Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Beneran mati rasa


__ADS_3

...Terlalu dalam aku mencintaimu, hingga aku mati rasa kepada siapapun....


...Karena rasa ini sudah terpaku hanya untukmu......


...(E H)...


________________________________


Ketika semua orang sibuk berbaris di lapangan sekolah karena akan mengikuti upacara bendera yang selalu di laksanakan pada hari senin. Tapi tidak dengan Azka yang masih duduk manis di belakang sekolah bersama kedua sahabatnya yang kemana saja selalu mengikuti Azka.


Diatangannya sudah ada satu batang rokok yang siap dinyalakan, namun tidak ia lakukan.


"Heh pacaran kuy udah waktunya, keburu di grebek pak Slamet," ucap Attaya yang sudah bersiap menggunakan topi upacara.


"Upacara ogeb, bukan pacaran... mentang-mentang punya pacar pikiran lo pacaran mulu," gerutu Devan sambil menampol jidat Attaya.


"Yaelah salah dikit doang, Van... udahlah ayo, gue gak mau ketemu sama pak Slamet " ajak Attaya.


"Kuy, Ka... upacara!" teriak Devan agar Azka sadar dari lamunannya.


"Kalian dulan aja, ntar gue nyusul," ucap Azka.


"Yaudahlah kita duluan, awas pagi-pagi jangan bengong nanti kesambet loh... banyak penunggunya disini!" Devan memperingatkan Azka, setelah itu berjalan menuju lapangan bersama Attaya.


Azka masih saja termenung ia teringat dengan ucapan sang papa untuk belajar bisnis sesuatu hal yang tidak Azka sukai, tapi mau bagaimana lagi Azka harus mencukupi kebutuhan calon istrinya nanti tidak mungkin selalu bergantung kepada orang tuanya.


"AZKA CEPAT KE LAPANGAN!" teriak pak Slamet yang bisa membuat siapapun jantungan, karena setiap datang pasti tidak terdengar langkahnya. Dan tiba-tiba sudah ada suara yang mengagetkan siapapun yang ditegur oleh pak Slamet.


"SETAN!" teriak Azka spontan sambil berdiri dari duduknya, karena Azka masih teringan ucapan Devan tadi.


"Mana setannya mana?" tanya pak Slamet sedikit panik.


Walaupun kelihatannya galak dan ditakuti semua anak muridnya, siapa yang menyangka jika pak Slamet juga takut akan hal-hal seperti setan.


"Dibelakang gue," ucap Azka ia tidak berani menoleh kebelakang karena mengira yang di belakangnya itu setan.


Pak Slamet yang sudah panik menoleh kekiri dan ke kanan bahkan menoleh kebelakang namuan tidak ada siapapun disana kecuali dirinya, detik berikutnya ia bekacak pinggang karena ia paham setan yang di maksud Azka adalah dirinya.


"Enak saja ngatain saya setan, asal kamu tau muka saya lebih serem dari setan!" geram pak Slamet.


"Wah ngaku, pak!" Azka terkekeh mendengar ucapan guru BP nya itu.


"Ngaku apa?" jawab pak Slamet yang belum sadar atas ucapannya sendiri.


"Kata bapak, wajah bapak lebih serem dari setan!" ucap Azka ragu-ragu.


"Berani kamu ngatain saya!" bentak pak Slamet sambil menjewer telinga Azka.


"Ampun pak, ampun... saya kan cuma ngulang perkataan bapak tadi," ucap Azka sambil berusaha melepaskan jeweran pak Slamet.


"Alasan saja, cepat ke lapangan ikut upacara!" bentak pak Slamet.


"Gimana mau ikut upacara, pak... kalo telinga saya masih bapak jewer!" gerutu Azka, telinganya sudah terlihat memerah.


"Bilang dong dari tadi," ucap pak Slamet sambil terkekeh.

__ADS_1


"Harusnya bapak peka dong! Telinga saya jadi lebar sebelah ini," gerutu Azka sambil mengusap telinganya.


"Kamu kira saya pacar kamu yang harus selalu peka dan ngertiin apa yang kamu mau!" ucap pak Slamet.


"Bapak curhat?" tanya Azka polos.


"Curhat dikit, eh UDAH SANA KE LAPANGAN SEKARANG!!" teriak pak Slamet menggema diselurah kantin belakang sekolah.


Dengan cepat Azka langsung berlari menuju lapangan sambil menutup telinganya yang sakit.


"Emang bener lebih serem dari setan kalo lagi marah," gumam Azka sambil terus berlari, sesekali ia melihat kebelakang siapa tau pak Slamet masih mengawasinya.


BRUK!


Tanpa sengaja Azka menabrak seseorang yang membuat mereka berdua terjatuh ke lantai.


Membuat beberapa siswa yang sudah berada di lapangan menoleh kearah Azka karena suara benturan yang terdengar cukup keras. Termasuk Azkia dan teman-temannya karena penasaran dengan suara apa itu, ingin menghampiri namun sudah ada osis yang bertugas di belakang mereka untuk mengatur barisan.


"Sshhhh," rintih seseorang yang Azka tabrak.


