Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Suami Takut Istri


__ADS_3

Mereka yang tengah asik mengobrol tiba-tiba saja terhenti saat terdengar deringan ponsel yang begitu keras, ternyata ponsel milik Azka yang berbunyi.


"Siapa, Ka?" tanya Ciko.


"Biasa!" saut Azka sambil memperlihatkan nama yang tertera pada layar ponselnya.


"Macan, ya?" tanya Attaya sambil terkekeh.


"Macan kok bisa pegang ponsel, ada-ada aja lo, Ta!" Bobo milirik Attaya sekilas, mungkin hanya Bobo saja yang tidak paham maksud Attaya.


"Macan yang ini lebih pinter, Bob! Cuma Azka yang punya," ucap Devan sambil terkekeh begitu juga dengan Attaya dan Ciko.


"Masa sih? Lain kali mau lihat dong macannya Azka." polos Bobo.


Hal itu semakin membuat Attaya, Ciko dan Devan tertawa terbahak-bahak. Azka hanya mendengus saja sambil menggeser warna hijau pada layar ponselnya.


"Ha—"


"Lagi dimana?" suara itu terdengar dari dalam telepone.


"Di Cafe," jawab Azka.


"Sama siapa?" tanyanya.


"Biasa, ini ada Ciko sama Bobo juga!"


Ya, Azkia paham yang dimaksud 'biasa' itu terdiri dari siapa saja. Karena Azkia sudah hapal betup dengan suaminya itu, yang terpenting mereka sudah tidak bapalan seperti saat sekolah dulu.


"Ngapain?" tanyanya lagi.


"Ngobrol aja, sayang!" kata Azka.


"Kok ada suara cewek, hayo kamu bohong, ya?! Bilangnya sama Ciko gak taunya sama Cika," gerutu Azkia.


"Gak sayang ini beneran sama anak-anak yang lain, bahas soal wisuda kalian itu," jelas Azka.


"Pulang sekarang!" perintahnya.


"Bentar lagi, Nyun!"


Tut!


Setelah mendengar penolakan dari sang suami, Azkia langsung saja mematikan panggilan itu tanpa menunggu persetujuan Azka.


Sedangkan Azka masih diam sambil menatap layar ponselnya yang hanya menampilan menu dan juga wallpaper foto mereka berdua.


"Gue pulang dulu!" kata Azka langsung bangkit begitu saja, langkah kakinya terlihat sangat lebar.


"Istri nyuruh pulang?" tanya Devan, Azka hanya mengangguk.


"WOY, JANGAB LUPA RENCANANYA!" teriak Attaya, Azka hanya mengacungkan jempolnya sambil terus berjalan hingga benar-benar tidak terlihat dari pandangan mereka.


"Dasar STI!" ledek Bobo.


"STI apaan?" tanya Attaya dan Ciko.


"Suami Takut Istri!" kata Bobo sambil tertawa.


"Haha bisa aja lo, paling lo nanti juga kaya gitu," ledek Attaya.

__ADS_1


"Bukannya takut sama istri, cuma gak mau mengecewakan hati istri ya gitu. Kalau udah sayang banget sama orang ya gitu jadinya, Bob!" jelas Ciko.


"Gue gak tuh," kata Bobo sambil menaik turunkan alisnya.


"Lo kan jomblo, mana paham!" geram Attaya.


"Cih! Liat aja kalau lo udah ada pacar, bucin bucin lo!" kesal Devan, pasalnya Devan juga akan melakukan hal yang sama dengan Azka terlebih saat istrinya sedang hamil muda.


"Mana ada!" kata Bobo santai.


Kemudian mereka bertiga beranjak dari duduknya dengan serentak, sudah terlalu lama mereka berada di Cafe. Bahkan pengunjung sebelah mereka pun sudah berganti.


"Eh kalian mau kemana?" tanya Bobo yang melihat ketiga temannya pergi begitu saja.


"Pulang, gue mau kencan sama doi!" teriak Ciko.


"Sama!" kata Attaya dan Devan bersamaan sambil melambaikan tangan pada Bobo.


"TERUS GUE SAMA SIAPA, WOY!" teriak Bobo tidak kalah kencang yang membuatnya menjadi pusat perhatian.


Mereka bertiga tak menanggapi karena sudah berbelok dan tertutup oleh dinding.


"Sial! Jomblo gini amat ya, kalian gak ada apa yang mau jadi pacar gue?" gerutu Bobo sambil menghempaskan tubuhnya dikursi.


"Susah banget cari pacar doang, ditolak terus yang ada!" kesalnya.


Bobo mengusap wajahnya dengan kasar, ia tidak mengerti kenapa teman-temannya seberuntung itu sedang ia tidak. Ya dia tidak seberuntung temannya dalam hal percintaan, meskipun Bobo tahu perjalanan cinta sahabatnya itu tidak semudah yang dilihah tapi tetap saja membuat Bobo iri.


Iri kenapa ia sampai sekarang belum dipertemukan dengan sesorang yang bisa memerimanya apa adanya, dengan semua kekurangan yang ia miliki karena kelebihannya adalah bonus saja.


"Walaupun kalian mau ketemu doi tapi gak harus ninggalin gue juga kan?" monolog Bobo.


Setelah puas menikmati sejuknya angin yang berhembus, Bobo memutuskan untuk kembali ke apartementnya karena percuma saja jika ia berlama-lama disana karena hanya akan menambah beban mentalnya. Bagaimana tidak banyak pasang muda-mudi yang sedang berkencan disana, sedangkan Bobo hanya berdua bersama bayangangnya.


