
"Jadilah perempuan yang baik,perempuan yang tidak akan merusak kebahagian orang lain demi kebahagiaannya sendiri!" ~E H~
...--------------------------------...
Devira sudah menemukan pelaku tabrak lari yang dialami Azkia kemarin, ia segera menghubungi Azka untuk memberitahu siapa pelakunya. Yang tak lain adalah mantan sekertaris Azka sendiri. Azka tidak habis pikir kesalahan apa yang ia perbuat hingga sekertarisnya itu tega mencelakai snag istri.
Kini mereka semua berada disebuah ruang introgasi dimana ada Lena disitu sebagi tersangkanya. Didepannya ada seorang polisi dan juga Devira, ya Devira sengaja ingin ikut mengintrogasi Lena yang sudah melakukan percobaan tabrak lari pada sahabatnya.
"Apa motif anda melakukan ini semua?" tanya polisi itu.
"Kenapa?" tanya Lena sambil tersenyum devil.
"Karena saya benci dengan dia!" kesal Lena.
"Dia siapa? Pak Azka?" tanya polisi itu.
"Bukan, saya benci dengan perempuan yang diselalu disamping pak Azka, dia selalu mendapatkan perhatian dari pak Azka. Sedangkan saya yang sudah berusaha tetap saja diabaikan oleh pak Azka!" curhat Lena.
"Kamu tau siapa perempuan itu?" tanya Devira.
"Dia adalah istri dari Azka dan perbuatan mu kali ini sunggu salah walaupun kau menginginkan dia!" lanjut Devira tegas.
Mata Lena membulat sempurna saat ia mengetahui jika Azkia adalah istri dari seseorang yang ia sukai itu. Waktu itu Lena pernah mendengarnya namun ia sangkal karena ia berfikir Azkia hanya mengaku-ngaku saja menjadi istri Azka. Dan apa yang dia dengar saat ini ternyata itu bukan omong kosong saja.
"I-ini gak mungkin!" bantah Lena sambil memangis.
"Faktanya seperti itu!" tegas Devira.
Sedangkan Azka, Attaya dan Devan hanya diam saja sambil memantau dari luar. Mereka bisa mendengarkan semua yang ada didalam ruangan itu dengan jelas. Azka memang sengaja tidak membawa Azkia karena ia takut akan berpengaruh kepada kondosi kesehatannya.
"Gila Devira tegas banget! Gue sampai merinding dengernya!" ucap Attaya.
"Istri gue itu!" kata Devan bangga
"Kapan lo nikah? Belum sah juga!" protes Attaya.
"Gue udah lamaran, tinggal akad nunggu habis wisuda!" jelas Devan.
"Lo kapan, Ta? Jangan lama-lama," kata Azka yang masih menatap tiga orang yang masih berada didalam ruangan introgasi.
__ADS_1
"Nantilah habis Devan aja!" sautnya yakin.
Kemudian terdengar lagi suara Lena yang terisak semakin kencang.
"Gue gak mau di penjara, gue gak mau!" protes Lena.
"Maaf ini sudah keputusan dari korban." kata polisi itu.
"Gue gak mau, tolong jangan penjara gue!" Lena memohon sambil bersimpuh di hadapan Devira.
"Tenang aja, kalau kamu mengakui kesalahan mu dan minta maaf sama korban hukumannya tidak akan berat." jelas Devira.
"Iya! Iya gue mau minta maaf sama istrinya pak Azka, gue bener-bener gak mau dipenjara," kata Lena sambil menangis tersedu-sedu.
Devira keluar dari ruangan itu dan meminta pendapat Azka, untung saja Azka mau menerima permintaan maafnya karena menuruti pesan dari sang istri. Alhasil Lena tetap dipenjarakan, tapi mendapatkan keringan waktu.
Sebelum Lena dibawa menuju sel penjara ia sempat meminta maaf secara langsung pada Azka, ia benar-benar tidak tahu jika Azka sudah beristri.
Dan Devira pun sempat memberikan masehatannya kepada Lena sebelum Lena dibawa pergi oleh dua petugas kepolisian.
"Jadilah perempuan yang baik, perempuan yang tidak akan merusa kebahagian orang lain demi kebahagiaannya sendiri," kata Devira.