"Sorry, lo gak apa-apa kan?" tanya Azka sambil berdiri.


Siswi itu masih menunduk sambil memegangi lengannya yang terasa perih, wajahnya tidak terlihat jelas karena tertutup oleh poni dan beberapa helai rambutnya.


"Iya, cuma perih aja lengan gue," ucapnya lembut.


"Kek pernah denger suaranya," batin Azka.


"Bisa berdiri sendiri kan?" tanya Azka dingin.


"Bisa kok," ucapnya sambil berdiri, tangannya sibuk membenahi rambutnya yang berantakan.


Namun baru selangkah tangannya sudah di cekal oleh siswi tadi.


"Lo gak mau bantuin ngobatin lengan gue?" tanyanya dengan suara lembut.


Pertanyaan itu membuat Azka menoleh kebelakang, tepatnya kearah siswi itu berada.


Deg!


Jantung mereka berdua seakan berhenti saat itu juga, begitu juga dengan waktu yang seolah berhenti. Membiarkan mereka berdua terus bertatapan hingga tak menghiraukan orang yang berlalu-lalang disekitar mereka.


"Azka!" ucapnya setelah setelah sadar dari keterkejutannya.


Rahang Azka mulai mengeras, terlihat jelas ada kebencian dari tatapan Azka yang dingin dan menusuk.


"Ngapain lo disini!" bentak Azka membuat siswi itu tersentak kaget.


"Lo masih marah sama gue, Ka?" tanya siswi itu wajahnya terlihat bersedih.


"Lo ngikutin gue?" bukannya menjawab, Azka balik bertanya.


"Gak, Ka... gue gak ngikutin lo," ucapnya.


Azka menghempaskan cekalan tangan siswi itu dengan kasar, membuatnya terhuyung beberapa langkah ke belakang.

__ADS_1


Kemudian Azka pergi dari hadapnnya, Azka tidak menghiraukan panggilan siswi itu yang berusaha untuk mengejarnya namun beberapa osis datang terlebih dahulu sebelum siswi menyusul Azka.


Kejadian itu tak lepas dari pantauan Azkia beserta teman-temannya, karena posisi Azka berada di lorong dekat lapangan yang dekat dengan barisan kelasnya.


"AZKA, KA... AZKA!" teriak siswi itu yang berharap Azka akan berhenti dan mendengarkannya.


"Kamu murid pindahan itu?" tanya Miko.


Sontak saja siswi itu menoleh kebelakang, terlihat cowok bertubuh tinggi dengan almamater warna maroon melekat ditubuhnya. Membuatnya terlihat semakin mempesona, namun masih kalah dengan Azka.


"Iya," singkat siswi itu.


"Ikut gue ke uks," ajak Miko.


"Hah, ngapain? Bukannya harus ke ruang kepala sekolah ya?" tanyanya polos.


"Lo emang beneran gak ngerasa sakit, apa emang udah mati rasa?" tanya Miko sambil menggelengkan kepalanya.


"Maksudnya apa?" tanyanya.


"Ck," decak Miko.


Tangannya meraih lengan siswi itu agar terlihat jelas apa yang di maksud Miko.


"Beneran mati rasa," ucap Miko sambil tersenyum mengejek.


"WHAT!" pekik siswi itu yang kaget karena ternyata lengannya sudah mengeluarkan darah segar hingga menetes di lantai.


"Lola banget sih," ucap Miko sambil menghelengkan kepalanya.


Tangannya masih setia memengangi lengan sisiwi itu, menggiringnya menuju uks.


"Dia yang udah buat gue mati rasa sama siapapun, sampai luka seperti ini gak gue rasain," batinnya sambil terus melihat lengannya yang digandeng Miko terus meneteskan darah.


Benturan tadi membuat lengannya bergesekan dengan lantai yang tidak rata sehingga membuat goresan yang lumayan panjang dan sedikit dalam.


"Nama lo siapa?" tanya Miko.


Tidak ada jawaban sama sekali dari gadis yang ia gandeng, membuat Miko menghentikan langkahnya menoleh ke belakang. Miko takut jika yang ia gandeng itu bukan manusia.


Duk!


Jidat mulus itu membentur dada Miko, membuatnya mendongak menatap Miko dengan tatapan kosong.


"Lo manusia, kan?" tanya Miko sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Bukan," sautnya.


"Setan dong?" tanya Miko sambil melepaskan tangannya.


Miko sedikit parno karena sering melihat film horor yang berlokasi di sekolah, dan baru beberapa hari lalu ada yang bercerita dengannya jika di sekolahnya ada hantu perempuan cantik.


"Malaikat tak bersayap," ucap siswi itu sambil tersenyum manis membuat Miko salah tingkah.


"Halu lo," elak Miko yang sebenarnya mengiyakan ucapan siswi itu.

__ADS_1


Miko mengajaknya mampir ke uks terlebih dahulu untuk mengobati lukanya setelah itu menuju ruang kepala sekolah. Untung saja Miko seorang osis sehingga ia tidak dimarahin bila tidak ikut upacara karena beralaskan mengantarkan siswi pindahan itu.


......................


__ADS_2