Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Latihan Band


__ADS_3

Azka melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, mobil itu dengan mulusnya menyalip beberapa kendaraan yang berlalu lalang.


"Kita mau kemana?" tanya Azkia.


"Entahlah!" jawab Azka masih fokus pada jalanan.


"Kok entahlah, kalau gak ada tujuan kenapa ngajak jalan?" tanya Azkia sambil menatap Azka.


"Pengen berduaan aja," ucap Azka melirik sekilas Azkia.


Ada senyum yang menghiasi hibir tipis itu.


"Kamu jadi kuliah diluar negerinya?" tanya Azka ragu-ragu.


Azka hanya diam saja ia malas membahas topik pembicaraan yang berkaitan dengan kuliahnya. Tapi Azka tahu cepat atau lambat Azkia pasti akan menanyakan kejelasan masalah itu.


"Azka, kok diem?" tanya Azkia.


Azka memakirkan mobilnya disebuah Cafe yang sudah menjadi favoritnya bersama Azkia. Setelah mematikan mesin mobil, Azka menatap lekat wanita disebelahnya itu. Tangannya meraih jemari Azkia dengan lembut.


"Maaf," lirih Azka sambil menempelkan jemari Azkia pada pipinya.


"Buat?" tanya Azkia bingung.


"Maaf, aku gak bisa bujuk papa... dia tetep pada pendiriannya, mungkin habis perpisahan sekolah aku berangkat," ucap Azka sambil menatap manik mata Azkia.


Azkia dapat melihat kesedihan dari mata hezel Azka, ia juga merasakannya namun hanya bisa diam.


"Aku janji, liburan pasti pulang buat ketemu sama kamu," ucap Azka sambil mengusap pelan pipi Azkia.


"Iya gak apa, aku ngerti kok," jawab Azkia sambil mencoba tersenyum.


Dadanya terasa sesak, bahkan kerongkongannya sulit untuk mengeluarkan kata-kata.


"Kamu jangan nakal, ya? Jaga hatinya buat aku!" perintah Azka dengan tulus.


Azkia mengangguk mengerti, sambil mencoba untuk tersenyum meski berat ia tahu semuanya nanti untuk masa depannya. Sehingga mau tidak mau Azkia harus kuat terpisah jarak dan waktu dengan Azka.


"Janji?" tanya Azka.


Senyum tipis terukir disudut bibir Azkia, jari kelingkingnya terulur didepan wajah Azka.


"Iya, janji sayang!" ucap Azkia.


Azka menautkan jari kelingkingnya pada jari milik Azkia. Tanpa sadar Azka menarik Azkia dalam pelukannya. Entah sejak kapan Azka merasa semua bebannya sedikit berkurang saat memeluk Azkia. Azkia menjadi penyemangat sekaligus suport sistem terdepan untuk Azka.


Azkia membalas pelukan Azka, sesekali tangan mungilnya mengusap pelan punggung Azka. Rasa tidak rela menjalar begitu saja dalam hatinya, Azkia tidak menyangka jika ia akan menjalani hubungan jarak jarak yang belum pernah Azkia jalani. Bahkan membayangkannya saja tidak pernah.


Azka melepaskan pelukannya, lalu mencubit pelan pipi cabby milik Azkia karena gemas. Kemudian Azka keluar dari dalam mobil, beralih ke samping kiri membukakan pintu untuk Azkia.


"Silahkan, nyonya Azka," canda Azka sambil sedikit membungkuk layaknya seorang supir yang mempersilakan atasannya.

__ADS_1


"Apaan sih, jangan gitu." dengan cepat Azkia merangkul lengan Azka, ia tidak suka diperlakukan seperti itu.


"Kan bener calon nyonya Azka," ucap Azka sambil menutup pintu mobil dengan sebelah tangannya.


"Iya bener, gak salah."


Mereka berdua memasuki Cafe, banyak pasang mata yang menatap mereka. Bahkan tidak jarang terdengar suara-suara yang mengagumi mereka berdua.


"Selamat sore kaka, mau pesan apa?" tanya salah satu karyawan Cafe.


"Sama seperti biasanya, mas!" ucap Azka tanpa melihat daftar menu.


"Baik, mohon ditunggu sebentar," ucap karyawan setelah itu menuju dapur.


"Emangnya dia tahu kita mau pesan apa?" tanya Azkia heran.


"Liat aja nanti," ucap Azka sambil melipat tangannya didepan dada.


"Hilih, berlagak kaya restoran punya sendiri aja." gerutu Azkia.


"Emang," singkat Azka namun membuat Azkia memelototkan matanya.


"Jangan bercanda, mana ada Cafe terkenal yang lagi viral ini punya kamu... mimpi, ya?" ucap Azkia tidak percaya.


