Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Berdamailah dengan perasaan


__ADS_3

Disini lah mereka saat ini, parkiran rumah sakit. Setelah Azka menceritakan semuanya kepada Azkia, akhirnya Azkia mengizinkan Azka untuk menjenguk Siska dengan catatan dia ikut.


Sejak diparkiran rumah sakit, Azka tidak melepaskan genggaman tangannya. Ia terus saja menggandeng Azkia, seperti seorang ayah yang tidak ingin putri kecilnya hilang dikeramainan.


Banyak perawat yang mematap kagum kearah Azka, hal itu membuat Azkia mencebikkan bibirnya. Ia sadar jika Azka tampan tapi dia tidak rela jika Azka ditatap seperti itu oleh orang-orang.


Azka dan Azkia mengikuti langkah kaki Mikael yang membawa mereka keruang rawat Siska. Terlihat seorang gadis terbaring lemah diatas bangkar dengan selang infus ditangan kiri, sedangkan sebelahnya ada kantong darah yang mungkin untuk menambah darahnya.


Bibirnya masih terlihat pucat, ia terlihat tidak berdaya sama sekali. Tatapannya terlihat kosong, walaupun dia sedang menatap luar jendela.


"Siang, Tan." sapa Mikael sambil menyalami Dewi, diikuti Azka dan Azkia.


"Siang juga, kamu sudah pulang sekolah?" tanya Dewi.


Mikael mengangguk,"sudah tante, gimana keadaan Siska?"


"Sejak sadar dia hanya diam saja, bahkan satu suap pun belum bisa masuk." ucap Dewi sedih.


"Mikael coba bujuk ya tan." Mikael mendekat ke bankar Siska.


Mikael duduk dikursi yang sudah tersedia, tangannya menyentuh tangan Siska dengan lembut.


"Sis, makan yuk... biar cepet sembuh, nanti masuk sekolah lagi," rayu Mikael.


Siska masih saja diam, tidak menoleh sedikitpun kearah Mikael.


"Ini Azka kan?" tanya Dewi.


"Kenal?" tanya Azka sewot.


Azkia yang geram dengan jawaban Azka langsung saja menginjak kaki Azka, lalu Azkia yang mewakili menjawab pertanyaan Dewi.


"Iya tante ini Azka, tante udah kenal sa Akza, ya?" tanya Azkia dengan sopan, sebenarnya dia juga penasaran bagaimana orang tua Siska mengenal tunangannya.


"Banyak foto Azka yang ada di dalam kamar Siska, dari berbagai ukuran ada." Dewi memandang Siska dengan tatapan pilu.


"Ka, kamu ngasih foto kamu ke Siska?" bisik Azkia.


Azka menggeleng karema ia tidak pernag merasa memberikan fotonya kepada Siska.


Dewi yang mendengar itu langsung angkat bicara.


"Siska sendri yang fotoin nak Azka, karena fotonya candit semua... itu hobby Siska sejak dulu, dia suka fotografi. Dan sejak masuk SMA, Siska lebih semangat lagi menekunin hobinya." dengan sendirinya Dewi bercerita beberapa hal tentang putrinya.


"Katanya ada objek yang berhasil menarik hatinya, hingga membuatnya hanya terfokus pada satu objek itu!"


Mendengar itu Azkia menyikut perut Azka sambil berbisik,"ciieee!"


Azka hanya diam saja, dia malas menanggapi cerita Dewi.


"Ka, coba lo yang bujuk Siska... kasian dia dari kemaren belum makan apapun." saran Mikael yang sudah berdiri mendekati Azka.

__ADS_1


"Ogah!" tolak Azka.


Mikael hanya menatap Azkia tanpa berusara, namun dari sorot matanya terlihat jelas ia sedang memohon agar Azkia mau membujuk Azka. Azkia menghembuskan nafasnya dengan kasar, sebenarnya ada perasaan yang tidak iklas saat harus menyuruh tunangannya membujuk wanita lain.


"Sayang, kali ini aja." pinta Azkia.


Dengan terpaksa Azka menuruti permintaan Azkia, ia berjalan ke arah bankar Siska.


"Ini demi Azkia bukan demi dia!" tegas Azka didepan wajah Mikael.


Mikael mengangguk sambil memberi jalan agar Azka bisa duduk di kursi yang ia duduki tadi.


"Lo mau makan apa gak?" tanya Azka ketus.


Mendengar suara yang sudah sangat hapal di telinga Siska, membuatnya seketika menoleh ke arah suara itu berada.


"Azka!" lirik Siska dengan senyum terkembang dibibir pucarnya.


"Buruan makan, ada orangbyang berharap lo sembuh." Azka menyodorkan semangkuk bubur di hadapan Siska.


"Lo kan yang berharap gue sembuh?" tanya Siska.


"Bukan! Orangnya ada dibelakang gue." jujur Azka, membuat Siska sedikit mendongakkan kepalanya.


Siska tersenyum pahit saat melihat wajah Mikael yang berharao ia segera sembuh.


