
Treett teed teedd
Bel tanda masuk pun sudah berbunyi, namun belum kelihatan tanda - tanda dari Azka menampakan batang hidungnya. Devan dan Attaya gelisah, mereka berdua mondar mandir di depan pintu kelas, karena dari kemaren Azka tidak bisa di hubungi membuat mereka berdua menjadi khawatir.
"Azka mana kok belum datang?" tanya Attaya pada Devan yang masih sibuk menelephone Azka.
"Gak tau, gak di angkat sama sekali dari semalem gue telephone in.." sambil menunjukkan layar hp nya yang masih memanggil Azka.
"Kalian kenapa ?" tanya Azkia yang penasaran melihat Devan dan Attaya kebingungan.
"Ini si Azka dari kemaren gak bisa di hubungin.." jelas Attaya
"Kok bisa?" tanya Azkia karena kemaren Azka kan dari rumahnya dan di anter pulang sama Pak Sam.
"Mana gue tahu, gue kan ikan.." ucap Devan sambil menaikkan kedua bahunya tanda tidak tahu.
"Mana ada ikan bisa ngomong.." kesal Azkia sambil cemberut.
"Jangan - jangan Azka beneran di culik tante - tante.." tebak Attaya
"Heh bisa jadi, kan kemaren dia bilang lagi di culik tante - tante.." ucap Devan sambil menganggukan kepalanya.
"Kemaren? Tante - tante? Mama gue dong.. Wah kurang ajar nih si Azka, ngajak ribut ini.." batin Azkia.
"Yaudah nanti kalian cek aja di rumahnya, kali aja udah dirumah kan.." saran Nayla yang mendengar percakapan mereka tadi.
"Boleh juga tuh.." seru Attaya sambil meminta saran kepada Devan, dan Devan pun menyetujuinya.
"Sapa tau udah di pulangin tuh sama tante - tantenya hahaha..." canda Nayla
"Husssttt kalo ngomong suka bener aja!" kata Devan
"Hahaa.. Kalo gue jadi tante - tante yang bawa Azka gak bakalan gue pulangin tuh anak..." canda Attaya
Kemudian Pak Basuki pun sudah datang, mereka semua mengikuti pelajaran seperti Biasanya. Hari senin ini memang tidak ada upacara bendera di karenakan hujan.
__ADS_1
Azkia tidak memperhatikan sama sekali materi yang di bicarakan olek Pak Basuki, dia lebih fokus pada bangku kosong di sebelahnya. Entah kenapa Azkia merasa sepi jika tidak ada Azka yang selalu mengganggunya.
"Azkiaa Aghata..." teriak Pak Basuki, karena Azkia yang di panggil sama sekali tidak meyaut bahkan masih saja bengong. Kedua temannya pun sudah memanggilnya namun di abaikan saja.
"Azkiaa...!!" Ulang Pak Basuki
"Eh iya pak kenapa?" tanya Azkia polos tanpa dosa.
"KELUAR SEKARANG..!" bentak Pak Basuki sambil menujuk ke arah pintu keluar.
"Tapi kenapa?" tanya Azkia
"K E L U A R !" eja Pak Basuki agar Azkia memahami maksutnya itu.
Dengan bingung Azkia kelaur dari kelas dan berdiri di sebelah pintu, dia heran kenapa di suruh keluar padahal dia diam saja tidak berbuat ulah. Pikiran Azkia masih bergelut dengan kebingungannya itu.
Pak Basuki adalah guru yang paling kiler diantara guru kiler lainnya, perkataannya tidak bisa di bantah sama sekali. Beliau adalah salah satu guru yang paling di segani oleh guru lainnya.
............
Tirai jendela Azka perlahan di buka, menampakkan gerimis yang membasahi bangunan dan juga tanaman. Azka masih terbaring di atas tempat tidurnya, menarik selimutnya sampai menutupi seluruh badannya. Panasnya sudah mulai menurun, namun badannya masih terasa ngilu dan sakit.
Perlahan ada tangan yang membelai kepala Azka dengan lembut, suara yang Azka rindukan kini terdengar lembut di telinganya. Namun Azka menyangkalnya, dia berfikir ini pasti mimpi efek dari sakitnya. Tapi suara itu terdengar sangat nyata memanggil namanya berulang kali, menyuruhnya bangun dan sarapan.
