Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Rujak Buah


__ADS_3

Hari ini adalah hari sabtu sehingga jam kerja hanya setengah hari saja. Azka hanya diam saja sambil menatap layar ponselnya, membuat Attaya heran dengan tingkah Azka.


"Kenapa?" tanya Attaya yang sudah beberapa hari menjadi asisten pribadi Azka.


"Hmm, gue free dia sibuk," gumam Azka.


"Samperin lah," kata Attaya sambil duduk didepannya.


"Gue gak mau ganggu dia, tapi kangen!" kata Azka jujur.


"Hilih bucin." ledek Attaya.


Yang Azka maksud adalah istrinya yang masih berada di kampus padahal ini hari sabtu. Pagi tadi Azkia mendapatkan pesan singkat, dosen pembimbingnya sedanf tidak sibuk sehingga menyuruh Azkia datang ke kapus untuk bimbingan skripsi. Tapi sampai saat ini belum ada kabar lagi yang berarti Azkia masih bimbingan dengan dosennya.


Tok tok tok


"Masuk!" titah Azka.


Terlihat wanita cantik dengan pakaian kerja yang sangat ketat atau bisa terlihat seperti kekecilan. Tangannya membawa sebuah kotak yang entah berisi apa.


"Permisi pak, saya cuma mau memberikan ini untuk bapak. Tadi kebetulan pas lewat lihat makanan ini jadi saya beli buat pak Azka." jelasnya tanpa disuruh.


Azka tidak menyauti bahkan tidak menganggap keberadaan wanita itu, sedangkan Attaya menatapnya tajam terlihat jelas dari sorot matanya jika ia tidak suka. Sedangkan yang ditatap hanya diam saja seolah tak melihat Attaya.


"Hmm," saut Azka.


"Dimakan ya pak, saya jamin ini sesuai selera bapak!" setelah berkata begitu ia mengundurkan diri.


Attaya yang penasaran langsung saja membuka kotak tersebut. Yang berisi makanan jepang, sushi.


"Wih enak nih," kata Attaya.


"Makan aja!" singka Azka sambil melirik sekilas.


"Lo gak mau?" tanya Attaya meyakinkan.


"Gak!" singkat jelas padat.


"Yaudah gue gak sungkan lagi kalau begiti," ucap Attaya yang sudah lahab memakan sushi, terlebih lagi gratis.


Azka terus saja menatap layar ponselnya, sesekali ia mengetikkan sesuatu. Hingga tiba-tiba tangannya berhenti dan menatap Attaya.


"Apa?" tanya Attaya.


"Beliin gue rujak buah doang!" pinta Azka.


"Uhuuk uhuuk uhuk!" mendengar permintaan Azka membuat sushi itu nyangkut ditenggorokannya.


Azka yang paham langsung menyodorkan gelasnya yang masih utuh. Attaya menerimanya lalu meminumnya hingga tandas.


"Makan gratisan aja pake keselek!" cibir Azka.

__ADS_1


Setelah beberapa saat Attaya mulai membaik, karena ia tersedak dengan raaa pedas yang samapi ke hidungnya. Membuat hidungnya dan tenggorokannya terasa perih.


"Gara-gara, lo ini!" ucap Attaya.


"Kok gue?" Azka menunjuk wajahnya polos.


"Lah lo bilang pengen rujak buah, kan gue jadi keselek." protes Attaya.


"Apa hubungannya rujak buah sama keselek?" tanya Attaya polos.


"Tauk ah!" geram Attaya.


"Buruan beliin!" perintah Azka sambil menatap tajam Attaya.


Dengan pasrah Attaya keluar dari kantor dan mencari keberadaan penjual rujak buah. Disiang hari yang panas menyenngat membuat pelipis Attaya sampai mengeluarkan butir-butiran keringat. Attaya sudah berkeliling dan menyusuri setiap jalan yang ia lewati tapi tetap saja tidak menemukan penjual rujak buah.


Attaya mendengus kesal baru kali ini dia kesusahan mencari sesuatu.


"Ini penjualnya pada liburan atau mudik, sih? Masa satu aja gak ada yang kelihatan batang hidungnya," kata Attaya sambil melihat sekeliling.


Dan saat sudah putus asa akhirnta Attaya menemukan penjual rujak buah yang cukup ramai. I turun dari mobilnya lalu ijut mengantri seperti yang lainnya. Haus panas menjadi satu bahkan tubuh Attaya sudah bau matahari.