Kemudian ia pergi ke parkiran tapi sebelum itu Bobo berniat untuk membayar semua pesanan sahabatnya itu tapi ternyata semuanya sudah dibayar oleh Devan. Padahal Azka sudah berpesan jika tidak perluh dibayar, tapi mereka tetap merasa tidak enak jika harus makan gratis setiap kali bersama Azka.


"Aman deh uang gue!" Bobo memasukan dompetnya kembali sambil tertawa.


....................


Azka sudah memarkirkan mobilnya didepan rumah, karena ia tergesa-gesa masuk kedalam rumah. Hingga tanpa sadar ia membanting pintu mobil dengan sangat keras, lalu ia berlari mencari Azkia. Azka tau bahwa sang istri sedang marah padanya.


"NYUN!" panggil Azka.


Azka tak mendapati sang istri di ruang tamu ataupun dapur, hingga sampai kolam berenang tak juga menemukan Azkia. Azkia tidak terlihat dimana-mana hingga membuat Azka gusar, bahakan sang bibi biasanya terlihat ini juga tidak ada.


"Nyun, kemana sih?" panggilnya.


Hingga satu ruangan yang belum Azka cari yaitu dikamarnya, dengan langkah cepat Azka menaiki anak tangga. Bahkan Azka langsung melangahi dua anak tangga sekaligus.


Cklek!


Azka membuka pintu kamarnya, betapa terkejudnya saat mendapati Azkia yang sedang bersandar pada dinding didekat pintu kamar. Matanya menatap tajam Azka dengan tangan yang dilipatkan didepan dada.


Deg!


Sontak saja membuat Azka terpelonjat kaget, bahkan Azka yang biasanya terlihat galak dan tegas dihadapan karyawan atau teman-temannya kini ia hanya bisa diam sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Kenapa pulang?" tanya Azkia sinis.

__ADS_1


"Masa harus tidur disana, Nyun?" tanya Azka sambil merentangkan tangan untuk memeluk sang istri.


Namun, dengan cepat Azka menghindarinya sehingga Azka tak berhasil memeluk Azkia.


"Mandi sana, bau!" ucapnya sambil menutup hidung.


"Wangi gini dibilang bau!" protes Azka sambil mencium badannya.


"Tetap aja bau! Udah tercampur sama parfum perenpuan lain!" ketus Azkia.


"Astaga, sayang! Kita tadi cuma berlima gak ada perempuannya sama sekali," jelas Azka.


"Gak usah bohong tadi aku jelas-jelas denger suara perempuan kok!" Azkia tak mau percaya dan tetap pada pendiriannya.


"Namanya juga di Cafe, kalau ada suara perenpuan bukan berarti kita lagi sama perempuankan, Nyun?" tanya Azka.


"Bisa aja itu meja sebelahnya, kamu jangan negatif thingking gitu lah!" lanjut Azka lagi.


"Kok jadi nggas, sih? Kan aku nanya baik-baik," ucap Azkia tidak terima.


"Aku gak nggas, sayang. Astaga kenapa salah terus sih?" kesal Azka namun masih bisa ditahan.


"Emang kamu salah kan, pergi dari siang sampai sekarang baru pulang? Kenapa gak sekalian gak usah pulang!" kesal Azkia.


"Hah, emang wanita selalu benar dan aku selalu salah," gumam Azka.


"Kamu bilang apa?" tanya Azkia, dengan cepat Azka langsung menggeleng.


"Yaudah mandi sana, bau tuh bauu!" Azkia mendorong tubuh sang suami agar cepat masuk kedalam kamar mandi.


"Awas aja kalau aku udah mandi terus main gigit, aku gigit balik kamu!" kata Azka setelah itu melenggang masuk ke dalam kamar mandi.


"Macan kok mau digigit, gak kebalik?" tanya Azkia, sedangkan Azka hanya terkekeh saja, sedangkan Azka hanya mencebikkan bibirnya.


"Cepat sekali moodnya berubah, bahkan tidak ada satu menit sudah tersenyum lagi padahal sebelumnya garang, huh wanita memang ajaib!" gumam Azka yang sudah berada didalam kamar mandi.


Tak selang lama terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi, itu berarti Azka sudah memulai rutinitas mandinya. Ia membasuh seluruh tubuhnya dengan air terutama kepalanya agar pentingnya hilang.


Setelah beberapa saat kegiatannya selesai tapi gerakannya terhenti saat Azka tidak menemukan sesuatu, yaitu handuk.


"Sayang!" teriak Azka sambil menyembulkan kepalanya.


"Hmmm," saut Azkia yang sedang duduk bersantai disofa kamar sambil nyemil kripik kentang.


"Sayang ambilin handuk dong," pinta Azka lembut.


"Ambil sendiri!" kata Azkia.


"Yakin nih aku ambil sendiri?" goda Azka.


Mendengar ucapan Azka membuat pikiran Azkia tidak tenang alhasil ia mengambilkan handuk untuk Azka.


"Nih!" Azkia sengaja menjaga jarak agar tidak melihat Azka.


"Gak nyampai, Nyun! Sini dekatan." pinta Azka.


GREB!


Tak hanya handuk melainkan tangan Azkia juga ikut tertarik masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


"HUBBY!" teriakan Azkia sangat melengking.


...----------------...


__ADS_2