Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Semakin kurus


__ADS_3

Tidak hanya perbedaan waktu yang harus Azka lalui, melaikan perbedaan musim yang membuat Azka harus beradaptasi dengan cepat. Azka yang sudah terbiasa dengan musim hujan tiba-tiba beralih pada musim panas yang membuat tubuhnya sedikit kaget akan perubahan musim ini.


Selama satu minggu ini Azka berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru dan orang-orang baru. Tidak hanya itu saja, ia juga harus menyesuaikan lidahnya pada makanan yang belum pernah ia makan. Ditambah lagi musim yang berbeda dari negara asalnya membuat Azka jatuh sakit.


Suhu udara yang sangat panas membuat badan Azka mengalami demam selama beberapa hari. Untung saja Apartemennya merupakan lingkungan yang strategis, sehingga ia tidak kesusahan mencari rumah sakit untuk periksa.


Azka sengaja tidak memberitahu Azkia soal kondisi tubuhnya yang sedang sakit. Ia tidak ingin membuat kekasih hatinya itu khawatir, terlebih lagi Azkia masih dalam masa menyesuaikan diri dengan hubunhan jarak jauh.


Azka mengeliat, bunyi alarm yang membuat tidurnya terusik. Ia bangun siang karena sejak berada disini Azka mengalami insomia, yang membuatnya kesulitan untuk tidur nyenyak. Ditambah lagi hatinya masih tertinggal di Indonesia, membuatnya selalu risau.


Azka segera bangun dari tidurnya, dengan langkah malas ia berjalan kearah kamar mandi untuk membersihkan badannya.


Sekitar dua puluh menit sudah Azka berada dikamar mandi, ia keluar dengan kaos hitam dan celana jins. Azka lebih suka memakai pakai santai terlebih lagi saat ini musim panas membuatnya cepat merasa gerah jika memakai pakaian formal.


Azka pergi menuju dapur yang ada di dalam apartemennya. Tangannya sibuk mengambil sebuah cangkir dan juga satu saset kopi instan. Azka menyedu kopi itu dengan air panas, menambahkan sedikit gula agar lebih nikmat.


Azka membawa secangkir kopi itu menuju balkon apartemennya, tangan kanannya meraih ponsel yang ia chrager semalam.


Azka menyandarkan punggungnya pada kursi, matanya sibuk menatap benda pipih itu. Terlihat banyak chat dari Azkia yang tengah meluapkan kekesalnya saat Azka tidak memberinya kabar.


Hingga mata Azka tertuju pada sebuah foto desert makanan yang Azkia kirimkan, dibawah foto itu terdapat sebuah pesan.


"Hal kecil seperti ini yang buat aku gak bisa jauh dari kamu, dasar manusia es tapi hatinya lebih panas dari api!"


Begitulah isi pesan Azkia yang membuat Azka tersenyum. Ingin sekali Azka menelepon Azkia namun ia urungkan karena saat ini Azkia pasti sudah nyenyak dalam mimpinya.


Perbedaan waktu yang hampir 12 jam membuatnya susah berkomunikasi dengan Azkia. Bagaimana tidak jika saat ini Azka baru saja bangun tidur maka ditempat Azkia ia baru akan tertidur.


Azka mendengus, rasa rindu membuatnya tersiksa dalam batin. Azka membalas pesan Azkia, ia tidak berharap Azkia membalasnya. Karena Azka sadar dengan perbedaan waktu mereka.


Azka meletakan ponselnya diatas nakas, ia menatap langit yang sudah cerah dengan sinar matahari. Masih pukul 10 pagi namun sudah terasa panas mengingat ia berada pada musim panas yang mengakibatkan suhu lebih meningkat dari biasanya.


Hari ini Azka akan melihat kantor yang papanya bilang beberapa hari lalu. Bahkan Yudha sudah memberitahu temannya jika anak semata wayangnya akan datang berkunjung dan akan belajar diperusahaan temannya itu.


Azka kembali kedalam kamar menyambar sebuah jas hitam namun bukan jas formal. Jas itu sangat cocok dipadukan sengan celana jins milik Azka yang berwarna hitam. Dan beberapa barang penting ia masukkan kedalam tas kecilnya.


Semenjak disini sangat jarang melihat Azka sedang sarapan pagi, selera makannya hilang begitu saja. Bukan karena makanan yang tidak cocok di lidah, tapi ada sesuatu yang membuatnya seperti ini. Siapa lagi kalau bukan karena Azkia, Azka masih belum bisa menyesuaikan hatinya dengan hubungan jarak jauh ini.


Terlihat pantulan tubuh Azka di cermin yang semakin terlihat kurus, ditambah beberapa hari ini dia sedang tidak enak badan.


"Pipi gue makin tirus aja," gumam Azka sambil merapikan jasnya.


Sebelum ia benar-benar pergi, Azka sembat mengirimi sebuah chat kepada Azkia.


"Nyun, aku mau ke kantor temen papa... kantor itu yang nantinya yang aku tempatin untuk belajar bisnis. Kamu jangan lupa makan, ya. Kalau udah bangun, bales chatnya! Miss you, Nyun!"


Begitulah isi chat yang Azka kirimkan, setelah itu ia pergi ke kantor teman sang papa.


