Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Masih Kangen


__ADS_3

...Izinkan aku menjadi salah satu alasan kenapa kamu harus tersenyum...


...~е н~...


................................................................................................


Azkia menghempaskan badannya diatas kasur lelah dan pusing itulah yang dia rasakan sekarang ini. Setelah beberapa saat Azkia bangkit dan dengan langkah berat dia menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Tidak butuh waktu lama Azkia kini sudah segar dengan mengenakan pakain santainya. Ia segera turun ke bawah untuk mengambil beberapa es, namun langkahnya terhenti saat seseorang menyapanya.


"Sore - sore minum es?" sindirnya.


Azkia membalikkan badannya dan melihat siapa yang sedang berbicara, ternyata Axel sudah berdiri disebelah kulkas dengan tangan yang ia masukkan ke kantong celananya.


"Biarin." jawab Azkia sedikit judes.


"Nanti flu loh, kan keseringan bareng sama yang dingin - dingin itu tambah ini minum es." canda Axel sambil terkekeh.


"Halah, yang dingin itu nyegerin tau gak!" kata Azkia sambil menaruh beberapa potong es kedalam mangkuk.


"Emang dan bikin penasan." kata Axel mengambil buah diatas meja makan.


"Tuh tau, sikapnya dingin hatinya hangat." ucap Azkia sambil melangkah menuju kamarnya.


"Yang udah kena virus cintanya si manusia es haha." tawa Axel memenuhi ruangan itu.


"Cih, mama kemana bang?" tanya Azkia.


"Arisan, kenapa mau ngikut?" tanya Adel.


"Nanya doang yaelah." Azkia sedang malas berdebat dengan Axel, dia lebih memilih kembali ke kamarnya untuk mengompres jidatnya yang sedikit bengkak.


Saat Azkia tengah sibuk dengan jidatnya, ponselnya terus berdering menandakan ada panggilan masuk. Dengan cepat Azkia menggeser tombol hijau itu, ternyata panggilan vidio.


"Lagi ngapain?" tanya Azka diseberang sana. Dialah yang menelpone Azkia saat ini.


"Ini jidat aku bengkak dikit." keluh Azkia.


"Kok bisa?"


"Tadi tuh pas pulang kan lewat lorong yang deket lapangan basket, terus tiba - tiba kena bola basket." jelas Azkia, dia menceritakan semua kejadian yang ia alami tadi kepada Azka.


"Sakit gak, perlu ke rumah sakit?" tanya Azka.


"Gak, gak usah... tadi katanya suruh kompres es aja biar bengkaknya ilang." ucap Azkia.


Diseberang sana Azka menaikkan sebelah alisnya, dilayar ponsel itu terlihat wajah Azka yang seolah bertanya siapa?


"Kata siapa?"


"Kevin."


"Dia siapa?" tanya Azka.


"Orang yang udah bikin jidat aku kaya gini." ucap Azkia sambil memanyunkan bibirnya.

__ADS_1


"Kevin, jangan bilang orang itu." batin Azka.


"Datar amat mukanya bang!" canda Azkia sambil terkekeh.


"Terus mau gimana?" tanya Azka.


"Senyumlah, gini nih." kata Azkia sambil mempraktekan senyumannya.


"Gini?" tanya Azka sambil tersenyum manis.


Blush


Seketika pipi Azkia memerah saat Azka mengikutinya untuk tersenyum manis.


"Kenapa? Kena bola basket jadi demam?"


"Ga-gak." ucap Azkia sambil memalingkan wajahnya.


"Terus kenapa pipinya merah?" tanya Azka polos.


"Ini kan gara - gara kamu aku blushing." gumam Azkia.


"Ngomong apa?" tanya Azka yang tidak jelas mendengar suara Azkia.


"Gak kok." ucap Azkia sebisa mungkin menetralkan wajahnya.


Dilayar ponsel itu terlihat Azka mengambil gitar yang berada di sebelahnya, ponsenya ia taruh di depannya. Sehingga terlihat jelas Azka sedang duduk dikursi dibelakangnya terlihat ada kasur yang lumayan besar.


"Mau apa?" tanya Azkia melihat Azka yang sudah memegang gitar di depannya.


"Maaf gak punya receh, mas!" ucap Azkia sambil terkekeh.


"Siap menerima debit hehe." tawa Azka memenuhi ruangan itu.


"Astaga ini anak hahaa."


