
"Bisa sopan gak?" terdengar suara bariton yang memecahkan keheningan ruangan itu.
Dengan terpaksa Azka menurunkan kakinya dari atas meja, tangannya terlipat di depan dada.
"Langsung aja," ucap Azka.
Tangan Yudha memberikan isyarat kepada sekretarisnya untuk meninggalkan mereka berdua didalam ruangan.
Yudha membuka jas yang sedang ia kenakan menyisihkan kemeja berwarna hitam. Dasi yang terpasang rapi sedikit ia kendurkan agar tidak terlalu sesak.
"Minggu depan kamu akan bertemu dengan perempuan yang papah jodohkan denganmu," kata Yudha.
"Gak mau!" tolak Azka.
"Papa gak terima penolakan apapun dari kamu, Ka!" seru Yudha sambil menatap tajam anak semata wayangnya itu.
"Azka bisa cari pasangan sendiri, gak usah di jodoh-jodohin segala... ini udah bukan jamannya perjodohan!" kesal Azka.
"Terserag mau ngomong apa, yang jelas minggu depan kamu harus ketemu sama calonmu... orang tua dia juga sudah setuju dengan perjodohan ini," ucap Yudha.
"Kenapa? Kenapa semua hal papa yang atur, sampai soal pasangan hidup Azka papa juga mau ikut campur!" ucap Azka dengan nada yang jelas sekali terlihat marah.
"Ini semua demi kebagikan kamu, pilihan papa tidak akan pernah salah " ucap Yudha.
"AZKA MAU MENIKAH DENGAN PILIHAN AZKA SENDIRI, ORANG YANG AZKA CINTAI!" teriak Azka menggema diseluruh ruangan Yudha.
Untung saja ruangan itu kedap udara sehingga orang luar tidak akan bisa mendengar pembucaraan mereka.
Yudha memegang pelipisnya yang terasa pening mendengar tolakan Azka, entahlah harus bagaimana lagi Yudha membujuk Azka agar dia mau menikah dengan anak sahabatnya waktu SMA dulu.
"Kamu kan belum ketemu sama dia, jangan langsung menolak begitu saja... papa yakin kamu akan suka sama dia, anaknya ceria, cantik manis gak aneh-aneh... cocok sama kamu." Yudha menghaluskan nadanya agar Azka mau menuruti perintahnya.
"Azka gak mau, sekalinya gak ya gak!"
"Kamu harus nurut sama papa, atau kamu papa pindahin ke luar negri ikut om kamu!" ancam Yudha.
"Kalo gue diluar negeri perjodohan batal tapi gue bakalan jauh dari Kia, mana bisa gue jauh dari dia... tapi kalo gue tetep disini perjodohan tetap berlangsung, aaaarrrgghhh!" batin Azka sedang bergelut kebingungan.
"Paahhh!" kesal Azka.
"Turuti apa yang papa bilang, jangan lupa dari sekarang belajarlah sedikit-sedikit mengenai perusahaan ini... karena nantinya ini semua kamu yang mengurus." nasehat Yudha.
"Azka gak mau di jodohin, Azka udah punya pacar!" ucap Azka.
Mendengar itu Yudha menatap putranya sekilas lalu terfokus pada berkas-berkas yang ada di depan mejanya.
"Putuskan saja!" perintah Yudha.
"Cih!" decak Azka.
__ADS_1
"Azka cinta sama dia, dan gak bakalan putusin dia!" ucap Azka penuh penekanan.
Tok tok tok
"Masuk!" perintah Yudha saat ada yang mengetuk pintu ruangannya.
"Permisi, pak... saya mau mengantarkan makanan yang di pesan mas Azka," kata resepsionis yang disuruh Azka tadi.
Yudha melirik Azka sekilas yang sedang menahan amarahnya, wajah putihnya terlihat merah padam. Azka hanya diam sambil menatap kesal kearah lain.
"Taruh saja di meja," ucap Yudha.
"Ba-baik, pak!"
Setelah meletakkan makanan diatas meja resepsionis itu undur diri dari hadapan mereka berdua. Suasana di dalam ruangan itu terasa mencekam membuat sesak nafas siapapun yang berada di dalamnya.
"Azka mau belajar bisnis," ucap Azka menghilangkan kesunyian.
Yudha tersenyum saat mendengar ucapan Azka, akhirnya terbuka pintu hati Azka untuk belajar bisnis perusahaannya.
"Tapi ada syaratnya!" lanjut Azka.
"Apa syaratnya?" tanya Yudha.
