Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Setan Bohongan


__ADS_3

Terlihat sebuah rumah yang sudah gelap, hanya ada beberapa lampu yang dibiarkan menyala untuk menerangi ditempat-tempat tertentu. Kedua mobil itu masuk dengan mulusnya saat pintu gerbang sudah dibuka oleh satpam yang berjaga.


Sunyi dan tenang itulah yang dirasakan saat pertama kali keluar dari dalam mobil, perlahan tangan mereka menutup pintu mobil. Kemudian berjalan menuju pintu utama yang terlihat tertutup dengan rapat. Perlahan Azka membuka pintu itu, ia masuk kedalam rumah diikuti Devan dan juga Attaya.


"Dari mana?"


Tiba-tiba saja terdengar suara yang mampu membuat bulu kudu merinding. Bukan karena takut melainkan suara yang terdengar seperti menahan amarahnya memecahkan keheningan malam ini. Suara berat khas bapak-bapak terdengar lagi, diiringi lampu ruang tamu yang menyala.


"Kenapa pulang selarut ini?"


Memperlihatkan seorang laki-laki paruh baya dengan pakain tidur tengah duduk disofa ruang tamu. Meliahat tidak ada jawaban dari mereka, Yudha berdeham.


"Ehem!"


"Eh om Yudha belum tidur?" tanya Devan.


"Malam om?" sapa Attaya.


"Kalian dari mana? Kenapa jam segini baru pulang?" tanya Yudha seperti sedang mengintrogasi pencuri.


"Ki-kita dari anu om, itu acara makan-makan sama teman sekolah," jawan Attaya.


Sedangkan Azka ia hanya diam saja, Azka malas menjawab pertanyaan papanya. Bahkan Azka malas untuk sekedar bertatap muka dengan sang papa.


"Acarannya sampai selarut ini?" tanya Yudha.


"Iya om, sekalian perpisahan sama temen sekolah.: jawab Devan.


"Hmmm... Pakaian yang perlu kamu bawa sudah kamu paking belum, Ka?" tanya Yudha pada anak semata wayangnya.


Devan menyenggol lengan Azka karena tidak ada sautan, membuat Devan dan Attaya sedikit tidak enak kepada Yudha. Azka memilih pergi dari sana, ia menaiki anak tangga satu persatu menuju kamarnya tanpa berpamitan.


"Maaf ya om, mungkin Azka udah capek." kata Attaya mewakili Azka.


"Kita susul Azka dulu ya om, om juga istirahat aja," kata Devan sedikit canggung.


"Hmmm, naiklah!" kata Yudha.


Setelah berpamitan Attaya dan Devan naik ke atas menuju kamar Azka. Setelah melihat pintu kamar Azka tertutup, Yudha mematikan lampu setelah itu beristirahat dikamarnya.


Didalam kamar Azka.


"Wajah om Yudha lebih serem dari hantu kalau lagi marah," gerutu Attaya sambil merebahkan tubuhnya diatas sofa yang berada dikamar Azka.


"Lah emangnya lo udah pernah liat hantu?" tanya Devan.


"Pernah!" jawab Attaya yakin.


"Kapan?" Devan menyerkitkan dahinya.


"Waktu malam acara sekolah itu, kan kita liat hantu!" jawab Attaya.


"Cih, itu mah hantu boongan!" Devan terkeheh.


"Sama aja, sama-sama serem," kata Attaya.

__ADS_1


"Dasar penakut," cibir Devan.


Klek!


Terlihat pintu kamar mandi terbuka, menampakkan Azka yang baru saja selesai mandi. Dengan handuk yang melilit dipinggangnya menampakkan perut yang terlihat seperti roti sobek.


"Cih, gak usah pamer!" Attaya melemparkan bantal pada Azka.


"Pamer apa?" tanya Azka polos.


"Tuh roti sobek, untung gue cowok kalau gue cewek udah pingsan liat yang begituan!" gerutu Attaya sambil terkekeh.


"Gila!" Azka melempar lagi bantal itu tepat diwajah Attaya, membuatnya terhuyung kebelakang.


"Udah malem, kenapa mandi?" tanya Devan.


"Gerah," singkat Azka sambil menuju lemari pakaiannya.


"Yaudah tidur sana, kita yang jagain." kata Attaya.


"Kenapa emang?" tanya Devan.


"Kali aja tuh anak putus asa terus mau bunuh diri terjun dari jembatan!" saut Attaya tanpa dosa.


PLAK!


"Kalau ngomong gak dipikir dulu!" kesal Devan sambil memukul kepala Attata.


"Boleh tuh!" singkat Azka yang merebahkan tubuhnya diatas kasur.


"Gue bercanda kali, Ka... jangan dimasukin hati." ucap Attaya tidak enak.


"Lo sih!" kata Devan.


"Gue tahu, tapi ucapan lo ada benarnya juga, Ta!" jawab Azka sambil menatap langit-langit kamarnya.


"Ingat Azkia, Ka... jangan macem-macem!" Attaya pindah ikut berbaring diatas kasur bersama Azka.