Setelah sekian lama menunggu akhirnya Attaya mendapat giliran, ia memesan hingga beberapa porsi untuk dirinya sekalian.


Saat akan melajukan mobilnya tiba-tiba ponsel Attaya bergetar terlihat notifikasi pesan masuk dari Azka.


📩 Azka Kulkas


Begitulah isi pesan singkat dari Azka yang hanya dibaca oleh Attaya. Kemudian ia bergegas menancap gas menuju Cafe yang Azka sebutkan.


......................


Cafe Rindu adalah tempat tongkorngan anak muda masa kini. Tak hanya anak muda karena semua kalangan suka tempat ini, dan sampai sekarang mereka belum tahu siapa pemilik Cafe tersebut.


Didepan meja sudah ada beberapa macam makanan ringan tak lupa minuman dingin yang mereka pesan sesuai selera. Mereka bercengkerama dan tertawa bersama hingga kedatangan seseorang yang membuat mereka semakin tertawa.


BRUK!


Satu kantung kresek diletakan diatas meja bersebelahan dengan makanan lainnya. Mereka semua menoleh dan tertawa melihat kondisi seseorang.


Wajah yang terlihat kusam bahkan keringat dimana-mana. Rambut yang sudah acak-acakan, ditambah bajunya terlihat lecek. Dia langsung menghempaskan tubuhnya dikursi kosong tanpa memperdulikan yang lainnya.


"Hahahaaa!"


"Dari mana beb?" tanya pacarnya.


"Dapet gak?" tanya Azka.


"Makin jelek aja lo,"


"Ta, aman?" tanya Devan.

__ADS_1


Ya orang itu adalah Attaya yang baru saja tiba dan langsung duduk karena lelah. Mereka semua menatap heran kearah Attaya sedangkan Azka hanya bersikap biasa saja.


Azkia yang sudah pulang dari kampus pun langsung ke Cafe bersama Devira. Ia membuka kantung kresek yang dibawa Attaya karena penasaran.


"Rujak buah?" tanya Azkia sambil mematap Attaya.


"Pesenan suami, lo!" jawab Attaya sambil meminum jus entah punya siapa itu.


Mendengar itu membuat mereka semua menatap Azka dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Sedangkan Azka yang ditatap santai saja sambil memakan rujak bauhnya.


"Lo nyidam, Ka?" pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Devan.


Azka menyerkitkan alisnya tidak paham dengan perkataan Devan. Azkia kaget mendengar pertanyaan Devan begitu juga yang lainnya.


"Gak," singkat Azka.


"Terus kenapa lo suruh Atta, beli rujak buah?" selidik Devira.


"Cuma mau makan aja." empat kata itu belum bisa membuat mereka semua percaya sepenuhnya. Mau tidak mau Azka menjelaskan semuanya agar tidak terjadi kesalah pahaman.


"Jam kerja gue udah habis, nunggu istri gue lama banget bimbingannya... terus tadi pagi pas berangkat ke kantor gue lihat ada penjual rujak buah, yaudah gue nyuruh Atta buat beli. Kan enak siang-siang panas gini makan rujak buah," jelas Azka panjang.


Plok Plok!


Tanpa sadar Devan bertepuk tangan, "Baru kali ini gue denger lo ngomong panjang banget setelah sekian purna," kata Devan.


"Cih," dengus Azka.


"Lebay lo, Van!" ucap Nayla sambil terkekeh.


"Kenyataannya begitu, Nay!" jelas Devan dan diangguki mereka.


"Tapi lo beneran gak nyidam kan?" Devira memastikan. Azka menggangguk.


"Kalau lo, Ki. Lo ada mual pusing gitu gak?" tanya Nayla.


Azkia menggelengkan kepalanya, "Gak tuh!" jawab Azkia.


"Bentar kalau lo tau tempat yang jual rujak bauh kenapa gak bilang dari awal? Gue sampai harus nyusurin sepanjang jalan baru nemu ini rujak buah!" kesal Attaya yang sejak tadi diam.


"Gue lupa," ucap Azka.


"Astaga, mimpi apa gue punya bos kaya gini!" geram Attaya sambil menyandarkan tubuhnya lagi.


Mereka semua menertawakan Attaya yang kelelahan, tapi tidak dengan Azka.


"Gue kasih bonus!" tiga kata yang membuat Attaya bangkit dan semangat lagi.


"Gitu lah dari tadi, kan enak!" kata Attaya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2