejak tadi ia sibuk bermain game pada benda pipihnya itu. Hingga kursi disebelahnya sudah terisi oleh seseorang.
"Van!" panggil Devira.
"Hmmm," tanpa mengalihkan wajahnya dari layar ponsel membuat Devira kesal.
"Udah selesai?" tanya Devan.
"Udah, laper," ucap Devira dengan manja.
"Ayo aku udah siapain makan malam spesial buat kamu," kata Devan sambil menggandeng jemari Devira.
"Martabak kali sepesial, Van!" ledek Devira.
"Lo lebih dari sekedar martabak buat gue, Ra!" kata Devan sambil tersenyum manis.
"Serius bingung gue sama kata-kata lo, apa mungkin karena gue lapar?" tanya Devira.
Devan hanya tersenyum sambil mengandeng tangan Devira, ia sudah menyiapkan sesutu yang sangat spesial. Mungkin Devan harus berterimakasih pada Azka karena mengizinkannya pulang cepat.
Lima belas menit mereka sampai di restoran yang sudah Devan pesan sebelumnya. Restoran ini sangat mewah buktinya saat kita masuk sudah disuguhi keindahan yang dapat memanjakan mata, terlebih lagi Restoran ini berada disebuah gedung sehingga ia memiliki view yang sangat apik. View langsung menghadap ke gedung-gedung bertingkat disebrang sana.
Ditambah dekorasi yang elegan bercampur nuansa romantis membuatnya sangat cocok sebagai restoran yang digemari oleh pasangan muda-mudi.
Devan membawa Devira kesalah satu meja yang sudah ia pesan dengan view pemandangan luar yang sangat indah. Dengan kelap-kelip lampu bangunan dan juga kendaraan yang berlalu-lalang sangat jelas dari sini. Devira sempat kaget karena sangat jarang Devan mengajaknya ketempat seperti ini.
"Suka?" tanya Devan sambil mengusap punggung tangan Devira.
"Banget!" kata Devira sambil tersenyum manis.
Beberapa pelayan datang menghidangkan steak daging sapi bersama dengan minumannya non alkohol tentunya. Mereka berdua makan dalam diam, hingga Devan menyodorkan steaknya yang sudah terpotong kecil-kecil pada Devira.
Devira yang tanggap langsung menyerahkan steak miliknya dan mengambil steak yang sudah Devan potong.
Setelah selesai makan mereka menikmati makanan penutup dan di saat itulah Devan mengutarakan niatnya.
Terdengar alunan musik romantis membuat mereka semua menoleh pada beberapa band yang ada dipangung kecil didalam restoran. Begitu juga dengan Devira ia sangat menikmatinya hingga tidak sadar jika Devan sudah berlutut didepannya dengan kotak cantik yang berisi sebuah cincin.
"Ra?" panggil Devan.
"Iya?" tanya Devira sambil memutar badannya melihat Devan.
Devira sangat terkejut bahkan ia tidak bisa berkata-kata lagi, matanya terlihat berbinar memandangi Devan yang tengah berlutut didepannya.
"Do you merry, me?" tanya Devan sambil membuka isi kotak itu.
__ADS_1
Banyak pasang mata yang menyaksikan mereka berdua dan ikut menyuarakan pendapatnya.
"Terima! Terima!" seru mereka.
"Ayo terima aja kalau gak aku aja yang wakilin," ucap seseorang membuat siapapun yang mendengarnya tertawa.
"Terima aja mbak, sebelum ditikung!"
"Ayo terima terima terima!!" seru mereka kompak.
Devira masih tidak menyangka dengan ini semua, tapi ini juga yang ia mimpikan setelah lamanya hubungan yang mereka jalani.
"Yes, I do!" kata Devira yang membuat Devan sangat bahagia.
Devan langsung beranjak memeluk Devira sangat erat ditambah tepuk tangan dari orang-orang itu membuat acara ini semakin meriah, band yang sudah dimintai tolong untuk menyanyikan lagu romantis pun ikut bertepuk tangan dan mengucapkan selamat.
Devan memasangkan cicin itu pada jemari Devira, pipi Devira terlihat begitu merona. Semua perjuangan dan harapan mereka selama ini tidak lah sia-sia. Akhirnya Devan memberanikan diri untuk mengajak Devira kejenjang yang lebih serius lagi.
"Makasih!" kata Devan sambil memeluk Devira erat.
Setelah itu mereka berdua memutuskan untuk pulang ke rumah, tapi Devan terlebih dahulu mengantar Devira pulang kerumahnya.
