Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Manja Sekali


__ADS_3

Azka mengerjabkan matanya beberapa kali, tangannya sibuk mengusap kasur disampingnya, sudah terasa dingin. Yang berarti orang disebelahnya sudah bangun.


Azka lalu membersihkan dirinya karena nanti dia akan menghadiri rapat sebuah proyek baru. Setelah beberapa menit Azka selesai mandi, ia merasa segar. Tanpa sadar Azka menyungingkan senyumnya saat melihat sudah ada tumpukan baju kerjanya yang disiapkan oleh Azkia.


"Gini ya rasanya punya istri," gumam Azka, lalu bergegas memakai baju yang sudah disiapkan.


Setelah selesai Azka menuruni anak tangga, ia melihat Azkia sedang berkutat dengan peralatan dapur. Tanpa menyapa Azka langsung saja memeluk Azkia dari belakang, membuat Azkia menjatuhkan sayur yang baru saja ia cuci.


"Astaga, Azka!" kaget Azkia.


Cup!


Azka mencium pipi kiri Azkia, lalu membisikan sesuatu, "Hukuman!"


"Hukuman apa?" tanya Azkia.


"Kamu lupa perjanjian kita kemarin malam?" tanya Azka sambil mengeratkan pelukannya.


"Perjanjian yang mana, lepasin dulu aku mau masak," pinta Azkia sambil melepaskan tangan Azka yang melingkar erat dipinggangnya.


Azka menempelkan dagunya dibahu Azkia, ia tidak melepaskan pelukan itu. Karena pelukan itu semakin erat.


"Mulai sekarang harus panggil hubby atau sayang atau suamiku! Gak boleh panggil nama langsung," kata Azka.


"Tapi kan," protes Azkia.


"Suutt! Aku gak menerima penolakan apapun, tinggal pilih aja nurut atau dapat hukuman," kata Azka sambil mencium telinga Azkia sekilas.


Azkia yang mendapatkan perlakuan seperti itu langsung saja menghentikan kegiatannya, badannya sudah membeku.


"I-iya, iya suamiku sayang yang paling ganteng sedunia.. bisa tolong lepasin dulu?" tanya Azkia sambil melihat tangan Azka.


"Bisa," saut Azka cepat, "Tapi cium dulu," lanjutnya sambil menunjuk pipinya sendiri.


Mau tidak mau akhirnya Azkia menuruti permintaan Azka untuk menciumnya.


Cup!


Kecupan itu sangat cepat, bahkan sampai Azka belum sempat berkedip. Dengan cepat Azka membalik tubuh Azkia agar berhadapan dengannya. Lalu dia menarik tengkuk Azkia agar mendekat, Azka mulai menempelkan bibirnya pada bibir Azkia. Lalu Azka bermain disana cukup lama, membuat Azkia kehabisan nafas.


"Kenapa main nyosor aja sih," gerutu Azkia sambil menjauhkan tubuh Azka.


"Gak terasa, Nyun!" kata Azka sambil memgambil gelas dan mengisinya dengan air putih.


"Lain kali yang lama, jangan kaya lalat... nemplok bentar langsung terbang lagi," lanjut Azka.


Sedangkan Azkia tidak menanggapi ocehan sang suami, ia lebih memilih memasak omelete sayur untuk sarapan mereka berdua. Karena bik Mira baru datang siang nanti.

__ADS_1


"Kok sepi, mama sama papa masih dikamar, ya?" tanya Azka yang sudab duduk ditempatnya.


"Mama sama papa udah berangkat tadi subuh, kamu sih dibangunin susah banget!" gerutu Azkia sambil menata omelet dipiring Azka dan dirinya sendiri.


"Hehe maaf," ucap Azka tanpa dosa.


Makanan sudah siap diatas piring namun Azka tetap tidak menyentuhnya sama sekali, ia hanya menatap sang istri yang sedang sarapan.


"Kenapa?" tanya Azkia.


"Gak suka sama masakan aku? Yaudah gak usah dimakan aja," keaalnya karena Azka tidak menyentuhnya sama sekali.


Azka mendorong piringnya agar dekat dengan piring Azkia, sekilas Azkia menatap piring dan Azka secara bergantian.


"Suapin," ucap Azka dengan nada manja. Membuat Azkia hampir twrsedak.


"Kan bisa makan sendiri, buruan dimakan nanti terlambat loh," kata Azkia sambil mendorong kembali piring milik Azka.


Azka hanya diam saja sambil melipat tangannya didepan dada, bahkan dia mengabaikan ucapan Azkia. Azkia memarik nafasnya kasar.


