
Langit pun berwarna gelap seolah mengerti apa yang sedang Azkia rasakan. Azkia terus berlari hingga diparkiran mobil. Air matanya sudah tidak dapat terbendung lagi, ia menangis sejadinya. Untung saja parkiran saat ini terlihat sepi.
"Kenapa lo lakuin ini sama gue, Ka?" tanya Azkia disela-sela isak tangisnya.
"Gue gak nyangka, padahal gue udah percaya sama lo!" lanjut Azkia lagi.
Hujar deras membasahi bumi dan juga Azkia, ia masih diposisi semula tidak menghiraukan badannya yang sudah basah kuyup dengan air hujan.
"Nyun!" panggil Azka yang berhasil menemukan Azkia dibawah rintik hujan.
Azkia tidak menghiraukan Azka, ia masih berjongkok sambil memegangi kedua lututnya.
"Hey, Nyun!" panggil Azka sambil memegang kedua lengan Azkia.
"Semua yang kamu lihat tadi gak seperti apa yang kamu pikirin!" kata Azka sedikit berteriak agar Azkia bisa mendengarnya, hujan yang cukup deras ini membuat pendengaran sedikit berkurang.
"Hahaa, lo bilang gak sepetinapa yang aku pikirin? Padahal aku udah liat jelas dengan mata kepalaku sendiri!" bentak Azkia sambil selangkah mundur dari Azka.
"Gue bisa jelasin semua, Nyun! Dengerin gue!" pinta Azka.
"Gak, udah gak ada yang bisa dijelasin lagi... kalo lo mau sama Siska sana balik lagi sama dia, batalin perjodohan kita!" entah kenapa jika menyangkut Siska, Azkia selalu tidak rela.
Saat Azka meminta izin untuk menjenguk Siska sebenarnya Azkia tidak rela tapi karena demi kemanusiaan dan enggan dianggap egosi, Azkia mengizinkannya.
Dan lihatlah sekarang, Azkia tidak mamlu menahan emosinya lagi. Ia tidak mampu menahan kecemburuannya saat melihat Siska mwmeluk erat tunangannya.
"Lo ngomong apa? Gue gak akan batalin perjodohan itu!" bentak Azka.
"Lo gak mau? Gue mau, biar lo bisa bahagia sama nenek lampir itu!" bentak Azkia, untung saja sedang hujan jadi tidak terlihat jika ia sedang menangis.
Azka melangkah maju, dengan cepat ia membawa Azkia dalam pelukannya.
"Gue gak akan batalin perjodohan ini, gue udah cinta mati sama lo, Azkia!" ucap Azka tepat ditelinga Azkia.
Dengan sekuat tenaga Azkia berusaha berontak, ia tidak ingim dipeluk oleh Azka karena mengingatkannya dengan kejadian tadi.
"Kalo lo cinta sama gue, kenapan lo pelukan mesra banget sama Siska?" tanya Azkia smabil mendorong dada bidang Azka.
"Dia janji gak bakalan ganggu gue lagi, dia janji buat lupain gue... dan dia minta dipeluk untuk terakhir kalinya!" jelas Azka.
__ADS_1
"Gue terpaksa tururin itu, kalo gak dia akan tetao gangguin kita!" lanjut Azka sambil mendekat kearah Azkia.
"Jangan bohong!" gertak Azkia.
"Gue gak bohong, Nyun! Gue gak ada peluk dia balik, kalo lo gak percaya lo tanya aja sama dia langsung!" teriak Azka.
Azkia mencoba mengingat saat dia masuk kedalam memang benar tangan Azka hamya diam saja tanpa membalas pelukan itu.
Tapi tetap saja Azkia tidak suka dengan perbuatan itu.
Azka mendekap erat Azkia lagi, kali ini Azkia tidak berontak seperti tadi. Azkia sudah mulai luluh dan percaya dengan ucapan Azka. Azkia melingkarkan lengannya dipinggang Azka, wajahnya ia benamkan didada bidang Azka. Azkia menangis sambil memeluk erat Azka, ia tidak ingin kehilangan Azka sedikitpun.
"Gue janji gak akan gitu lagi, Nyun! Jangan marah lagi, oke?" ucap Azka lembut.
Azkia hanya menganggukkan kepalanya.
"Dan satu hal lagi, jangan pernah berfikiran untuk membatalkan pertunangan ini... karena aku mau kamu satu-satu orang yang akan menjadi pendamping hidupku," ucap Azka sambil menangkupkan kedua tangannya di pipi Azkia.
Azkia mengangguk sambil menatap wajah Azka yang terguyur hujan. Sejujurnya ada rasa menyesal dihati Azkia saat ia mengatakan akan membatalkan pertunangannya.