......................


Dirumah Attaya terlihat empat orang sedang bergadang dengan kesibukannya masing-masing. Semenjak Azka diluar negeri, empat orang itu selalu berkumpul di rumah Attaya.


"Bosen!" keluh Attaya sambil menatap langit-langit kamarnya.

__ADS_1


"Sama," keluh Bobo menoleh kearah Attaya.


"Azka lagi ngapain, ya?" tanya Devan tiba-tiba.


"Gue kangen sama dia," gumam Bobo.


"Sama!" ucap mereka semua serentak. Kemudian mereka saling pandang seolah sedang memikirkan hal yang sama.


"Telepon!" usul Devan tiba-tiba, mereka semua mengangguk.


Devan mengeluarkan ponselnya, terlihat jam sudah menunjukkan pukul 03:00 WIB. yang artinya sore hari di tempat Azka.


"Yakin jam segini hubungin Azka, kalau ganggu dia tidur gimana?" tanya Bobo.


PLAK!


Ciko memukul kepala Bobo dengan buku yang tengah ia baca, membuat Bobo menggeram kesakitan.


"Sakit! Nanti kepintaran gue menurun gimana?" keluh Bobo sambil mengusap kepalanya.


"Sejak kapan lo pinter?" canda Attaya.


"Kalau pinter harusnya tau, kita itu beda jam sama Azka." ucap Ciko.


"Hah masa sih?" tanya Bobo tidak percaya.


"Kaya gitu ngaku pinter?" sindir Devan.


"Jadi kita itu beda waktu sama tempatnya Azka," jelas Attaya sambil melempar Bobo dengan bantal.


"Maksudnya?" tanya Bobo lagi.


"Astaga, lemot gini kok bisa diterima universitas kita sih?" ejek Attaya.


Ya, karena mereka berempat memang mendaftar kuliah di universitas yang sama. Meski dengan jurusan yang berbeda.


"Keberuntungan hehe," jawab Bobo sambol terkekeh.


"Heleh!" saut mereka bertiga.


"Yaudah yang pinter jelasin maksudnya apa beda waktu?" ulang Bobo.


"Jadi gini kita sama Azka itu beda hampir 12 jam, misalnya disini jam 00:00WIB berarti ditempat Azka jam 12:00 siang gtiu." jelas Ciko sambil membenarkan letak kaca matanya.


"APA! Segitu lamanya kita beda waktu?" teriak Bobo.


"Untung gak beda hati!" canda Attaya.


"Sialan, ini udah hampir subuh jangan teriak-teriak!" kesal Devan.


"Maaf reflek," jawab Bobo sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Cih, jadi telepon Azka gak?" tanya Devan.

__ADS_1


"JADI! jawab mereka bertiga seperti anak tk yang sedang menginginkan mainan.


Kemudian Devan menelepon Azka, untung saja diangkat oleh Azka. Ia sedang berada di sebuah minimarket untuk membeli beberapa barang dan juga beberapa bahan untuk dimasak.


"Azkaaa!" teriak mereka berempat, ya Devan melakukan panggilan vidio sehingga mereka bisa melihat wajah Azka.


"Berisik!" dingin Azka.


"Yooo.. yang udah di luar negeri masih aja dingin," ejek Attaya.


"Semakin dingin iya, tuh buktinya gue kedinginan!" lanjut Devan.


"AZKA! GUE KANGEN SAMA LO!" teriak Bobo.


"Udah gue bilang jangan teriak-teriak!" kesal Devan, Bobo hanya terkeheh saja melihat Devan marah.


"Kalian gak tidur?" tanya Azka.


"Gak kita lagi kangen sama lo jadi gak tidur," canda Attaya.


"Cih," dengus Azka sambil terkekeh.


Terlihat Azka masih sibuk memilih beberapa bahan.


"Woy, calon papa muda lagi belanja nih... istirnya kemana?" canda Bobo yang langsung mendapat jitakan dari mereka bertiga.


Azka hanya terdiam karena mendengar pertanyaan Bobo yang membuatnya teringat akan Azkia, yang biasanya kemana pun pasti berdua dengan Azkia.


"Jangan di dengerin, dia kalau ngomong gak pernah pake filter," kata Attaya.


"Hmmm," saut Azka.


"Lo kok keliahtan tirus gitu pipinya, Ka?" tanya Ciko yang sejak tadi diam.


"Eh iya, lo diet ya?" tanya Bobo.


"Lo sehat kan, Ka?" tanya Devan.


"Makan yang banyak ngab, rindu juga butuh tenaga," kata Attaya.


Sedangkan Azka hanya terkekeh saja mendengar ocehan keempat sahabatnya itu.


Mereka berlima asyik bercerita hingga tidak terasa sudah lama mereka melakukan panggilan vidio. Azka yang berbelanja juga sudah selesai, ia akan segera kembali ke apartemennya.


"Gue balik dulu, Bye!" ucap Azka lalu mematikan panggilan itu.


"Oke, hati-hati!" saut mereka sebelum panggilan itu benar-benar selesai.


"Yaah, gue belum cium jauh juga," keluh Bobo.


"Jijik!" teriak mereka bertiga langsung menjauh dari Bobo.


...--------------------------------...

__ADS_1


__ADS_2