"Yaudah sini, buka mulutnya," ucap Azkia pasra.


Azkia menyendokkan nasi beserat omelet lalu meniupnya sebentar sebelum disuapkan kemulut Azka.


"Uluh-uluh anak ciapa ini, minta disuapin... ayo aaa." Azkia menyuapi sang suami seperti menyuapi anak kwcil. Tapi Azka tidak marah dengan hal itu, dengan lahab ia menerima setiap suapan Azkia.


Jujur baru kali ini ia melihat Azka semanja ini, biasanya Azka akan bersikap manja jika sedang sakit saja. Tapi hari ini tidak, oh bisa dibilang sejak mereka menikah Azka semakin manja dengan Azkia.


"Suami kamu ini," katanya sambil sedikir cemberut.


"Iya, suamiku sayang yang paling manja sedunia," ucap Azkia sambil terkekeh.


"Gak masalah, yang penting kamu cinta!" kata Azka dengan percaya diri.


"Gak kok, aku gak cinta tuh." goda Azkia, ia langsung mendapat tatapan tajam dari Azka.


"Yakin gak cinta? Terus yang nangis-nangis dibandara sampai gak perduli sama penampilannya yang udah berantakan itu siapa?" tanya Azka.


"Ihh, gak usah diinget juga yang akunya jelek kaya gitu!" protes Azkia.


"Dimataku kamu tetap cantik, mau bagaimana pun penampilanmu," ucap Azka sambil mencium pipi kanan Azkia.


"Biar gak iri pipi yang sebelah hehe," kata Azka sambil meninggalkan Azkia sendirian didapur.


Deg!


Deg!

__ADS_1


Deg!


Jantung Azkia sudah tidak bisa dikondisikan lagi dengan semua tingkah Azka yang tiba-tiba seperti itu. Bahkan ia sampai bisa mendengar detak jantungnya sendiri.


Setelah semua drama pagi itu selesai, kini Azkia memutuskan untuk berangkat ke kampus begitu juga dengan Azka yang akan ke kantor.


"Ayo!" ajak Azka.


"Kemana?" tanya Azkia bingung.


"Katanya mau ke kapus, sekalian aja," ajak Azka.


"Gak usah aku pakai mobil sendiri aja," tolak Azkia.


"Gak mau? Gak usah kuliah aja!" ucap Azka tegas.


"Seorang istri itu harus nurut sama suaminya," cibir Azka.


Azkia yang mendengar itu hanya bisa menggerutu didalam hatinya. Azka semakin menjadi Azka yang bucin tapi posesif. Sungguh sangat menyikaa Azkia jika Azka sudah begini.


"Iya udah ayo, sebelum dosen pembimbing aku pergi!" ajak Azkia.


"Nah gitu dong nurut, kan cantik," kata Azka sambil mengusap pucuk kepala Azkia.


Setelah beberapa menit berlalu mereka berdua sampai didepan kampus Azkia. Sebenarnya Azka sudah menawarkan mengantar sampai didalam fakultas namun Azkia menolaknya.


"Yaudah aku kuliah dulu, ya!" Azkia mengulurkan tangannya untuk menyalami Azka.


"Iya hati-hati, jangan nakal." Azka menerima uluran tangan Azkia, lalu Azkia mencium punggung tangan Azka.


"Kapan aku pernah nakal," protes Azkia sambil mengerucutkan bibirnya.


"Bibirnya digituin minta dicium ya?" tanya Azka.


"Ihh, apaan sih! Gak ya," ucap Azkia cepat.


Azka hanya terkekeh melihat wajah kesal Azkia, sebelum Azkia membuka pintu mobil, Azka menariknya.


Azka lalu mencium pucuk kepala Azkia cukup lama, "Kuliah yang bener, nanti kalau pulang aku jemput!"


Perkataan Azka membuat Azkia tersadar dari kenyamanan itu.


"Iya, kamu juga jangan tebar pesona sama bawahan kamu," ucap Azkia.


"Itu tidak akan pernah terjadi," jawab Azka.


Kemudian Azkia keluar dari dalam mobil, sebelum memasuki area kampus Azkia sempat menoleh kebelakang dimana Azka belum beranjak dari tempatnya.

__ADS_1


Azkia melambaikan tangannya pada Azka seperti anak kecil. Membuat Azka tersenyum bahagia. Setelah punggung Azkia tidak terlihat lagi, Azka memutuskan untuk segera pergi ke kantor.


...----------------...


__ADS_2