Azka hanya diam saja, ia sudah lelah dengan semuanya. Jika bisa memilih Azka hanya ingin menjalankan apa yang ia suka dengan tanpa paksaan. Tiba-tiba Azka bangkit, melangkah membuka pintu kamar membuat Attaya dan Devan panik. Terlebih lagi mereka habis membahas soal bunuh diri.


"Mau kemana?" tanya Devan yang sudah memegang lengan Azka.


"Dapur, kenapa?" tanya Azka bingung.


Mendengar kata dapur membuat Attaya langsung terduduk sambil menatap tajam Azka. Pikiran Attaya sudah terbang kesana-kemari, antara makanan dan juga niat Azka untuk bunuh diri didapur.


"Tunggu! Lo ke dapur, bukan mau ambil pisau terus bunuh diri kan? Kaya di film-film?" tanya Attaya.


"Gak lah!" Azka menggelengkan kepalanya dengan pikiran negatif sahabatnya itu.


Azka tidak seputus asa itu sehingga ia harus bilunuh diri.


"Kebanyakan nonton film, otaknya jadi gesrek!" dengus Devan.


Devan mengikuti Azka menuju ke dapur, sedangkan Attaya tidak mau ketinggalan. Azka mengambil minum tanpa menyalakan lampu, sedangkan Devan ia mengambil beberapa snak yang ada di kulkas.

__ADS_1


"Van, Ka? Kalian dimana sih, kenapa lampunya gak dinyalain woy! Gelap ini, nanti kalau tiba-tiba ada yang muncul di depan gue gimana?" oceh Attaya sambil meraba-raba.


Tiba-tiba saja tepat di belokan kedapur muncul putih-putih yang membuat Attaya berteriak kaget.


"SETAAN!" tanpa basa-basi Attaya lari terbirit-birit menuju kamar Azka, sesekali ia menabrak kursi dan juga tembok sebelah tangga.


Azka mendekat sambil membawa segelas air ditangan kanannya, begitu juga dengan Devan yang sudah membawa beberapa snak di pelukannya. Tangan kiri Azka menyalakan saklar lampu yang tidak jauh darinya.


"Kenapa?" tanya Devan.


"Entah," jawab Azka.


"Emm itu anu den, tadi bibi habis sholat terus ketiduran... ini mau ambil minum ketemu nak Atta, mungkin dia kaget soalnya bibi masih pake mukenah," jawab bi Mira yang sudah melepas mukenahnya dan menyampirkan di bahu.


Azka dan Devan saling pandang, detik berikutnya mereka tertwa terbahak-bahak. Membuat Bi Mira menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, beliau heran apa yang membuat kedua anak muda di hadapannya bisa tertawa seperti itu.


"Maaf, memangnya bibi lucu, ya?" tanya Bi Mira.


"Hah, eh bukan bibi tapi Atta, dia pasti dah nangis dipojokan itu... soalnya dia ngira bibi ini setan!" jelaa Devan sambil terkekeh.


"Tadi juga teriak Setan, gitu." ucap polos Bi Mira yang semakin membuat Devan terkekeh.


"Ada-ada aja sih, Bi... yaudah sana kalau mau ambil minum, Azka keatas dulu." Azka melangkah menuju kamarnya diikuti Devan.


"Duluan bi, lain kali kerjain Attaya lagi, ya!" ucap Devan.


Dan benar saja Attaya tidak terlihat dimana pun, membuat Azka dan Devan harus mencarinya.


Samar-samar terdengar suara orang menangis, semakin lama semakin jelas. Devan mendengarkan dengan seksama, ia merasa suara itu dari dalam almari baju Azka.


"Lo yakin suaranya dari sini?" tanya Azka.


"Yakin, lo dengerin baik-baik." Devan menempelkan daun telinganya pada almari.


"Buka!" perintah Azka.


"Kalau setan beneran gimana?" tanya Devan sedikit ragu.


"Lari lah!" jawab Azka yakin.


"Oke, tapi lo jangan tinggalian gue!" ucap Devan, Azka mengangguk mengiyakan.


Kriett!


Devan membuka sedikit pintu almari itu, semakin terdengar jelas suara tangisan. Dengan cepat Devan membuka lebar-lebar namun matanya ia pejamkan.


"Aman?" tanya Devan.


"Aman, tuh liat aja!" ucap Azka yang berada dibelakang Devan.


Sedikit demi sedikit Devan membuka matanya, menampilkan seorang Attaya yang tengah meringkuk sambil menangis.


"Cih, gue kira setan beneran... ternyata orang yang takut sama setan bohongan," cibir Devan sambil menutup kembali pintu almari.


Sedangkan Azka sudah kembali ke tempat tidur, dalam hitungan detik ia matanya sudah terpejam. Devan yang juga merasa lelah dan ngantuk ikut tertidur disebelah Azka. Membiarkan Attaya tertidur didalam almari.

__ADS_1


...--------------------------------...


__ADS_2