Lena hanya mengaguk lemas ia tidak pernah membayangkan akan menjadi seperti ini, gara-gara cinta dan harta membuatnya buta sektika. Ia sangat menyesali perbuatannya ini dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi dikemudian hari. Karena Lena takut akan karma yang ia dapatkan dikemudian hari. Biarlah ini menjadi pelajaran yang paling berharga dalam hidupnya.
"Santai aja, kaya sama siapa ini! Ini semua juga gue lakuin demi Azkia, lain kali lo harus lebih hati-hati lagi, jangan sampai kecolongan lagi!"
"Siap, gue akan lebih berhati-hati!" Azka menepuh bahu Devira.
"Gak usah pegang-pegang, punya gue nih bos!" Devan langsung menyingkirkan tangan Azka membuat mereka smeua terkekeh.
"Galak amat calon suami lo, Ra," kata Azka sambil tekekeh.
"Sebelas dua belas sama lo kan, protektifnya." Devira terkekeh sedangkan Azka hanya mengendihkan bahunya saja.
"Mau sampai kapan kalian pamer kemesraan di depan gue!" kesal Attaya.
"Sampai lo ngajak nikah, Nayla!" ketus Devira.
"Sabar gue lagi usaha, Ra!" kata Attaya, mereka semua sedang berjalan menuju parkiran.
__ADS_1
"Sampai kapan, Ta? Perempuan itu butuh kepaatian bukan hanya janji saja, untung aja Nayla sabar orangnya. Kalau sama orang lain entah, mungkin lo udah ditinggalin!" ketus Devira.
Devira seperti itu karena ia paham betul bagaimana menunggu kepastian dari seseorang yang sangat diharapkan, untung saja Devan cepat tanggap dan segera melamarnya.
"Lo gak kasian apa sama Nayla, Ta? Seengaknya kasih dia ikatan, kaya tunangan dulu!" lanjut Devira.
Attaya hanya diam saja mencerna setiap perkataan yang keluar dari mulut Devira, membuat ia merasa tertampar dengan semua kata-kata itu.
"Udah, jangan pojokin Atta, Ra! Yang jelas kita semua dukung keputusan lo, tapi kalau bisa jangan lama-lama!" Azka mencoba menengahi percakapan yang sepenuhnya menyudutkan Attaya.
Walaupun Attaya memiliki alasannya sendiri, tapi semuanya benar mereka pacaran gak hanya satu dua tahun saja. Susah senang bisa mereka lewati, walaupun perdebatan dan masalah yang ada tak membuat mereka berpisah. Mungkin memang sudah saatnya Attaya menghalalkan Nayla.
"Ka, gue nganterin calon bini dulu... setelah itu gue balik ke kantor!" pamit Devan.
Azka hanya mengacungkan jempol tangannya sebagai persetujuan. Kali ini Azka yang menyetir mobil karena Attaya terlihat tidak fokus, ia takut akan terjadi sesuatu bila Attaya yang menyetir. Biarlah untuk saat ini ia menjadi sopir untuk Attaya.
"Lo mau bantuin gue gak, Ka?" tanya Attaya tiba-tiba.
"Apa?"
"Gue udah putusin kalau gue akan lamar Nayla!"
"Lo yakin?" tanya Azka.
"Iya gue yakin, gue gak mau kehilangan dia gara-gara gue terlalu lama," jawab Attaya.
"Kapan?"
"Dalam waktu dekat ini," jawab Attaya.
"Baiklah, lo cukup siapin mental lo aja... semuanya serahin gue sama Devan!"
"Thanks, ya Ka!" ucap Attaya, matanya sedikit berair bukan karena sedih tapi ia terharu dengan sahabat-sahabatnya yang selalu ingin yang terbaik buat dirinya dan Nayla.
Azka kembali lagi ke kantor karena masih ada kerjaan yang harus ia urusi, kali ini Azka tidak mengizinkan Azkia kemana-mana sendirian lagi.
Alhasil, Azkia mendapatkan satu sopir yang siap mengantarnya kemana saja saat Azka tidak bisa. Dan juga ada satu pengawal yang ditugaskan untuk menjaga Azkia, Azka tidak ingin terjadi sesuatu pada istri dan calon anaknya itu.
Walaupun awalnya Azkia sempat menolak, karena ia beranggapan masih kuat kemana-mana sendiri sehingga tidak perlu yang namanya sopir.
__ADS_1
Tapi Azka ya seperti itu orang yang keras kepala dan susah dibantah, sehingga Azkia menurut saja dari pada terjadi perdebatan yang sengit.
...----------------...