"Terserah!" Azka malas meladeni Azkia ia memilih mengambil gitar yang berada tidak jauh dengannya.


Azka memetik senar gitar itu, sedangkan Azkia hanya fokus pada layar ponselnya tanpa menyadari jika Attaya dan yang lainnya sudah berada dibelakangnya.


"Sore bos, maaf kita terlambat!" ucap Bobo berlagak seperti bawahan Azka.


"Pesen aja sesuka kalian," ucap Azka saat pelayan cafe itu datang mendekat.


Tanpa ragu mereka memesan makanan kesukaan mereka. Azkia merasa terusik saat ada seseorang yang duduk disebelahnya.


"Azka? Kenapa pindah?" tanya Azkia.


"Biar aman!" jawab Azka sambil melirik dimana teman-temannya duduk.


"Astaga, kita juga udah punya sendiri kali.. gak bakal rebut pacar temen," gerutu Attaya sambil melemparkan stik drumnya kearah Azka.


"Bener tuh," imbuh Devan.


"Jaga-jaga lah," ucap Azka santai.


"Kalian ngapain disini?" tanya Azkia polos.


"Mau latihan buat acara perpisahan," saut Bobo sambil memakan camilan.


"Kalian mau ikut isi acara waktu perpisahan?" tanya Azkia.


"Ya, begitulah," saut Ciko. Azkia hanya mengaguk mengerti kemudian ia hanya diam saja sambil memperhatikan pacar dan teman-temannya sedang berdiskusi untuk acara perpisahan.

__ADS_1


Setelah dikiranya cukup berdiskusi mereka perpindah pada bangunan disebalh Cafe yang ternyata tempat latihan band. Banyak alat musik dari berbagai jenis.


Azkia sedikit cemberut karena ia mengira akan berduaan saja dengan Azka, nyatanya tidak sesuai dengan ekspetasinya. Azkia lebih memilih bermain games sambil menunggu mereka selesai latihan.


Sesekali manik matanya melihat kearah pintu yang masih tertutup itu.


"Lama banget sih," gumam Azkia, ia memasukan ponselnya kedalam tas. Lalu melangkah mendekati pintu untuk sekedar mengintip latihan Azka.


Tanpa diduga dari arah dalam ada Azka yang hendak keluar, sehingga membuat Azkia terhuyung kedepan saat pintu itu dibuka oleh Azka.


BRUK!


Azkia jatuh menabrak dada bidang Azka, membuat Azka sedikit memundurkan langkahnya agar seimbang.


"Ngapain?" tanya Azka.


"Emm anu itu, mau... mau ngajak pulang capek!" alibi Azkia karena tidak mungkin ia akan jujur jika sedang mengintip mereka latihan.


"Yakin itu doang?" tanya Azka sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Iy-iya itu aja, aku kan gak ngintip!" dengan cepat Azkia menutup mulutnya rapat-rapat.


"Astaga mulut gue kenapa lemes banget sih, jujur amat kalo didepan Azka," batin Azkia.


Azka terkekeh sebentar lalu mengusap pucuk kepala Azkia.


"Jangan kepo, ini kejutan!" ucap Azka berbisik.


"Si-siapa juga yang kepo, kan gak sengaja!" elak Azkia.


Azka ganya tersenyum lalu mengandeng jemari Azkia mengajaknya keluar dari ruangan itu.


"Heh, latihannya belum selesai!" teriak Attaya.


"Nganterin nyonya pulang dulu!" sambil melambaikan tangannya.


"Cih! dia yang ngajak latihan dia yang pulang!" gerutu Devan.


"Maklumin aja, mau LDRan ya gitu... gak bisa jauh-jauhan!" ucap Bobo yang mendapat tatapan dari mereka semua.


"Kenapa?" tanya Bobo heran.


"Tumben benar kalau ngomong." ucap Ciko.


"Lah biasanya gak bener?" tanya Bobo.


Mereka semua menggeleng membuat Bobo berdecak kesal. Mereka berempat sudah tahu tentang Azka yang akan meneruskan kuliahnya diluar negeri. Karena sebelum kerumah Azkia, Azka sudah menjelaskan semuanya kepada sahabat-sahabatnya itu.


Mereka hanya bisa mensuport Azka, jika itu pilihan yang terbaik buat dia. Dan mereka berjanji akan selalu menjaga Azkia disaat Azka tidak bisa secara langsung menjaganya.


Itulah permintaan Azka, bagaimana pun juga Azka tidak bisa selalu ada untuk Azkia. Bahkan nanti saat sudah di luar negeri Azka tidak bisa selalu berkomunikasi dengan Azkia. Mengingat perbedaan waktu dan kegiatannya belajar diperusahaan milik teman Yudha.

__ADS_1


Sehingga Azka meminta tolong kepada sahabat-sahabatnya itu.


...----------------...


__ADS_2