"Gue gak mau makan, lo sendiri gak mau gue sembuh kan terus buat apa gue sembuh," ucap Siska.


"Cepat makan, gue harap lo sembuh!" tegas Azka.


"Serius, gue gak mimpi kan... lo berharap gue sembuh?" Siska mengulangi ucapan Azka karena tidak percaya.


Azka hanya mengangguk masih dengan wajah dinginnya, tangannya menyuapkan satu sendok bubur untuk Siska.


Dewi bahagia saat melihat Siska makan dengan lahabnya, begitu juga dengan Mikael walaupun bukan dia yang menyuapi Siska.


Azkia yang tidak kuat melihat itu lebih memeilih keluar dari ruangan Siska, ia akan mencari udara segar agar tidak kebawa emosi.


"Sabar Kia sabar, inget Azka cuma bantuin dia gak lebih... dia kan tunangan mu, jadi gak akan macam-macam," gumam Azkia meyakinkan dirinya sendiri.


Dewi pun ikut pergi, ia ingin membeli beberapa makanan untuk Mikael dan yang lainnya.


"Ka?" panggil Siska disela-sela makannya.


"Hmm?" Azka enggan bersuara.


"El, lo keluar dulu bisa," pinta Siska, dengan berat hati Mikael menuruti permintaan Siska.


Setelah hanya ada Azka, Siska mulai membuka suaranya.


"Gue tahu, lo terpaksa lakuin ini semua... gue juga tahu dihati lo cuma ada bakpia, gue gak bisa gantiin dia yang sudah memiliki hatimu itu, Ka," ucap Siska sendu.

__ADS_1


"....."


"Tolong, buat gue benci sama lo... agar cinta gue berhenti sampai sini, Ka. Gue capek, capek mencinta seorang diri. Gue juga pengen rasain kasih sayang dari orang yang cinta sama gue, gue juga mau jalan kesana kemari gandengan tangan... makan berdua, romantis-romantisan,"


oceh Siska.


Azka masih saja diam, ia membiarkan Siska mengungkapkan semua isi hatinya.


"Gue harus gimana, Ka... gue udah berusaha lupain lo, berusaha terima Mikael tapi semuanya sama aja bohong, Ka! Semakin gue berusaha lupain lo, hapus cinta gue ke lo... semakin besar pula rasa ingin memiliki lo, semakin gue lupain semakin gue ingat." mata Siska sudah mulai basah, dan cairan bening itu jatuh begitu saja dipipinya.


"Gue harus gimana, Azka!" ucap Siska dalam isak tangisnya.


"Lo harus terima kenyataannya, kalo gue gak cinta sama lo!" kata Azka sedingin mungkin.


"Gak usah lupain gue, cukup lo cari kesibukan lama-lama lo akan lupa dengan sendirinya," lanjut Azka.


"Ada Mikael yang tulus sama lo, gue yakin dia akan bagiain lo." Azka menaruh mangkuk diatas nakas.


"Susah, karena dihati gue cuma ada lo." Siska memandang Azka dengan nanar.


"Berdamailah dengan peraaaan lo, gue udah ada tunangan dan gak akan gue hianati dia," kata Azka sambil berdiri akan melangkah keluar.


Dengan cepat Siska menggenggam jemari Azka sebelum ia berbalik badan.


"Gue akan coba berdamai dengan perasaan gue, tapi gue minta satu hal." Siska sedang memohon kepada Azka.


Azka hanya menaikkan sebelah alisnya demgan posisi yang sama.


"Gue pengen meluk lo, gue janji ini pertama dan terakhir kalinya. Setelah itu gue akan bener-bener berdamai dengan perasaan gue ke lo, Ka!" pinta Siska dengan yakin.


Azka hanya diam saja, ia menatap mata Siska untuk mencari kejujuran. Dari mata itu terlihat kesungguhan dan keseriusan.


Siska mulai menjulurkan tangannya memeluk erat pinggang Azka, tidak ada penolakan dari Azka dan dia juga tidak membalas pelukan itu. Melihat itu membuat Siska semakin mengeratkan pelukannya, hingga suara pintu terbuka.


KLEK!


"Az—" ucapan Azkia terhenti.


Ia mendapatkan pemandangan yang membuat hatinya sesak, tiba-tiba saja matanya memanas seperti akan keluar cairan bening.


Dengan cepat Azkia menutup kembali pintu itu, kemudian lari menyusuri lorong rumah sakit.


"NYUN! teriak Azka, namun tidak dihiraukan oleh Azkia.


Azka melepaskan pelukan Siska, dengan cepat Azka menyusul Azkia tanpa berpamitan pada Siska.


"Sesayang itu kah lo sama bakpia?" gumam Siska sambil melihat punggung Azka yang sudah tidak terlihat lagi.


......................................................................


..."Katanya ada objek yang berhasil menarik hatinya, hingga membuatnya hanya terfokus pada satu objek itu!"...

__ADS_1


...~Siska (E H)~...


__ADS_2