
BRAK!
Suara pintu mobil itu terdengar sangat jelas ditelinga Azkia karena ia masih berada didalam mobil, sedangkan pelaku utamanya adalah Azka. Entah kenapa sejak dipasar malam ia sudah marah-marah tidak jelas dan sempat berencana menghukum Azkia. Bahkan sejak tadi didalam mobil tidak ada suara manja ataupun merengek dari Azka, ia hanya diam benar-benar mirip seperti patung. Pertanyaan Azkia saja tidak ia jawab seolah menjadi tuli dan bisu mendadak.
"Dia kenapan sih?" gumam Azkia.
Azkia menaiki anak tangga untuk sampai dirumahnya setelah menyuruh bibi untuk membuatkan teh hangat.
Cklek!
Azkia membuka pintu kamarnya secara perlahan, matanya menatap semua sudut tapi tidak ada siapapun di sana hingga suara gemercik air terdengar dari dalam kamar mandi. Setelah mengetahui Azka sedang mandi, Azkia lebih memilih membaringkan badannya disofa karena lelah setelah berjalan mengelilingi pasar malam.
Azkia tersenyum sendiri melihat fotonya bersama dua badut tadi hingga ia menatap lama foto dirinya dan Azka yang berdiri diantara dua badut itu.
"Ganteng banget sih," gumam Azkia sambil mengusap wajah Azka.
"Siapa yang ganteng?" tanya Azka yang sudah berdiri disebelah Azkia.
Azka baru selesai mandi buktinya ia masih menggunakan handuk yang terlilit dipinggangnya, tangannya sibuk mengusap rambutnya yang masih basah dengan handuk kecil. Bulir-bulir air masih terlihat menetes pada dada bidang Azka yang menanpakkan roti sobeknya, Azkia sampai kesusahan mengendelalikan dirinya.
Karena saat ini Azka begitu menggoda membuat Azkia kesusahan menelan slavinanya. Tanpa sadar ponsel yang Azkia pegang sejak tadi jatuh ke bawah hingga tergeletak disebelah kaki Azka. Azka mengambil ponselnya itu lalu menyerahkan pada Azkia namun Azkia hanya diam saja matanya terus menatap roti sobek milik Azka.
"Lap dulu ilernya," kata Azka sambil meletakkan ponsel diatas nakas.
"Ma-mana ada iler," jawab Azkia gugup.
Terlebih lagi saat ini Azka duduk disofa yang sama dengan Azkia.
"Sana ih basah!" protes Azkia sambil mengusir Azka agar tidak duduk disebelahnya.
"Biarin!" cuek Azka.
"Nanti sofanya rusah, By!" Azkia berusaha mendorong tubuh Azka tapi dia kalah kuat sehingga hanya menghabiskan tenaganya dengan percuma.
"Beli lagi!" saut Azka.
"Jangan boros," kata Azkia sambil berusaha bangun namun dicegah oleh Azka.
"Mau kemana?" tanya Azka mendekatkan wajahnya.
"Ma-mandi, lepasin!" tangan Azka meringkal erat dipinggang Azkia.
"Mandi bareng!" kata Azka sambil tersenyul tengil.
"Gak, gak mau!" dengan cepat Azkia menyingkirkan tangan Azka yang mulai renggang. Kemudian ia lari menuju kamar mandi.
BRAK!
Azkia tidak sengaja membanting pintu kamar mandi hingga suaranya begitu keras, didalam kamar mandi Azkia bersandar pada pintu lalu merosot kelantai dengab memegang dadanya yang sudah hampir copot dengan godaan Azka.
Tok tok tok!
"Butuh bantuan gak, sayang?" tanya Azka dengan nada sangat menggoda.
"GAAAKK!!" teriak Azkia dari dalam kamar mandi, pipi dan telinganya sudah sangat merah, badannya terasa sangat panas mendengar godaan Azka.
__ADS_1
Sedangkan Azka tidak bisa menyembunyikan tawanya lagi saat menggoda istrinya itu.
Hampir tiga puluh menit Azkia berada didalam kamar mandi, karena selain mandi Azkia juga menenangkan jantungnya karena godaan Azka.
Cklek!
Saat Azkia membuka pintu ia langsung disuguhkan dengan wajah kesal Azka. Ya, Azka menunggu Azkia didepan pintu kamar mandi sambil melipatkan kedua tangannya didepan dada. Tatapannya seolah ingin menengkram Azkia sekarang juga.
"Tidur didalam?" tanya Azka.
"Mandi lah," jawab Azkia santai.
Azka kesal karena Azkia mengabaikannya padahal tadi dirinya sendiri juga mengabaikan Azkia. Azka mencekal tangan Azkia yang berjalan menjauhinya hingga hidung mancungnya menatap dada bidang Azka.