"Azka sayang, bangun yuk sarapan terus minum obat.." katanya lembut penuh kasih sayang.
"Yuk bangun sayang, sarapan.."
"Azka bangun yaa, ini udah mama buatin bubur kesukaan kamu kalo lagi sakit.. Yuk bangun sarapan dulu, nanti kalo dingin gak enak loh.." suara lembut yang terus mencoba membangunkan Azka
Perlahan selimut yang menutupi wajah Azka di tarik ke bawah, dan nampaklah seorang wanita cantik yang sedang duduk di sebelah ranjang Azka sambil membawa semangkuk bubur. Tak lupa air putih dan juga obat yang diberikan dokter semalam tertata rapi di nampan sebelah mangkuk bubur.
Azka masih tidak percaya jika yang di hadapannya ini adalah mamanya, karena Bibi kemaren sudah memberitahunya jika orang tuanya masih minggu depan baru kembali. Terus siapa yang berada di depan Azka saat ini? Apakah Azka sedang berhalusinasi? Dengan pelan Azka mengangkat tangannya dan menyentuh pipi mamanya itu.
"Mama..?" tanya Azka memastikan
__ADS_1
"Iya sayang ini mama.." ucap Mama sambil memegang tangan Azka.
"Bukannya mama minggu depan baru balik?" tanya Azka memastikan.
"Iya, tapi semalam Bibi menelephone memberitahu kami jika kamu sedang sakit.. Makanya mama sama papa buru - buru balik.." jelasnya sambil menyendokan bubur dan meniupnya perlahan agar Azka tidak kepanasan.
"Ohh..."
"Ayoo aaaa..." ucap mama sambil menyupi Azka.
"Azka bisa makan sendiri mah..." tolak Azka
"Iya mama tau, tapi Azka kan lagi sakit jadi mama aja yang suapin ya.. Tapi kalo Azka udah punya pacar biar pacar Azka yang suapin Azka nanti.." ucap mama menggoda Azka.
"Uhuuukkk..."
"Ini minum dulu.. Masa gitu aja keselek sihh..?" tanya mama sambil memberikan segelas air putih.
Azka menerima segelas air putih dan meminumnya, kemudian Azka menghabiskan semangkuk bubur itu walaupun hambar yang di rasakan Azka. Dan dengan terpaksa menerima suapan demi suapan yang mamanya berikan karena mamanya melarang Azka makan sendiri. Setelah habis sarapan, Azka minum obatnya walaupun susah Mamanya terus saja memaksa Azka agar cepat sembuh katanya.
Setelah itu Azka terlelap lagi dalam mimpinya, ya obat itu mempunyai efek sampaing yaitu dapat menyebabkan kantuk. Jadi setelah meminum obat Azka tertidur lagi, Mamanya membenarkan selimut yang dikenakan Azka agar menutubi tubuh Azka.
Tiba - tiba saja handphone mama berbunyi, memberitahukan jika ada masalah di cabang yang ada di Bali. Yang mengharuskan kehadirannya untuk menyelesaikan masalah itu, bagimana lagi mau tidak mau mama Azka harus pergi lagi padahal dia baru sampai beberapa jam yang lalu.
"Maafkan mama sayang, mama harus menyelesaikan masalah yang ada di Bali.. Mama janji akan cepat pulang.. Kamu cepet sembuh ya, jaga diri baik - baik.. Mama sayang Azka.." ucap mama Azka sambil mencium kening Azka.
Ternyata di lantai bawah papa sudah menunggu dari tadi, papa juga menerima telephone soal masalah yang ada di Bali. Mau tidak mau mereka harus terbang ke Bali hari ini juga, sebenarnya berat meninggalkan Azka yang sedang sakit seornag diri hanya dengan bibi tapi mau bagaimana lagi, tuntutan pekerjaan yang mengharuskan orang tua Azka menyelesaikan semua masalah itu apalagi usaha itu yang nantinya diberikan kepada Azka.
Sebelum berangkat papa meminta bibi untuk menjaga Azka, jika terjadi sesuatu dengan Azka harus segera mengabarinya. Ini lah yang membuat Azka merasa kesepian, orang tuanya sibuk dengan pekerjaan mereka dan meninggalkan Azka yang sedang sakit.
.
..."Sosok lembut yang selalu menenangkan hati..Ibu.."...
.
__ADS_1
Lanjut gak ini ?