
Azkia merasa khawatir karena dia tidak bisa menghubungi Azka, padahal tadi Azka sendiri yang berpesan jika Azkia sudah sampai mall harus memberi kabar kepadanya. Namun sudah sedari tadi Azkia memberi kabar tidak ada satu balasan pun dari Azka, bahkan telephone Azka saja tidak bisa tersambung. Dan entah kenapa perasaan Azkia terasa tidak tenang sama sekali, dia kepikiran Azka terus hingga membuat Devira dan juga Nayla heran karena Azkia hanya bengong saja sambil menatap layar ponselnya.
"Ki, lo kenapa sakit?" tanya Devira
"Iya lo kenapa, Ki?" tanya Nayla
"Gue cuma kepikiran sama Azka." jelas Azkia
"Kenapa?" tanya Devira
"Gak tau kenapa perasaan gak enak banget, mana kepikiran Azka mulu." jelas Azkia, terlihat jelas wajah kebingungan dan panik.
"Kangen kali, baru juga tadi ketemu." ucap Nayla yang mencoba menenangkan Azkia.
"Gak, beda bukan kangen, cuma gimana ya jelasinnya susah.... rasanya tuh gak enak banget disini." kata Azkia sambil memegang dadanya.
"Telephone aja!" ucap Devira
"Udah, Ra... dari tadi tapi gak aktif nomernya." kata Azkia yang hampir menangis, dia bingung harus berbuat apa, pasalnya hp Attaya dan Devan juga tidak bisa dihubungi. Membuat Azkia semakin gelisah, Azkia takut jika terjadi sesuatu dengan mereka.
"Yaudah kita kerumahnya aja, siapa tau Azka ada di rumah." saran Nayla.
"Bener tuh, kita coba aja kesana." kata Devira menyetujui saran dari Nayla. Azkia menurut saja, dia sudah tidak bisa berfikir jernih lagi yang ada di dalam pikirannya hanyalah Azka.
Tidak perluh waktu lama mereka bertiga sudah sampai di depan rumah Azka, dan benar saja ternyata motor Azka berada di parkiran rumah berarti dia ada dirumah. Azkia yang melihat itu sedikit tenang, namun rasa khawatirnya belum hilang sepenuhnya.
"Yaudah ayo masuk, masa mau bengong disini aja." ajak Nayla yang menyadarkan Azkia.
Azka, Attaya, Bobo dan Devan sedang berada di ruang tamu rumah Azka, mereka sedang mengobati luka memar yang ada di wajah, dan badan mereka. Attaya mengobati Bobo, sedangkan Devan sedang mengobati Azka karena mereka berdua yang wajahnya mendapatkan banyak memar.
"Iiissttt." keluh Azka saat wajahnya di bersihkan dengan alkohol.
"Sakit?" tanya Devan
"Dah tau pake nanya!" kesal Azka sambil menghindari tangan Devan yang mengobatinya.
"Pelan - pelan woy, pake perasaan dikit napa ngobatinnya." teriak Bobo karena kesakitan.
"Gue masih normal gak mau pake perasaan sama lo." ucap Attaya yang merasa kesal kepada Bobo, karena sudah diobatin masih saja mengeluh.
"Yaelah, maksutnya itu pelan - pelan ngobatinnya... bukan perasaan yang ada di hati lo. Kelamaan jomblo sih lo jadi gitu." ucap Bobo sambil mengambil kapas dari tangan Attaya, karena Bobo berniat untuk mengobati lukanya sendiri.
"Bilang lah." ucap Attaya sambil memberikan obat merah ke lengannya yang terbentur aspal tadi. Tiba - tiba saja terdengar suara dari pintu masuk membuat mereka semua kaget dan tanpa sadar menekan luka mereka.
"Assalamualaikum.." salam dari Azkia Devira dan juga Nayla.
"Isstt, lo mau ngobatin apa ngajak berantem lagi sih, Van!" kesal Azka saat lukanya di tekan oleh Devan.
__ADS_1
"Sorry, gue kaget hehe." ucap Devan tanpa dosa.
"Ehh Waalaikumsalam... kan bikin kaget jadi kemana - mana kan obat merahnya." ucap Attaya yang juga kaget pasalnya dia sedang memberikan obat merah pada tangan Azka namun karena kaget obat merah tersebut jadi kebanyakan sehingga seperti darah jika di lihat sikilas.
"Waalaikumsalam, masuk aja." ucap Azka setelah mengeluh kesakitan.
"Waalaikumsalam." ucap Bobo dan juga Devan
Kemudian mereka bertiga masuk setelah mendapat persetujuan dari yang punta rumah. Azkia sangat kaget saat melihat banyak darag di tangan Azka dan juga luka memar di pelipisnya, bahkan sudut bibirnya saja sudah bengkak dan ada sedikit darah segar yang terlihat. Devira dan Nayla juga tidak kalah kaget, pasalnya mereka berempat memiliki luka lebam semua di wajah mereka.
"Kamu kenapa, kok darahnya banyak gini? Wajahmu kenapa? Sakit gak? Kenapa gak hubungin aku?" ucap Azkia yang langsung duduk di sebelah Azka, pertanyaan Azkia yang seperti kereta api panjang sekali.