Azka menatap lekat wajah Azkia begitu juga dengan Azkia. Perlahan wajah Azka mendekati wajah Azkia. Hingga hanya terisisa beberapa centi saja, mata Azkia perlahan menutup seolah mengizinkan apa yang akan Azka lakukan selanjutnya.
Azka pun melakukan hal yang sama, ia menutup matanya. Mendekat sedikit lagi hingga satu kecupan mendarat tepat dibibir tipis Azkia yang sudah terasa dingin karena guyuran hujan.
Walaupun begitu ini pertama kalinya untuk mereka berdua. Azka beralih ke kening Azkia, ia mengecup kening Azkia cukup lama. Untung saja karena hujan deras sehingga tidak akan ada yang mengetahuinya kecuali langit dan hujan yang turun sebagai saksi.
"Ayo pulang, bibirmu udah pucat!" suara Azka menyadarkan Azkia.
"A-ayo!" Azkia tidak meyangka Azka akan melakukan hal itu, walaulum belum sepenuhnya tapi sudah membuat hati Azkia berdebar. Jika boleh Azkia akan pingsan saat ini juga.
Azka mengambil motornya, sudah terlanjur basah sehingga mereka meneruskan perjalanan pulang. Hening, hanya suara hujan yang menemani perjalan mereka pulang kerumah.
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, akhirnya mereka sampai dirumah Azkia. Canggung itulah yang mereka rasakan saat ini.
"Bodoh! Kenapa gue lakuin itu!" batin Azka mengutuk dirinya sendiri.
"Kenapa pake acara merem segala sih tadi," batin Azkia.
"Gue—"
__ADS_1
"Ak—" ucap mereka bersamaan.
"Duluan!" perintah Azka.
"Kamu aja duluan," tolak Azkia.
"Hmmm, yaudah buruan gih masuk mandi air anget... aku pulang dulu, nanti kalo udah sampai aku kabarin." Azka mulai menyalakan motornya.
"Iya kamu juga," ucap Azkia sebisa mungkin agar tidak terlihat canggung.
"Jangan sampai sakit, Nyun! Pulang dulu." Azka mengacak rambut Azkia lalu mengegas motornya menjauhi halaman rumah Azkia.
Azkia masih saja bengong, ia masuk setelah mendengar suara sang mama. Azkia bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.. Sekitar dua puluh menit Azkia sudah selesi mandi, dengan handuk yang dililitkan dikepalanya untuk membungkus rambut yang basah.
Azkia duduk didepan meja riasnya, ia menatap bibirnya. Lalu perlahan menyentuhnya, merasakan kembali kecupan tidak langsung Azka tadi. Membuat Azkia tersenyum sendiri.
"Aarrhhhh, gue bisa gila ini!" Azkia merebahkan dirinya diatas kasur.
"Bibirnya dingin, kaya lagi minum es... untunv cuma kena dikit, kalo gak ada jarinya udah jadi es kalinya bibirku." gumam Azkia.
Setelah menyadari perkataanya sendiri, membuat Azkia malu. Ia berguling kesana-kemari diatas kasur big sizenya.
"Astaga! Kenapa pikiran ku kotor banget sih!" gerutu Azkia.
"Hus pergi sana jauh-jauh, pikiranku jadi traveling gak jelas!" ucap Azkia sambil mengibaskan diatas kepalanya yang seolah memutar kembali kejadian dibawah guyuran hujan tadi.
"Arreghhhh! Azka lo buat gue gila!" teriak Azkia. Untung saja kamarnya kendap suara sehingga tidak ada yang mendengar teriakan itu.
Tring!
Satu pesan chat masuk kedalam ponsel Azkia, dengan cepat Azkia menyambar ponselnya melihat siapa yang mengiriminya pesan.
Sudut bibir Azkia terangkat naik saat membaca isi pesan itu.
📨Azka.
"Nyun, aku dah sampai rumah...mau mandi setelah itu makan, kamu jangan lupa makan ya... yang banyak biar gendut, gak lucu kan kalo tunanganku badannya tulang doang hehe.." begitulah isi pesan daei Azka yang membuat Azkia senyum-senyum sendiri.
Baru kali ini Azka mengirimkan pesan singkat yang panjang seperti itu. Biasanya hanya beberapa kata saja yang sulit dipahami.
__ADS_1
Setelah membalas pesan dari Azka, Azkia meletakkan ponselnya diatas nakas. Ia turun kebawah untuk meminta sang mama membuatkannya semangkuk mie dengan telur setengah matang.
..........................................................