Azka mulai memainkan gitarnya membuat Azkia menghentikan aktifitasnya yang sedang mengompres jidat. Dia lebih memilih memperhatikan Azka yang sedang bernyanyi.


"Hei pujaan hati... setiap malam aku berdoa kepada sang Tuhan." nyanyi Azka sambil menatap Azkia.


Azkia hanya diam sambil tersenyum salah tingkah, hatinya yang terasa kesal mulai hilang begitu saja. Suara Azka bagaikan sihir yang mampu membuat hatinya merasa nyaman.


"Berharap cintaku jadi kenyataan... agar ku tenang meniti kehidupan." Azka ikut tersenyum saat mendapati Azkia juga tersenyum kepadanya.


"Pujaan hati.. pujaaan haattiii."


Prok prok


Terdengar suara tepuk tangan dari Azkia, dengan senyuman yang terus menghiasi sudut bibirnya itu.


"Bagus, lagi dong lagi." pinta Azkia.


"Mau pake dabit apa tunai?"


"Apanya?" tanya Azkia bingung.

__ADS_1


"Kan aku lagi ngamen, masa suruh nyanyi doang." kata Azka diseberang sana.


"Emmm, kamu kan gak butuh uang... gimana kalau aku masakin aja? Mau gak?" tanya Azkia.


"Boleh." jawab Azka sambil mengangguk.


"Oke, besok aku masakin nasi goreng spesial." kata Azkia sangat antusias, hingga Azkia melupakan satu fakta bahwa dia belum bisa memasak.


"Aku tunggu." ucap Azka.


"Eh udah sore, sana mandi dulu nanti keburu dingin." perintah Azkia.


"Nanti aja." tolak Azka sambil memainkan gitarnya.


"Nanti dingin loh.. jangan nanti - nanti lah kalo disuruh, emangnya kenapa gak mau mandi sekarang?" kesal Azkia karena Azka tidak menurut kepadanya.


"Masih kangen." jawaban Azka yang lagi - lagi membuat hati Azkia berbunga - bunga.


"Duh, lama - lama kaya gini jantung gue gak kuat." batin Azkia sambil menepuk - nepuk pelan pipinya.


"Dah ah aku matiin dulu vidio callnya, kamu bau wlee." ledek Azkia.


"Bye-bye, awas kalo gak nurut!" lanjut Azkia sambil menekan tombol merah pada layar ponselnya. Bahkan dia tidak mengizinkan Azka menjawab perintahnya.


Azkia berjalan menuju balkon kamarnya terlihat warna jingga bersemu keunguan menghiasi langit sore. Azkia memejamkan matanya menikmati setiap hembusan angin yang menyapu wajahnya, hangatnya mentari sore dibiarkan mengenai kulit putihnya itu.


"Ini tadi hari apa sih, kok dia sweet banget." gumam Azkia.


"Ih jadi gemes kalo inget mukanya pas senyum tadi." ucap Azkia sambil membayangkan wajah Azka saat tersenyum manis.


Tiba - tiba saja ada yang mengganggu ketenangan yang Azkia rasakan saat ini.


Tuk!


Sebuah shuttlecock mendarat mulus dijidat Azkia, membuatnya menggeram kesakitan karena mengenai lukanya yang terkena bola basket.


"Sorry, dek!" teriak seseorang dari bawah yang tak lain adalah Axel.


"Cih, ini jidat bukan lapangan... kenapa jadi tempat mendarat mulu sih dari tadi." kesal Azkia.


"Bisa main gak sih!" ucap Azkia sambil melemparkan shuttlecock kearah Axel.


"Namanya juga gak sengaja, lagian kamu ngapain bengong disitu... kesambet baru tahu rasa!" teriak Axel.


"Sini turun ikutan main badminton." ajak papa Bima.


"Gak mau, nanti jidat Kia kena lagi." teriak Azkia sambil berbalik masuk kedalam kamarnya.


"Kamu sih bang, kan ngambek itu adekmu." ucap Bima.


"Kan gak sengaja, Pah." ucap Axel sambil service ke arah Bima.


Sedangkan Azkia ia lebih memilih berbaring di kasurnya sambil melihat foto - fotonya saat liburan, sesekali ia tertawa sendiri saat mengingat kejadian yang ada di dalam foto tersebut.


......................................

__ADS_1


Jangan lupa gift sama votenya ya! Gomawo!


__ADS_2