"Gak papa kok, nyun." ucap Azka yang mencoba menenangkan Azkia yang terlihat panik.
"Gak papa gimana, ini darah udah kayak gini?" ucap Azkia sambil menunjuk tangan Azka yang terkena obat merah tadi.
"Hahahaaa..." tawa Attaya dan juga Bobo karena menurut mereka sangat lucu melihat ekspresi panik dari Azkia.
"Kok kalian ketawa?" tanya Nayla
"Bener bukannya nolongin malah di ketawain." sindir Devira
"Lah kita juga nolongin, sampe kek gini." ucap Attaya sambil mengangkat tangan Azka yang terkena obat merah.
"Gara - gara kalian datangnya dadakan kek tahu bulat, kan gue jadi kebanyakan ngasih obat merahnya hahahaa..." lanjut Attaya sambil tertawa terbahak - bahak.
"Tapi wajah kalian kenapa? Tuh Bobo kenapa parah gitu muka lo?" tanya Devira yang penasaran.
"Iya kalian semua kenapa?" tanya Azkia.
"Tawuran." singkat Azka
"Hah.... kok bisa? " kaget Azkia, Devira dan Nayla
"Jadi tuh kita lagi mau pulang, terus Azka dapat telepone dari Bobo minta tolong, nah sampai disana udah banyak tuh siswa dari sekolah lain yang lagi ngeroyok Bobo... jadi kita tolongin." jelas Devan membuat mereka mengangguk.
"Mana lawan kita si Jack lagi, dia kan anak buahnya banyak... sedangkan kita cuma berempat tadi." ucap Attaya sambil mengoleskan obat ke wajah Bobo.
"Maaf." ucap Bobo sedih melihat temannya menjadi seperti ini.
"Udah santay aja, kan kita temen." ucap Azka sambil akan merangkul Bobo namun sayang tangannya juga sakit untuk di gerakkan. Bobo meraaa senang memiliki teman seperti mereka karena tidak hanya ada saat senang namun saat kesusahan pun mereka juga ada.
"Awwhhh." keluh Azka lagi.
"Mana yang sakit?" tanya Azkia panik.
"Semua." kata Azka singkat.
__ADS_1
"Ayo ke dokter, biar di kasih obat." ajak Azkia
"Gak mau!" kata Azka
"Biar cepet sembuh di kasih obat." bujuk Azkia
"Obat gue kan kamu, nyun!" ucap Azka tang membuat pipi Azkia bersemu merah.
"Dudududuu.... gak denger gue." ucap Devira sambil menutup telinganya, berlagak tidak mendengar gombalan Azka.
"Duh sakitnya pindah di mata gue ini melihat ke uwuan." kata Nayla yang juga ikut menutupi kedua matanya.
"Lo kok biasa aja, Van?" tanya Bobo kepada Devan yang hanya diam saja melihat bosnya menggombal.
"Udah gak kaget gue ma yang bucin - bucin kek gini." ucap Devan sambil mengobati lukanya juga namun tangannya di cekal oleh Devira. Kapas yang berada di gengaman Devan pun sudah beralih ketangan Devira.
"Sini gue bantuin, ngobatin luka lo." ucap Devira.
"Boleh, sekalian luka yang disini obatin juga ya." ucap Devan sambil menunjuk ke arah hatinya yang sudah lama sepi.
"Uhuukkk..."
"Kenapa, Ta? Lo mau juga? Noh sama si Nayla..." ucap Devan sambil menatap Attaya.
"Sini kalo mau di botin juga." ucap Nayla menyuruh Attaya mendekat kepadanya, sedangkan Attaya nurut saja.
"Lo ketularan bos ya jadi bucin!" kata Attaya.
"Bucin pada orang yang tepat gak masalah kan?" ucap Azka sambil memandang wanita cantik yang sedang mengobati lukanya.
"Lo tau gak nyun, lo ada disini aja rasanya luka ini udah sembuh semua... karena kamu emang obat paling ampuh yang aku punya." ucap Azkia sambil menyenderkan kepalanya di bahu Azkia.
"Cukup, kalian jangan pamer kemesraan di depan sadboy kek gue!" teriak Bobo yang tiba - tiba membuat mereka semua kaget.
"Sakit banget ya, Bob?" tanya Nayla
"Sakit gak? sakit gak? Ya sakit lah masa enggak." ucap Bobo sambil menangis sedih dengan kisah cintanya yang membuatnya menjadi sadboy.
"Sabar Bob nanti lo akan dapat yang lebih baik dari dia." ucap Devan
"Gue tau, tapi udah terlanjur sayang ternyata cuma dianggap sebatas teman saja.. mana dia udah ada pacar, kan sakit." ucap Bobo sambil menunduk lemas.
"Berarti lo harus mundur, Bob!" ucap Attaya yang ada benarnya untuk Bobo, kemudian Bobo mengangguk menyetujui ucapan Attaya.
"Yang sabar ya, Bob." ucap mereka semua.
..............
__ADS_1
Tamatin aja gmana?