"Awwhh!" rintihnya karena sakit, tangannya sibuk memegang hidungnya.
"Jangan menggoda seperti itu," bisik Azka.
"Siapa yang goda sih, sakit tau hidungku!" bentak Azkia.
"Iya-iya maaf gak sengaja, Nyun." tangan hangat itu ikut mengusap hidung Azkia.
Cup!
"Ngapain?" tanya Azkia saat Azka mencium hidungnya.
"Biar cepet sembuh," jawab Azka sambil terkekeh.
Sedangkan Azkia hanya memutar kedua bola matanya malas.
"Hari ini kamu cantik banget sih, Nyun?" bisik Azka.
Azka hanya diam saja memperhatikan Azkia dari atas hingga bawah, kali ini Azkia memakai daster motif bunga-bunga yang hanya diatas lutut.
"Aku baru tau kamu punya baju seperti ini," kata Azka jujur sambil menarik daster Azkia.
"Oh ini, aku baru beli katanya nyaman dipakai dirumah. Kan aku penasaran jadi beli satu." jelas Azkia sambil duduk disofa didepannya sudah ada segelas teh manis.
"Kenapa cuma beli satu? Uang yang aku kasih waktu itu habis?" tanya Azka.
Belum sempat Azkia menjawab Azka sudah menyerahkan satu atm lagi untuk Azkia.
"Pakai ini, buat beli baju kaya gitu!" perintah Azka, sambil menunjuk daster Azkia.
"Daster ini?" tanya Azkia.
"Iya," jawab Azka sambil memeluk Azkia.
"Kenapa?" tanya Azkia.
"Suka aja kamu pake baju kaya gini." jujur Azka.
"Tadi aja marah-marah," ledek Azkia.
"Kamu boleh pakai baju kaya gini atau apapun yang hampir mirip dengan ini, tapi hanya boleh didepanku!" tegas Azka.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Azkia lagi.
"Hari ini kamu cerewet sekali, ya?" tanya balik Azka.
"Yaudah kalau gak mau jawab!" kesal Azkia sambil menepis pelukan Azka.
Azka tidak rela berjauhan dengan Azkia, ia mencium pipi Azkia lembut.
"Karena aku gak suka orang lain melihat semua hal yang seharusnya tidak boleh dilihat, contohnya tadi." jelas Azka membuat Azkia tersenyum bahagia.
"Janji ya, gak boleh pakai bajubyang kurang bahan gitu kalau diluar rumah!" Azka menjulurkan jari kelingkingnya didepan wajah Azkia.
Dengan senang hati Azkia menerimanya, "Inget kalau sampai terjadi aku hukum kamu!" kata Azka.
"Iya-iya bawel banget sih!" gerutu Azkia.
Cup!
Azka mencium pipi Azkia kemudian berpindah pada telinga Azkia, membuat Azkia berontak.
"Azka apa sih!" kesal Azkia.
Cup!
Satu ciuman mendarat mulus dibibir ranum milik Azkia, bukan karena apa itu adalah hukuman karena Azkia memanggil suaminya dengan namanya langsung.
"Hukuman!" bisik Azka.
Ya, Azkia lupa jika tadi Azka akan memberikannya hukuman saat di pasar malam.
Azka menggandeng tangan Azkia menuju ranjang mereka, kemudian Azka merebahkan tubuhnya dengan tengkurap ditengah-tengah ranjang.
"Sini naik!" pinta Azka sambil nenepuk punggungnya.
"Hah naik kemana, punggungmu?" tanya Azkia bingung.
"Iya sini, buruan!" perintah Azka.
Dengan ragu Azkia menuruti permintaan Azka, pikirannya sudah traveling entah kemana. Hingga suara Azka menyadarkannya.
"Kok diem? Pijitin sini!" kata Azka.
"Pi-pijitin?" ulang Azkia.
Azka mengangguk sambil melirik Azkia yang sudah duduk diatas punggungnya, "Lalu apa kalau bukan itu?" tanya Azka.
"Gak kok, bukan apa-apa lupain!" jawab Azkia gugup pasalnya apa yang ia pikirkan sudah jauh melapaui ini.
"Kamu mikir yang aneh-aneh, Ya Nyun?" tanya Azka sambil terkekeh.
Greb!
Azkia membungkam mulut Azka dari belakang, ia sungguh sangat malu kali ini.
"Tenang aja, Nyun. Setelah hukumannya selesai kita lakuin apa yang ada didalam pikiranmu itu," kata Azka sambil tertawa puas.
__ADS_1
"Azkaaaa!" kesal Azkia, kenapa ia bisa memeliki suami yang tahu apa yang sedanf ia pikirkan bahkan ucapannya selalu los tanpa vilter.
...----------------...