
Sore ini awan mendung menyelimuti langit, terlihat jelas akan turun hujan. Rayhan yang sudah selesai mandi berjalan ke balkon kamarnya, dia duduk disana sambil menikmati angin yang berhembus menyapu wajahnya. Rayhan menerawang kejadian tadi saat di lapangan basket, saat Azkia juga meneriaki namanya untuk memberi semangat. Terdapat senyum yang menghiasi bibir Rayhan saat mengingatnya, dia tahu jika Azkia hanya berniat memberinya semangat tidak lebih dari itu.
Diambilah gitar yang berada di atas meja, kemudian perlahan Rayhan memetikkan senar gitar tersebut terciptalah alunan musik yang merdu menemani di sore yang mendung itu.
Sejak saat pertama melihat senyumannya
Jantung berdebar-debar inikah pertanda
Namun ternyata salah harapanku pun musnah
Sejak aku melihat kau selalu dengannya
Tuhan tolong aku ingin dirinya
Rindu padanya memikirkannya
Namun mengapa saat jatuh cinta
Sayang sayang dia ada yang punya
Mungkin ku harus pergi untuk melupakannya
Dalam hati berkata takkan sanggup pergi
Oh oh oh Tuhan tolong aku ingin dirinya
Rindu padanya memikirkannya
Namun mengapa saat jatuh cinta
Sayang sayang dia ada yang punya
Tlah ku coba menghapus bayang-bayang indah
Tetapi selalu aku merindu lagi ....
(Merindu lagi - Yovie&Nuno)
Rayhan menyanyikan lagu itu seakan menjadi perwakilan dari isi hatinya saat ini, Rayhan sangat menyayangi Azkia namun sayang sekali Azkia sudah memilik seseorang yang sudah mengisi hatinya.
__ADS_1
"Semoga kamu bener - bener bisa bahagia, Ki.... dengan pilihanmu sekarang ini." gumam Rayhan sambil tersenyum kecut.
Hujan pun turun membasahi dedaunan dan bangunan di sekitarnya, Rayhan terpaksa maksuk kedalam kamarnya karena udara semakin terasa dingin.
Tok tok tok
"Han.."
Terdengarlah pintu kamarnya yang sedang di ketuk dari luar, dan terdengar suara mamanya yang sedang memanggil di balik pintu. Kemudian Rayhan menyuruh mamanya masuk.
"Masuk aja mah, gak di kunci kok." jawab Rayhan, kemudian mamanya membuka pintu kamar Rayhan dan masuk menghampiri Rayhan.
"Han, mama mau nanya sama kamu." kata mama Rayhan setelah duduk di pinggir kasur.
"Tanya apa mah?" jawab Rayhan.
"Kamu bener mau lanjutin kuliah di luar negeri?" tanya mamanya sambil memandangi putranya, ada rasa tidak tega untuk melepaskan putranya menuntut ilmu di negara tetangga.
"Jadi mah." ucap Rayhan sedikit berat.
"Kamu yakin nak?" tanya mama Rayhan sambil mengusap pelan lengan Rayhan.
"Apa mamah jodohin kamu aja sama anak temen mamah? Biar cepet bisa moveon?" tanya mama Rayhan.
"Hah? Jangan lah mah, Han maunya cari yang sama - sama suka bukan karena paksaan mah... lagian kan Han juga gak mau mikirin itu dulu." tolak Rayhan sehalus mungkin agar mamanya tidak kecewa.
"Yaudah terserah kamu aja yang penting jangan terlalu sedih lagi." ucap mama Rayhan.
"Siap mah, Han usahain hehe.."
"Yaudah mama mau masak dulu buat makan malam nanti." ucap mama Rayhan sambil keluar dari jamar Rayhan, sedangkan Rayhan hanya mengangguk saja.
Rayhan mengambil nafasnya dalam lalu membuangnya dengan kasar, karena semakin Rayhan mencoba melupakan Azkia membuatnya semakin mengingatnya. "Ternyata sesulit ini melupakanmu, Ki." gumam Rayhan sambil merebahkan tubuhnya diatas kasurnya, pikirannya jauh menerawang saat dirinya pertama kali bertemu dengan Azkia.