"AZKA GAK MAU DIJODOHIN, AZKA CINTA SAMA PACAR AZKA, PAH!" teriak Azka dengan penuh amarah yang sudah sejak tadi di tahannya.
"Papa mau sampai kapan atur hidup Azka, hah... pernihan itu nanti Azka yang jalanin bukan papa!" bentak Azka sambil berdiri dari duduknya.
Yudha hanya diam saja sambil memijit pelipisnya, mereka berdua sama-sama keras kepala tidak akan ada yang mau mengalah sama sekali. Kedua orang itu memiliki sifat yang hampir sama.
Azka tidak akan bisa di paksakan sesuatu hal yang ia tidak sukai, seberapa keras berusaha tetap saja akan sia-sia.
Azka melangkah pergi, namum saat ia membuka pintu terdengar lagi suara sang papa.
"Jangan lupa minggu depan kamu harus bertemu dengan calonmu!" Yudha mengingatkan Azka.
BRAK!
Tanpa menjawab sepatah kata pun Azka langsung membatin pintu ruangan Yudha dengan sangat keras. Membuat beberapa orang yang berada di depan ruangan itu terpelonjat kaget.
Yudha hanya menggelengkan kepalanya menatap pintu yang sudah tertutup rapat, lalu beralih pada meja yang berisi makanan yang di pesan Azka.
Ternyata di dalamnya ada makanan kesukaan Yudha dan Azka, namun belum sempat Azka menyentuhnya.
"Anak itu tidak pernah berubah," gumam Yudha sambil tersenyum.
..................
Wajah Azka tidak dapat menyembunyikan amarahnya, karena sejak keluar dari ruangan itu Azka terlihat kesal bahkan para karyawan tidak ada yang berani menatap Azka ataupun sekedar menyapanya.
__ADS_1
Azka tidak memperdulikan tatapan mereka yang penasaran, langkahnya semakin di percepat menuju parkiran.
"Shitt!!" dengan kesal Azka menendang ban mobilnya yang tidak salah apapun.
Pikirannya sedang kacau balau, dia tidak tahu harus berbuat apa. Menerima pasrjodohan itu akan membuat hati Azkia tersakiti, namun jika tidak Azka harus pindah keluar negri dan jauh dari Azkia hal itu tidak akan sanggup Azka lakukan.
"Gie harus gimana, gue harus gimana, Ki," ucap Azka sambil mengacak - acak rambutnya.
Baju seragan itu sudah tidak serapi tadi pagi, seragam ia keluarkan dengan kancing yang terbuka semua. Untungnya Azka masih mengenakan kaos berwarna putih.
Azka sedang tidak bisa berfikir apapun, dia mengemudikan mobilnya dengan tatapan kosong. Hingga tanpa sadar mobil itu berhenti tepat di depan rumah Azkia.
Langit sudah gelap berselimut awan mendung yang siap kapan pun akan turun. Azka turun dari mobil, tangan kanannya memegang ponsel untuk menghubungi Azkia.
Namun beberapa kali Azka panggil tidak ada jawaban sama sekali, akhirnya Azka memutuskan untuk mengirim pesan singkat keapada Azkia.
"Keluar bentar, gue di depan!"
Azka menekan tombol send, setelah itu ia masukan ponselnya lagi kedalam mobil.
Sambil menunggu Azkia keluar rumah. Azka lebih memilih duduk bersadar pada mobilnya, menatap langit hitam. Perlahan ia pejamkan matanya menikmati hembusan angin malam.
Tik tik tik.
Tetesan air dari langit pun mulai membasahi tubuh Azka, tidak ada niatan untuk berteduh. Azka membiarkan tubuhnya terkena air hujan yang mampu membuat pikiran Azka sedikit jernih.
"AZKA!" terdengar seseorang memanggilnya.
Perlahan Azka membuka mata melihat samar seseorang sedang berdiri tidak jauh darinya, tangan kanannya memegang sebuah payung yang cukup besar.
"Azka, ngapain hujan-hujanan... ayo masuk dulu nanti sakit," ajaknya sambil menggandeng tangan Azka.
Tak ada balasan apapun dari Azka, membuat Azkia geram.
"Kamu dengerin aku gak sih?" tanya Azkia sambil mengerucutkan bibirnya.
Azka tetap bisu, ia lebih memilih menarik Azkia dalam pelukannya.
"Az—"
"Diam, biar kaya gini sebentar saja," ucap Azka yang tidak melepasnya.
Walaupun Azka belum bisa menceritakan masalah ini kepada Azkia, namun Azka akan tetap memperjuangkannya.
"Kamu gak papa kan?" tanya Azkia sambil mengusap pelan bahu Azka.
...............
..............
__ADS_1