"Ra, nanti bilang sama om tante kalau aku sama orang tua ku akan berkunjung ke rumahmu," kata Devan yang fokus pada jalanan.
"Kapan?" tanya Devira.
"Siap, Van!" kata Devira sambil terkekeh.
"Mungkin acara resepsi kita setelah wisuda aja gimana?" tanya Devan.
"Gue sih gak masalah soal itu, lagian sekarang kita juga masih sibuk urus skripsi, kan?" kata Devira.
Devan mengangguk menyetujuinya, "Ra bisa gak lebih sopan sama calon suami?" tanya Devan.
"Hah maksudnya?" bingung Devira.
"Panggil aku kamu jangan lo gue kita kan mau nikah bukan mau berantem," kata Devan sambil menatap Devira lembut.
Karena selama ini Devan tidak memeprmasalahkan panggilannya saat masih pacaran, ia tahu betul bagaiamana sifat Devira sehingga ia membiarkannya saja. Tapi tidak untuk sekarang ini yang sebentar lagi status mereka berdua akan berubah. Sehingga Devan meminta Devira untuk merubahnya agar lebih enak didengar.
"Iya gue eh aku coba, ya!" ucap Devira.
Devan menggenggam tangan Devira menariknya dalam pangkuan, sesekali Devan mengusap punggung tangan Devira sedangkan tangan satunya sibuk menyetir mobil.
"Bahaya kalau tangannya kaya gini!" protes Devira menarik tangannya kembali tapi dicegah oleh Devan.
"Gak bahaya kalau kamu tetap tenang, Ra," kata Devan sambil mencium punggung tanga Devira.
"Gila! semalam aku mimpi apa sih?" batin Devira, detak jantungnya terasa begitu cepat bahkan pipinya terasa memanas.
__ADS_1
"Apa aku punya penyakit, ya?" gumam Devira sambil memegang dadanya dengan tangan satunya lagi.
"Penyakit apa?" tanya Devan.
"Gak tau, besok aku baru mau ngajak Nayla ketemu siapa tau dia tahu penyakit gu eh aku," jelas Devira malu-malu.
Devan tersenyum, "Mana yang sakit?" tanya Devan sambil mematikan mesin mobilnya.
"Sini, rasanya tuh kaya mau keluar gitu jantung aku mana jidatku panas lagi," kata Devira sambil memegang dada dan jidatnya bergantian.
Devan hanya terkekeh saja melihat tingkah Devira yang terlihat menggemaskan saat salah tingakh seperti ini, terlebih lagi dia tidak menyadari perasaanya sendiri padahal sudah sering seperti itu.
Devira menang beda dari Azkia ataupun Nayla, ia lebih keras dan tomboi dibandingkan dengan kedua sahabatnya itu.
"Tau gak, Ra?" tanya Devan sedangkan Devira hanya menggeleng saja, "Kata temen aku itu penyakit berbahaya, loh." lanjutnya.
"Ah masa sih, terus aku harus gimana dong. A-aku gak mau kalau sampai dirawat dirumah sakit." Devira sangat panik mendengar hal itu.
"Tenang, aku tau kamu sakit apa, Ra!" Devan menatap lembut Devira.
"Apa?"
"Penyakit berbahaya itu berkali-kali kamu rasain saat bersamaku, kan?" tanya Devan.
Devira mengangguk, "Kok kamu tau?"
"Emang bener ya kata orang cinta buat orang bodoh, sama kaya kamu ini!" kata Devan sambil terkekeh.
"Gue gak bodoh ya! eh aku!" protes Devira.
"Iya gak bodoh kok, sayang!" Devan mengecup pipi Devira sekilas.
Lagi-lagi membuat jantung Devira berdisko badannya juga mematung dengan perlakuan Devan.
"Penyakit jatuh cinta sama calon suamimu." bisik Devan ditelinga Devira membuatnya memelototkan matanya.
Bisa-bisanya ia nurut saja dikerjain Devan, Devira langsung menabok lengan Devan sekencang mungkin, ia sangat kesal bercampur degan bahagia.
"Awh! KDRT ini!" gerutu Devan.
"Bodo amat!" kesal Devira sambil membanting pintu mobil Devan karena sejak tadi mereka sudah sampai dirumah Devira.
"Ra!" panggilnya membuat Devira menoleh, "I love you, calon istri!" kata Devan yang membuat Devira langsung berlari kedalam rumah menyembunyikan wajahnya yang malu.
"Gemes deh!" gumam Devan.
...----------------...
Setelah Azkia lahiran author tamatin aja ya, ganti ke GPH (Gadis Pemilik Hati) bagaimana? :)
__ADS_1