"Mana mungkin aku bisa melupakan senyumanmu saat bersamaku waktu itu, Ki.... tapi aku bahagia bisa melihatmu bisa tertawa walaupun bukan aku yang membuatmu tertawa." ucap Rayhan sambil memejamkan matanya.
................
"Lo kenapa sih, Sis dari tadi diem terus?" tanya Rima kepada Siska karena tumben sekali Siska hanya diam dan melamun seperti saat ini.
__ADS_1
"Lo gak sakit kan, Sis?" tanya Syla sambil memegang jidat Siska, namun Siska masih saja diam membisu.
"Siska!" teriak Rima sambil menepuk bahunya agar Siska cepat tersadar.
"Apaan sih!" kesal Siska.
"Lo kenapa?" tanya Syla.
"Entahlah Syl, gue mulai lelah ngejar Azka mulu tapi dianya gak peka sama sekali." keluh Siska.
"Yaudah nyerah aja, dari pada ngejar orang yang gak pernah ngangep lo ada." saean Rima.
"Tapi sulit! Gue belum terima liat Azka sama anak songong itu." kesal Siska sambil menggebrak meja membuat pengunjung lain melihat kearahnya. Ya saat ini Siska dan kedua temannya sedang berada di salah satu cafe langganan mereka.
"Tenang, Sis." ucap Rima mencoba mereda amarah Siska, sesekali Rima menunduk ke arah pengunjung yang lainnya untuk meminta maaf atas kelakuan Siska.
"Gue harus kasih pelajaran anak songong itu lagi!" ucap Siska.
"Tapi Sis, lo yakin bakal ngasih pelajaran buat Azkia.... sekarang dia udah jadi pacarnya Azka, kalo lo berani macem - macem habis nanti di tangan Azka." ucap Syla mengingatkan Siska agar tidak bertindak gegabah.
"Bener itu Sis, yang ada nanti Azka makin benci sama lo." kata Rima menyetujui perkataan Syla.
"Gue gak harus pake tangan gue sendirikan buat ngerjain itu anak baru biar dia tahu berhadapan dengan siapa hahaa." tawa Siska sedikit menyeramkan untuk Rima san juga Syla.
"Terserah lo deh, Sis." ucap Syla yang sudah capek menyadarkan Siska.
" Oh ya, bukannya lo ada Mikael... kenapa lo gak jadian aja sama dia, gak kalah lah kalo sama Azka." saran Rima saat dia mengingat soal Mikael yang selalu membantu Siska.
"Lo pikir moveon dari orang yang lo suka itu semudah lo balikin telapak tangan apa?" kesal Siska karena temannya berani membahas soal Mikael. Rima hanya menaikkan kedua bahunya, dia belum pernah mengenal yang namanya pacaran karena terlalu sibuk mengurusi - urusannya Siska.
"Tapi di lihat - lihat, Mikael itu serius kalo suka sama lo, Sis." ucap Syla, ya walaupun Syla terkadang terlihat lambat untuk memahami namun dia lumayan peka dengan hal - hal di sekitarnya.
"Menurut gue juga gitu sih, lo inget gak waktu tadi dia menang lawan tim Alex... dia langsung nyamperin lo dengan bahagianya dan bilang kalo kemenanganya buat lo." ucap Rima sambil mengingat kejadian di lapangan, membuat Siska ikut memerawang kejadian tersebut.
Saat mengingat kejadian itu membuat hati Siska sedikit berdebar namun disangkal oleh Siska, walaupun bibirnya terus mengucapkan bahwa tidak menyukai Mikael. Namun wajahnya tidak bisa menipu semua orang karena terlihat jelas wajah Siska menjadi memerah saat mengingat semua kejadian yang sudah Siska alamin bersama Mikael.
Siska menggelengkan kepalanya dengan kasar, agar membuatnya terfokus lagi dengan rencananya semula. "Awas saja lo Azkia tunggu pembalasan dari gue!" batin Siska yang terus memaki Azkia.
...........
__ADS_1
Jadi bagaimana jelanjutannya